Mag-log in“Flo.” Rainer meraih tanganku untuk digenggam dengan lembut. “Apa pun yang lagi berisik di pikiran lo, keluarin aja. Jangan ditahan. Jangan lo pikirin mati-matian. Lo tuh suka banget overthinking sama segala sesuatunya. Ada apa? Cerita aja sama gue.”
Justru hal itu yang paling tidak bisa kuceritakan padanya. Aku agak takut dengan perubahan hubungan ini. Meskipun bersikeras mengatakan bahwa tidak ada yang berubah. Nyatanya aku merasa ada yang berubah. Apakah karena seks?Tiba-tiba Rain“Flo.” Rainer meraih tanganku untuk digenggam dengan lembut. “Apa pun yang lagi berisik di pikiran lo, keluarin aja. Jangan ditahan. Jangan lo pikirin mati-matian. Lo tuh suka banget overthinking sama segala sesuatunya. Ada apa? Cerita aja sama gue.”Justru hal itu yang paling tidak bisa kuceritakan padanya. Aku agak takut dengan perubahan hubungan ini. Meskipun bersikeras mengatakan bahwa tidak ada yang berubah. Nyatanya aku merasa ada yang berubah. Apakah karena seks?Tiba-tiba Rainer berdiri lalu mendekatiku, ia membungkuk untuk memeluk tubuhku dengan lembut.”Yang lo takutkan nggak akan terjadi. Apa pun itu. Entah hubungan pertemanan kita atau apa pun yang berisik dalam benak lo sekarang. Kita tetap seperti yang sebelumnya. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Ikuti aja alurnya. Lo juga butuh having fun. Nggak capek jadi Wonder Woman terus? Rileks, nikmati apa yang terjadi hari ini. Nggak usah dikhawatirkan apa yang belum terjadi esok hari.” Ia mencium puncak kepa
Tubuhku terasa hangat dan juga ada sesuatu yang berat sedang menekanku dari belakang. Dengan penuh perjuangan, aku membuka mata.Hal pertama yang kulihat adalah tirai kamar. Cahaya dari tirai yang sedikit terbuka menandakan hari sudah siang. Entah jam berapa sekarang, aku tidak tahu. Aku mencoba menggerakkan tubuh yang terasa kaku dan juga pegal, sayangnya tidak bisa karena perutku sedang dipeluk erat oleh sepasang tangan kekar..Ah, pantas saja. Tadi malam aku melakukan hubungan seks dengan Rainer berkali-kali sampai kelelahan. Entah jam berapa kami tidur, yang pasti menjelang subuh. Kami terus melakukannya sampai merasa puas, hanya beristirahat sebentar sebelum memulainya lagi. Dia memiliki stamina yang tiada habisnya. Untung saja aku cukup bisa mengimbangi meskipun pada akhirnya tetap kewalahan. Miliknya yang kembali mengeras menekan pinggangku. Apa ia kembali bernafsu? Atau ini hanya reaksi alami dari tubuh pria setiap pagi? Merasakan ketenangan napasnya yang menerp
”Jangan ditahan,” ujarnya menyentuh bibir bawah yang kugigit. “Gue mau dengar suara lo. Jadi please… jangan ditahan.” Bibirku masih terkatup rapat, mencoba untuk tetap menahan suara. Namun ketika ibu jarinya mendesak masuk ke dalamku di bawah sana, pertahananku hancur. ”Ah…” eranganku keluar begitu mudahnya. Kepalaku mendongak kala ia menarik ibu jarinya untuk mendorong jari tengahnya. “Yeah, like that.” Pria itu mencium bagian atas vaginaku. “Gue suka sama suara lo.” Sialan! Benar-benar seperti diriku dihancurkan dalam sekali pukulan. Ciumannya kini tertuju pada klitorisku dan mengisap tonjolan kecil itu yang membuatku tersentak dengan pinggul yang terangkat. ”R-Ren!” Nikmat. Sungguh nikmat. Pandangan berputar-putar sehingga membuatku pusing. Reaksi tubuhku begitu terang-terangan. Kewanitaanku berdenyut lebih hebat di saat lidah Rainer menjilat klitoris yang menegang. Ia mengisap, menjilat dan menggigit pelan titik sensit
Tangannya bergerak cepat untuk melepaskan gaunku, dalam waktu beberapa detik, aku sudah berbaring hanya dengan mengenakan celana dalam. Semuanya masih belum mampu kucerna dengan baik. Ketika tangannya mulai menyentuh celana dalamku, mendadak aku mendorong dadanya yang keras.”Kenapa? Berubah pikiran?” Rainer mengangkat wajahnya yang terkubur di leherku.”M-mandi dulu,” ucapku terbata. “Nggak perlu, lo masih wangi—“”Gue mau mandi dan bersihkan makeup dulu.” Karena aku yakin akan langsung tidur setelah kami melakukannya nanti. Aku harus membersihkan wajah sebelumnya, kulitku yang sensitif akan berjerawat kalau aku tidur dengan wajah yang tidak dibersihkan. “Gue takut jerawatan.”Rainer menaruh keningnya di bahuku sambil menahan tawa sampai bahunya bergetar.”Gue udah diujung dan lo masih mikirin jerawat?””Gue nggak suka jerawatan, bikin badmood.”Rainer turun dari tubuhku untuk berbaring di sampingku, ia menolehkan kepalanya untuk menatapku yang juga
Aku tidak berani bersuara, hanya kakiku yang bergerak kian lambat. Kepalaku menoleh ke samping karena tidak berani menatapnya sementara ia tetap menunduk ke arahku. Terpanaan napasnya mengenai puncak kepalaku.Ketegangan di antara kami terasa berbeda. Seperti ada percikan-percikan gairah yang siap menyambar bagai petir. Aku berusaha untuk mengendalikan diri. Bahkan ketika telapak tangannya mengusap lembut pinggangku, aku tetap mencoba untuk tenang.Bagian tengah tubuhku berdenyut kian hebat. Tanpa bisa kucegah, benakku kembali memutar malam di mana kami bergelut dalam gairah. Berpelukan seperti ini membuatku membayangkan pelukan yang kami lakukan dalam keadaan telanjang.God! Pikiranku tidak tertolong lagi!”Ngobrolin apa aja sama Melvin?”“Kepo. Nggak semua hal harus gue ceritain sama lo.””Lo happy banget kayaknya.”“Gue mau diangkat jadi komisaris, happy dong,” jawabku asal.Dia tertawa pelan, tawa yang begitu dekat dengan telingaku sampai membuatk
Tidak sengaja aku menatap Rainer, kali ini ia sudah dikerumuni oleh para gadis. Mereka pasti menunggu kesempatan ini sejak kemarin. Karena sejak datang ke Bali, Rainer memang lengket denganku.”Lo nggak cemburu?””Cemburu? Sama siapa?” Aku bertanya dengan nada polos. Padahal aku tahu siapa yang Melvin maksud.”Sama temen lo.” Seringai di wajahnya memang tampak menyebalkan. “Kenapa gue mesti cemburu? Kita beneran cuma temen. Gue nggak tertarik jalin hubungan baik sama dia mau pun sama cowok lainnya.””Alasannya?””Privasi,” jawabku dengan senyum kecil. “Tapi intinya, gue nggak akan menjalin hubungan dengan tipe cowok kayak dia. Lihat aja track record-nya selama ini. Bikin gue merinding.”Sontak Melvin tertawa geli. Ia pasti tahu betapa hitamnya daftar kehidupan Rainer selama ini.”Gue nggak bisa berhubungan dengan cowok yang gonta-ganti pasangan kayak dia. Gue nggak segoblok itu buat nyerahin hati gue cuma buat dihancurin. Gue udah pernah hancur, dan







