Share

072

Auteur: Thato Kent
last update Date de publication: 2026-02-27 10:18:41

Duhai Meisya, karenamu, sulur jiwaku layu berkecai seribu.

Tiga tahun engkau menghilang, nyaris sepanjang itu juga daku menelusuri jejakmu. Namun, begitu bertemu, kenyataan dirimu justru telah menjelma laksana belati menikam belulang?

Oh sungguh Meisya, sekiranya seribu jarum akupuntur ditancapkan sekaligus dalam waktu yang bersamaan ke tubuh ini, maka niscaya akan sebanyak itu juga engkau mendengar bisikan warta duka batin ini.

"Bara, jangan dulu ke mana-mana, kamu ini sudah salah paham. Tung
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   194

    "Aku benar-benar tidak tahu menahu, Pak," sahutku, setelah mendengar penjelasan dari Pak Nasrullah dan dua orang tetua yang masih bertahan di sini sedari pagi tadi. Sebagaimana yang telah lebih dulu aku perkirakan, bahwa Aziz sudah bercerita tentang apa yang dialami oleh Bu Saodah, itu memang benar adanya. Namun, karena hal itu jugalah, aku tidak lagi terkejut, bahkan sudah mempersiapkan diri juga mental."Tapi sekiranya ada yang lebih percaya cerita Pak Aziz, tidak apa-apa, itu hak pribadi setiap orang, dan aku tidak akan banyak komentar untuk hal itu.""Tapi kalau kita mau cermati cerita Pak Aziz sebagaimana yang bapak semua sampaikan barusan, waktu Bu Saodah mengalami musibah tadi malam, sepertinya aku lagi di rumah Pak Kades. Jadi gimana ya? Kok aku bisa berada di tempat sekaligus dalam waktu yang bersamaan?" Saat beralibi dengan panjang lebar begitu, dari bagaimana raut wajah, gestur, hingga nada bicara, tetap aku kondisikan dengan semeyakinkan mungkin.Salah satu tetua menyel

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   193

    "Sebenarnya memang iya, Pak, aku mau bicara tentang Saodah, tapi Bara sepertinya baru akan memaafkan Saodah kalau Saodah sudah kehilangan nyawanya.""Hei Aziz, jaga ucapanmu! Berani sekali kau memfitnahku! Lagipula, sejak kapan aku ada urusan dengan istrimu? Sial, kenal saja boleh dikatakan tidak, sempat-sempatnya membicarakan perkara maaf memaafkan!"Tanpa perlu dijelaskan sekalipun, ini artinya Saodah telah menceritakan apa yang aku lakukan padanya tadi malam. Namun, ini perkara tindak kriminal.Jangankan yang tidak ada bukti pendukung dan saksi mata sama sekali, yang sudah terbukti melakukan sebuah tindak kejahatan sekalipun adakalanya masih berbelit-belit. Di luar daripada itu, tidak peduli aku sudah membangun narasai yang menurutku sudah sangat meyakinkan begitu, alih-alih terkecoh, Aziz justru terlihat tenang-tenang saja."Bapak lihat sendiri 'kan bagaimana reaksi dia? Bara ini berpikir tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan pada Saodah tadi malam.""Aziz..."Habis sudah sik

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   192

    "Tolong kamu jangan salah paham dulu Bara. Lagipula, harus aku akui, kamu memang benar, memang siapa aku sampai berani nakut-nakuti kamu?"Benar-benar brengsek ya ini orang! Sempat-sempatnya dia sindir aku pakai kata-kataku sendiri? Apa memang perlu kuhajar saja dia, biar dia yakin bahwa aku tidak main-main? Tapi kalau aku yang lebih dulu memulainya... hah sial, sepertinya aku harus menahan diri dulu, Aku langsung mengunci semua keinginan-keinginan kala sadar bahwa kami sedang menjadi pusat perhatian. Apalagi, memang sangat tidak bermoral jika aku sendirilah yang memulai keributan, sementara pada saat yang sama, orang-orang sedang memberi dukungan moril serta simpati atas kepergian Mariana.Di lain pihak, Aziz sepertinya hanya menunggu respon dariku. Tatkala aku tidak kunjung buka suara, dia sendiri lagi yang kembali berkata-kata."Barusan itu sebenarnya aku hanya ingin bilang, apakah kamu takut dijadikan bahan omongan orang kalau bicara denganku di tempat yang ajak jauh dari rumah

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   191

    Aku sedang menyendiri di ruang tamu rumahnya, ketika Rafika tiba-tiba menampakkan diri. Dia datang dengan wajah yang terlihat sedikit lelah. Saat aku hendak menyapa, dia sudah lebih dulu berkata, "Bara, Ibu baru saja nelpon."Nada bicaranya memang terdengar biasa saja, tapi bagaimana dengan isi kalimatnya? Ibunya menelepon, kenapa harus melaporkan itu pada aku?Terang saja dia berhasil membuatku mengkerutkan dahi sekali lagi. Namun kemudian, lagi-lagi dia sedikit lebih cepat menjatuhkan kata-kata dibandingkan aku."Ibu bilang, Bu Santi minta kamu untuk pulang dulu."Barulah aku bernapas dengan lega. Kupikir, dia akan menyampaikan informasi penting apa. Ternyata, hanya masalah sesepele itu?"Oke, aku pulang sekarang. Titip anak-anak ya." Aku memang sudah sangat ingin pulang. Sedari tadi aku menahan gerah. Bukan karena udara di sini tidak sejuk, tapi aku belum mandi sedari kemarin pagi."Kenapa tidak bawa mobil saja biar cepat?" tanyanya, mungkin karena mendapati aku tidak lagi mengat

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   190

    Andai saja alam bawah sadar tidak cepat menyadarkan aku, entah akan kutaruh di mana muka ini saat bertemu Pak Lutfi dan Bu Rahmi nanti?Setelah mengarang cerita bahwa aku dikeroyok sesama kami para pekerja, lalu tiba-tiba aku sendiri juga yang mengungkap kejadian sebenarnya, bukankah itu sama saja dengan menepuk air di dulang?Hah, syukur... syukur, syukurlah aku tidak sampai kelepasan bicara, desahku lega dalam hati.Kini aku berpikir untuk tidak lagi membahasnya. Namun, sayang sekali rupanya Rafika justru berpikir sebaliknya."Jadi benar kamu sampai tidak sadarkan diri itu memang karena dikeroyok orang di jalan lama sana?" Rafika terlihat semakin serius ingin tahu. Dia bahkan berkata-kata tanpa diselingi titik koma sama sekali.Aku pura-pura mendesah berat; "Hah... entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa sampai harus mengalami hal buruk seperti itu."Hening sejenak, Bu Diana yang sedari tadi diam, padahal dia juga duduk satu meja bersama kami, pada akhirnya menggerakkan bibir, "Ken

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   189

    ...menggeleng lesu, lalu berkata, "Jangan dibangunin, Om, nanti Ibu marah."Penasaran akan seperti apa reaksi Rafika, aku pelan-pelan mengangkat kepala, memperlihatkan wajah sekonyong-konyong resah padanya. Padahal, aku sudah menebak, Aditia pasti tidak akan berani mengusik ketenangan adiknya.Sedangkan Rafika, sesuai dugaan, dia tampak cemas. Bahkan, kini sedikit menganga, tapi tidak mengatakan apa-apa.Melewatkan Rafika, aku kembali pada Aditia. "Kalau begitu, kita tunggu sampai Rafni bangun ya," kataku lagi, nada kuatur semeyakinkan mungkin.Aditia mengangguk, tapi hanya sebatas itu. Tidak apa-apa, yang penting dia tidak dulu minta pulang.Setelah itu, barulah kembali kuarahkan wajah pada Rafika. Wanita ini, masih mematung di tempat. Akan tetapi, air mukanya terlihat sudah sedikit lebih baik."Boleh kami masuk sekarang?""Ya, tentu, mari!" Rafika menyambut lebih dari sekadar antusias.Hunian pribadi Rafika ini adalah sebuah rumah minimalis, yang tidak seberapa luas. Aku perkirakan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status