Share

Bab 321

Author: Krisna
"Coba pikir, Dhana punya motivasi sebesar itu, bukannya karena kamu yang mendorongnya dari belakang? Cukup dengan berdiri di sampingnya dan tersenyum manis, bahkan di hadapan kesulitan sebesar apa pun, Dhana pasti akan tetap semangat."

Mira berkata sambil mengangkat alisnya kepada Dhana.

"Dhana, aku nggak salah, 'kan?"

Dhana tersenyum dan mengangguk. "Benar. Kak Yuna memang secantik bidadari, membuatku terpesona. Jangankan cuma menghancurkan Grup Wiguna. Bahkan kalau dia menyuruhku memetik bulan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 326

    Setelah mengatakan itu, Puspita mendesak lagi."Cepat, matikan mobilnya, ikut aku masuk ke rumah. Aku nggak akan memakanmu, kok. Ada kabar baik yang sangat penting, ayo kita bicarakan di dalam rumah."Khawatir Dhana tidak mau turun dari mobil, Puspita menambahkan lagi."Tenang saja, aku juga disuruh Kak Bima memberitahukan kabar baik ini. Kami nggak akan salah paham. Ayo cepat, masuk denganku sekarang."Dhana tidak bisa menolak, jadi dia pun turun dari mobil.Setelah masuk ke dalam rumah, Puspita melenggang dengan pinggang rampingnya ke arah lemari, lalu membungkuk 90 derajat dan mengambil beberapa lembar kertas dari dalam lemari.Dengan senyum ceria, dia mendekati Dhana.Dia menyerahkan beberapa lembar kertas itu kepada Dhana, lalu berbalik sambil tersenyum. "Kamu lihat saja dulu, aku mau ke dapur bikin teh."Dhana menerimanya dan begitu melihat isinya, dia langsung tertawa."Baguslah. Kak Bima memang harusnya periksa sejak lama. Benar kan, dia sudah sembuh. Kak Puspita, selamat untuk

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 325

    Bertemu Dhana adalah berkah baginya.Sejak mengenal Dhana, semua kesulitannya tidak terasa sebagai beban lagi.Yuna tertawa lepas, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.Ini adalah kegembiraan, kebahagiaan, sekaligus rasa syukur."Dhana, terima kasih!"Dhana menepuk lembut bahu Yuna, lalu sengaja menggodanya."Apa yang kamu pikirkan? Ini kan karena aku punya 20 persen saham Grup Atmaja. Aku takut kamu nggak mampu melindungi perusahaan dan sahamku hilang, makanya aku mengajarimu. Jadi, kamu harus fokus berlatih mulai sekarang."Yuna tahu Dhana hanya bercanda dengannya.Dia tidak marah dan justru tersenyum lebar."Iya, iya, tenang saja Daddy, eh, Guru, muridmu pasti akan belajar dengan giat. Aku jamin sahammu nggak mungkin hilang."Setelah Yuna selesai bicara, dia mengepalkan tinjunya dan memukul Dhana."Kamu ini, siapa suruh kamu bilang begitu tadi, makanya aku jadi salah paham. Jadinya selalu salah panggil."Dhana tertawa bahagia, sambil tersenyum nakal. "Nggak apa-apa. Guru itu sep

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 324

    Dhana buru-buru menenangkan."Kak Yuna, jangan malu. Ini normal. Bau asam yang menyengat ini berasal dari zat yang menyumbat saluran meridianmu. Setelah kotoran-kotoran ini dikeluarkan, meridianmu akan benar-benar terbuka.""Lalu, kamu bisa benar-benar mulai kultivasi."Yuna mengangguk pelan, sedikit malu.Dua jam kemudian.Bau asam yang menyengat tercium dari kamar.Yuna sangat malu dan terus menundukkan kepala sepanjang waktu.Seluruh tubuhnya lengket, entah berapa banyak keringat yang telah dia keluarkan."Dhana, aku kotor dan bau. Jangan-jangan, nantinya kamu jadi jijik setiap melihatku karena teringat penampilanku yang sekarang?"Tentu saja nggak." Dhana membalas. "Ini tahap pertama dalam latihan kultivasi. Setelah melewatinya, kamu akan berterima kasih padaku."Setelah beberapa saat, Dhana melepaskan Yuna."Oke, silakan mandi dengan air hangat, ganti baju, dan istirahat sebentar. Aku akan mulai mengajarkanmu teknik ini dan secara resmi menerima kamu sebagai murid cantikku. Nanti

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 323

    Dhana tertawa kecil mendengar kata-kata Yuna.Dia mengulurkan jari telunjuk tangan kanannya dan menepuk-nepuk ujung hidung Yuna dua kali. "Nah, begitu. Akhirnya kamu paham juga!"Yuna menangkap makna tersembunyi di balik kata-kata itu. Sepertinya, Dhana benar-benar punya cara untuk mengajarkan bela diri kepadanya.Hatinya sangat gembira. Dia menarik lengan Dhana dan mengguncangnya."Dhana, tolong ajari aku."Dhana mengangkat alisnya dan pura-pura cemberut. "Masih kurang tulus. Panggil aku Daddy, eh, maksudku Guru. Hehe, salah bicara, cuma salah bicara."Dhana berpikir dalam hati, mana ada salah bicara?Sebagai murid, panggilannya pasti Guru. Kenapa bisa terpeleset begitu jauh? Seketika, suasana di antara mereka berubah drastis.Adegan-adegannya langsung terbayang dalam kepala."Pikiranmu kotor!" Yuna mengepalkan kedua tangan mungilnya dan bergantian memukul dada Dhana beberapa kali."Kamu ini, sengaja memanfaatkan aku!"Setelah kembali serius, Dhana bertanya lagi, "Yakin mau belajar? M

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 322

    Dhana pun ikut bercanda."Kalau memang kalian punya selera unik, mau nggak kita janjian nanti malam, main 'kartu' bertiga?"Saat menyebut 'main kartu', Dhana sengaja menaikkan suaranya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang penuh arti.Begitu dia selesai berbicara, Yuna langsung memberinya tatapan peringatan.Hanya Mira satu-satunya yang tersenyum sepanjang waktu.Tidak peduli topik apa yang dibicarakan, Mira tidak seperti Yuna yang mudah malu. Dia selalu memancarkan senyuman cerah dan ceria."Oke, oke." Mira bertepuk tangan gembira. Bagaimanapun juga, ini hanya bercanda, yang penting semua senang. Dia tidak menganggap Dhana sebagai orang luar.Lagi pula, Dhana memang sehebat itu. Mira berusaha mengambil hati Dhana. Mana mungkin dia menganggap Dhana sebagai orang luar?Yuna meminum anggurnya.Dia meletakkan gelasnya dan menatap Mira."Kak Mira, jangan gila."Mira menggoda Yuna. "Serius sekali mukamu? Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan.""..."Selama makan, dua CEO canti

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 321

    "Coba pikir, Dhana punya motivasi sebesar itu, bukannya karena kamu yang mendorongnya dari belakang? Cukup dengan berdiri di sampingnya dan tersenyum manis, bahkan di hadapan kesulitan sebesar apa pun, Dhana pasti akan tetap semangat."Mira berkata sambil mengangkat alisnya kepada Dhana."Dhana, aku nggak salah, 'kan?"Dhana tersenyum dan mengangguk. "Benar. Kak Yuna memang secantik bidadari, membuatku terpesona. Jangankan cuma menghancurkan Grup Wiguna. Bahkan kalau dia menyuruhku memetik bulan, aku harus berusaha mendapatkannya."Yuna tersipu dan menggigit bibirnya sambil menatap Dhana."Kalau begitu, malam ini ambilkan bulan untukku!"Setelah mengatakannya, Yuna tertawa lepas.Setelah tertawa, Mira menatap Dhana dengan pandangan penuh terima kasih, lalu mengangkat gelas anggur merahnya dan bersulang untuk Dhana."Dhana, aku sangat berterima kasih padamu. Sejak Desa Mawar memasok sayuran ke hotelku, kamar-kamar hotelku selalu penuh sesak.""Acara perjamuan, baik besar maupun kecil, s

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 178

    Dhana tidak perlu menyembunyikan apa pun, jadi dia mengakui kebenarannya."Aku beruntung bisa membeli mobil ini. Nggak sehebat itu. Kalau diberi kesempatan, kalian semua juga bisa punya mobil mewah suatu hari nanti."Tapi, kata-kata Dhana tidak berhasil mengubah pandangan mereka.Desa Mawar selalu m

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 182

    "Kak Dhana, aku ingin pergi nangkap ikan lagi."Sejak kembali dari menangkap ikan hari itu, serangkaian kejadian aneh mulai terjadi di sekitar Dhana, yang semuanya membuat Ratna tercengang.Di mata Desa Mawar, semua yang terjadi adalah sebuah keajaiban.Sebagai contoh, Jono entah bagaimana takluk ke

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 176

    "Dasar!" Mawar mengulurkan tangannya untuk mendorong Ratna. "Menurutku, kamu jangan naik mobilnya. Kalau Dhana tahu kamu diam-diam mengejeknya, dia akan memakanmu hidup-hidup."Ratna mundur dua langkah, lalu merangkul lengan Mawar."Kak Mawar, aku cuma bercanda. Kenapa kamu marah sekali? Jangan-jang

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 181

    "Tunggu sebentar, keluargaku belum tidur. Tunggu mereka tidur, nanti aku ke rumahmu."Dhana melepaskan tombol, dan pesan suara itu meluncur pergi. ‘Mawar ini semakin menarik,’ pikirnya."Aku nggak mau menunggu terlalu lama, cepat datang sekarang," bisik Mawar dalam pesan suara. Suaranya seperti musi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status