author-banner
sidonsky
sidonsky
Author

Novels by sidonsky

Sehangat Dekapan Mantan

Sehangat Dekapan Mantan

Usai diselingkuhi suaminya yang ‘sempurna', Liraya kabur ke kota lain. Tidak disangka, sesampainya disana ia bertemu lagi dengan cinta pertama yang tidak direstui oleh sang ibu, Jagara. Namun, pria itu kini merupakan calon pengantin yang akan menggelar acara di sana. Pertemuan itu seharusnya berakhir. Namun Jagara menariknya kembali ke dalam lingkarannya—dengan amarah yang belum padam, dendam yang belum selesai, dan rasa yang seharusnya sudah mati. "Saya tahu ini salah," Jagara bersuara parau, penuh dengan konflik. "Tapi saya gak bisa, Raya. Saya gak bisa gak mencintai kamu." Raya membeku mendengar pernyataan itu. Tak separah saat, "Setelah apa yang kamu kasih ke saya semalam? Kamu masih bilang gak ada apa-apa?"
Read
Chapter: 133| Mungkin, Masih Di Sini.
Kesadaran Raya kembali perlahan, seperti seseorang yang dipaksa bangun dari dasar laut.Awalnya hanya suara—dengung mesin yang ritmis, halus namun konstan. Entah monitor jantung atau alat medis lain, Raya tak langsung tahu. Kepalanya terasa berat, kelopak matanya kaku, dan tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri. Ia mengerjap sekali. Dua kali. Pandangannya masih buram ketika cahaya putih di atas kepalanya menyilaukan, memaksanya memejam lagi.Napasnya terdengar sendiri di telinga.Ketika akhirnya ia membuka mata lebih lebar, siluet seseorang duduk di samping ranjang mulai terbentuk. Sosok itu diam, terlalu diam, dengan postur tegap dan aura yang—bahkan dalam kondisi setengah sadar—terasa begitu familiar.Raya menegang.Indra pendengarannya kembali sepenuhnya bersamaan dengan detak jantungnya yang mendadak memburu.Jagara.Lelaki itu duduk di kursi samping ranjang rumah sakit, kedua tangannya terlipat di depan dada, rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus tertuju padanya. Tatapan yang
Last Updated: 2026-03-05
Chapter: 132| Gelap
Pagi itu datang tanpa membawa apa pun selain rasa kosong.Raya terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh denyut tumpul di pelipis dan mata yang terasa berat seperti diisi pasir. Ia menatap langit-langit apartemen kecilnya di Jerman cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang berubah sejak malam sebelumnya. Tapi tidak ada. Dadanya masih terasa sesak, napasnya pendek-pendek, dan bayangan wajah Jagara—datar, dingin, penuh jarak—masih berputar tanpa izin di kepalanya.Ia bangun dengan gerakan lambat. Langkahnya menuju kamar mandi pun terasa asing, seakan tubuhnya berjalan sendiri tanpa semangat. Di depan cermin, Raya terdiam. Matanya bengkak, kelopaknya sembap, bagian putihnya memerah. Bekas tangis semalam terlalu jelas untuk disembunyikan. Ia menyalakan keran, membasuh wajah berkali-kali dengan air dingin, berharap bisa menghapus jejak malam yang menghancurkannya. Tapi air hanya membuat kulitnya dingin, tidak menyentuh perasaan.“Harus kerja,” gumamnya pelan, seperti mengingatkan di
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: 131| Masih Menunggu
Raya tahu ia tidak seharusnya melakukan ini.Sejak awal, langkahnya sudah salah. Kebodohan terbesarnya adalah ketika ia berdiri terlalu lama di depan meja informasi rumah sakit sore tadi, lalu—dengan alasan yang ia buat sendiri—menanyakan alamat tempat tinggal Jagara kepada bagian administrasi. Ia bahkan masih ingat bagaimana jemarinya sedikit gemetar saat mengucapkan nama itu, seolah hanya dengan menyebutnya saja ia telah mengkhianati keputusan yang susah payah ia buat berbulan-bulan lalu.Dan kini, kebodohan itu membawanya berdiri di sini.Di depan sebuah hotel mewah di pusat kota, bangunannya menjulang dengan fasad kaca dan batu gelap yang memantulkan cahaya lampu malam Jerman. Nama hotel itu terpampang elegan di atas pintu masuk, huruf-huruf emasnya berkilau tenang, seolah tidak peduli pada kekacauan yang sedang berputar di dada Raya.Coat hitam panjang milik Jagara masih tersampir di lengannya, satu alasan yang ia miliki untuk bertemu Jagara, mengembalikan coat itu. Ia tahu alasa
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 130| Sudah Seharusnya
“Ga… Gara?”Nama itu keluar nyaris tanpa suara, seperti napas yang tersangkut di tenggorokan. Jagara tidak langsung menjawab. Ia memutus kontak mata lebih dulu, seolah jika ia terus menatap, ada sesuatu di dadanya yang akan runtuh tanpa bisa diperbaiki lagi.Langkahnya mantap, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipanggil oleh masa lalunya. Ia berjalan ke arah kursi periksa dokter gigi, kursi dental berwarna putih dengan sandaran tinggi—lalu duduk tanpa banyak ekspresi. Tubuhnya bersandar ketika sandaran kursi perlahan direbahkan oleh perawat, lampu sorot bulat di atas kepalanya dinyalakan, memantulkan cahaya terang yang menusuk mata.Perawat mengenakan dental bib—pelindung kain tipis—di dada Jagara agar pakaiannya tidak terkena cairan. Tangannya cekatan, profesional, seolah ini hanyalah pemeriksaan biasa. Jagara membiarkan semua itu terjadi tanpa protes. Pandangannya kosong, menatap langit-langit putih, sementara pikirannya penuh oleh satu wajah yang kini berdiri kaku di sa
Last Updated: 2026-03-02
Chapter: 129| Jerman dan Musim Dingin
Jagara selalu menyukai negara ini dari kejauhan.Bukan karena ia pernah berjalan di jalanannya, bukan pula karena kenangan personal yang melekat. Ia hanya menyukai gambaran yang selama ini ia lihat, tentang kota-kota yang tertib, musim dingin yang jujur, dan kesunyian yang tidak memaksa siapa pun untuk berpura-pura bahagia.Kini, untuk pertama kalinya, ia datang.Bukan sebagai turis. Bukan sebagai pebisnis. Dan jelas bukan sebagai pria yang hidupnya baik-baik saja.Dengan hanya sebuah tas tenteng kecil yang isinya tidak lebih dari beberapa helai pakaian dan dokumen penting, Jagara melangkah keluar dari bandara. Tidak ada Baim di belakangnya, tidak ada pengawal yang biasa menjaga jarak satu langkah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar sendirian.Udara menyambutnya dengan dingin yang kasar.Angin menusuk sela-sela coat hitam panjang yang ia kenakan, membuatnya refleks merapatkan kain itu ke tubuhnya. Ia tahu ia salah kostum. Musim dingin di negara ini tidak meng
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: 128| Tidak Bisa Keluar Lagi
Jagara benar-benar mengacau.Bar itu penuh cahaya temaram dan suara musik rendah yang bergetar di dada, tapi tak satu pun benar-benar masuk ke kepalanya. Gelas di tangannya sudah berganti entah ke berapa kali, es mencair, alkohol menggerus kesadarannya perlahan. Jas mahalnya tergeletak sembarangan di kursi sebelah, dasinya sudah tak beraturan. Jagara menunduk di meja bar, bahunya naik turun, napasnya berat, seolah setiap tarikan udara adalah beban yang tak sanggup lagi ia pikul.Ponsel di sakunya bergetar berkali-kali yang tentu tak dihiraukan.Getaran itu akhirnya berhenti, lalu kembali menyala—lebih lama kali ini. Baim, yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menghela napas sebelum meraih ponsel itu. Nama 'Mama' terpampang di layar. Jantungnya berdegup tak nyaman.“Gara kamu—” suara Ratna terdengar tajam bahkan sebelum Baim sempat menyapa.“Maaf, Ibu,” Baim memotong dengan sopan, suaranya ditahan agar tetap stabil. Matanya melirik Jagara yang kini benar-benar terkulai di atas mej
Last Updated: 2026-02-27
Swipe Right for Love

Swipe Right for Love

Bagi Aruna, menjadi pelatih kencan nomor satu di Indonesia berarti hidup dengan citra yang nyaris sempurna. Ia mengajarkan orang lain tentang cinta, sementara hidup pribadinya runtuh ketika tunangan yang ia cintai selama enam tahun berselingkuh tepat sebelum hari pernikahan. Skandal itu bukan hanya menghancurkan hatinya, tapi juga hampir mematikan reputasinya. Saat publik mulai meragukannya, Atlas masuk ke hidup Aruna. Pemilik aplikasi hubungan terbesar di negeri ini, dingin, rasional, dan terang-terangan tidak percaya cinta. Demi menjaga citra perusahaannya, Atlas menawarkan sebuah kesepakatan, Aruna akan menjadi wajah kampanye mereka—sekaligus pasangannya. “Kebohongan ini harus meyakinkan,” ucap Atlas di telinga Aruna. “Kamu siap?"
Read
Chapter: 84| Voliday
Suasana pantai siang hari itu begitu menyilaukan, matahari berdiri tepat di atas kepala, memantulkan cahaya ke permukaan air laut hingga berkilau seperti ribuan serpihan kaca. Angin berhembus cukup kencang, membawa aroma asin khas laut yang bercampur dengan suara debur ombak yang datang silih berganti. Di area yang sudah disiapkan kru, sebuah lapangan voli pantai berdiri dengan rapi, jaring terbentang kokoh di tengah, garis pembatas dibuat dari tali tipis yang ditanam di pasir, dan beberapa kamera sudah siap di berbagai sudut untuk menangkap setiap momen.Dua tim sudah dibagi. Di satu sisi, Selena, Devon, Azalea, Agasa, dan Athaya berdiri dengan posisi santai namun penuh percaya diri. Sementara di sisi lain, Aruna bersama Atlas, Shanin, Arga, dan Eky terlihat mulai mengambil posisi masing-masing. Suasana masih santai, tapi sorakan kecil dan candaan sudah mulai terdengar di antara mereka, menciptakan atmosfer kompetitif yang ringan namun menyenangkan.Aruna sendiri masih berada di pi
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 83| Benar-Benar Cemburu
Hari sudah berganti dari pertukaran pasangan, dan pagi itu seharusnya terasa lebih ringan. Seharusnya. Karena hari ini, Aruna kembali berdiri di posisi semula, sebagai pasangan Atlas di hadapan publik, kembali menjalani peran yang entah sejak kapan mulai terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut akting.Namun satu hal yang tidak bisa ia abaikan, mereka tidak benar-benar "kembali" seperti biasa. Tidak sejak semalam. Tidak sejak momen ketika Atlas melihat dengan jelas bucket bunga berwarna pink di pelukannya.Sejak saat itu, tidak ada percakapan.Tidak ada tatapan yang bertahan lebih dari sepersekian detik.Dan pagi ini, saat Aruna mengajaknya sarapan di pinggir kolam renang, semuanya terasa... dingin.Bukan dingin yang biasa Atlas miliki. Bukan ketenangan yang terkontrol seperti yang sering ia tunjukkan. Ini berbeda. Lebih sunyi, lebih tertutup, seolah ada sesuatu yang sengaja ia simpan rapat di balik ekspresi datarnya.Atlas benar-benar hanya "sarapan bersama".Tanpa bicara. Tanpa ko
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 82| Bucket Bunga
Tidak ada yang mengganggu Aruna selama kurang lebih tiga jam ia tertidur. Setelah meminum obat pemberian Atlas dan melewati drama kecil yang menguras tenaga dengan Agasa, tubuhnya seperti akhirnya menemukan kesempatan untuk benar-benar beristirahat. Ia merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi miring, satu tangan masih bertumpu di perutnya yang sebelumnya terasa tidak nyaman. Tak butuh waktu lama sampai kesadarannya menghilang perlahan, seolah obat yang ia telan tadi bukan hanya meredakan nyeri, tapi juga membawa efek menenangkan yang membuat kelopak matanya terasa berat.Mungkin memang ada kandungan ringan yang membantu tubuhnya lebih cepat terlelap, bukan sekadar obat biasa. Atau mungkin, ia memang sudah terlalu lelah untuk bertahan terjaga.Saat Aruna membuka mata, suasana di sekitarnya sudah berubah. Gelap. Hanya cahaya samar dari luar jendela yang masuk melalui celah tirai tipis, membentuk bayangan lembut di dinding kamar. Ia sempat mengerjap beberapa kali, mencoba menyesua
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 81| Jealousy
Aruna mengaduk teh hangat di dalam gelasnya dengan gerakan pelan yang berulang-ulang, seolah sendok kecil itu adalah satu-satunya hal yang mampu ia kendalikan saat ini. Kepalanya terasa kosong, atau mungkin justru terlalu penuh sampai ia memilih untuk tidak memikirkan apa pun. Uap tipis yang mengepul dari permukaan teh naik perlahan, menyentuh wajahnya, namun bahkan kehangatan itu tidak benar-benar ia rasakan. Jika saja waktu bisa berhenti di momen ini, di dapur yang sepi, dengan suara sendok beradu pelan dengan kaca, mungkin ia tidak perlu kembali menghadapi hari yang terasa semakin rumit sejak pagi tadi.Setelah makan siang bersama Agasa, Aruna memang meminta jeda. Alasannya sederhana—perutnya tidak nyaman. Namun jauh di dalam, ia tahu penyebabnya tidak sesederhana itu. Cara ia menelan makanan dengan tergesa, rasa tidak enak yang terus mengganjal di dada setiap kali Agasa membuka mulut, dan tekanan untuk tetap tersenyum di depan kamera... semuanya bercampur menjadi satu, mencipta
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 80| Karma
"Jadi, Pak Atlas udah berapa lama pacaran sama Kak Aruna?"Pertanyaan itu meluncur begitu saja, ringan, seolah tidak menyadari bobotnya. Namun justru karena itulah, suasana di meja makan siang itu berubah dalam sekejap. Angin pantai yang sejak tadi berhembus pelan kini terasa seperti hanya lewat begitu saja tanpa makna, sementara suara ombak di kejauhan seolah meredup di antara jeda yang tiba-tiba tercipta.Sendok di tangan Atlas berhenti tepat sebelum menyentuh mulutnya. Gerakannya tertahan, sempurna, tanpa getaran. Perlahan, ia menurunkan sendok itu kembali ke piringnya, lalu mengangkat pandangannya. Tatapan gelapnya jatuh tepat ke arah Azalea yang duduk di seberang meja.Tidak ada senyum.Tidak ada basa-basi.Hanya tatapan tajam yang cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum melanjutkan pembicaraan."Saya memilih tidak membawa Aruna ke dalam pembicaraan kita."Suaranya tenang, datar, namun tegas. Kalimat itu terdengar seperti garis batas yang jelas, dan tidak untuk di
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 79| Couple Swapped
Seperti yang sudah diumumkan sebelumnya, hari ketiga di vila itu resmi dimulai dengan satu tantangan yang sejak tadi pagi sudah membuat suasana terasa berbeda.Couple Swapped. Bukan sekadar permainan ringan atau tantangan kecil yang bisa ditertawakan bersama, melainkan sesuatu yang secara langsung menyentuh dinamika hubungan tiap pasangan. Untuk satu hari penuh, mereka harus bertukar pasangan. Menjalani aktivitas bersama orang lain. Berinteraksi, membangun "chemistry", bahkan, secara tidak langsung membuka kemungkinan yang seharusnya tidak ada.Kru sudah mengatur semuanya dengan rapi. Sebuah meja kecil diletakkan di tengah ruang, di atasnya terdapat beberapa bola transparan berisi gulungan nomor. Para peserta diminta mengantri, satu per satu mengambil nomor yang akan menentukan siapa pasangan mereka hari ini.Aruna berdiri di barisan, kedua tangannya saling menggenggam di depan perutnya. Degup jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia bahkan tidak terlalu memperhatikan suara ri
Last Updated: 2026-04-12
Pemuas Hasrat CEO Dingin

Pemuas Hasrat CEO Dingin

Bagi Elanora Maheswari, menulis novel hanyalah pelarian di tengah rutinitasnya sebagai staf IP Development di sebuah perusahaan penerbitan besar—meski ia sendiri bukan penulis profesional. Namun, satu kesalahan konyol mengubah segalanya. Naskah dewasanya justru terbaca oleh Dirgantara Ardawijaya, sang CEO megah yang namanya dengan sembrono ia jadikan tokoh utama. Sejak saat itu, Elanora terikat pada pria yang seharusnya hanya ada dalam fantasi. Bukan hanya menyingkap rahasianya, tapi Dirga juga menuntut sesuatu yang jauh lebih berbahaya yaitu memuaskan hasratnya sendiri. “Apa yang ada di pikiranmu saat menulis adegan ini?” suaranya rendah, menghantam telinga sekaligus detak jantungnya. Tatapannya menusuk, nyaris menelanjangi. Ia tersenyum samar. “Saya?” WARNING 21+
Read
Chapter: 193 (Epilog)
Rumah Dirgantara malam itu jauh berbeda dari masa-masa dulu, tidak lagi sunyi, tidak lagi dingin. Lampu-lampu hangat temaram, aroma lavender memenuhi udara, dan dari salah satu sudut ruangan terdengar suara lembut dan teratur… napas seorang bayi yang sedang tidur.Nora berdiri di samping boks kecil itu, jemarinya mengusap lembut pipi chubby yang memerah alami. Ada lingkaran gelap samar di bawah matanya, hasil begadang selama berbulan-bulan, namun matanya tetap jernih, penuh cinta, dan tidak sekali pun menunjukkan tanda penyesalan.“Aneh ya,” bisiknya lirih pada bayi mereka. “Dulu saya cuma nulis fantasi… sekarang saya hidup di dalamnya.”Pintu kamar bergeser pelan. Dirga masuk dengan langkah hati-hati seperti seseorang yang takut mengusik kedamaian yang rapuh. Ia masih menggunakan kemeja kerja, lengan sudah digulung, dasi sudah dilepas sejak lama. Tatapannya langsung jatuh pada dua makhluk paling berarti dalam hidupnya.“Nora,” panggilnya pelan.Gadis itu menoleh, tersenyum kecil. “Ud
Last Updated: 2025-11-26
Chapter: 192
"Saya juga. Tapi saya bersama kamu. Kita lakukan ini bersama. Tarik napas... lihat saya... jangan lepaskan tangan saya, janji?"Nora mengangguk lemah, air mata mulai menggenang di matanya.Dokter Darmaji, seorang pria paruh baya dengan wajah tenang dan berpengalaman, masuk ke ruangan. "Pembukaan sudah penuh. Kita siap mulai."Dirga mengangguk cepat tanpa melepaskan pandangannya dari Nora, bahkan tidak sedetik pun. Maka, dimulailah pertarungan paling sengit yang pernah Dirga ikuti, bukan di ruang rapat yang dingin, melainkan di ruangan ini yang dipenuhi teriakan, keringat, dan aroma cinta yang membara. Kontraksi datang seperti gelombang badai yang saling menindih, tanpa ampun."Dorong, Nyonya! Tarik napas dalam-dalam dan dorong!" perintah bidan kepala dengan suara yang tegas namun menenangkan."Sedikit lagi! Kepala bayinya sudah kelihatan!""Bagus! Begitu! Lagi!""AAAHHHH!!!" Nora memekik, tubuhnya menegang kaku, tangannya hampir menghancurkan jari-jari Dirga. Ia menarik rambut suaminy
Last Updated: 2025-11-25
Chapter: 191
Gedung Ardawijaya Group menjulang tinggi di tengah hiruk pikuk kota, sebuah monumen modern dari baja dan kaca yang mencerminkan ambisi tunggal pemiliknya. Namun, siang itu, getaran yang terasa bukan berasal dari lalu lintas di bawah atau angin yang menerjang puncaknya. Getaran itu lahir dari satu sumber amarah murni yang memancar dari lantai eksekutif Dirgantara Ardawijaya.Di dalam ruang rapat utama yang luas, dengan dinding kaca yang memandang ke langit-langit kota, udara terasa dingin dan pekat. Meja mahoni yang mengkilap seolah mengecil di bawah tekanan energi negatif. Para direktur, pria dan wanita yang biasanya percaya diri dan mengendalikan pasar, kini terlihat seperti anak sekolah yang dimarahi. Rapat berjalan kacau bukan karena grafik merah di layar atau laporan keuangan yang mengecewakan, tapi karena sang raja di kerajaannya sedang naik pitam."Bagaimana bisa kontrak sebesar itu nyaris terlepas?!" suara Dirga menghentak meja. Bunyi dentuman yang keras membuat cangkir kopi
Last Updated: 2025-11-24
Chapter: 190
Begitu jet pribadi mulai menurunkan ketinggian, lampu kabin berganti menjadi mode pendaratan. Di luar jendela, Dubai bersinar seperti hamparan emas, gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya lampu kota, gurun malam membentang sunyi dengan garis-garis jalan yang berpendar.Nora memandangi pemandangan itu sambil memegang perutnya, sedikit tak percaya bahwa perjalanan impulsif ini benar-benar terjadi. Semua demi satu kalimat iseng dari bibirnya: ingin makan cokelat Dubai langsung dari Dubai.Sementara itu, Dirga duduk di sebelahnya, tubuhnya sedikit condong untuk memastikan Nora nyaman. Tangan besar lelaki itu terus bertengger di pinggang Nora, tidak bergerak terlalu jauh, tidak pernah benar-benar melepaskan.“Begitu kita turun, kamu tetap di dekat saya,” ujar Dirga perlahan, suaranya mantap dan mengandung aba-aba. “Bandara di sini cukup ramai bahkan untuk jalur private. Saya tidak ingin kamu terpisah sedikit pun.”Nora tersenyum kecil. “Mas, saya kan nggak mau kabur.”“Saya tidak peduli,”
Last Updated: 2025-11-23
Chapter: 189
Keputusan itu langsung mengubah seluruh suasana rumah. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, rumah besar Dirgantara seakan berubah menjadi markas operasi militer yang sedang menghadapi krisis internasional.Lorong-lorong yang biasanya sunyi mendadak penuh suara langkah cepat, suara walkie-talkie, dan instruksi yang bersahut-sahutan. Para pengawal bergerak bak prajurit terlatih, sebagian menghubungi tim bandara untuk memastikan semua izin terbang darurat diproses seketika, sebagian lagi memeriksa keamanan rute dari rumah ke hanggar pribadi.Matthew sudah berlari ke garasi bawah tanah, mengecek kondisi jet pribadi yang memang selalu standby, tetapi hari ini harus siap sekarang juga. Ia memastikan bahan bakar penuh, pilot dan co-pilot sudah dipanggil, lalu mengirim laporan singkat ke ponsel Dirga.Asisten rumah tangga muncul dari berbagai penjuru membawa koper, pakaian longgar Nora, jaket, syal, dan bahkan bantal favorit perempuan itu. Mereka memasukkannya ke koper dengan efisiensi t
Last Updated: 2025-11-22
Chapter: 188
Tidak pernah terbayang oleh siapa pun terutama oleh Dirgantara Ardawijaya, pria yang selama ini memegang kendali atas segalanya, bahwa bentengnya yang paling pribadi, rumah megahnya yang selama ini dikenal dingin, sunyi, dan membosankan, akan berubah menjadi… sebuah museum warna-warni yang kacau dan penuh kehidupan.Rumah itu dulu adalah cerminan dirinya. Sebuah kubus marmer abu-abu yang berdiri kokoh di tengah taman yang terawis rapi. Di dalamnya, lantai marmer hitam mengkilap yang begitu dingin hingga menyentuh telapak kaki, memantulkan bayangan sosok-sosok yang bergerak tanpa suara. Patung-patung menyeramkan dari batu obsidian, karya seni abstrak yang terasa lebih seperti ancaman daripada hiasan, berdiri di setiap sudut seperti penjaga bisu. Vas-vas minimalis tergeletak kosong, tanpa bunga, karena menurut Dirga, bunga adalah representasi sesuatu yang akan layu dan mati. Pencahayaan redup, tersembunyi di balik balik-balik langit-langit, menciptakan suasana seperti hotel bisnis prem
Last Updated: 2025-11-21
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status