LOGINAku tidak berani bersuara, hanya kakiku yang bergerak kian lambat. Kepalaku menoleh ke samping karena tidak berani menatapnya sementara ia tetap menunduk ke arahku. Terpanaan napasnya mengenai puncak kepalaku.
Ketegangan di antara kami terasa berbeda. Seperti ada percikan-percikan gairah yang siap menyambar bagai petir. Aku berusaha untuk mengendalikan diri. Bahkan ketika telapak tangannya mengusap lembut pinggangku, aku tetap mencoba untuk tenang.Bagian tengah tubuhku berdenyut kianAku tidak berani bersuara, hanya kakiku yang bergerak kian lambat. Kepalaku menoleh ke samping karena tidak berani menatapnya sementara ia tetap menunduk ke arahku. Terpanaan napasnya mengenai puncak kepalaku.Ketegangan di antara kami terasa berbeda. Seperti ada percikan-percikan gairah yang siap menyambar bagai petir. Aku berusaha untuk mengendalikan diri. Bahkan ketika telapak tangannya mengusap lembut pinggangku, aku tetap mencoba untuk tenang.Bagian tengah tubuhku berdenyut kian hebat. Tanpa bisa kucegah, benakku kembali memutar malam di mana kami bergelut dalam gairah. Berpelukan seperti ini membuatku membayangkan pelukan yang kami lakukan dalam keadaan telanjang.God! Pikiranku tidak tertolong lagi!”Ngobrolin apa aja sama Melvin?”“Kepo. Nggak semua hal harus gue ceritain sama lo.””Lo happy banget kayaknya.”“Gue mau diangkat jadi komisaris, happy dong,” jawabku asal.Dia tertawa pelan, tawa yang begitu dekat dengan telingaku sampai membuatk
Tidak sengaja aku menatap Rainer, kali ini ia sudah dikerumuni oleh para gadis. Mereka pasti menunggu kesempatan ini sejak kemarin. Karena sejak datang ke Bali, Rainer memang lengket denganku.”Lo nggak cemburu?””Cemburu? Sama siapa?” Aku bertanya dengan nada polos. Padahal aku tahu siapa yang Melvin maksud.”Sama temen lo.” Seringai di wajahnya memang tampak menyebalkan. “Kenapa gue mesti cemburu? Kita beneran cuma temen. Gue nggak tertarik jalin hubungan baik sama dia mau pun sama cowok lainnya.””Alasannya?””Privasi,” jawabku dengan senyum kecil. “Tapi intinya, gue nggak akan menjalin hubungan dengan tipe cowok kayak dia. Lihat aja track record-nya selama ini. Bikin gue merinding.”Sontak Melvin tertawa geli. Ia pasti tahu betapa hitamnya daftar kehidupan Rainer selama ini.”Gue nggak bisa berhubungan dengan cowok yang gonta-ganti pasangan kayak dia. Gue nggak segoblok itu buat nyerahin hati gue cuma buat dihancurin. Gue udah pernah hancur, dan
“Ren…”Ia tak langsung menjawab, bibirnya masih tidak melepaskan kulitku. Bagian yang ia hisap kini mulai menimbulkan denyutan kecil. Sedikit terasa sakit, namun berhasil membuat aku merapatkan kedua paha secara diam-diam. Tidak seperti biasanya, Rainer sedikit melewati batas yang biasanya ia terapkan pada dirinya sendiri. Dan aku pun tidak berusaha untuk memintanya berhenti, seolah tubuhku mengkhianati aku karena diam-diam menginginkan lebih dari sekadar ciuman kecil seperti itu.Kembang api sudah berhenti meledak di udara. Dalam beberapa detik, suasana terasa begitu hening sehingga aku merasa seperti mampu mendengar suara detak jantungku sendiri.Telapak tangan lebar itu merayap naik secara perlahan. Gerakannya pelan, sama sekali tidak terburu-buru. Karena sepertinya Rainer menunggu protes dariku jika memang aku tidak menginginkannya. Seharusnya aku memintanya berhenti ‘kan? Namun mengapa bibir ini tidak kunjung bicara? Sentuhannya naik untuk mencapai payudara. Kupikir, ia akan mer
”Lo gugup?”Ia mengangguk. “Adik manja gue beneran mau jadi istri orang,” ucapnya pelan. Adikku belum menikah jadi aku tidak tahu perasaan itu, namun aku memaklumi kegugupannya saat ini. Mungkin kalau suatu saat Fadly menikah, aku juga akan merasakan apa yang Rainer rasakan sekarang. Bahkan mungkin tangisku paling kencang ketika hari itu tiba. Karena bagaimanapun, diriku turut membesarkannya selama ini. Aku, Fadly dan mama. Kami mungkin akan menangis bahagia bersama-sama di hari bahagia itu.Prosesi akad nikah berjalan lancar. Aku ikut meneteskan air mata ketika prosesi sakral itu berlangsung. Rainer sampai menyembunyikan wajahnya di bahuku sambil terisak pelan. Untuk menenangkannya, aku mengusap pelan pipinya dan membiarkan dia bersandar selama dia menangis. Untuk kali ini, aku tidak akan mencibirnya karena ia menjadi cengeng. Sebagian besar orang di acara ini menangis mendengarkan sumpah yang Jo ucapkan ketika ijab kabul selesai dilaksanakan. Selama sesi foto kel
”Airdrop semuanya ke gue.”“Hmm.” Ia berjalan di sampingku sambil memeriksa hasil jepretannya. Bibirnya tersenyum puas dengan semua hasilnya. Sudah kukatakan, pria ini adalah paket lengkap, kekurangannya hanya satu yaitu kebiasaannya berganti-ganti pasangan seolah mereka hanyalah mainan yang akan dibuang begitu ia merasa bosan.”Hari ini lo mau jalan keluar?”Aku menggeleng sambil kembali berbaring di ayunan. “Males, gue nggak mau capek. Besok hari pernikahan Aurel. Jadi simpan tenaga dulu. Butuh energi buat hari penting besok.””Jadi lo mau ngapain hari ini?””Perawatan—lo ngapain sih? Sempit!” Tiba-tiba saja pria itu ikut naik ayunan ini bersamaku. “Kalau talinya putus gimana? Gue nggak mau patah tulang sehari sebelum acaranya Aurel. Turun lo!”Sayangnya, babon satu ini menolak turun dari ayunan. Ia berbaring begitu santai sementara aku panik sambil menatap kedua tali yang mengikat ayunan. Memang sih, tampaknya kokoh. Tapi tetap saja aku khawatir kalau
Ketika aku bangun, Rainer masih tidur dengan posisi tengkurap memeluk bantal. Tapi salah satu tangannya berada di kepalaku seolah ia mengusapnya sampai ia terlelap. Dengan perlahan aku bangkit dari ranjang untuk mandi. Bahkan setelah aku selesai mandi dan bersiap-siap, dia belum juga bangun. Jadi aku tinggalkan saja pria itu di kamar untuk pergi sarapan.Sebenarnya aku bisa memesan layanan kamar, tapi lebih baik aku sarapan di restoran. Setelah sarapan, aku berencana berjalan-jalan di tepi pantai menikmati keindahan.“Flo!”Tante Luna melambai padaku ketika aku bingung mencari tempat duduk. Ia menunjuk kursi kosong di hadapannya. Dengan senyum sopan, aku menghampiri meja mereka.”Duduk di sini aja,” ucapnya sebelum aku sempat bicara.”Iya, makasih, Tante.” Aku meletakkan piring dan duduk di sana, bergabung dengan keluarga inti Rainer. “Kemarin gimana spa-nya? Enak?””Enak banget, tidurku nyenyak setelah spa.””Masih banyak layanan yang bisa kamu paka







