Share

085

Author: Thato Kent
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-06 13:38:16
"Ngomong kau anak durhaka, ngomong! Ayo, jangan ditahan-tahan, katakanlah sesuatu biar aku punya alasan untuk membongkar kelicikanmu!' Aku mengumpat geram dalam hati, kala menyadari kegelisahan bercampur ketidakmengertian ternyata masih saja menyelimuti wajah Silvester.

Akan tetapi, saat ini perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada Edy Hidayat. Telepon si Edi Tansil ini sekarang berdering.

Edy Hidayat kini mulai menatap layar ponselnya. Dahinya tampak mengkerut. Ada jeda kira-kira tiga detik b
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   219

    "Tidak Bang, aku tidak mengada-ada. Lagipula, apa mungkin aku berani mengarang cerita sebesar ini? Ini tentang keluarga dan rumah abang lho. Abang pasti pernah dengar, 'kan orang berkata bahwa ucapan itu adalah doa?" Selain terkesan frustrasi, Angel juga berkata-kata dengan penuh penekanan. Ekspresinya pula, mendadak sangat serius.Di lain pihak, meskipun tidak serta-merta percaya dengan pengakuannya, namun aku terdiam, belum tahu lagi hendak berkata apa. Entahlah, tapi aku mulai ragu pada keyakinanku sendiri. Pada jeda ini, aku mulai berpikir akan menghadapi apa pun itu dengan kepala dingin. Sedangkan kenapa barusan aku sampai syok, itu hanyalah reaksi spontan saja.Lebih dari setengah tahun tidak saling bertukar kabar dengan anak istri serta ibu di desa sana, tentu saja segala sesuatunya dapat terjadi. Lagipula, memang apa yang abadi di dunia ini selain keabadian itu sendiri?Begitu juga dengan Nola. Jika Angel berpikir saat ini sedang hamil besar, aku justru berfirasat Nola akan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   218

    Walau bagaimanapun juga, Angel ini boleh dikatakan adalah orang asing, atau paling tidak terhitung orang baru di daerah sini. Lalu ketika dia tiba-tiba mengaku tahu anak-anak Mariana di hadapanku, siapa yang tidak akan mencari tahu?Di lain pihak, mendapati aku kebingungan, Angel tidak bereaksi secara berlebih-lebihan. Bahkan, dia justru balik bertanya; "Teman wanita abang yang dokter itu tidak cerita apa-apa tentang aku?"Teman wanita? Sekali lagi dia berhasil membuatku mengkerutkan dahi tanpa sadar. "Maksud kamu, Rafika?" Aku tidak sedang bertanya, hanya memastikan."Iya, dokter puskesmas itu," sahutnya setelah lebih dulu menganggukkan kepala."Tunggu-tunggu!" Aku menyela dengan terbodoh-bodoh. "Apa tidak sebaiknya kau buka dulu maskermu? Aku bukan seseorang yang harus kau hindari, bukan?""Oh sorry! Aku sampai tidak sadar!" Barulah dia melepas maskernya.Andai situasinya tepat, maka barusan itu seharusnya aku akan bergurau dengan berkata, 'Buka dulu topengmu biar kulihat wajahmu'

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   217

    "Apa yang kau singgung barusan, sebenarnya itu juga yang ada dalam pikiranku, Angel. Hanya saja, aku berpikir, gimana ya? Intinya, kamu yang tiba-tiba muncul di daerah sini saja, itu sudah bikin aku bertanya-tanya, lho."Meskipun terpaksa harus menambahkan dengan sedikit kebohongan, aku yakin Angel tidak akan mempermasalahkannya. Lagipula, siapa yang akan menjawab pertanyaan yang panjangnya seperti rel kereta api begitu? "Benarkah? Lalu, kenapa dari tadi Abang tidak mengatakan apa pun? Cukup lama lho, kita berada dalam pete-pete barusan."Gurat tak percaya terbaca dengan jelas di wajah Angel. Auranya juga terlihat dingin.Di sisi lain, meskipun tidak mungkin mendebat kebenaran perkataan dia, tapi aku juga tidak mungkin mengakuinya begitu saja. Oleh karena itu, aku karang saja lagi alasan sekenanya; "Gimana cara ngejelasinnya ya? Maaf Angel, aku bingung harus memulainya dari mana!"Angel kembali menatapku, lekat. Sepertinya dia masih belum percaya dengan pengakuanku. Padahal, kurang

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   216

    "Bukan, Bang, rumah itu tidak ada hubungannya dengan Hidayat."Angel menepis dengan ringan. Dari ekspresi wajah, gestur, hingga nada bicara, semuanya terkesan natural dan tanpa ada keraguan sama sekali. Di sisi lain, pengakuannya itu tak lantas membuatku serta-merta merasa yakin."Kalau bukan Edy Hidayat, lalu siapa? Tidak mungkin Silvester, bukan?"Menyebut nama mereka, karena hanya dua orang itu yang menurutku sanggup berlaku tega tanpa pandang bulu sama sekali."Tidak Bang, bukan dia juga," sekali lagi Angel melontar tepisan senada, juga tanpa memikirkannya lebih dulu. "Abang tahu? Sejak dikabarkan pergi ke Taiwan untuk mendapatkan perawatan tempo hari, sejak saat itu juga Silvester tidak pernah ada kabar lagi. Bang Abraham saja tidak bisa lagi menghubungi dia. Jadi tidak mungkin Silvester, bukan?" terangnya kemudian."Apa rumah kalian dijual? Tapi andai dijual sekalipun, siapa yang akan menjualnya? Aku tidak yakin ibu kalian akan diam saja sekiranya terjadi apa-apa dengan proper

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   215

    "Kau taruh di mana mobilmu, Angel? Kok harus naik pete-pete segala?, sih?""Di kecamatan sebelah. Ayo, itu metromini yang menuju sana.""Ha? Kecamatan sebelah?" ulangku dengan mulut ternganga.Sialan juga ya Angel ini, pikirku, tapi kemudian patuh saja pada apa yang dia inginkan.Tadi itu Angel hanya mengarahkan telunjuknya ke jalan raya. Jadi kupikir mobilnya ada di seberang jalan. Sedangkan sekarang, pantas saja kami harus menggunakan angkutan pedesaan. Benar-benar sialan ya?Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin aku mulai paham kenapa sampai dia sampai harus menaruh mobilnya pada titik yang begitu jauh. "Stop di depan, Pak!" Angel tiba-tiba mengucapkan itu. Pada saat yang sama, supir berangsur-angsur menepikan kendaraannya.Lima belasan menit berada dalam lambung angkutan pedesaan, itu adalah lima belas menit yang cukup panjang. Apalagi, kami melaluinya dengan tanpa saling mengobrol sama sekali.Turun dari angkutan pedesaan, aku sempatkan diri melihat-lihat.Di sini adalah sebuah

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   214

    ....benar, dia memang seseorang yang kukenal, tapi tidak sedikitpun terlintas dalam benakku bahwa akan bertemu dengannya di tanah asing ini."Kenapa menatapku seperti itu, Bu? Lagipula, di sini tidak ada yang berkelahi, kok."Mungkin karena tatapan tajam itu, meskipun sudah sedikit terlambat, tapi pria yang ternyata bernama Andar ini, pada akhirnya menepis dengan canggung juga. Kesan gentar pula, sangat kentara pada keseluruhan dia."Kalau bukan berkelahi, lalu apa namanya kalian siap-siap saling terkam begitu?" sanggah wanita ini juga.Selain pakai masker hitam dan kacamata putih keunguan, wanita ini juga mengenakan topi lebar, mirip topi pelindung yang biasanya digunakan orang saat mengunjungi pantai pada saat matahari terik. Dengan tampilannya yang seperti ini, orang lain mungkin akan sulit mengenali wajahnya. Akan tetapi, suara dan sorot matanya, itu yang tidak mungkin bisa dia embunyikan dariku, "Kamu pikir aku tidak lihat apa yang terjadi di sini barusan?" tambah wanita ini, c

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status