Share

Bab 5

Author: Krisna
"Oke, aku tunggu kabar baiknya."

Dhana mengangguk pelan, lalu duduk di bangku kayu kecil di sudut.

Sambil menyaksikan Bima masuk, Dhana merasa campuran antara gugup dan penuh harap. Usulan Bima benar-benar telah menggerakkan sesuatu dalam dirinya.

Dia hadir di pernikahan Bima dan Puspita. Saat itu, dia bertekad akan mencari istri secantik Puspita, yang tidak hanya cantik tapi juga pengertian.

Dia tidak menyangka Bima akan meminta bantuan semacam ini padanya.

Setelah Dhana memikirkannya, dia merasa jika Puspita setuju, dia akan bertindak tanpa ragu. Lagi pula, dia tidak akan rugi, jadi tidak perlu bersikap malu-malu.

Hati Dhana berdebar penuh antisipasi.

...

Di dalam rumah.

Puspita mengenakan gaun tidurnya dengan tubuh yang memukau. Dia tampak sedang tidak senang.

Tahun-tahun pernikahan ini benar-benar telah menguras energinya.

Teman-temannya yang menikah pada waktu yang sama telah memiliki anak kedua, tapi dia masih tidak bisa hamil.

"Bima, kalau memang nggak mungkin bisa hamil, lepaskan saja aku. Aku nggak mau membuatmu menderita."

Bima berjalan mendekat dan menggenggam tangan mungil Puspita.

"Sayang, aku sudah minum obat. Kesehatanku sudah jauh lebih baik. Beri aku waktu satu tahun lagi, kita pasti berhasil."

Puspita menepis tangan Bima dan menatapnya dengan pandangan sinis.

"Paling lama tiga bulan. Kalau aku masih belum hamil, kita cerai saja."

Bima terpaksa mengangguk dalam diam.

"Sayang, ayo kita coba lagi? Mungkin dengan perubahan suasana dan pikiran lebih ringan, kita bisa berhasil."

Dia bangkit dan berjalan ke lemari, mengambil gulungan selotip dan selendang sutra gelap.

"Aku mau tutup matamu. Ayo kita main permainan romantis, nggak usah bicara. Mungkin saja berhasil."

Meskipun agak enggan, Puspita mengangguk.

"Oke, anggap saja mengisi waktu."

Bima mengambil selendang itu, pertama menutupi mata Puspita, lalu melilitkan selotip di atas selendang untuk memastikannya tidak lepas.

"Coba sekarang. Kamu nggak bisa lihat apa-apa, 'kan?"

Puspita mencoba menarik selendang dan selotip itu. "Dikencangkan begitu ketat, aku nggak bisa lihat apa-apa. "

"Bagus!" Bima mengangguk sambil tersenyum. "Karena ini pertama kali kita main, kamu harus serius. Kamu harus kerja sama, nggak boleh bicara sama sekali. Kalau kamu berhasil, nanti kukasih 1,2 juta!"

Puspita tertawa dan mengangguk. "Kamu yang bilang, ya."

"Janji! Aku jamin 1,2 juta!"

Puspita mendengus tanda setuju, hatinya berdebar kencang.

Jujur saja, dia merasa tergugah.

Bima menggandeng Puspita ke kamar.

Dengan bantuan Bima, dia bersiap-siap.

"Bima, aku gugup!"

"Santai saja!" Bima meyakinkannya, lalu mengganti topik. "Aku mau kunci pintu depan dulu sebentar."

"Jangan lama-lama, aku takut," kata Puspita, terdengar tidak sabar.

"Nggak akan lama." Bima berbalik dan pergi.

...

Di halaman rumah.

Dhana duduk di bangku, telapak tangannya berkeringat karena gugup. Dia benar-benar menantikan kesempatan ini.

Tiba-tiba, Bima membuka pintu dan mendekatinya.

"Begini ..."

Bima menjelaskan situasi kepada Dhana secara rinci bagaimana dia harus bertindak agar Puspita tidak curiga.

Dhana langsung mengacungkan jempol pada rencana itu.

"Kak, idemu cemerlang!"

"Ingat!" Bima menekankan lagi, "Jangan bicara sedikit pun nanti, jangan sampai ketahuan. Setelah selesai, aku janji kamu kuberi 4 juta. Berusahalah sebaik mungkin, jangan kecewakan aku. Kebahagiaanku bergantung padamu."

Dhana sangat gugup dan mengangguk-angguk.

Segera, dia masuk ke dalam rumah.

Begitu melihat Puspita, darahnya mendidih, mulutnya kering, dan dia menelan ludah dengan susah payah.

Sosok tubuh Puspita sungguh menakjubkan.

Lekuk yang indah dan kulit halus mulus itu menarik saraf Dhana, mengguncang hatinya.

Mendengar langkah kaki, Puspita berbalik dan berkata, "Bima, ayo cepat. Aku takut gelap."

Ucapannya yang tiba-tiba membuat Dhana terkejut.

Dia tidak tahu harus menjawab apa.

Karena setiap suara yang dia keluarkan akan langsung membongkar kebenarannya.

Setelah ragu beberapa detik, Dhana memberi isyarat, "Ssst."

Puspita mengerti dan mengangguk pelan. "Aku lupa. Kamu bilang jangan bicara. Aku nggak akan bicara lagi."

Kini, butiran keringat menutupi dahi Dhana.

Dia benar-benar tegang!

Dia mengusap keningnya dan menggantung jaketnya di gantungan baju sambil berjalan.

Tapi saat menarik tangannya, dia hampir menjatuhkan gantungan baju itu.

Dia bereaksi cepat dan menyeimbangkannya kembali.

Tapi tetap saja, dia membuat keributan.

Puspita langsung mengernyit khawatir mendengar ini.

"Cepatlah, jangan lambat-lambat. Ayo, cepat."

"Ssst!" Dhana mengeluarkan trik yang sama.

Puspita merasa ada yang aneh. Dia berpikir dalam hati, Bima terlalu serius dengan permainan ini. Kenapa tidak bicara sedikit pun?

"Bima, aku gugup."

Puspita menggoyangkan tubuhnya yang ramping, suaranya merdu dan lembut.

Ucapan berulang-ulangnya membuat Dhana panik sepenuhnya.

Apa yang harus dia lakukan?

Dalam gugupnya, Dhana mendekati Puspita.

Tapi, tangan dan kakinya yang canggung membuatnya tersandung sandal dan jatuh ke depan.

Dhana bereaksi cukup cepat, tapi tetap bertabrakan dengan Puspita.

Puspita terkejut dan berseru.

Dia buru-buru menarik selendang sutra itu, tapi tertegun saat mengenali Dhana.

"Dhana? Kenapa kamu di sini?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 194

    Yuna mencibir dan mengerutkan kening."Dasar buta, beraninya menghina Tabib Dhana? Tunggu saja. Kalian akan menyesalinya.""Menyesal?" Amanda membalas. "Nona Yuna, izinkan aku memberi mengingatkan. Kalau kamu cari pria simpanan, carilah yang layak. Kalau pilih orang bodoh, kamu akan menyesal akhirnya."Sambil bicara, pandangan Amanda beralih ke Dhana."Pernikahan sebentar lagi dimulai. Kami tunggu kamu di Grand Hotel. Semoga kamu masih berani datang menyaksikan kebahagiaan Kak Tara dan aku."Amanda berbalik dan naik ke mobil pengantin."Sampai jumpa sebentar lagi. Aku punya kejutan untukmu," kata Tara, masuk ke mobil pengantin dengan seringai jahat.Dia sudah mengundang seorang pendekar bela diri tingkat sembilan.Hari ini, entah Dhana datang ke pernikahan atau tidak, dia akan diberi pelajaranDiiringi sorak-sorai, iring-iringan kendaraan itu perlahan-lahan berangkat.Dhana memarkir motor listriknya di tepi jalan, lalu naik mobil sport Yuna.Di dalam mobil.Yuna bertanya sambil terseny

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 193

    "Wah, dia itu Nona Yuna dari Keluarga Atmaja, 'kan? Cantik sekali! Dia kelihatannya akrab dengan pemuda itu.""Benar," sambung seorang wanita lain. "Dilihat dari ekspresi dan percakapan mereka, kelihatannya sangat akrab."Tiba-tiba, salah seorang wanita punya ide, berjalan mendekati Dhana dan Yuna dengan wajah tersenyum ramah."Nona Yuna, apa perusahaanmu masih butuh satpam? Aku dengar katanya gaji dan tunjangan satpam di Grup Atmaja sangat tinggi. Anakku pernah ikut pelatihan keamanan, tapi masih belum dapat pekerjaan. Bisakah dia bekerja jadi satpam di perusahaanmu?""Nona Yuna, anakku kepala koki di restoran. Masakannya sangat luar biasa. Apa restoran milik grupmu butuh koki? Izinkan anakku bergabung dengan perusahaan grup kalian, terima kasih Nona Yuna!""Apa kalian butuh pembantu rumah tangga? Aku bisa melakukannya.""Butuh orang untuk membersihkan toilet? Aku cukup profesional.""..."Belasan wanita paruh baya itu mencari pekerjaan.Wajah Yuna tampak muram, kata-kata terbentuk di

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 192

    "Lihat, itu orangnya!"Seseorang yang bermata tajam menunjuk ke arah Dhana."Ya, ya! Pemuda yang duduk di motor itu, dia mantan pacarnya Amanda. Dia pernah datang ke sini dua tahun lalu, jadi aku sudah ketemu beberapa kali. Si bodoh itu masih nggak rela melepaskan?""Mantan pacarnya mau menikah, dia masih saja datang. Seperti orang bodoh saja, menunggu di depan rumah. Apa dia benar-benar mau menyaksikan Amanda menikah dengan orang lain? Dibayangkan saja sudah kasihan ...."Gerombolan wanita paruh baya yang suka mencampuri urusan orang mendekati Dhana."Nak, mantan pacarmu sudah menikah dengan orang lain. Lupakan dia. Hari ini hari pernikahannya. Kamu pergi saja.""Ya, Tara pernah memukulimu dua tahun lalu. Siapa tahu dia mau melakukannya lagi hari ini. Kamu harus belajar untuk melepaskan."Dhana duduk di atas motor, menatap mereka."Terima kasih atas perhatian kalian, tapi aku nggak bodoh lagi. Karena mantan pacarku mau menikah, paling nggak aku harus datang."Salah seorang wanita paru

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 191

    Dengan satu pikiran, jiwanya kembali ke dunia nyata. Dhana bangun dari tempat tidur, menjilat bibirnya. Rasa air danau itu masih tertinggal.Sangat manis dan sulit dilupakanDhana mengambil botol air mineral, lalu kembali memasuki Dimensi Teratai dan mengisi botol dengan air danau.Dia membawa air itu kembali ke dunia nyata.Air danau berkilau dengan kejernihan kristal, seperti minuman para dewa. Saat tutup botol dibuka sedikit saja, aroma harumnya langsung tercium."Aroma ini sebanding dengan parfum!"Dia membuka tutup botol dan minum sedikit. Rasa segar dan manis segera memenuhi mulut, lalu mengalir ke kerongkongan, hingga ke perutnya, meninggalkan rasa hangat yang menyenangkan."Luar biasa, benar-benar luar biasa!"Tiba-tiba, Dhana mendapat sebuah ilham.Di dalam Dimensi Teratai, tumbuhan tumbuh subur. Apa efeknya jika menggunakan air danau itu untuk mengairi tanaman di dunia nyata? Mungkin tanamannya akan tumbuh subur seperti di dalam Dimensi Teratai?Tidak lama setelah memikirkann

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 190

    Sekar menghela napas dalam-dalam saat mengatakan itu.Dua tahun terakhir ini seperti hidup di neraka. Mereka berempat sangat menderita, terutama pasangan tua itu. Kaki Bejo patah dan selalu kambuh setiap beberapa hari. Dia sendiri pun tidak jauh lebih baik.Dhana kini sudah sembuh, baru saja membeli mobil mewah, dan sedang membangun vila. Kehidupan mereka kembali normal dan tidak mampu menerima guncangan apa pun lagi."Ayah, Ibu, jangan khawatir. Hubunganku dengan Amanda sudah ditakdirkan jelek sejak awal. Kalau urusan kami nggak kutuntaskan besok, mereka berdua pasti akan mencariku lagi. Aku tetap harus pergi besok."Melihat Dhana tidak bisa dibujuk dengan cara apa pun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.Beberapa menit berlalu sebelum Bejo perlahan bicara lagi."Kalau begitu, usahakan jangan sampai ada perkelahian. Tinggal bicarakan apa yang perlu saja, lalu segera pulang."Dhana mengangguk.Di Kota Siraya, kantor Yuna di Grup Atmaja.Yuna bersandar di kursi kulitnya dan menatap Keke

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 189

    "Kamu nggak benar-benar mau datang, 'kan?""Kenapa nggak?" balas Dhana sambil tersenyum. "Sebagai mantan pacar Amanda, aku harus datang di momen paling bahagia mereka. Paling nggak membawa hadiah spesial biar pernikahan mereka semakin mengesankan, ya 'kan?"Besok, dia akan membalas dendam atas semua penderitaan yang dia rasakan selama dua tahun.Kenapa tidak datang?Dia justru harus datang!Dan kedatangannya harus megah dan mencolok."Beneran mau datang?" tanya Mawar, bingung.Dhana mengangguk lagi, "Kamu pikir aku bercanda? Aku sudah menyiapkan hadiahnya, dan besok pasti akan diantarkan ke tempat pernikahan tepat waktu."Melihat ekspresi serius Dhana, Mawar percaya bahwa Dhana mengatakan yang sebenarnya. Pria ini mungkin benar-benar sudah menyiapkan hadiah."Dhana, aku khawatir. Pasti ada udang di balik batu kenapa Amanda mengundangmu ke pernikahannya. Sebaiknya nggak usah datang.""Lagi pula, orang yang memukulimu itu katanya dari keluarga terpandang. Apa jadinya kalau mereka menyaki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status