Share

BAB 7

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-09-28 17:46:42

Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya.

Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk.

”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”

“Siapa yang bilang gue klimaks?”

”Lo bawa dia buat having sex ‘kan?”

”Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”

Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.

”Lo gebukin?”

”Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”

Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pelajaran kepada orang itu lalu memutuskan keanggotaan begitu saja.

“Mandi sana.” Rainer menarik tanganku tepat ketika mataku hendak terpejam.

”Lepasin gue! Mau tidur!”

”Mandi dulu. Baru tidur.”

”Nggak!”

Rasanya lelah luar biasa. Beginilah kondisi tubuh budak korporat selama ini. Tidak opname di rumah sakit saja sudah bersyukur. Terkadang aku berharap menjadi pewaris saja daripada perintis. Seperti biawak darat yang kini sedang berjongkok di depanku.

“Kalau lo nggak mau mandi, gue siram air, nih.”

”Berisik lo! Tinggalin gue sendiri. Lo ke bawah aja!”

”Mau gue siram beneran? Jangan lo pikir gue nggak bisa ngelakuin itu.”

Mataku terbuka untuk menatapnya jengkel. Pria ini memang pria paling menyebalkan yang pernah kukenal.

”Nyebelin banget sih lo. Gue ngantuk banget.”

”Mandi dulu, biar tidur lo nyenyak.” Ia berdiri dan menarikku untuk ikut berdiri. “Lo mau tidur dengan bau rokok di baju lo?”

Benar juga, aroma rokok menempel di pakaianku karena aku duduk cukup lama di dalam klub. Mau tidak mau—meskipun enggan—aku melangkah ke kamar Rainer.

”Gue pinjem baju,” ujarku membuka lemarinya begitu saja. Memilih kaos dan celana pendek milik pria itu dan membawanya ke kamar mandi setelah menarik sebuah handuk baru dari laci bawah.

Rainer tak menjawab, kulihat pria itu sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Perempuan malang mana lagi yang menjadi korban gombalannya malam ini?

Mandi membuatku segar, sekaligus menghilangkan rasa pusing akibat alkohol. Rasa kantuk pun memudar. Jadi setelah mandi, aku keluar dari kamar dan duduk di sofa. Rainer masih duduk di sana dengan sebuah film klasik yang diputar di TV. Aku duduk bersila, menatap bir kaleng yang ada di atas meja. Tapi tak berniat meminumnya karena aku sudah menyikat gigi. Jadi enggan untuk mengkonsumsi alkohol lagi.

“Nggak tidur?” Dia menoleh padaku, menatap kaos yang kupakai.

”Bentar lagi, deh.”

“Tidur, gih. Gue mesti ke bawah lagi.”

”Making out lagi? Nggak puas lo?”

Rainer tertawa geli, menepuk puncak kepalaku seolah aku anak kecil. “Gue mau kerja, memangnya lo pikir yang gue lakuin cuma making out doang?”

”Kan memang itu doang kerjaan lo.”

”Sambilan,” jawabnya dengan seringai lebar menghiasi wajahnya.

Aku menoyor kepalanya, membuatnya hanya mengeluarkan tawa pelan tanpa pernah membalas saat aku melakukan itu.

”Tidur aja sana.” Pria itu berdiri, mengantongi ponselnya. “Gue masih banyak kerjaan.”

”Halaah, kerjaan lo ngincer cewek cantik doang. Yang kerja keras kan manajer lo,” cibirku melihat pria itu melangkah menuju pintu.

”Setidaknya gue harus berguna sebagai owner. Kalau lo lapar, ada makanan di kulkas. Tinggal lo hangatin doang.”

”Gue mau tidur aja,” sahutku sambil berdiri dan mematikan TV.

Begitu pintu ditutup dari luar, aku pun masuk ke dalam kamar Rainer dan merebahkan diri di kasur lebar miliknya. Kasur ini beraroma Rainer, wangi dan maskulin. Karena aku suka aroma itu, aku tersenyum sambil memeluk bantal. Aku suka pria yang wangi, hidungku yang sensitif sangat pilih-pilih aroma parfum, dan untungnya, biawak darat itu selalu memakai parfum yang soft. Bahkan saat pertemuan pertama kami pun aku sudah menyadari aroma parfumnya yang sangat wangi dan tidak terlalu kencang seperti parfum pria pada umumnya. Kuharap Rainer tak mengganti aroma parfumnya. Karena kalau dia memakai parfum dengan aroma strong, aku mungkin akan muntah-muntah di hadapannya.

***

Aku tidak tahu kapan tepatnya pria itu kembali. Saat membuka mata pagi harinya, dia sudah tidur begitu saja di sisi kosong di ranjang besar ini. Sebuah bantal menjadi pembatas di antara kami. Sinar matahari mengintip malu-malu dari balik tirai, entah pukul berapa sekarang, tapi melihat dari teriknya sinar itu, setidaknya matahari sudah berada di atas kepala.

Aku bangkit duduk, menyibak selimut dan menuju kamar mandi. Setelah menuntaskan urusanku di sana, aku keluar dari kamar. Rainer masih terlelap di atas kasur. Jam kerjanya memang membuatnya harus tidur subuh hari nyaris setiap hari. Padahal sebagai owner, ia tidak perlu langsung terjun mengurus klub. Cukup bawahannya saja. Tapi Rainer sangat suka turun tangan mengelola klub-klub miliknya. Karena Litera adalah klub miliknya yang paling besar dan paling terkenal di antara empat klub lain yang ia miliki, ia jadi lebih sering di sini daripada di tempat lainnya.

Aku membuka kulkas, ada beberapa makanan dingin disimpan di sana. Yang cukup dihangatkan saja kalau ingin disantap. Tapi aku tidak terlalu suka makanan yang dihangatkan. Melihat ada telur dan beberapa bahan makanan lain, kuputuskan untuk membuat omelet dan sandwich. Tidak lupa membuat secangkir kopi. Ngomong-ngomong soal kopi, entah kapan aku bisa membeli mesin pembuat kopi seperti miliknya ini. Harganya pasti ratusan juta. Begitu canggih. Dan harga biji kopinya pun begitu mahal. Tidak heran mengapa setiap tetes kopi yang dihasilkan alat ini begitu enak dan harum.

Kopi ini yang membuatku selalu setuju untuk menginap di sini. Selain aroma, rasanya tidak tertandingi.

Tepat setelah aku selesai membuat sarapan, Rainer keluar dari kamar dalam keadaan topless. Dia hanya memakai celana piyama, rambut yang berantakan dan wajah mengantuk.

Tidak heran mengapa banyak yang tergila-gila padanya. Ia memiliki tubuh yang begitu seksi, berotot dan indah. Otot-ototnya tidak berlebihan, tapi menonjol di tempat yang pas. Dengan punggung lebarnya itu, ia bisa menggendong seseorang di sana. Ia pernah menggendongku sekali, dan rasanya nyaman untuk bersandar.

”Morning, Flo.”

”Morning.” Aku yang sedang duduk di meja pantry menatapnya sambil tersenyum kecil.

Rainer menyentuh pelan kepalaku sambil berjalan menuju mesin pembuat kopi. Ia membuat kopinya sendiri lalu berdiri di hadapanku yang sedang sibuk mengunyah. Tentunya aku membuatkan seporsi sarapan untuknya. Pria itu menarik kursi dan duduk di hadapanku. Meraih garpu dan mulai menyantap makanannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sweet Trouble   BAB 8

    “Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men

  • Sweet Trouble   BAB 7

    Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel

  • Sweet Trouble   BAB 6

    Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba

  • Sweet Trouble   BAB 5

    “Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men

  • Sweet Trouble   BAB 4

    ”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.””Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?””Enak-enak aja, tuh.””Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.”Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah.”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?””Flo? Wait… astaga….””Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.””Lo… lo sering ONS?””Emangnya gue bilang kalau gue begitu?””Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.””Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.””Lo beneran sering ONS, kan?””Mau tahu aja atau mau tahu banget?”Aku meninggalkan Erika di sana untuk k

  • Sweet Trouble   BAB 3

    “Menurut lo, kado ini gimana?”Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.”Hmm….””Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.””Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.””Takut dia nggak suka.””Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!””Galak banget lo, Flo. PMS?””Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!””Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status