LOGIN“Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.”
”Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?” ”Maksud gue, ngajak lo juga.” ”Gue?” ”Iya, lo nggak baca chat Aurel?” ”Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?” ”Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.” ”Harus?” ”Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.” ”Pakai karung goni aja deh gue,” candaku. ”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.” “Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?” ”Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai. Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil menjauh. ”Lo patriarki banget.” ”Cuma karena nitip piring kotor?” ”Iya.” ”Ya udah, gue yang cuci piring, deh.” Dia mendekat lagi ke arahku. ”Telat, udah gue cuci.” ”Nitip sebiji doang udah dikatain patriarki, sadis lo.” Aku tak menjawab dan hanya berdiri menatap ke arah balkon. Karena hari ini akhir pekan, aku tak berniat buru-buru pulang. Toh, di apartemen aku hanya sendirian. Selagi Rainer tak mengusirku, aku masih ingin di sini sebentar lagi. Ponsel Rainer berdering, aku meliriknya yang meraih benda itu untuk mengangkat panggilan. ”Hmm.” Dia hanya bergumam kepada siapa pun yang menghubunginya. ”Flo nggak balas chat aku.” Ternyata Aurelie, kupikir salah satu gebetan Rainer yang menghubunginya. Pria itu segera mendekat sambil membawa ponselnya. ”Ngomong sendiri sama orangnya.” Ia menyerahkan ponselnya padaku. ”Hah? Flo di sana, Mas?” ”Iya.” Mau tidak mau, aku meraih benda pipih itu. Merapikan sedikit rambutku sebelum bertatap muka dengan Aurelie melalui layar. ”Hai.” ”Aku chat kamu dari tadi pagi, nggak kamu baca, ya?” ”Aku baru bangun. Tadi malam mabuk. Jadi numpang tidur di sini,” tuturku memberi penjelasan meskipun Aurelie tak bertanya. “Kenapa, Rel?” ”Kamu ikut ke Bali, kan?” ”Hmm… rencananya begitu. Tapi aku belum ngajuin cuti.” ”Harus ikut pokoknya. Siang ini kamu ke butik aku, ya. Nanti kita fitting gaun buat kamu.” ”Harus?” ”Iya, harus. Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus datang buat fitting. Setelah makan siang. Okay? Aku nggak menerima penolakan.” ”Okay, nanti aku datang.” ”Aku tunggu.” Aku menyerahkan kembali ponsel kepada Rainer. Ia duduk bersandar di sofa sambil mengobrol singkat dengan adiknya. Aku sendiri memilih menatap dinding kaca di hadapanku. Begitu panas di luar sana sehingga membuatku enggan untuk keluar rumah. ”Mama bilang Mas tuh jarang banget pulang. Diambekin mama baru tahu rasa.” ”Iya, besok pulang. udah, ya. Mas tutup.” Ia menutup panggilan bahkan sebelum Aurelie selesai bicara. Kelakuannya terkadang persis dengan kelakuan adik laki-lakiku. Apa semua laki-laki memang suka begitu? ”Nggak bisa dengerin dulu jawaban orang baru tutup panggilan? Lo persis kayak Fadly. Belum selesai gue ngomong, udah ditutup.” ”Kebanyakan ngomel soalnya,” jawabnya sambil melangkah menuju ruang gym pribadi. Aku mengekorinya ke ruangan itu. Bukan untuk berolahraga, tapi untuk duduk di sana sambil berbincang dengannya. Aku menarik kursi ke dekat Rainer yang mulai melakukan pemanasan sebelum dia berolahraga. “Nyokap lo pusing nggak sih punya anak kayak lo? Nyokap gue ngeluh mulu sama kelakuan Fadly.” ”Biasa aja,” jawabnya sambil menatapku sejenak. Ia mulai dengan sesi olahraga ringan lebih dulu dalam keadaan topless. Semakin kuperhatikan, tubuhnya memang begitu bagus. ”Ren,” panggilku pelan. ”Hmm.” “Kapan lo berhenti main cewek?” ”Nggak ada niat buat berhenti.” ”Bukannya nyokap lo udah ngebet ngeliat lo nikah?” ”Sejak Aurel nerima lamaran Jo, nyokap gue udah nggak pernah nanyain kapan gue nikah.” ”Kasih cucu, sana. Udah ngebet banget tante Luna punya cucu.” ”Terus kapan lo kasih tante Mala cucu?” ”Bangke.” Ia tersenyum lebar saat berhasil membalasku. ”Komitmen itu ribet, gue nggak suka.” ”Nggak seribet itu.” ”Ucap seseorang yang sudah berhenti jatuh cinta dan menganggap semua laki-laki itu biawak,” sindirnya sambil mengelap keringat yang mulai menetes. “Ntar barengan aja ke butik Aurel?” ”Nggak, gue mau sendiri aja.” ”Mau nonton nggak? Film yang lo tunggu udah tayang kemarin ‘kan?” ”Makanya gue mau nonton sendirian aja. Males gue nonton sama lo, lo kebanyakan komen. Ngapain ikut gue ke bioskop kalau ujung-ujungnya tidur?” Dia menyeringai lebar, mulai melakukan pull-up sementara aku hanya memperhatikannya. Tidak lama, ponselnya di atas meja berbunyi singkat, menandakan ada sebuah pesan masuk. ”Coba bukain siapa yang chat.” ”Hah? Gue?” ”Iya. Password-nya 202120.” Aku meraih benda itu, membuka kunci layar untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan. ”Siapa?” ”Delita.” ”Buka deh, dia chat apa?” Aku membuka dan membaca pesan itu. ”Ngajak lo nonton sore ini.” ”Lo mau nonton sama gue nggak?” ”Males.” ”Ya udah, balas aja oke. Ketemu langsung di bioskop.” Aku membalas pesan itu seperti yang dia minta. Setelah itu, kulihat daftar chat-nya dipenuhi oleh nama-nama perempuan. Dengan iseng aku membuka chat di bawah nama Delita. Aku tahu ini tidak sopan, tapi terlalu penasaran. Isinya kebanyakan foto selfie perempuan itu. Foto terakhir yang ia kirim adalah foto seksi berbalut bikini. Yang hanya dibaca Rainer tanpa dibalas. Hanya satu pesan itu yang kubuka, aku tidak berani membuka yang lain. Ini saja sudah kurang ajar dan tidak sopan. Aku berniat mengembalikan ponsel itu ke atas meja, tapi Delita kembali mengirim pesan. Langsung saja kubuka karena kupikir itu adalah balasannya, tapi mataku terbelalak melihat apa yang ia kirim. ”What? Foto telanjang? Anjir!” Aku melempar ponsel itu ke arah Rainer yang segera menangkapnya. “Dia berani banget kirim foto telanjang begitu?! Nggak takut kesebar?” Rainer tertawa sambil menatap ponselnya. Ekspresi wajahnya biasa saja melihat foto telanjang itu. ”Dia tahu kalau gue nggak akan pernah nyebarin setiap foto yang gue terima,” ucapnya santai. ”Dan lo sering kirim foto telanjang juga?” ”Gue nggak suka foto diri sendiri, apalagi dalam keadaan naked, itu nggak akan pernah terjadi dalam hidup gue,” jawabnya melempar kembali ponsel itu kepadaku. “Nggak usah syok, biasa aja.” ”Nggak, gue nggak bisa biasa aja.” ”Memangnya lo nggak pernah kirim foto telanjang ke cowok lo?” ”Ngapain?” Aku melotot galak. “Nggak usah kirim-kirim foto telanjang. Kalau mau telanjang, ya udah langsung aja sama-sama. Nggak usah pake kirim foto. Gue nggak mau biarin orang ngoleksi aib gue. Lo tahu kan kalau cowok bisa gunain itu buat meras cewek? Dan foto begituan bakal jadi bumerang buat si cewek itu suatu saat nanti. Gue nggak sebodoh itu sampai rela hancurkan diri gue cuma karena gue nggak bisa pakai otak gue dengan baik. Kalau mau telanjang, cukup face to face, nggak perlu dokumentasi. Cowok tuh bejat semua.”“Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men
Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel
Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba
“Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men
”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.””Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?””Enak-enak aja, tuh.””Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.”Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah.”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?””Flo? Wait… astaga….””Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.””Lo… lo sering ONS?””Emangnya gue bilang kalau gue begitu?””Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.””Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.””Lo beneran sering ONS, kan?””Mau tahu aja atau mau tahu banget?”Aku meninggalkan Erika di sana untuk k
“Menurut lo, kado ini gimana?”Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.”Hmm….””Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.””Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.””Takut dia nggak suka.””Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!””Galak banget lo, Flo. PMS?””Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!””Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mata







