MasukSeseorang telah mengubah isi kontrak mereka, dan fakta itu membuat keadaan yang semula buruk berubah menjadi jauh lebih rumit.Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, internet seperti kehilangan akal sehatnya. Portal berita, akun gosip, kanal ekonomi, hingga forum-forum diskusi mulai membahas hal yang sama. Nama Atlas Wicaksono dan Aruna muncul di mana-mana. Potongan kontrak yang telah dimanipulasi itu tersebar luas tanpa ada yang benar-benar tahu mana bagian asli dan mana yang telah diubah.Yang mereka tahu hanya satu. Hubungan Atlas dan Aruna berawal dari sebuah kontrak. Dan itu sudah cukup untuk membuat publik menghakimi.Aruna yang selama ini dikenal sebagai pembawa acara podcast Ruang Rasa, perempuan yang memberi nasihat tentang hubungan, cinta, komunikasi, dan komitmen, kini justru menjadi sasaran utama. Pakar cinta gadungan. Pembohong. Social climber. Perempuan yang memanfaatkan Atlas demi popularitas. Semua label itu dilemparkan tanpa ampun.Satu per satu brand mulai men
[EXCLUSIVE: KONTRAK PERJANJIAN HUBUNGAN ATLAS WICAKSONO & ARUNA BOCOR]Hubungan yang selama ini dianggap sebagai kisah cinta paling sempurna di kalangan publik mendadak menjadi sorotan setelah sebuah dokumen yang diduga merupakan kontrak hubungan antara Atlas Wicaksono dan Aruna tersebar luas di internet. Dokumen tersebut memperlihatkan sejumlah pasal yang mengatur hubungan keduanya secara rinci, mulai dari kewajiban tampil bersama di depan publik hingga kesepakatan finansial yang diduga diberikan Atlas kepada Aruna. Kebocoran ini langsung memicu pertanyaan besar dari masyarakat. Benarkah hubungan yang selama ini dipertontonkan hanyalah sebuah kontrak? Apakah semua kemesraan yang ditampilkan selama ini hanya bagian dari kesepakatan bisnis?Tak hanya itu, kredibilitas Aruna sebagai pakar cinta dan pembawa acara Ruang Rasa ikut dipertanyakan. Banyak pihak menilai seseorang yang membangun citra hubungan ideal namun ternyata menjalani hubungan kontrak dianggap tidak layak memberikan na
Meskipun kejadian di rumah Camelia sempat meninggalkan bekas di pipinya, satu kalimat dari Atlas berhasil menutupi semuanya."I love her."Kalimat itu terus terngiang di kepala Aruna sejak semalam. Bahkan ketika pagi berganti siang, lalu siang berubah menjadi malam dan ia harus menghadiri acara peluncuran fitur terbaru Heartline sebagai salah satu pembicara utama, senyum itu masih bertahan di bibirnya.Hari ini Aruna mengenakan gaun hitam elegan dengan potongan punggung terbuka yang memperlihatkan kulit putih mulusnya. Rambut panjangnya ditata rapi dalam sanggul rendah modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Berlian yang melingkar di jemarinya memantulkan cahaya lampu ballroom setiap kali ia bergerak.Ballroom khusus yang disewa Heartline malam itu berada di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima. Megah, eksklusif, dan dipenuhi tamu-tamu yang bahkan sebagian besar tidak pernah muncul di media. Para pengusaha, investor, petinggi perusahaan tekno
Aruna berjalan keluar dari gedung radio dengan langkah yang jauh lebih lambat dibanding biasanya. Sore mulai berganti malam, cahaya jingga yang tersisa memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit, sementara lalu lalang kendaraan mulai memenuhi jalanan di depan.Tangannya masih menempel di pipi kiri yang terasa panas sejak kejadian satu jam lalu. Meski kemerahan itu sudah mulai memudar, rasa perihnya masih tertinggal samar, seolah mengingatkan kembali setiap kalimat yang Anindhita lontarkan di tangga darurat tadi.Sepanjang perjalanan menuju pintu utama, Aruna terus berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa Atlas sudah memilihnya, bahwa apa yang terjadi tadi tidak akan mengubah apa pun.Namun nyatanya, dadanya masih terasa berat.Sampai langkahnya mendadak terhenti.Di seberang sana, berdiri sebuah Lamborghini hitam yang begitu familiar. Dan bersandar di sampingnya, dengan jas gelap yang masih rapi meski hari sudah menjelang malam, adalah Atlas.Lelaki itu berd
Suasana tangga darurat menjelang sore hari terasa begitu sunyi dibandingkan hiruk-pikuk lobby gedung radio di bawah sana. Lampu-lampu kecil yang menempel di dinding semen pucat memantulkan cahaya kekuningan redup, menciptakan bayangan panjang di anak tangga yang dingin. Bau besi dan debu samar bercampur dengan udara pendingin ruangan yang tak sepenuhnya mencapai area itu. Hanya terdengar suara napas dan langkah heels yang menggema pelan setiap kali kaki bergerak.Aruna bahkan belum sempat benar-benar memahami apa yang terjadi ketika Anindhita tiba-tiba menarik pergelangan tangannya keluar dari lobby. Cengkramannya kuat. Terlalu kuat untuk seseorang yang selama ini selalu terlihat anggun dan tenang di depan publik.Pintu tangga darurat tertutup keras di belakang mereka.Brak!Suara itu menggema panjang.Aruna sedikit tersentak, matanya otomatis bergerak ke arah Anindhita yang kini berdiri membelakanginya. Wanita itu tampak menunduk, kedua tangannya bertumpu di pinggang sambil mengatur
Karena jadwal Aruna terlalu padat hari ini, akhirnya pembahasan dilakukan di perjalanan menuju gedung radio. Aruna duduk di captain seat van mewah miliknya sambil mendengarkan penjelasan Vinka yang sejak tadi menunjukkan berbagai konsep di layar tablet."Untuk tamu undangan," ujar Vinka profesional. "Perkiraan sementara sekitar tiga sampai lima ribu orang."Aruna hampir tersedak air mineralnya sendiri."Berapa?"Vinka tersenyum kecil seolah angka itu sesuatu yang normal."Karena relasi bisnis keluarga Wicaksono cukup luas. Belum termasuk partner internasional Tuan Atlas."Tablet itu kembali berganti halaman, menampilkan ballroom hotel super mewah dengan chandelier raksasa dan dekorasi bunga putih memenuhi ruangan."Pilihan venue pertama ada di Singapura," jelas Vinka. "Konsep royal modern wedding."Slide berikutnya muncul."Ini opsi kedua. Garden wedding private di Kyoto."Lalu berikutnya lagi."Dan ini untuk konsep intimate luxury dengan after party yacht."Aruna hanya diam. Benar-be







