Share

80| Karma

Penulis: sidonsky
last update Tanggal publikasi: 2026-04-12 03:51:20

"Jadi, Pak Atlas udah berapa lama pacaran sama Kak Aruna?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, ringan, seolah tidak menyadari bobotnya. Namun justru karena itulah, suasana di meja makan siang itu berubah dalam sekejap. Angin pantai yang sejak tadi berhembus pelan kini terasa seperti hanya lewat begitu saja tanpa makna, sementara suara ombak di kejauhan seolah meredup di antara jeda yang tiba-tiba tercipta.

Sendok di tangan Atlas berhenti tepat sebelum menyentuh mulutnya. Gerakannya tertahan, s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Swipe Right for Love   84| Voliday

    Suasana pantai siang hari itu begitu menyilaukan, matahari berdiri tepat di atas kepala, memantulkan cahaya ke permukaan air laut hingga berkilau seperti ribuan serpihan kaca. Angin berhembus cukup kencang, membawa aroma asin khas laut yang bercampur dengan suara debur ombak yang datang silih berganti. Di area yang sudah disiapkan kru, sebuah lapangan voli pantai berdiri dengan rapi, jaring terbentang kokoh di tengah, garis pembatas dibuat dari tali tipis yang ditanam di pasir, dan beberapa kamera sudah siap di berbagai sudut untuk menangkap setiap momen.Dua tim sudah dibagi. Di satu sisi, Selena, Devon, Azalea, Agasa, dan Athaya berdiri dengan posisi santai namun penuh percaya diri. Sementara di sisi lain, Aruna bersama Atlas, Shanin, Arga, dan Eky terlihat mulai mengambil posisi masing-masing. Suasana masih santai, tapi sorakan kecil dan candaan sudah mulai terdengar di antara mereka, menciptakan atmosfer kompetitif yang ringan namun menyenangkan.Aruna sendiri masih berada di pi

  • Swipe Right for Love   83| Benar-Benar Cemburu

    Hari sudah berganti dari pertukaran pasangan, dan pagi itu seharusnya terasa lebih ringan. Seharusnya. Karena hari ini, Aruna kembali berdiri di posisi semula, sebagai pasangan Atlas di hadapan publik, kembali menjalani peran yang entah sejak kapan mulai terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut akting.Namun satu hal yang tidak bisa ia abaikan, mereka tidak benar-benar "kembali" seperti biasa. Tidak sejak semalam. Tidak sejak momen ketika Atlas melihat dengan jelas bucket bunga berwarna pink di pelukannya.Sejak saat itu, tidak ada percakapan.Tidak ada tatapan yang bertahan lebih dari sepersekian detik.Dan pagi ini, saat Aruna mengajaknya sarapan di pinggir kolam renang, semuanya terasa... dingin.Bukan dingin yang biasa Atlas miliki. Bukan ketenangan yang terkontrol seperti yang sering ia tunjukkan. Ini berbeda. Lebih sunyi, lebih tertutup, seolah ada sesuatu yang sengaja ia simpan rapat di balik ekspresi datarnya.Atlas benar-benar hanya "sarapan bersama".Tanpa bicara. Tanpa ko

  • Swipe Right for Love   82| Bucket Bunga

    Tidak ada yang mengganggu Aruna selama kurang lebih tiga jam ia tertidur. Setelah meminum obat pemberian Atlas dan melewati drama kecil yang menguras tenaga dengan Agasa, tubuhnya seperti akhirnya menemukan kesempatan untuk benar-benar beristirahat. Ia merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi miring, satu tangan masih bertumpu di perutnya yang sebelumnya terasa tidak nyaman. Tak butuh waktu lama sampai kesadarannya menghilang perlahan, seolah obat yang ia telan tadi bukan hanya meredakan nyeri, tapi juga membawa efek menenangkan yang membuat kelopak matanya terasa berat.Mungkin memang ada kandungan ringan yang membantu tubuhnya lebih cepat terlelap, bukan sekadar obat biasa. Atau mungkin, ia memang sudah terlalu lelah untuk bertahan terjaga.Saat Aruna membuka mata, suasana di sekitarnya sudah berubah. Gelap. Hanya cahaya samar dari luar jendela yang masuk melalui celah tirai tipis, membentuk bayangan lembut di dinding kamar. Ia sempat mengerjap beberapa kali, mencoba menyesua

  • Swipe Right for Love   81| Jealousy

    Aruna mengaduk teh hangat di dalam gelasnya dengan gerakan pelan yang berulang-ulang, seolah sendok kecil itu adalah satu-satunya hal yang mampu ia kendalikan saat ini. Kepalanya terasa kosong, atau mungkin justru terlalu penuh sampai ia memilih untuk tidak memikirkan apa pun. Uap tipis yang mengepul dari permukaan teh naik perlahan, menyentuh wajahnya, namun bahkan kehangatan itu tidak benar-benar ia rasakan. Jika saja waktu bisa berhenti di momen ini, di dapur yang sepi, dengan suara sendok beradu pelan dengan kaca, mungkin ia tidak perlu kembali menghadapi hari yang terasa semakin rumit sejak pagi tadi.Setelah makan siang bersama Agasa, Aruna memang meminta jeda. Alasannya sederhana—perutnya tidak nyaman. Namun jauh di dalam, ia tahu penyebabnya tidak sesederhana itu. Cara ia menelan makanan dengan tergesa, rasa tidak enak yang terus mengganjal di dada setiap kali Agasa membuka mulut, dan tekanan untuk tetap tersenyum di depan kamera... semuanya bercampur menjadi satu, mencipta

  • Swipe Right for Love   80| Karma

    "Jadi, Pak Atlas udah berapa lama pacaran sama Kak Aruna?"Pertanyaan itu meluncur begitu saja, ringan, seolah tidak menyadari bobotnya. Namun justru karena itulah, suasana di meja makan siang itu berubah dalam sekejap. Angin pantai yang sejak tadi berhembus pelan kini terasa seperti hanya lewat begitu saja tanpa makna, sementara suara ombak di kejauhan seolah meredup di antara jeda yang tiba-tiba tercipta.Sendok di tangan Atlas berhenti tepat sebelum menyentuh mulutnya. Gerakannya tertahan, sempurna, tanpa getaran. Perlahan, ia menurunkan sendok itu kembali ke piringnya, lalu mengangkat pandangannya. Tatapan gelapnya jatuh tepat ke arah Azalea yang duduk di seberang meja.Tidak ada senyum.Tidak ada basa-basi.Hanya tatapan tajam yang cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum melanjutkan pembicaraan."Saya memilih tidak membawa Aruna ke dalam pembicaraan kita."Suaranya tenang, datar, namun tegas. Kalimat itu terdengar seperti garis batas yang jelas, dan tidak untuk di

  • Swipe Right for Love   79| Couple Swapped

    Seperti yang sudah diumumkan sebelumnya, hari ketiga di vila itu resmi dimulai dengan satu tantangan yang sejak tadi pagi sudah membuat suasana terasa berbeda.Couple Swapped. Bukan sekadar permainan ringan atau tantangan kecil yang bisa ditertawakan bersama, melainkan sesuatu yang secara langsung menyentuh dinamika hubungan tiap pasangan. Untuk satu hari penuh, mereka harus bertukar pasangan. Menjalani aktivitas bersama orang lain. Berinteraksi, membangun "chemistry", bahkan, secara tidak langsung membuka kemungkinan yang seharusnya tidak ada.Kru sudah mengatur semuanya dengan rapi. Sebuah meja kecil diletakkan di tengah ruang, di atasnya terdapat beberapa bola transparan berisi gulungan nomor. Para peserta diminta mengantri, satu per satu mengambil nomor yang akan menentukan siapa pasangan mereka hari ini.Aruna berdiri di barisan, kedua tangannya saling menggenggam di depan perutnya. Degup jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia bahkan tidak terlalu memperhatikan suara ri

  • Swipe Right for Love   43| Pembalasan Dendam

    Di sepanjang perjalanan dalam mobil sedan hitam milik Atlas, Aruna tidak benar-benar duduk—ia gelisah. Jemarinya terus bergerak tanpa sadar, menggigiti kuku yang sudah tidak rapi, sementara kakinya bergoyang kecil seolah menyalurkan kegugupan yang tidak bisa ia redam.Punggungnya tidak pernah benar

  • Swipe Right for Love   42| Tempat Berpijak

    Aruna, kamu bodoh.Sumpah serapah itu berulang dalam kepalanya saat tangan lelaki itu kini berpindah, merengkuh pinggangnya tanpa izin."Mr. Danny..." suara Aruna mulai goyah, tubuhnya refleks menjauh saat jarak di antara mereka terasa terlalu sempit.Namun lelaki itu justru semakin mendekat, seola

  • Swipe Right for Love   41| Mr. Danny

    Dari awal, Aruna sudah tahu kalau ini ide bodoh.Memutuskan untuk menemui Mr. Danny sendirian demi mengulur waktu agar lelaki itu tidak buru-buru menarik investasinya dari Heartline jelas bukan keputusan yang rasional. Tapi di tengah kekacauan yang terjadi, rasanya hanya itu satu-satunya cara yang

  • Swipe Right for Love   40| Belum Terlambat

    Suasana ruang meeting itu dipenuhi suara ketikan keyboard yang nyaris tak terputus dan bisikan-bisikan pelan yang saling bersahutan di antara para tim. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang yang dominan, memantul di wajah-wajah yang tegang dan lelah. Semua orang fokus pada tu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status