Share

Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!
Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!
Penulis: Krisna

Bab 1

Penulis: Krisna
Desa Mawar, di lereng Gunung Airnaga.

Aliran sungai yang jernih mengalir menuruni lereng gunung, mencapai dasar yang curam membentuk air terjun kecil setinggi sekitar enam meter.

Di bawah air terjun, seorang janda cantik bernama Mawar Baskara sedang mandi.

Pemandangan alamnya memang indah, tapi sosok di dalam kolam itu jauh lebih indah lagi.

Pakaiannya ditaruh dalam keranjang bambu tidak jauh dari situ, sangat mencolok.

Dhana Nugraha, seorang pemuda dengan keterbelakangan mental, berjalan ke arah itu dengan membawa keranjang bambu di satu tangan dan dahan pohon di tangan yang lain. Sehelai rumput digigit di antara bibirnya.

Dia mencapai keranjang Mawar, dengan santai mengambil sehelai pakaian tipis, lalu memandangi polanya dengan bodoh sebelum meletakkannya dan memilih yang lain.

Mawar sedang mandi ketika tiba-tiba melihat sesosok orang. Dia berteriak dan buru-buru menutupi tubuhnya dengan tangan.

"Siapa? Siapa yang mengobrak-abrik barang-barangku?"

Mendengar teriakan dari bawah air terjun, Dhana mendongak dan tersenyum bodoh. "Hehe, K-kak M-mawar, ini aku, Dhana."

Mawar menghela napas lega begitu tahu itu adalah Dhana si bodoh.

"Kukira ada yang mengintip aku mandi! Tapi ternyata kamu, Si Bodoh. Kamu sedang cari-cari apa?"

Dhana mengangkat sepotong pakaian dalam kecil dan menempelkannya di dada.

"M-merah. Cantik. Aku mau pakai."

Melihat ekspresi bodoh Dhana, Mawar tertawa lepas. Tubuh moleknya bergetar karena tawa.

"Dasar bodoh! Itu kan baju perempuan. Mana bisa kamu pakai? Cepat taruh kembali."

Dhana meletakkan pakaian itu sambil tersenyum konyol.

"O-oke."

Mawar dalam hati mendesah karena kebodohan Dhana.

Jika pria itu normal, dia pasti akan waspada. Tapi Dhana memiliki mental anak lima tahun, jadi tidak perlu waspada sama sekali. Dia pun tidak repot-repot menutupi tubuhnya lagi.

Dhana tidak mengerti apa-apa selain makan.

Namun, meski Dhana memiliki kelainan mental, dia sebenarnya tampan dan rupawan, tidak buat risih sama sekali.

Mawar adalah wanita normal. Setelah menjanda selama lebih dari dua tahun, dia memiliki keinginan seperti wanita pada umumnya. Kedatangan Dhana yang tiba-tiba memicu ide nekat dalam dirinya.

Seperti tanah gersang yang merindukan hujan, dia membutuhkan asupan.

Wanita itu melangkah keluar dari air terjun dan melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang lain. Bibirnya tersenyum nakal dan matanya beralih kepada Dhana.

"Ayo ke sini, Kak Mawar mau kasih kamu makanan enak."

Mata Dhana berbinar seketika mendengar kata makanan.

"Makanan enak? Aku mau permen!"

Senyum Mawar semakin lebar, diwarnai kepuasan karena rencananya berhasil. "Aku punya anggur dan delima. Kamu mau?"

Dhana melihat sekeliling, tapi tidak melihat buah apa pun. Lalu dia membungkuk dan mengobrak-abrik isi keranjang bambu.

"Mana anggur? Mana delima?"

Mawar sedikit terdiam, dalam hati mengumpat karena kebodohan Dhana.

Wanita secantik dia berdiri sangat dekat di depan mata. Tidakkah dia cukup menggoda?

Anggur dan delima tepat di depan mata...

Mana mungkin Dhana tidak bisa melihatnya?

Kalau Anton pasti akan langsung mengerti.

"Ayo ke sini, Kakak kasih buahnya."

Dhana yang polos tidak menyadari makna tersembunyi di balik kata-kata Mawar. Dia hanya mengira buah delima dan anggur itu disembunyikan.

Dia terkekeh dan berjalan menuju Mawar.

Dhana saat ini berusia 23 tahun dan dulunya normal.

Orang tuanya memberinya nama itu dengan harapan ketika dia dewasa, seseorang akan memberinya dana yang besar, sehingga dia bisa meraih kesuksesan besar.

Hanya saja, nama itu memang agak aneh.

Dua tahun lalu...

Dia lulus dari kuliah kedokteran di universitas yang ada di ibukota provinsi. Dia seharusnya mendapatkan pekerjaan di Rumah Sakit Kota Siraya. Tapi kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga.

Beberapa hari sebelum mulai bekerja, dia pergi ke warung sate bersama pacarnya. Seseorang mencoba mendekati pacarnya, dan dia pun berkelahi dengan pria itu.

Tapi, pria itu terlalu brutal, mengambil kursi kayu dari warung dan memukulkannya dengan keras ke kepala Dhana.

Sejak saat itu, otaknya terganggu.

Dhana mendekati Mawar, tersenyum bodoh padanya. "D-delima ... aku mau delima."

Menatap pria tampan di hadapannya, Mawar merasa bimbang. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.

Apakah pantas dia menipu pria berpikiran polos ini untuk melakukan hal semacam itu?

Setelah ragu sejenak, Mawar memutuskan untuk mencobanya. Lagi pula, Dhana tidak mengerti apa-apa. Asal dia tidak mengatakannya pada siapa pun setelah ini, semuanya akan baik-baik saja.

Mawar berbalik dan terjun ke kolam di bawah air terjun, membelakangi Dhana. Hanya memperlihatkan bahunya.

"Pundakku sakit habis kerja hari ini. Tolong pijat pundakku, pulang nanti aku belikan permen."

"Oke!"

Dhana mengangguk bodoh, meletakkan tangannya di bahu Mawar dan memijatnya dengan lembut. Pikirannya masih terpaku pada makanan. "Jangan bohong, aku mau permen."

Mawar menatap Dhana.

"Aku nggak bohong. Pijat pundakku dulu. Kalau pijatanmu enak, kamu bisa dapat buah delima dan anggur. Nanti juga kubelikan permen."

Dhana tersenyum-senyum, dalam pikirannya hanya ada makanan.

Merasakan tangan besar Dhana meremas bahunya, Mawar bersinar dengan kenikmatan. Pikirannya melayang.

Setelah kepergian suaminya, dia benar-benar merindukan sentuhan seorang pria.

"Lebih keras .... Ya, pas."

Mawar mengerang pelan, jantungnya berdebar kencang.

"Ayo kita main. Apa pun yang aku suruh, kamu harus nurut. Kalau kamu nurut, kamu mau makan apa, pasti nanti kukasih. Oke?"

Mawar membujuk dengan sabar, merasa tubuhnya melemas dan lemah. Tatapan mata indahnya menjadi kabur.

"N-nurut! Aku mau permen!"

Dhana tergagap, pikirannya masih terus memikirkan makanan.

Dia tidak menyadari sedikit pun pemandangan indah di depannya. Pikirannya benar-benar tidak mengerti.

Jika dia menundukkan kepalanya sedikit saja, dia bisa melihat segala keindahan.

Mawar menoleh lagi, menatap Dhana dengan jantung berdebar kencang. "Sana mandi di bawah air terjun, kamu bau."

Mawar berpikir dalam hati, ‘Membujuk tidak boleh buru-buru. Harus selangkah demi selangkah, perlahan-lahan.'

Dhana ragu sejenak, menggelengkan kepalanya.

"Aku mau bantu pijat pundak Kak Mawar."

Mawar mengangkat alisnya, lalu menatap Dhana dengan tajam.

"Nggak usah pijat. Mandi saja sekarang. Kalau kamu mau mandi, baru bisa dapat permen. Kalau nggak mau nurut, nggak dapat apa-apa!"

Dhana panik dan buru-buru melepaskan Mawar.

"Aku nurut, pergi mandi."

Dia mundur dua langkah dan segera melepas bajunya, memperlihatkan tubuh yang kekar dan otot-otot yang padat.

Mawar berbalik, membungkuk di tepi air untuk menonton Dhana. Tubuh yang berotot, kuat, dan perkasa...

Dia menjilat bibir merahnya.

"Anak Bodoh, kamu kelihatannya sangat kuat."

Dia merasa rencana kecilnya akan segera terwujud.

Hati Mawar berdebar kencang. Matanya semakin sayu, dan bibir merahnya sedikit terbuka.

"Anak Bodoh, jangan lama-lama."

"Iya, sebentar, selesai."

Dhana tersenyum-senyum, melempar pakaian luarnya dengan sembarangan.

Dia tidak tahu bahwa saat-saat terbaik dalam hidupnya akan segera tiba.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
pangeran arjuno
super sekali
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 355

    Terutama tadi malam, saat Dhana mengajarkannya bela diri, Ratna semakin kagum. Memanggilnya 'Kak Dhana' itu benar-benar keluar dari lubuk hatinya.Meskipun Ratna mengundangnya, Dhana tidak berniat masuk ke dalam."Ratna, aku ingat di rumahmu ada beberapa ember putih besar, yang ada corong dan tutupnya. Tolong carikan satu untukku."Sambil menjelaskan, Dhana juga menggambarkan dengan gestur tangan.Takut Ratna tidak mengerti, dia menambahkan lagi."Ember yang dulu dipakai untuk wadah air."Ratna menatap dengan mata menajam sebelum akhirnya tersadar."Oh, maksudmu ember itu." Ratna mengulangi, menarik sebuah kursi dan memberikannya pada Dhana. "Kamu duduk dulu di sini, aku carikan sebentar."Ratna berbalik ke dalam.Sambil memandangi punggung Ratna, Dhana tidak bisa menahan desahan kagum.Ratna, si gadis tercantik di desa ini, benar-benar sudah dewasa.Punggungnya itu sungguh memikat.Dua menit kemudian, Ratna kembali sambil membawa sebuah ember putih besar. "Ini yang kamu maksud, 'kan?"

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 354

    Yang paling mendesak saat ini adalah menyelidiki orang yang telah memaksa Suma bunuh diri.Jika memang Dhana, Keluarga Wiguna harus hati-hati menyembunyikan diri.Sekalipun bukan Dhana, jangan menyinggungnya lagi untuk saat ini....Kota Siraya, Grand Hotel.Angelica baru saja selesai mandi. Tubuhnya terbungkus handuk.Dia duduk di sofa, tenggelam dalam pikiran.Tepat pada saat itu, terdengar ketukan di pintu."Nona, kami sudah menyelidiki Dhana. Mohon buka pintu sebentar, kami akan melapor."Angelica berdiri, merapikan handuknya, lalu mengenakan mantel panjang, baru kemudian melenggang dengan pinggang rampingnya untuk membuka pintu.Setelah dua pengawal masuk dan duduk, barulah mereka melapor."Nona, setelah menyelidiki sepanjang sore, kami mendapatkan banyak informasi berguna. Dhana ternyata lebih hebat dari yang kita bayangkan.""Kakek Yuna disihir dengan Mantra Pengunci Jiwa dan hampir meninggal, tapi Dhana menyembuhkannya.""Yuna menderita kanker stadium akhir, Dhana juga menyembu

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 353

    "Dipaksa bunuh diri?" Marius nyaris gila memikirkannya.Seseorang sekelas grandmaster dipaksa bunuh diri. Siapa sebenarnya orang yang memaksanya?Sungguh sulit dibayangkan!"Sudah tahu siapa orang yang memaksanya?"Sekretarisnya menggeleng. "Belum."Marius menggosok pelipisnya, kembali mengingat isi percakapan di telepon dengan Suma, yang berulang kali mengingatkannya agar tidak mengusik Dhana."Dhana ... bukan seperti yang kamu katakan. Walaupun dia baru saja naik tingkat menjadi grandmaster bela diri, kekuatannya jauh melampaui tingkat itu. Kekuatan semengerikan itu belum pernah aku temui di mana pun. Aku merasa seperti semut kecil di hadapannya ...."Suma menangis histeris di akhir kalimatnya.Mungkinkah Dhana yang melakukannya?Kekuatan Dhana, ternyata benar-benar sekuat seperti itu?Suma tidak pernah menyinggung siapa pun. Siapa yang cukup kuat hingga bisa memaksanya bunuh diri?Lagi pula, bagaimana Dhana bisa menemukan Suma?Pikiran Marius dipenuhi tanda tanya.Dhana, mungkin mem

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 352

    Selanjutnya, Ratna berhasil.Diiringi tawa Ratna, Ayu juga berhasil.Ketiganya bersuka cita, melompat-lompat mengelilingi Dhana.Mereka tidak pernah membayangkan bisa belajar kultivasi bela diri."Kalian bertiga harus rajin berlatih. Ini baru permulaan. Keamanan Desa Mawar di masa depan ada di tangan kalian."Mereka tersenyum dan mengangguk serempak.Mawar berpikir, dia bisa mengangkat batu penggilingan seberat lebih dari 150 kilogram dengan mudah. Jadi, mengangkat Dhana pasti lebih mudah lagi, bukan?Mawar memandang Dhana, dan sebuah ide berani terlintas di benaknya.Jika bisa mengangkat Dhana, pasti sangat seru.Dengan kedua tangan memegang lutut Dhana, lalu mengangkatnya tinggi dalam posisi berhadap-hadapan.Sepertinya ... lumayan seru.Mawar tersenyum nakal.Waktu sudah cukup larut. Dhana dan adiknya mengantar Ratna pulang terlebih dahulu, baru kemudian keduanya pulang ke rumah.Dhana benar-benar lelah hari ini.Meski lelah, dia sangat bahagia.Terutama satu jam bersama Mawar yang

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 351

    Ratna mengepalkan tinjunya, merasa sangat gembira.Ayu tampak bersemangat, dengan tangan di pinggang sambil menatap langit."Kekuatanku juga meningkat. Tubuhku rasanya sangat ringan. Kalau aku coba lompat, mungkin bisa setinggi satu meter!"Mawar tersenyum lebar, pipinya merah merona."Dhana, kukira kamu cuma bercanda. Nggak kusangka, kami bertiga jadi lebih kuat."Melihat ketiga wanita itu begitu gembira, Dhana mengangguk puas.Semua kerja kerasnya membuahkan hasil.Mereka akhirnya mengerti.Baru pada pukul 10 malam, Dhana mengajarkan beberapa bab awal dari Teknik Dewi Sembilan Langit, lalu memberi perintah agar mereka berlatih dengan sungguh-sungguh.Mereka semua sangat gembira dan patuh."Oh ya, jangan beritahu siapa pun soal ini. Termasuk ayah ibuku, jangan beri tahu dulu sementara ini. Kalian harus belajar dengan tekun, dan jangan bocorkan rahasia bela diri ini kecuali dalam keadaan terpaksa."Mereka semua mengangguk lagi.Untuk menguji hasilnya, mereka pergi ke halaman.Di halama

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 350

    Dhana pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tadi membuang waktu satu jam.Kalau tidak, mereka tidak akan terburu-buru seperti ini. Untungnya, selama satu jam tadi, tidak ada yang mengganggu.Secara keseluruhan, mereka merasa cukup puas."Dhana, kenapa buru-buru begitu? Belajar bela diri kan nggak bisa dilakukan dalam sekejap. Kenapa bisa lebih penting daripada urusan tadi?"Mawar cemberut dan mengeluh.Bagi Mawar, kebahagiaan jiwa dan raga adalah yang paling penting.Soal latihan bela diri, meski dia percaya Dhana bisa mengajarkannya, itu urusan yang jauh di masa depan.Kalau hari ini tidak bisa, coba besok.Kalau besok tidak bisa, tunggu lusa."Kamu pergi berhari-hari ke kota, nggak kirim pesan, nggak tanya kabar sama sekali. Keterlaluan."Mawar mengeluh lagi.Lalu kembali mengungkit masalah lain."Kamu tadi pagi kepanasan sampai mimisan. Aku sengaja membantumu mendinginkan tubuh dan menghilangkan racun, tapi kamu malah nggak menghargai niat baikku."Dhana tersenyum nakal. "Yang bada

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 25

    Selama dua tahun, kakinya selalu tidak punya tenaga. Saat tidak sedang kambuh, dia hanya bisa berjalan beberapa langkah saja. Saat sedang kambuh, kakinya hanya terasa seperti beban.Namun kini, kakinya tidak sakit lagi dan bahkan terasa sangat kuat. Dia belum pernah merasa sebahagia ini dalam dua ta

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 84

    "Nggak usah, aku pergi ke tempatmu sekarang.""Oke, cepat ke sini kalau memang mau datang. Kami tunggu kamu di jalan."Sekitar lima menit kemudian, Ratna muncul di hadapan Dhana dan yang lainnya, napasnya terengah-engah, dadanya yang montok naik turun.Ratna benar-benar pantas mendapat julukan si ca

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 29

    "Ingat kata-katamu sendiri. Kalau nggak, rasakan akibatnya."Dengan itu, Dhana melemparkan pisau ke tanah sebelum melompat ke udara. Dia menghilang dari hadapan Anton dalam sekejap.Anton tercengang menyaksikannya.Satu menit berlalu sebelum Anton bisa mengumpulkan tenaga untuk bergerak.Sekujur tub

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 40

    "Oke, aku ke sini lagi habis pulang nanti."Mawar menggandeng lengan Dhana, enggan melepaskannya.Hatinya berdebar tidak karuan. Pipinya memerah seperti kembang api.Dia merasa Dhana semakin tampan.Dia sudah diserahkan kepada Anton oleh ibunya. Maskawinnya bahkan sudah diterima. Anton bisa datang k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status