LOGINHubungan Arina dan Gavin semakin dekat. Arina menerima cinta Gavin dan mereka menghabiskan waktu sambil menunggu Bagas menemukan identitas pemilik akun yang dulu sempat membuat postingan itu.Arina dan Aryo resmi bercerai. Aryo menangis di hadapan Arina dan meminta maaf. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Laki-laki itu kehilangannya dan kehilangan Davina. Tak ada lagi yang peduli. Bahkan ibunya mulai menjauh karena kecewa berat.Arina sedang santai di balkon apartemen. Sudah dua Minggu berlaku, belum ada kabar dari Bagas. Gavin juga tidak memberikan kepastian mengenai restu keluarganya.Pertunangan Gavin dengan Clara batal dan wanita itu kembali ke luar negeri karena marah dan kecewa.Gavin menyusul ke balkon sambil membawa dua mug kopi. Dia taruh di atas meja kemudian menghampiri Arina dan memeluknya dari belakang.Angin berhembus sedikit kencang membuat buku kuduk Arina merinding. Apalagi saat ini bibir Gavin sudah berada di telinga dan lehernya."Jangan disini, Gavin."Gavin mengerat
"Arina, kamu nggak apa-apa?" tanya Bagas dengan nada khawatir. Ia bisa mendengar perubahan napas Arina dari seberang telepon.Arina memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak mendengar kemungkinan yang baru saja disampaikan Bagas. Namun, ia berusaha menenangkan diri sebelum kembali fokus pada percakapan mereka."Aku sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan ini, Bagas," jawab Arina pelan. "Tapi tetap saja... rasanya sakit. Sangat sakit."Bagas menghela napas panjang."Aku mengerti perasaanmu, Arina. Siapa pun pasti akan sedih kalau mengetahui orang tua yang terpisah selama bertahun-tahun mungkin sudah meninggal dunia. Apalagi kamu baru saja menemukan petunjuk tentang mereka." Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Tapi jangan langsung mempercayai semuanya. Oke? Aku hanya menyampaikan apa yang kutemukan dari postingan lama di internet. Informasi itu belum tentu seratus persen benar."Arina menggigit bibir bawahnya."Postingan itu sudah lama sekali, bahkan sempat dihapus. A
Arina berjalan pelan menuju balkon apartemen. Dia sengaja menutup pintu kaca dengan hati-hati agar suara percakapannya tidak mengganggu Gavin yang sedang tertidur di kamar.Angin malam berembus lembut menerpa wajahnya. Namun, ketenangan malam itu sama sekali tidak mampu menenangkan debaran di dadanya.Jari-jarinya menggenggam ponsel semakin erat."Katakan padaku, Gas. Apa yang kamu temukan?" tanyanya tanpa basa-basi.Di seberang sana, Bagas menghela napas panjang."Aku cuma dapat informasi dari internet, Arina. Dan itu pun nggak mudah."Arina langsung menegakkan tubuhnya."Maksudnya?""Banyak data yang sengaja dihapus. Bahkan beberapa jejak digitalnya nyaris nggak tersisa. Aku harus cari lewat arsip lama, cache, dan beberapa forum yang sudah mati."Arina menahan napas."Tapi kamu berhasil menemukannya?""Sebagian."Seketika wajah Arina berbinar."Aku benar-benar beruntung punya teman seperti kamu, Gas." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Kamu bisa diandalkan banget. Aku janji bakal tra
"Gavin, kamu kenapa?" tanya Arina khawatir saat melihat wajah laki-laki itu tiba-tiba pucat.Gavin menundukkan kepala. Tangannya mengepal di atas meja seolah sedang berusaha menahan sesuatu. Dia menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya menjawab."Nggak apa-apa," katanya pelan. "Perutku tiba-tiba sakit. Kalau kita langsung ke atas gimana?"Arina langsung menganggukkan kepala."Ayo. Kamu harus istirahat."Dia segera menyimpan kalung berbentuk hati itu kembali ke dalam kotaknya. Setelah memastikan benda tersebut aman, Arina berdiri dan membantu Gavin bangkit dari kursinya.Meski Gavin berusaha terlihat baik-baik saja, Arina bisa melihat laki-laki itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Karena itu, dia tetap berada di sampingnya sepanjang perjalanan menuju lantai atas.Sesampainya di depan ruangan, Arina segera membuka pintu. Dia membantu Gavin masuk ke dalam kamar dan membimbingnya hingga duduk di tepi lkasur.Gavin mengusap wajahnya sebentar lalu merebahkan tubuh."Maaf, A
Arina masih berdiri beberapa saat, memperhatikan keributan yang belum juga mereda.Aryo dan Davina saling berteriak tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka. Kata-kata kasar meluncur begitu saja dari mulut Davina, penuh amarah dan kebencian yang selama ini mungkin telah lama dipendam."Kamu pembohong, Aryo! Dasar pengecut!" bentak Davina.Aryo yang emosinya sudah berada di ujung batas balas membentak. "Dan kamu pikir kamu lebih baik dariku?!"Davina mendorong dada Aryo dengan kedua tangannya.Bruk!Aryo mundur setengah langkah.Kerumunan mulai terbentuk. Beberapa orang mengeluarkan ponsel untuk merekam, sebagian lain hanya menonton seolah sedang menyaksikan pertunjukan gratis.Davina kembali mendorongnya. "Kamu hancurin hidupku!""Aku?! Kamu yang menghancurkan semuanya!" balas Aryo.Dorongan berikutnya membuat kesabaran Aryo benar-benar habis. Tanpa berpikir panjang, Aryo mendorong balik.Bruk!Tubuh Davina kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di trotoar.Suasana
Arina menempelkan ponsel ke telinganya begitu panggilan itu tersambung."Halo?""Kamu di mana?"Untuk sesaat Arina terdiam. Tubuhnya mematung ketika mendengar nada suara Gavin di seberang sana. Tidak ada nada menggoda seperti biasanya. Tidak ada juga sindiran yang sering membuatnya kesal. Yang terdengar justru kekhawatiran yang begitu jelas."Bertemu teman," jawab Arina singkat."Teman siapa? Di mana?"Pertanyaan itu datang begitu cepat hingga membuat Arina mengerutkan dahi.Dia menelan ludah sebelum menjawab, "Teman sekolah dulu. Aku lagi di kafe.""Kafe mana?"Arina memijat pelipisnya. "Kenapa sih kamu nanya sampai sedetail itu?"Karena penasaran sekaligus sedikit kesal, dia akhirnya menambahkan, "Aku cuma ngobrol sama teman lama. Nggak ada apa-apa.""Aku balik ke apartemen dan kamu nggak ada," sahut Gavin dengan suara rendah. "Jelas aku khawatir."Ucapan itu membuat Arina terdiam sejenak.Entah kenapa, mendengar seseorang mengkhawatirkannya terasa asing sekaligus menghangatkan hati







