Home / Romansa / Suntikan Candu Mas Dokter / Bab 8 Digigit Semut Besar

Share

Bab 8 Digigit Semut Besar

Author: Ichira Sherry
last update publish date: 2026-07-10 19:29:11
Arina terkejut, sesuatu menggigit miliknya di bawah sana. Dia mendorong tubuh Gavin agar menjauh darinya.

"Ada apa? Aku belum menyentuhmu sama sekali." Gavin menatap Arina dengan heran, apalagi melihat wajah gusar wanita itu.

"Bu---bukan itu. Tapi---aduh." Arina merapatkan pahamnya.

Gavin mengerutkan dahi. Dia kembali mendekat ke arah Arina dan meraih dagu wanita itu.

"Aku harus ke toilet." Arina hendak bangkit dari kursi, namun Gavin tak mengizinkannya.

"Ada apa? Kaakan dulu."

Arina
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 53 Pecah Telur

    DegArina melean ludah. Dia menundukkan kepala saat tangan Gavin menjauh. Kini tinggal tangannya saja yang memegang benda tegang dan besar itu.Napas Gavin terengah. Dia meraih kepala belakang Arina kemudian menariknya ke atas dan mencium bibir itu kembali. Sementara tangan Arina masih berada di benda berharga miliknya dibawah sana.Arina memjamkan mata. Tangannya refleks maju mundur seperti apa yang diajarkan Gavin tadi.Gavin mendesis dalam ciumannya. Dia semakin liar menyesap bibir Arina. Keduanya terhanyut dalam suasana yang sangat intim. Hingga akhirnya bibir Gavin terlepas dan meminta Arina menggantinya dengan mulut. Lagi-lagi Arina bingung dan Gavin mengajariya dengan sabar. Akhirnya, Arina bisa melakukannya, memberikan kepuasan pada Gavin dengan sentuhan."Argh, kamu hebat sekali, Sayang. "Gavin menyudahi aktivitas itu. Dia kembali mendorong tubuh Arina hingga terlentang di kasur.Jantung Arina berdetak lebih kencang saat Gavin membuka kedua pahanya. Gavin mensejajarkan waja

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 52 Gavin Menikmatinya

    “Sekarang giliranmu memanjakanku.”Deg.Arina menatap Gavin dengan napas yang masih belum teratur. Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa begitu berat di telinganya. Jantungnya berdetak lebih cepat, sementara wajahnya perlahan memanas.Dia tidak tahu harus berbuat apa.Selama ini pengetahuannya mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan sangat minim. Bahkan bersama Aryo sekalipun, mereka tidak pernah benar-benar melakukan hal-hal seperti ini. Karena itu, sekarang ketika Gavin justru menyerahkan semuanya kepadanya, Arina merasa benar-benar kehilangan arah.“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya pelan.Gavin mengangkat alis.Arina segera memalingkan wajah. “Aku nggak tahu apa-apa tentang itu.”Ada sedikit rasa malu dalam suaranya.Gavin yang melihat wajah Arina semakin merah hanya tersenyum tipis. Bukannya mengejek, dia justru terlihat memahami kegugupan wanita itu.“Tenang,” katanya lembut. “Kamu nggak perlu tahu semuanya. Kamu hanya perlu mengikuti intruksiku dan melakukannya

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 41 Belum paham

    Arina sempat mematung karena terkejut. Matanya membulat beberapa detik sebelum akhirnya terpejam perlahan. Rasa gugup masih memenuhi dadanya, tetapi ia tak lagi berusaha menghindar.Tangannya yang semula menggantung di samping tubuh perlahan terangkat, mencengkeram pelan lengan Gavin untuk menjaga keseimbangan. Jantungnya berdetak semakin cepat, sementara pikirannya dipenuhi berbagai perasaan yang sulit dijelaskan.Ketika Gavin menjauh beberapa sentimeter, keduanya saling menatap tanpa berkata-kata. Senyum tipis menghiasi wajah Gavin, sedangkan Arina hanya mampu menundukkan kepala karena malu."Kamu masih marah?" tanya Gavin pelan.Arina menggeleng kecil."Aku... cuma bingung.""Bingung kenapa?"Arina tersenyum tipis, meski pipinya masih memerah."Karena saat aku mencoba kesal sama kamu... kamu selalu berhasil membuatku lupa kenapa aku marah."Mendengar pengakuan itu, Gavin terkekeh pelan. Jemarinya kembali merapikan rambut Arina yang sedikit berantakan, sementara Arina hanya bisa men

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 50 Akhirnya Luluh

    Entah kenapa Arina kesal. Dia enggan untuk bicara lagi. Dia diam meskipun Gavin sedang memeluk dan berbisik di telinganya.Saat ini, entah kenapa dada Arina terasa sesak. Nada dering ponsel Gavin yang menampilkan nama Sweet Apple terus terbayang di kepalanya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa hal sekecil itu bisa mengusik perasaannya.Padahal, sejak awal mereka hanya terikat oleh sebuah kesepakatan.Tidak lebih.Karena itu, Arina memilih diam. Dia tidak ingin memperlihatkan rasa kesalnya. Meskipun Gavin masih memeluknya dari belakang dan sesekali membisikkan sesuatu di dekat telinganya, Arina sama sekali tidak menanggapi.Gavin menyadari perubahan sikap itu."Kamu marah?" tanyanya pelan.Arina menggeleng tanpa menoleh. "Aku nggak ada hak buat marah."Jawaban itu justru membuat Gavin menghembuskan napas panjang."Lalu kenapa diam begini?"Arina memejamkan mata sejenak sebelum menjawab."Aku cuma sadar diri.""Sadar diri?""Iya." Arina tersenyum tipis, meski senyum itu sama sekali tida

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 49 Maaf?

    "Apa sebaiknya aku angkat?"Tangannya perlahan terulur ke arah ponsel. Baru saja ujung jarinya hampir menyentuh layar, sebuah tangan yang lebih besar lebih dulu meraih ponsel itu.Arina tersentak dan refleks menoleh.Gavin berdiri hanya beberapa langkah darinya.Laki-laki itu baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut hitamnya masih basah, beberapa tetes air jatuh melewati pelipis hingga mengalir di lehernya. Handuk putih hanya melingkar santai di pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan perut berotot yang selama ini hanya sempat Arina lihat sekilas.Arina membeku.Tanpa sadar matanya mengikuti tetesan air yang meluncur di kulit Gavin.Seketika wajahnya memanas.Cepat-cepat dia memalingkan muka sebelum ketahuan sedang memperhatikan laki-laki itu.Sementara Gavin, yang menyadari perubahan ekspresi Arina, hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Senyum tipis penuh arti itu kembali muncul, seolah dia sudah menebak apa yang baru saja terjadi."Apa?" tanyanya santai sambil mengangkat ponsel

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 48 Menikmati

    Sentuhan Gavin benar-benar candu.Arina memejamkan mata ketika Gavin masih berada begitu dekat dengannya. Jemari laki-laki itu sempat bergerak dengan tergesa di dada Arina sebelum akhirnya berhenti, sementara napas hangatnya masih terasa di dekat leher Arina. Kedekatan itu membuat jantungnya berdetak tak beraturan.Dia benar-benar bingung.Sebagian dirinya ingin menjauh dan menghentikan semuanya, tetapi perasaan hangat yang memenuhi dadanya justru membuatnya enggan merusak momen itu. Untuk pertama kalinya, Arina merasakan sensasi yang asing sekaligus menenangkan."Gavin..." lirihnya dengan napas yang masih belum teratur.Mendengar namanya dipanggil, Gavin segera menghentikan semua gerakannya. Dia mengangkat wajah, lalu menatap Arina dengan senyum tipis yang sulit diartikan."Kamu masih sadar, ya?" godanya pelan.Arina langsung memalingkan wajah. Kedua pipinya memerah karena malu. "Jangan godain aku."Alih-alih menjawab, Gavin justru terkekeh pelan. Tanpa aba-aba, dia menyelipkan satu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status