Share

Bab 25 Pelampiasan

Penulis: NFLusica
last update Tanggal publikasi: 2026-02-23 23:05:41

Adrian menguatkan otot kaki dan punggungnya secara bersamaan. Dia berdiri tegak dari sofa ruang tamu itu seraya mengangkat tubuh Amara sekaligus ke udara.

Gerakan mendadak itu membuat Amara terkesiap kaget. Dia refleks melingkarkan kedua kakinya erat-erat di pinggang Adrian agar tubuhnya tidak jatuh menghantam lantai keramik.

Posisi saat ini, Amara berada murni dalam gendongan Adrian. Tangan besar Adrian menopang bokong wanita itu dari bawah dengan sangat kokoh.

Pada detik yang sama saat tubuh
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 68 Obati Aku

    Sepeninggal suaminya, suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan dingin. Amara menarik kedua kakinya ke atas kasur, meringkuk menyamping menghadap jendela kaca dengan tubuh yang gemetar.Sedetik kemudian, air matanya menetes membasahi permukaan bantal. Ia menangis dalam diam meratapi nasib pernikahannya yang terasa kian memburuk, sembari memeluk bantal guling erat-erat untuk mencari kenyamanan.Hawa dingin dari pendingin ruangan mulai menusuk kulitnya yang polos. Rasa sedih seketika menguasai seluruh perasaannya malam ini, membuatnya merasa sangat lelah menghadapi rumah tangga yang penuh pertengkaran.Di tengah isak tangisnya, bayangan wajah Adrian justru muncul begitu saja mengisi kepalanya. Amara mengingat jelas bagaimana pria berjas putih itu memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kehangatan beberapa jam yang lalu."Adrian... aku kangen banget sama pelukan kamu malam ini," rintih Amara sangat pelan di balik selimutnya. "Di sini ra

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 67 Kasar

    Mendapat pertanyaan itu, keringat dingin langsung merembes di dahi Amara. Ia refleks mencengkeram erat tali tas tangannya, memaksa otaknya bekerja cepat untuk menyusun pembelaan yang masuk akal."Aku tadi mual parah gara-gara efek suntikan hormon, Mas," dalih Amara dengan suara yang diusahakan tetap stabil. "Dokter Adrian nggak bolehin aku nyetir sendiri, makanya dia yang antar aku sampai depan gerbang."Doni tidak langsung merespons. Ia melipat kedua tangan di depan dada dengan angkuh, sementara matanya bergerak lincah memindai penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala.Mendengar nama sepupunya disebut, Doni bangkit berdiri dan melangkah maju. Ia menghampiri Amara perlahan, lalu berhenti tepat satu jengkal di hadapan tubuh istrinya yang gemetar.Tanpa peringatan, Doni memajukan kepala ke arah perpotongan leher Amara. Ia mengendus kemeja istrinya dengan tarikan hidung yang kasar, mencoba menangkap aroma yang terasa asing di sana."Mua

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 66 Bertemu Doni Lagi

    Sambil berbicara, kedua tangan Amara mulai bergerak menyentuh kerah kemeja pria itu. Ia membuka kancing yang salah masuk itu satu per satu dengan telaten, hingga kulit dada Adrian perlahan terekspos selama proses tersebut.Adrian hanya diam membiarkan Amara mengurus pakaiannya di tengah kesunyian. Ia sama sekali tidak memprotes, justru membiarkan rasa nyaman perlahan merayapi tubuhnya akibat sentuhan kecil tersebut.Setelah semua kancing terbuka, Amara memasukkannya kembali ke lubang yang benar. Ia memastikan letak kain kemeja itu sudah lurus dan simetris seperti semula.“Udah rapi sekarang bajunya. Kamu berdiri, gih," ucap Amara samb

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 65 Sini Aku Betulin

    "Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat."Iya, Ma," jawab Amara terbata-bata. "Tangan aku gemetar semua dari tadi gara-gara nahan mual, apalagi Mama gedor pintunya kencang banget di depan."Penjelasan itu terdengar sangat masuk akal bagi logika Bu Ratih. Wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak menaruh kecurigaan lebih lanjut, bahkan ia terlihat puas melihat kondisi fisik putrinya yang tampak begitu lemah."Nggak apa-apa kalau kamu merasa mual parah sekarang." Bu Ratih mengusap bahu putrinya dengan gerakan lambat yang penuh arti. "Itu justru tanda yang sangat bagus buat kelanjutan rencana besar keluarga kita."Mendengar respons positif itu, Amara saling melempar pandangan singkat dengan Adrian. Ada

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 64 Kancing Bajumu, Kok...

    "Kamar mandi dalam lagi dipakai sama Bu Amara," kilah Adrian cepat sebelum mertuanya itu bertanya lebih jauh."Jadi saya terpaksa pakai kamar mandi di belakang pas Tante gedor pintu depan kencang banget barusan," lanjutnya seraya menunjukkan ekspresi seolah terganggu dengan ketukan tersebut.Mendengar alasan itu, Bu Ratih hanya mendengus pelan untuk menahan rasa kesalnya. Ia kembali mengedarkan pandangan, menyisir setiap inci area meja periksa medis di hadapannya.Seketika, tatapannya terkunci pada satu titik. Seprai putih di atas ranjang pasien itu tampak sangat kusut masai, seolah baru saja terjadi pergulatan hebat di atasnya.

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 63 Kecurigaan Bu Ratih

    Sambil merapikan sabuk ikat pinggangnya dengan cepat, Adrian mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. "Kamu lihat punya kamu nggak? Coba cek di dekat kaki meja periksa itu.""Itu dia, ada di dekat kaki meja kayu!" seru Amara pelan. "Punya kamu juga jatuh persis di sebelah punyaku."Lantaran waktu yang kian menipis, Adrian memberikan perintah tegas. "Ambilin dua-duanya sekarang juga. Biar aku yang umpetin di tempat yang aman supaya ibumu nggak liat."Sesuai permintaan pria itu, Amara segera menunduk untuk memungut dua helai pakaian dalam tersebut. Ia menyerahkan benda privat itu ke tangan Adrian secepat mungkin sebelum pintu klinik didobrak.Baru saja menerima barang itu, Adrian melangkah lebar menuju meja kerja utama di sudut ruangan. Sedetik kemudian, ia menarik salah satu laci meja kayunya dengan gerakan kasar.Adrian langsung menyembunyikan pakaian dalam mereka ke sana, lalu mendorong laci tersebut menggunakan tenaga penuh hingga tertutup

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 22 Ngelabrak Doni

    Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Amara membuka pintu mobil dan langsung turun. Dia berlari setengah menyeret langkahnya menuju gerbang parkir hotel kumuh itu.Adrian mengerutkan kening melihat tingkah aneh pasiennya. Dia mematikan mesin mobil dan ikut turun menyusul wanita itu.Adrian berjal

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 19 Argh!

    Adrian menunggu beberapa detik sampai otot bengkuang Amara berhenti kejang. Dia menikmati sensasi jepitan dinding rahim Amara yang memeluk seluruh batang kemaluannya dengan sangat erat dan hangat.Setelah napas Amara mulai sedikit teratur, Adrian mulai bergerak. Dia menarik pinggulnya mundur perlah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 21 Ketahuan

    "Dok, aku mau lagi." Amara merengek sambil mendongak menatap pria itu. Matanya sayu dan memohon. "Main yang tadi kerasa bentar banget buatku."Amara menggesekkan tubuh bagian bawahnya ke paha Adrian secara sengaja. Dia menuntut ronde kedua, merasa penyatuan tadi belum tuntas sepenuhnya. Pu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 18 Masuk (3)

    Amara menurut saja layaknya pasien yang patuh. Dia turun dari meja periksa dengan kaki yang gemetar lemas. Cairan lengket terasa mengalir di sela-sela pahanya saat dia berdiri tegak, membuatnya merasa kotor sekaligus terangsang. Dia berdiri canggung di hadapan Adrian dengan kondisi tubuh bagian baw

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status