تسجيل الدخولTapi, kenapa perilakunya saat ini sangat tidak normal?Dia memanggil Dhana dengan nada hormat. Trik yang apa yang telah digunakan Dhana hingga Suma menjadi begitu patuh?Jika Suma saja telah jatuh ke tangan Dhana, situasinya akan menjadi mengerikan.Mereka baru saja merencanakan cara membereskan Yuna setelah Dhana kalah, dan bagaimana cara sepenuhnya menguasai Grup Atmaja.Tapi kini, hasilnya justru sebaliknya.Dhana masih aman sentosa, sementara cucunya sendiri kehilangan kejantanannya secara permanen dan terbaring tak sadarkan diri.Apa yang harus dia lakukan?Suma menyeringai dingin, melirik Dimas yang terbaring di lantai."Nona Yuna adalah pacar Pak Dhana. Tapi Dimas berani menyatakan di hadapan Pak Dhana bahwa dia ingin menjadikan Nona Yuna sebagai simpanannya, dan secara terang-terangan menyatakan niatnya untuk merebut Grup Atmaja dengan paksa.""Itulah yang dia katakan, dan mungkin itulah yang kalian semua pikirkan juga. Dan aku yakin kalian sedang merencanakan bagaimana cara me
Saat Marius berbicara, tatapannya menyapu semua orang."Tenang saja, kami akan menanganinya dengan baik!"Semua orang menjawab serempak, dengan suara sangat lantang.Setelah keheningan kembali menyelimuti, Marius melanjutkan, "Suryadi, kamu sendiri yang nggak punya perasaan. Jangan salahkan aku kalau aku juga nggak punya rasa kasihan.""Dhana, semoga kamu nggak bertemu dengan Keluarga Wiguna di kehidupanmu berikutnya.""Benarkah? Aku justru ingin menantang kalian semua." Tepat pada saat itu, Dhana memasuki pintu bersama Yuna sambil menyeringai.Di belakang mereka diikuti Suma dan Dimas.Hanya saja, Dimas yang tampak pingsan. Dia dibawa masuk Suma dengan dicengkeram di bagian leher, seperti anak ayam.Sebelum ada yang sempat bereaksi, Suma, sambil membawa Dimas, tiba di antara orang-orang Grup Wiguna dan melemparkan Dimas ke lantai."Dimas, apa yang terjadi padamu?""Gawat, Dimas sudah nggak punya ... itu!""Dia bukan laki-laki lagi!""Apa yang sebenarnya terjadi?""Dimas, Dimas ...."M
Menurut dua murid mudanya.Ketika guru mereka meninggal, wajahnya memerah kesakitan. Dia berlutut di atas tempat tidur memohon belas kasihan, mulutnya berteriak, "Dewa Agung, selamatkan nyawaku!" Lalu napasnya terhenti.Dia kenal cukup baik dengan pertapa itu dan dia juga mengenal dua muridnya. Itu sebabnya dia mengetahui beberapa detail lebih banyak.Kematian pertapa itu kemungkinan juga ulah Dhana."Suma, kamu memang punya kesadaran diri. Aku bisa mengampunimu, tapi kamu harus melakukan sesuatu untukku.""Tentu saja, silakan sampaikan syaratmu. Aku akan memenuhinya."Melihat sikap patuhnya, Dhana tersenyum dan mengangguk."Aku awalnya ingin membiarkan muridmu tetap hidup. Aku bahkan memperingatkan Dimas agar jangan mencari masalah denganku lagi. Tapi mereka nggak mau mendengarkan peringatanku. Jadi, nggak ada gunanya mereka hidup.""Jangan khawatir, Pak Dhana, aku pasti akan melakukannya!"Suma tidak punya pilihan. Semua ini salah pecundang sialan itu. Kalaupun dia tidak membunuhnya
Jika batu bata diganti pisau, dia sudah mati sekarang.Suma hanya bisa berharap Dhana segera mengampuninya.Tubuh Dimas menegang saat dia menghantam Suma dengan batu bata.Setelah tiga menit, Dhana secara bersamaan mencabut mantra membekukan yang dilemparkan kepada Suma dan mantra hipnotis yang mengikat Dimas.Dimas kembali sadar, kebingungan."Apa yang terjadi? Kenapa aku pegang batu bata?!"Dimas berteriak kaget, menoleh kepada Suma. Tubuh pria tua itu penuh bekas pukulan. Pakaiannya robek di beberapa tempat. Dimas sangat ketakutan dan melempar batu bata itu ke tanah."Apa yang terjadi?" ulang Suma. "Lihat aku. Kamu yang memukuliku, kamu bertanya apa yang terjadi?"Dimas kembali terkejut.Suma adalah seorang grandmaster bela diri. Dirinya hanyalah seorang pria biasa. Bahkan dengan bersenjata batu bata, dia tidak mungkin bisa melukai Suma.Tapi, pemandangan di depannya ....Tubuh Suma dipenuhi bekas pukulan batu bata, dan dirinya memang memegang batu bata. Apa yang sebenarnya terjadi?
Gawat, dia benar-benar akan celaka hari ini!Bagaimana mungkin murid sialan itu bisa menyinggung orang sehebat itu? Siapa yang sering berjalan di kegelapan malam, cepat atau lambat pasti akan bertemu hantu. Dan hari ini, kalimat itu benar-benar terbukti padanya!Suma berkeringat deras dan sangat ingin memohon belas kasihan.Tapi mulutnya tertutup seolah dilem, tidak bisa dibuka sama sekali.Dia tidak tahu bahwa ini adalah mantra membekukan dari Dhana. Bagi Dhana, yang sudah tak tertandingi di dunia ini, melemparkan mantra sederhana untuk membekukan seorang grandmaster bela diri hanya masalah kemauan saja.Melihat Suma membeku di tempat, Dimas mendorongnya dari belakang."Master, nggak perlu bicara berlama-lama. Bunuh saja dia dalam satu serangan, lalu kita urus Yuna ...."Sebelum Dimas selesai bicara, dia juga membeku.Kekuatan tak terlihat yang kembali menguasainya seperti tadi, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali dan seluruh tubuhnya kaku.Ini adalah mantra membekukan Dhana.S
Kata-kata Dimas terdengar jelas di telinga Dhana.Dimas bersama Grup Wiguna di belakangnya benar-benar arogan. Tidak hanya berusaha merebut Grup Atmaja, tapi juga menuntut Yuna menjadi simpanannya. Bagaimana mungkin dia biarkan wanitanya dihina orang lain?Kata-kata Dimas berhasil menabuh genderang perang dalam hati Dhana.Dhana memutuskan untuk membalas dengan cara yang sama.Ingin merebut Grup Atmaja?Maka hari ini, dia akan membalikkan keadaan dan membiarkan Grup Atmaja merebut Grup Wiguna."Dimas, Yuna itu wanitaku. Berani menghina wanitaku, harus berani juga membayar harganya. Berlutut dan minta maaflah sekarang juga. Mungkin aku akan mengampuni Grup Wiguna. Kalau kamu menolak, tamatlah riwayatmu!"Dimas tidak terpengaruh oleh ancaman Dhana.Dia ditemani seorang grandmaster bela diri tingkat empat. Dia ada di sana untuk membunuh Dhana. Jadi, untuk apa dia takut pada ancaman Dhana?Lagi pula, ucapan Dimas bukan sekadar ancaman.Memang itulah yang akan melakukannya."Dhana, kalau ka
"Tapi harus kutegaskan. Entah kamu periksa ulang atau nggak, hasilnya tetap sama. Kamu memang sudah sembuh."Setelah itu, Dhana berbalik dan berjalan keluar pintu.Yuna mengikuti dari belakang, dan keduanya keluar menuju halaman.Melihat Yuna keluar, Keke segera bangkit dari duduknya. "Nona, gimana
Selagi berbicara, Yuna berbalik dan masuk ke dalam mobil sport-nya.Setelah menyaksikan mobil sport itu melaju kencang, Ratna mengendarai sepeda motornya dengan santai."Dhana, kenapa kamu selalu saja membuat masalah?"Di atas sepeda motor, Ratna tak kuasa menahan diri untuk tidak mengeluh."Yuna me
Dhana belum benar-benar meminta pertanggungjawaban padanya soal insiden Gua Iblis kemarin. Meskipun keluarga Dhana miskin, tetap tidak bisa dianggap enteng.Dia pertama-tama ingin menarik maskawinnya kembali, lalu pikirkan urusan lain.Jika Mawar bersedia menikah dengannya, maskawin itu bisa lanjut
Dhana jelas-jelas punya ponsel sendiri, tapi yang diberikan tadi malah nomor adiknya. Apa maksudnya ini?Yuna tidak tahu bahwa Dhana kemarin masih memiliki gangguan mental. Dia tidak pernah menggunakan ponsel selama itu, dan nomor barunya baru saja dibeli.Jika tidak, situasi memalukan ini tidak aka







