Chapter: 193 (Epilog)Rumah Dirgantara malam itu jauh berbeda dari masa-masa dulu, tidak lagi sunyi, tidak lagi dingin. Lampu-lampu hangat temaram, aroma lavender memenuhi udara, dan dari salah satu sudut ruangan terdengar suara lembut dan teratur… napas seorang bayi yang sedang tidur.Nora berdiri di samping boks kecil itu, jemarinya mengusap lembut pipi chubby yang memerah alami. Ada lingkaran gelap samar di bawah matanya, hasil begadang selama berbulan-bulan, namun matanya tetap jernih, penuh cinta, dan tidak sekali pun menunjukkan tanda penyesalan.“Aneh ya,” bisiknya lirih pada bayi mereka. “Dulu saya cuma nulis fantasi… sekarang saya hidup di dalamnya.”Pintu kamar bergeser pelan. Dirga masuk dengan langkah hati-hati seperti seseorang yang takut mengusik kedamaian yang rapuh. Ia masih menggunakan kemeja kerja, lengan sudah digulung, dasi sudah dilepas sejak lama. Tatapannya langsung jatuh pada dua makhluk paling berarti dalam hidupnya.“Nora,” panggilnya pelan.Gadis itu menoleh, tersenyum kecil. “Ud
Last Updated: 2025-11-26
Chapter: 192"Saya juga. Tapi saya bersama kamu. Kita lakukan ini bersama. Tarik napas... lihat saya... jangan lepaskan tangan saya, janji?"Nora mengangguk lemah, air mata mulai menggenang di matanya.Dokter Darmaji, seorang pria paruh baya dengan wajah tenang dan berpengalaman, masuk ke ruangan. "Pembukaan sudah penuh. Kita siap mulai."Dirga mengangguk cepat tanpa melepaskan pandangannya dari Nora, bahkan tidak sedetik pun. Maka, dimulailah pertarungan paling sengit yang pernah Dirga ikuti, bukan di ruang rapat yang dingin, melainkan di ruangan ini yang dipenuhi teriakan, keringat, dan aroma cinta yang membara. Kontraksi datang seperti gelombang badai yang saling menindih, tanpa ampun."Dorong, Nyonya! Tarik napas dalam-dalam dan dorong!" perintah bidan kepala dengan suara yang tegas namun menenangkan."Sedikit lagi! Kepala bayinya sudah kelihatan!""Bagus! Begitu! Lagi!""AAAHHHH!!!" Nora memekik, tubuhnya menegang kaku, tangannya hampir menghancurkan jari-jari Dirga. Ia menarik rambut suaminy
Last Updated: 2025-11-25
Chapter: 191Gedung Ardawijaya Group menjulang tinggi di tengah hiruk pikuk kota, sebuah monumen modern dari baja dan kaca yang mencerminkan ambisi tunggal pemiliknya. Namun, siang itu, getaran yang terasa bukan berasal dari lalu lintas di bawah atau angin yang menerjang puncaknya. Getaran itu lahir dari satu sumber amarah murni yang memancar dari lantai eksekutif Dirgantara Ardawijaya.Di dalam ruang rapat utama yang luas, dengan dinding kaca yang memandang ke langit-langit kota, udara terasa dingin dan pekat. Meja mahoni yang mengkilap seolah mengecil di bawah tekanan energi negatif. Para direktur, pria dan wanita yang biasanya percaya diri dan mengendalikan pasar, kini terlihat seperti anak sekolah yang dimarahi. Rapat berjalan kacau bukan karena grafik merah di layar atau laporan keuangan yang mengecewakan, tapi karena sang raja di kerajaannya sedang naik pitam."Bagaimana bisa kontrak sebesar itu nyaris terlepas?!" suara Dirga menghentak meja. Bunyi dentuman yang keras membuat cangkir kopi
Last Updated: 2025-11-24
Chapter: 190Begitu jet pribadi mulai menurunkan ketinggian, lampu kabin berganti menjadi mode pendaratan. Di luar jendela, Dubai bersinar seperti hamparan emas, gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya lampu kota, gurun malam membentang sunyi dengan garis-garis jalan yang berpendar.Nora memandangi pemandangan itu sambil memegang perutnya, sedikit tak percaya bahwa perjalanan impulsif ini benar-benar terjadi. Semua demi satu kalimat iseng dari bibirnya: ingin makan cokelat Dubai langsung dari Dubai.Sementara itu, Dirga duduk di sebelahnya, tubuhnya sedikit condong untuk memastikan Nora nyaman. Tangan besar lelaki itu terus bertengger di pinggang Nora, tidak bergerak terlalu jauh, tidak pernah benar-benar melepaskan.“Begitu kita turun, kamu tetap di dekat saya,” ujar Dirga perlahan, suaranya mantap dan mengandung aba-aba. “Bandara di sini cukup ramai bahkan untuk jalur private. Saya tidak ingin kamu terpisah sedikit pun.”Nora tersenyum kecil. “Mas, saya kan nggak mau kabur.”“Saya tidak peduli,”
Last Updated: 2025-11-23
Chapter: 189Keputusan itu langsung mengubah seluruh suasana rumah. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, rumah besar Dirgantara seakan berubah menjadi markas operasi militer yang sedang menghadapi krisis internasional.Lorong-lorong yang biasanya sunyi mendadak penuh suara langkah cepat, suara walkie-talkie, dan instruksi yang bersahut-sahutan. Para pengawal bergerak bak prajurit terlatih, sebagian menghubungi tim bandara untuk memastikan semua izin terbang darurat diproses seketika, sebagian lagi memeriksa keamanan rute dari rumah ke hanggar pribadi.Matthew sudah berlari ke garasi bawah tanah, mengecek kondisi jet pribadi yang memang selalu standby, tetapi hari ini harus siap sekarang juga. Ia memastikan bahan bakar penuh, pilot dan co-pilot sudah dipanggil, lalu mengirim laporan singkat ke ponsel Dirga.Asisten rumah tangga muncul dari berbagai penjuru membawa koper, pakaian longgar Nora, jaket, syal, dan bahkan bantal favorit perempuan itu. Mereka memasukkannya ke koper dengan efisiensi t
Last Updated: 2025-11-22
Chapter: 188Tidak pernah terbayang oleh siapa pun terutama oleh Dirgantara Ardawijaya, pria yang selama ini memegang kendali atas segalanya, bahwa bentengnya yang paling pribadi, rumah megahnya yang selama ini dikenal dingin, sunyi, dan membosankan, akan berubah menjadi… sebuah museum warna-warni yang kacau dan penuh kehidupan.Rumah itu dulu adalah cerminan dirinya. Sebuah kubus marmer abu-abu yang berdiri kokoh di tengah taman yang terawis rapi. Di dalamnya, lantai marmer hitam mengkilap yang begitu dingin hingga menyentuh telapak kaki, memantulkan bayangan sosok-sosok yang bergerak tanpa suara. Patung-patung menyeramkan dari batu obsidian, karya seni abstrak yang terasa lebih seperti ancaman daripada hiasan, berdiri di setiap sudut seperti penjaga bisu. Vas-vas minimalis tergeletak kosong, tanpa bunga, karena menurut Dirga, bunga adalah representasi sesuatu yang akan layu dan mati. Pencahayaan redup, tersembunyi di balik balik-balik langit-langit, menciptakan suasana seperti hotel bisnis prem
Last Updated: 2025-11-21
Chapter: 127| KeruntuhanJagara tidak pernah bermain dengan ucapannya.Sekali ia berniat menghancurkan sesuatu, maka yang tersisa hanyalah puing. Tak peduli apakah itu musuhnya, sistem yang ia bangun sendiri, atau dirinya sendiri.Dan kali ini, kehancuran itu ia arahkan ke satu titik yang paling ia kenal: hidupnya sendiri.Dalam sepekan terakhir, nama Jagara Raksa Baskarana berkali-kali muncul di pemberitaan ekonomi nasional. Judul-judul besar menyoroti keputusan sepihaknya membatalkan sejumlah kerja sama strategis dengan mitra lama, proyek-proyek yang selama ini dianggap sebagai fondasi stabil Kinara Motors. Angka kerugian yang beredar bukan lagi sekadar spekulasi kecil. Para analis memperkirakan kerugian menembus satu triliun rupiah, dan itu belum termasuk dampak jangka panjang terhadap kepercayaan investor.Ratna membaca semua itu dengan tangan gemetar.Bagi perempuan itu, Kinara Motors adalah bukti keberhasilannya sebagai ibu, sebuah mahakarya yang ia yakini telah mengubah hidup mereka sekeluarga. Ia sel
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: 126| Dua OpsiSuasana rumah orang tua Jagara terasa semakin sunyi ketika jarum jam merayap melewati pukul dua belas malam. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin, seolah ikut menyimpan rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan. Mobil hitam yang ditumpangi Jagara melambat saat memasuki kawasan perumahan elit itu, hingga akhirnya dihentikan oleh satpam yang berjaga di pos depan. Lelaki paruh baya itu sempat menegakkan tubuhnya, memberi isyarat agar kaca jendela diturunkan, namun begitu sorot matanya menangkap wajah Jagara di balik kaca gelap, tubuhnya langsung menegang. Tanpa banyak tanya, ia menunduk hormat dan segera membuka palang, memberi akses masuk seolah tahu bahwa tidak ada satu pun yang bisa menghalangi Jagara malam ini.Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan gerbang rumah besar bergaya klasik itu. Gerbang besi berwarna hitam tampak tertutup rapat, sunyi, seakan penghuni di dalamnya memilih berpura-pura tidak mendengar
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: 125| CCTVLampu-lampu temaram bar itu memantul redup di permukaan meja marmer hitam, menciptakan bayangan panjang yang jatuh ke lantai kayu gelap. Udara di dalamnya beraroma alkohol mahal, kayu bakar, dan kesepian yang tidak pernah benar-benar pergi. Jagara duduk sendiri di ujung bar, bahunya sedikit membungkuk, dasi yang biasa melingkar rapi di lehernya kini tergeletak kusut di atas meja. Kancing atas kemeja putihnya terbuka, memperlihatkan dada yang naik-turun tidak beraturan.Di tangannya, segelas minuman beralkohol tinggi berwarna amber digenggam erat. Ia meneguknya tanpa benar-benar mengecap rasa, hanya membiarkan cairan panas itu meluncur kasar ke tenggorokannya, seolah berharap sensasi terbakar itu bisa menutupi nyeri yang jauh lebih dalam.Bar itu nyaris kosong.Bukan karena jam operasionalnya aneh, melainkan karena tempat ini memang tidak diperuntukkan bagi sembarang orang. Tidak ada papan nama mencolok di luar, tidak ada musik keras, tidak ada keramaian murahan. Hanya orang-orang te
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: 124| Tanpa KesempatanWangi kopi menyusup lebih dulu sebelum Jagara benar-benar sadar.Bukan cahaya matahari yang membangunkannya pagi itu. Bukan silau putih dari balik tirai, bukan pula alarm ponsel yang biasa memaksanya membuka mata. Yang datang justru aroma hangat—kopi hitam yang baru diseduh, bercampur dengan bau roti bakar dan sedikit mentega yang meleleh. Aroma rumah. Aroma pagi yang tenang.Kelopak mata Jagara terbuka perlahan, terasa berat, tapi bibirnya sudah lebih dulu melengkung membentuk senyum kecil yang refleks. Ada perasaan nyaman yang menjalar di dadanya. Ia mengangkat tangan, menyibakkan selimut, lalu duduk di tepi ranjang. Rambutnya berantakan, napasnya masih sedikit dalam. Tangannya meraba kaos putih polos yang tergeletak asal di kursi, lalu memakainya tanpa repot merapikan. Kakinya melangkah keluar kamar, mengikuti aroma yang semakin jelas.Di dapur, Raya berdiri membelakanginya.Pemandangan itu membuat Jagara berhenti melangkah.Raya mengenakan pakaian yang sederhana, rambutnya terika
Last Updated: 2026-02-18
Chapter: 123| Film FavoritMalam datang dengan cara yang pelan namun pasti. Dari balik pintu-pintu kaca besar yang mengelilingi ruang tengah, Raya merapatkan bathrobe putih yang membungkus tubuhnya. Uap hangat dari kulitnya masih terasa, sisa mandi air panas yang ia nikmati lebih lama dari biasanya—seolah ingin menunda dunia di luar kamar mandi, menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat.Ia duduk di sofa panjang berwarna krem, segelas es kopi susu berada di tangannya. Es di dalam gelas beradu pelan, mengeluarkan bunyi kecil yang samar. Kopi itu ia pesan secara daring, keputusan impulsif yang terasa tepat untuk malam seperti ini. Di hadapannya, pantulan cahaya lampu taman menari di permukaan kolam renang. Airnya berkilau, memantulkan warna keemasan dari lampu-lampu kecil yang terpasang rapi di sekitar pekarangan.Malam membuat segalanya terlihat berbeda. Lebih tenang, lebih intim. Angin berembus lembut, menggerakkan tirai tipis yang menggantung dari langit-langit. Gerimis mulai turun perlahan, menimbulka
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: 122| Rumah Masa DepanMata Raya hampir tak pernah lepas dari cincin berlian yang kini melingkar manis di jari manis kirinya. Berlian itu kecil namun berkilau, memantulkan cahaya setiap kali ia menggerakkan tangannya. Senyum Raya merekah tanpa sadar, bertahan sejak pagi hingga siang, seolah wajahnya lupa bagaimana caranya kembali netral. Satu tangannya digenggam erat oleh Jagara, sementara tangan lainnya sesekali ia angkat, memandangi cincin itu lagi dan lagi, seperti takut semua ini hanya ilusi yang akan lenyap jika ia berhenti menatap.Sepanjang lorong bandara, menuju pintu kedatangan, Raya berjalan dengan langkah ringan. Jagara tak melepaskan genggamannya sedetik pun, seolah ingin memastikan Raya benar-benar di sisinya. Dua pengawal berjalan sedikit di belakang, sibuk membawa paper bag dan kotak-kotak belanjaan yang sebagian bahkan Raya sendiri tak ingat kapan membelinya—atau lebih tepatnya, kapan Jagara memaksanya membeli. Beijing kemarin terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya usai, dan kini Jaka
Last Updated: 2026-02-15