Chapter: 95| Posisi SemulaRaya berbaring telentang di ranjang apartemennya, tubuhnya setengah tenggelam di sprei berwarna abu pucat yang masih menyimpan aroma sabun. Ia mengenakan kaos putih oversize yang jatuh menutupi pangkal pahanya dan celana pendek tipis di baliknya, membuatnya tampak seolah tak mengenakan apa pun selain kaos itu. Rambutnya dibiarkan terurai setengah basah, ujung-ujungnya masih meneteskan air yang membasahi bantal. Dadanya naik turun perlahan, napas panjang ia embuskan berkali-kali, seperti mencoba mengusir sisa-sisa hari yang melelahkan.Sejak matahari terbenam beberapa jam lalu, Raya belum menyalakan satu pun lampu di apartemen.Ia membiarkan cahaya temaram dari balkon kecil menyusup masuk, memantul di lantai dan dinding, cukup untuk menerangi garis-garis samar ruangan. Kakinya menggantung di sisi ranjang, telapak kakinya berayun pelan, ritme kecil yang tak benar-benar ia sadari. Saat ia memejamkan mata, wajah Jagara kembali muncul, jelas dan tak terhindarkan. Nada suaranya di mobil,
Terakhir Diperbarui: 2026-01-08
Chapter: 94| Terasa Lebih JauhRaya membasuh wajahnya di depan cermin wastafel, air dingin mengalir melewati kulit pipinya yang masih terasa hangat. Kemerahan di sana perlahan memudar, meski perasaan di dadanya tidak ikut surut. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, mata yang sedikit berkaca, napas yang belum sepenuhnya stabil. Entah karena malu, atau kesal, atau mungkin perpaduan keduanya yang saling tumpang tindih tanpa mau dipisahkan.Bayangan Jagara berdiri di tengah aula, menyebut namanya dengan suara tenang tapi menusuk, terus berputar di kepalanya. Presentasi yang sudah ia persiapkan dengan matang, yang seharusnya berjalan rapi dan profesional, terasa ternodai oleh satu pertanyaan yang sama sekali tidak ada di slide. Raya memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum semuanya tumpah dalam bentuk emosi yang tidak seharusnya.Ia mengeringkan wajahnya dengan tisu, menepuk-nepuk pelan, lalu melangkah keluar dari ruang kecil itu.Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti seperse
Terakhir Diperbarui: 2026-01-07
Chapter: 93| Nama Yang DipanggilSebenarnya, Raya tak pernah merasa kemampuannya cukup untuk berdiri sebagai pembicara di depan banyak orang. Ia terbiasa berbicara dengan pasien, dengan suara pelan dan kalimat yang ditata hati-hati, bukan menghadapi ratusan pasang mata yang menunggu setiap kata. Namun janji tetaplah janji. Ketika ia sudah menyanggupi untuk membantu melancarkan seminar hari ini, Raya tahu ia harus melakukannya dengan sepenuh hati, terlepas dari rasa gugup yang berulang kali mengetuk dadanya.Sudah setengah jam berlalu sejak ia diantar Aksara ke area aula salah satu universitas negeri ternama itu. Bangunan tua dengan arsitektur klasik berdiri anggun, lorong-lorongnya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang membawa map dan buku. Raya kini berada di ruang tunggu pembicara, duduk di sofa panjang berwarna abu-abu, sebuah map cokelat terbuka di pangkuannya. Jemarinya membalik halaman demi halaman materi presentasi, meski sebagian besar isinya sudah ia hafal. Sesekali ia menghela napas, meneguk air minera
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: 92| Dua KepribadianPerlahan, hiruk-pikuk Jakarta tertinggal di belakang mereka.Gedung-gedung tinggi yang tadi berderet rapat mulai mengecil di kaca spion. Lampu lalu lintas berganti dengan tikungan panjang, suara klakson digantikan desir angin yang menyusup di sela jaket. Raya duduk diam di belakang Aksara, kedua tangannya berpegangan hati-hati, tubuhnya mengikuti irama motor yang melaju stabil. Jalanan menanjak, pepohonan mulai rapat, dan udara terasa berubah—lebih sejuk, lebih bersih, seolah paru-parunya mendapat ruang baru untuk bernapas.Satu setengah jam berlalu tanpa terasa.Motor Triumph Bonneville Speedmaster itu akhirnya melambat, lalu berhenti di sebuah area parkir kecil berbatu. Di hadapan mereka berdiri sebuah coffee shop sederhana dengan bangunan kayu dan kaca lebar. Letaknya sedikit menjorok ke atas perbukitan, menghadap langsung ke hamparan hijau yang luas. Tidak ada musik keras, tidak ada suara ramai.Hanya angin, dedaunan yang bergesekan pelan, dan aroma kopi yang samar terbawa udara.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: 91| Keputusan SpontanPagi datang tanpa tergesa, menyelinap lewat celah tirai dan jatuh lembut di dinding kamar Raya. Ia terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh kesadaran kecil yang menyenangkan—hari ini libur. Tidak ada jadwal operasi, tidak ada rapat mendadak, tidak ada panggilan pasien gawat. Hanya satu agenda yang tertera rapi di kepalanya: sebuah seminar kedokteran gigi di salah satu universitas negeri ternama, siang nanti. Undangan resmi sudah ia terima sejak dua minggu lalu.Namanya tercantum sebagai pembicara tamu untuk sesi diskusi klinis. Bukan hal baru, tapi tetap saja ada rasa tanggung jawab yang membuatnya ingin tampil prima.Raya berguling pelan, duduk di tepi ranjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa hari lalu. Tidak ada pusing yang mengganggu, tidak ada rasa mual samar. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri sebelum berdiri dan menuju kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi bahunya, membawa sisa-sisa lelah y
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: 90| Belum Mengenal JagaraMalam sudah benar-benar turun ketika Jagara mengemudi sendirian meninggalkan klinik.Kota tampak tenang dari balik kaca mobil, lampu-lampu jalan memantul memanjang, berpendar lembut seolah tak tahu bahwa di dalam dada lelaki itu ada sesuatu yang sedang berpacu cepat. Kertas hasil lab masih berada di tangannya, terlipat rapi namun tak pernah benar-benar ia lepaskan sejak keluar dari ruang dokter. Setiap kali jemarinya menyentuh permukaan kertas itu, ada rasa nyata yang menegaskan bahwa semua ini bukan ilusi. Bukan lagi dugaan, bukan lagi ketakutan yang ia pendam sendirian selama dua bulan terakhir.Jantungnya berdegup tidak teratur, bukan karena kecemasan, melainkan karena antusiasme yang tertahan. Bayangan Raya muncul berulang kali di benaknya, begitu jelas hingga hampir terasa menyakitkan. Cara wanita itu menatapnya di hari terakhir mereka bertemu, tatapan yang tidak marah namun juga tidak berharap. Tatapan seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menunggu penjelasan. Jagara menel
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: 193 (Epilog)Rumah Dirgantara malam itu jauh berbeda dari masa-masa dulu, tidak lagi sunyi, tidak lagi dingin. Lampu-lampu hangat temaram, aroma lavender memenuhi udara, dan dari salah satu sudut ruangan terdengar suara lembut dan teratur… napas seorang bayi yang sedang tidur.Nora berdiri di samping boks kecil itu, jemarinya mengusap lembut pipi chubby yang memerah alami. Ada lingkaran gelap samar di bawah matanya, hasil begadang selama berbulan-bulan, namun matanya tetap jernih, penuh cinta, dan tidak sekali pun menunjukkan tanda penyesalan.“Aneh ya,” bisiknya lirih pada bayi mereka. “Dulu saya cuma nulis fantasi… sekarang saya hidup di dalamnya.”Pintu kamar bergeser pelan. Dirga masuk dengan langkah hati-hati seperti seseorang yang takut mengusik kedamaian yang rapuh. Ia masih menggunakan kemeja kerja, lengan sudah digulung, dasi sudah dilepas sejak lama. Tatapannya langsung jatuh pada dua makhluk paling berarti dalam hidupnya.“Nora,” panggilnya pelan.Gadis itu menoleh, tersenyum kecil. “Ud
Terakhir Diperbarui: 2025-11-26
Chapter: 192"Saya juga. Tapi saya bersama kamu. Kita lakukan ini bersama. Tarik napas... lihat saya... jangan lepaskan tangan saya, janji?"Nora mengangguk lemah, air mata mulai menggenang di matanya.Dokter Darmaji, seorang pria paruh baya dengan wajah tenang dan berpengalaman, masuk ke ruangan. "Pembukaan sudah penuh. Kita siap mulai."Dirga mengangguk cepat tanpa melepaskan pandangannya dari Nora, bahkan tidak sedetik pun. Maka, dimulailah pertarungan paling sengit yang pernah Dirga ikuti, bukan di ruang rapat yang dingin, melainkan di ruangan ini yang dipenuhi teriakan, keringat, dan aroma cinta yang membara. Kontraksi datang seperti gelombang badai yang saling menindih, tanpa ampun."Dorong, Nyonya! Tarik napas dalam-dalam dan dorong!" perintah bidan kepala dengan suara yang tegas namun menenangkan."Sedikit lagi! Kepala bayinya sudah kelihatan!""Bagus! Begitu! Lagi!""AAAHHHH!!!" Nora memekik, tubuhnya menegang kaku, tangannya hampir menghancurkan jari-jari Dirga. Ia menarik rambut suaminy
Terakhir Diperbarui: 2025-11-25
Chapter: 191Gedung Ardawijaya Group menjulang tinggi di tengah hiruk pikuk kota, sebuah monumen modern dari baja dan kaca yang mencerminkan ambisi tunggal pemiliknya. Namun, siang itu, getaran yang terasa bukan berasal dari lalu lintas di bawah atau angin yang menerjang puncaknya. Getaran itu lahir dari satu sumber amarah murni yang memancar dari lantai eksekutif Dirgantara Ardawijaya.Di dalam ruang rapat utama yang luas, dengan dinding kaca yang memandang ke langit-langit kota, udara terasa dingin dan pekat. Meja mahoni yang mengkilap seolah mengecil di bawah tekanan energi negatif. Para direktur, pria dan wanita yang biasanya percaya diri dan mengendalikan pasar, kini terlihat seperti anak sekolah yang dimarahi. Rapat berjalan kacau bukan karena grafik merah di layar atau laporan keuangan yang mengecewakan, tapi karena sang raja di kerajaannya sedang naik pitam."Bagaimana bisa kontrak sebesar itu nyaris terlepas?!" suara Dirga menghentak meja. Bunyi dentuman yang keras membuat cangkir kopi
Terakhir Diperbarui: 2025-11-24
Chapter: 190Begitu jet pribadi mulai menurunkan ketinggian, lampu kabin berganti menjadi mode pendaratan. Di luar jendela, Dubai bersinar seperti hamparan emas, gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya lampu kota, gurun malam membentang sunyi dengan garis-garis jalan yang berpendar.Nora memandangi pemandangan itu sambil memegang perutnya, sedikit tak percaya bahwa perjalanan impulsif ini benar-benar terjadi. Semua demi satu kalimat iseng dari bibirnya: ingin makan cokelat Dubai langsung dari Dubai.Sementara itu, Dirga duduk di sebelahnya, tubuhnya sedikit condong untuk memastikan Nora nyaman. Tangan besar lelaki itu terus bertengger di pinggang Nora, tidak bergerak terlalu jauh, tidak pernah benar-benar melepaskan.“Begitu kita turun, kamu tetap di dekat saya,” ujar Dirga perlahan, suaranya mantap dan mengandung aba-aba. “Bandara di sini cukup ramai bahkan untuk jalur private. Saya tidak ingin kamu terpisah sedikit pun.”Nora tersenyum kecil. “Mas, saya kan nggak mau kabur.”“Saya tidak peduli,”
Terakhir Diperbarui: 2025-11-23
Chapter: 189Keputusan itu langsung mengubah seluruh suasana rumah. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, rumah besar Dirgantara seakan berubah menjadi markas operasi militer yang sedang menghadapi krisis internasional.Lorong-lorong yang biasanya sunyi mendadak penuh suara langkah cepat, suara walkie-talkie, dan instruksi yang bersahut-sahutan. Para pengawal bergerak bak prajurit terlatih, sebagian menghubungi tim bandara untuk memastikan semua izin terbang darurat diproses seketika, sebagian lagi memeriksa keamanan rute dari rumah ke hanggar pribadi.Matthew sudah berlari ke garasi bawah tanah, mengecek kondisi jet pribadi yang memang selalu standby, tetapi hari ini harus siap sekarang juga. Ia memastikan bahan bakar penuh, pilot dan co-pilot sudah dipanggil, lalu mengirim laporan singkat ke ponsel Dirga.Asisten rumah tangga muncul dari berbagai penjuru membawa koper, pakaian longgar Nora, jaket, syal, dan bahkan bantal favorit perempuan itu. Mereka memasukkannya ke koper dengan efisiensi t
Terakhir Diperbarui: 2025-11-22
Chapter: 188Tidak pernah terbayang oleh siapa pun terutama oleh Dirgantara Ardawijaya, pria yang selama ini memegang kendali atas segalanya, bahwa bentengnya yang paling pribadi, rumah megahnya yang selama ini dikenal dingin, sunyi, dan membosankan, akan berubah menjadi… sebuah museum warna-warni yang kacau dan penuh kehidupan.Rumah itu dulu adalah cerminan dirinya. Sebuah kubus marmer abu-abu yang berdiri kokoh di tengah taman yang terawis rapi. Di dalamnya, lantai marmer hitam mengkilap yang begitu dingin hingga menyentuh telapak kaki, memantulkan bayangan sosok-sosok yang bergerak tanpa suara. Patung-patung menyeramkan dari batu obsidian, karya seni abstrak yang terasa lebih seperti ancaman daripada hiasan, berdiri di setiap sudut seperti penjaga bisu. Vas-vas minimalis tergeletak kosong, tanpa bunga, karena menurut Dirga, bunga adalah representasi sesuatu yang akan layu dan mati. Pencahayaan redup, tersembunyi di balik balik-balik langit-langit, menciptakan suasana seperti hotel bisnis prem
Terakhir Diperbarui: 2025-11-21