แชร์

Bab 32 Pulang

ผู้เขียน: Ichira Sherry
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-25 16:13:14

Arina segera menjauhkan ponsel dari telinganya agar suara mereka tidak terdengar oleh sang ibu.

"Aku sedang bicara dengan ibuku, akh," bisiknya terburu-buru. "Tolong, jangan ganggu dulu. Pelan pelan pegangnya."

Tatapan Gavin bertemu dengan mata Arina beberapa saat.

Melihat kepanikan di wajah wanita itu, senyum jahil di bibirnya perlahan menghilang. Dia akhirnya mengangguk kecil dan melepaskan pelukannya.

"Oke," ucapnya lirih. "Lanjutkan."

Arina menghembuskan napas lega.

Dia kembali menempelkan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 72 Bantuan

    "Astaga..." gumamnya pelan.Karena masih ragu, Arina menggunakan beberapa aplikasi untuk memeriksa keaslian foto itu. Dia mengunggah gambar itu dan menunggu hasil analisisnya.Beberapa menit kemudian hasilnya muncul.Arina terdiam.Foto itu dinyatakan asli. Tidak ada tanda-tanda manipulasi digital ataupun rekayasa AI.Dadanya langsung berdebar semakin kencang.Kalau foto itu benar-benar asli...Kalau bayi dalam foto itu benar-benar dirinya...Maka kalung itu memang memiliki hubungan dengan masa lalunya.Masa lalu yang selama ini tidak pernah dia ketahui.Arina menggigit bibir bawahnya.Perlahan dia kembali membuka ruang obrolan dengan Rumi.Jarinya bergerak cepat mengetik pesan."Aku mau lihat langsung kalungnya. Sebelum memutuskan apapun, aku harus memastikan semuanya sendiri."Pesan itu terkirim.Tak lama kemudian balasan dari Rumi masuk.Rumi setuju.Bahkan wanita itu langsung menentukan tempat dan waktu pertemuan.Besok sore.Di sebuah kedai kopi kecil yang berada tidak jauh dari

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 71 Kabar Dari Rumi

    Arina bernapas lega. Akhirnya Rahma meninggalkannya sendiri di kafe itu. Niatnya datang ke tempat itu untuk melupakan sejenak perceraian dengan Aryo, tetapi takdir justru mempertemukannya dengan mantan mertuanya. Obrolan yang seharusnya sudah terkubur kembali diungkit, membuat luka lama yang mulai mengering terasa perih lagi."Hidupku nggak akan tenang kalau sering ketemu sama mereka."Arina menggeleng pelan. Dia meraih cangkir kopi di hadapannya dan menyeruput isinya. Kopi itu sudah dingin, tetapi dia terlalu malas memesan yang baru. Kepalanya terasa penuh setelah percakapan panjang dengan Rahma.Pandangannya menerobos jendela kafe. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar tanpa memperdulikan siapapun. Betapa enaknya hidup jika semua masalah bisa ditinggalkan begitu saja seperti orang-orang yang berjalan pergi itu.Namun, hidupnya tidak sesederhana itu.Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar.Nama pengirimnya membuat waja

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 70 Tak Bisa Diperbaiki

    Arina memesan secangkir kopi hangat dan beberapa potong roti. Setelah seharian mengurus berbagai hal yang menguras tenaga dan pikirannya, dia ingin bersantai sejenak sebelum pulang. Setidaknya, beberapa menit untuk menenangkan diri dan menikmati waktu tanpa gangguan.Tak lama kemudian, pesanannya datang. Aroma kopi yang harum langsung memenuhi indera penciumannya. Arina mengucapkan terima kasih kepada pelayan lalu mengaduk kopinya perlahan.Karena memilih tempat duduk di dekat jendela, pandangannya leluasa mengarah ke luar kafe. Orang-orang berlalu lalang di trotoar, kendaraan memenuhi jalan raya, dan di kejauhan berdiri megah gedung perusahaan milik Aryo.Arina menghembuskan napas panjang."Oh, semoga saja aku nggak ketemu sama Aryo dan Davina. Aku benar-benar nggak mau pusing lagi."Dia menggeleng pelan sambil menyeruput kopinya. Rasanya pahit, tetapi justru membuat pikirannya sedikit lebih segar.Hari ini dia baru saja keluar dari pengadilan untuk menyerahkan berkas perceraian. Sem

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 69 Perasaan Gavin

    DegJawaban Gavin membuat jantung Arina langsung berdebar. Dia menatap mata Gavin, berusaha mencari kejujuran dari sana. Dia takut, Gavin mengatakan ini hanya untuk menenangkannya saja, bukan karena tulus ingin dekat dengannya.Arina menjauhkan tubuhnya dari Gavin. Dia menutup mata sejenak kemudian menatap laki-laki itu kembali."Menginginkanku hanya sebatas teman di atas ranjang atau karena perasaan?" tanya Arina mempertegas hubungan.Gavin hanya diam. Dia menatap ke bawah dan belum memberikan jawaban. "Soal itu---""Diammu sejenak tadi sudah cukup membuatku tahu jawabannya, Gavin. Ah sudahlah, mungkin aku hanya terbawa suasana karena sebentar lagi akan bercerai dari Aryo. Maaf membuatmu repot-repot menjawab pertanyaanku. Bagiku sudah jelas, hubungan diantara kita, hanyalah karena perjanjian itu. Aku juga sudah cukup berterima kasih karena diizinkan tinggal disini," ucap Arina."Arina, aku----""Aku capek, aku akan kembali istirahat."Gavin menghela napas. "Baiklah."Arina meninggal

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 68 Jawaban Gavin

    "Jadi ... kamu benar-benar menolaknya?" tanya Arina lagi seolah sedang memastikan. "Benar." "Dan keluargamu langsung menerima?" Gavin terkekeh pelan. "Jelas saja nggak akan semudah itu." Arina mengerutkan kening. "Ayahku marah besar waktu pertama kali aku mengatakan tidak. Dia bahkan mengira aku hanya sedang bercanda." "Terus?" "Aku menjelaskan baik-baik bahwa aku nggak mau menikah dengan seseorang hanya karena keluarga menganggap kami cocok. Masalahnya bukan cocok dalam hal menjalin hubungan, melainkan karena dianggap setara dalam hal bisnis dan faktor finansial." Arina terdiam. "Bagiku, pernikahan bukan sekadar kesepakatan dua keluarga. Yang menjalani kehidupan setelah menikah adalah aku. Jadi, aku merasa punya hak untuk menentukan dengan siapa aku ingin hidup." Kalimat itu membuat Arina tanpa sadar menatap Gavin lebih lama. Dia kembalikan mengingatkan dirinya sendiri. Dia seorang wanita dan tak bisa setegas Gavin. Dia hanya menolak sekali, namun orang tuanya mema

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 67 Memastikan Sekali Lagi

    "Aku menolak perjodohan itu."Arina terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan Gavin. Entah kenapa, meskipun laki-laki itu sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia menolak perjodohan tersebut, hati Arina tetap belum sepenuhnya tenang.Justru ada bagian kecil dalam hatinya yang merasa lega.Ada keinginan yang diam-diam muncul untuk melanjutkan hubungannya dengan Gavin. Bukan lagi sekadar hubungan yang berawal dari sebuah perjanjian. Bukan karena kebutuhan masing-masing. Bukan pula karena keadaan yang memaksa mereka untuk saling berdekatan.Perasaan itu muncul begitu saja.Tanpa disadari, perhatian dan kepedulian Gavin perlahan membuat pertahanan hati Arina runtuh. Laki-laki itu selalu ada ketika dia membutuhkan bantuan. Gavin juga sering menggodanya, membuatnya kesal, tetapi di saat yang sama selalu menunjukkan kepedulian yang tidak pernah Arina dapatkan dari laki-laki lain.Arina bahkan tidak pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.Di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status