Sì Hong To (Golok Empat Penjuru)
Dalam dunia Kang Ouw (dunia para pendekar silat Tiongkok), ada dua pusaka yang menjadi idaman semua pendekar Kang Ouw: Golok Empat Penjuru dan Ular Emas Maut. Setiap sepuluh tahun sekali, mereka yang terkuat akan bertarung memperebutkannya-bukan sekadar senjata, tapi juga tahta sebagai Ketua Aliansi Pendekar, yang disegani di Tiga Dunia dan Sembilan Benua.
Delapan belas tahun lalu, dua pendekar terhebat menang. Pendekar Go Hong Liu. Pendekar wanita misterius, Pendekar Ular Giok. Malam itu, mereka hilang bersama pusakanya.
Sekarang, seorang pangeran terbuang mendaki Gunung Lok San. Di depan gua, ia muntah darah mengenang wanita yang dicintainya-yang dipaksa menikah dengan Raja Utara oleh intrik Selir Hui.
Guru di dalam gua itu memegang liontin giok-pemberiannya pada tunangan yang hilang tiga puluh tahun lalu.
Golok akan bangkit. Pedang akan hancur. Dan dendam akan lunas.
Inspirasi: Lagu Si Bu Liao, by Ricchie Ren.
Read
Chapter: Mengunjungi Kawan KecilLokasi: Istana, halaman belakang kamar Ong BweeWaktu: Beberapa tahun setelah kematian Selir Hui, Keng Hong, dan Kiat Seng🏛️ KEMBALI KE ISTANAMatahari sore menyinari istana. Udara terasa berbeda—lebih ringan, seperti beban yang selama ini menggantung akhirnya terangkat.Ong Bwee berjalan pelan. Di sampingnya, Bunga Emas menggandeng Ong Bun Eng kini telah remaja dan Ong Bun Kun mulai tumbuh besar. Di belakang, Guru Tampan dan Nyonya Nio menggandeng Go Hong San dan Go Hong Eng.Mereka berhenti di depan sebuah gundukan kecil.Tanahnya sederhana. Tidak ada batu nisan megah. Hanya setangkai bunga layu yang diletakkan seseorang—mungkin dayang yang masih ingat.Ong Bwee: (berlutut) "Hunpo... Papa pulang."🐕 CERITA UNTUK HUNPOAngin berdesir pelan. Daun-daun kering berjatuhan.Ong Bwee: "Kau ingat? Dulu kau selalu tidur di sampingku. Waktu aku diasingkan, kau ikut. Waktu aku di gunung, kau yang pertama masuk gua. Waktu aku pingsan, kau jilat wajahku."Ia tersenyum.Ong Bwee: "Maaf baru p
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: BO TAN TO KUNLokasi: Arena duel, kaki Gunung Lok SanWaktu: Pagi, setelah tantangan Selir Hui🏔️ ARENA PERTARUNGANMatahari baru naik. Kabut tipis masih menyelimuti kaki gunung. Di tengah lapangan, dua sosok berdiri berhadapan.Selir Hui. Dengan Si Choa Kim—Ular Emas Maut. Pedang yang telah menghabisi banyak pangeran. Senjata aliran hitam yang selama ini hanya ia pertontonkan ke pangeran-pangeran, ia tunjukkan ke rakyat. Untuk supremasi lebih besar.Ong Bwee. Dengan Si Hong To—Golok Empat Penjuru. Pusaka aliran putih. Tapi di tangannya, ia juga membawa sesuatu yang lain: Bo Tan To Kun.💊 RAMUAN HITAM — THIAN TEK BIOSebelum duel, di kamarnya, Selir Hui membuka kotak kecil. Di dalamnya, pil hitam legam.Selir Hui: "Thian Tek Bio... Ramuan Langit dan Bumi. Pil ini menahan efek racun dalam beberapa hari. Cukup untuk memberikan pelajaran pangeran bunga itu."Selir Hui tau. Obat herbal itu tidak boleh diminum dua dosis dalam sebulan jika ingin usia panjang.Ia menelan satu.Tubuhnya langsung bergetar
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Di Mana Ada Lubang, Di Situ Ada JalanGuru Tampan akhirnya mengerti. Mengapa Ong Bwee selalu memulai dengan pohon. Waktu awal seleksi Guru, ia menanami wilayah calon gurunya itu dengan pohon-pohon aneh. Katanya untuk menjaga Chi masyarakat agar tetap mengalir dan harmonis. Rakyat kecil tidak terlalu memikirkan. Tapi pejabat sudah menganggap Ong Bwee tidak waras. Tapi setelah bertahun-tahun, bumi Lok San ini seperti kembali harmonis chi-nya. Dulu ia ingat kalau wilayah ini tandus. Tapi sejak Ong Bwee dan tim khususnya termasuk Tetua Besar Tio mendesainnya, tanah mulai subur. Kebun ceri Guru Tampan sendiri dulu tidak subur. Tapi Tetua Besar Tio sering memberikan pelatihan bertanam di ladang sempit. Konsep aneh, asing, tapi hasilnya sangat nyata. Di cabang-cabang Ki Kut Sun sendiri juga ada orang-orang sekte yang sudah dikader oleh Tetua Besar Tio untuk pelatihan bertanam dan rekayasa lingkungan untuk membuat sungai buatan. Hal ini awalnya ditertawakan partai silat lain. Tapi hasilnya nyata. Rakyat masih bisa makan.
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: TANGAN YANG MENUNTUTLokasi: Istana, Aula Sidang — Siang hariWaktu: Setelah Ong Bwee menyelesaikan catatan orasi Selir Hui.📜 SIDANG YANG TIDAK TERDUGAAula sidang penuh. Para pejabat duduk rapi. Kasim-kasim berjajar di samping. Di kursi utama, Selir Hui sedang berlatih orasi untuk konferensi di Negeri Timur—dibantu Kiat Seng dan Keng Hong yang sibuk mencatat.Tapi hari ini, semua mata tertuju pada satu orang.Ong Bwee.Ia berdiri di tengah aula. Di tangannya, setumpuk dokumen. Bukan orasi. Bukan laporan kompetisi. Tapi sesuatu yang lebih berat.Ong Bwee: "Ayah. Aku punya sesuatu."Kaisar: (dari singgasana) "Apa itu, Nak?"Ong Bwee tidak menjawab. Ia berjalan maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai di depan Kaisar, ia berlutut—dan meletakkan tumpukan dokumen itu di lantai.Ong Bwee: "Ini."Kaisar: (mengerut) "Apa ini?"Ong Bwee: "Laporan kematian. Otopsi. Dan giok."Sunyi.Selir Hui: (dari samping) "Pangeran Ong, ini bukan waktunya—"Ong Bwee: (tanpa menoleh) "Ini satu-satunya waktu."Ia mengambil satu
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Cinta yang TergadaiOng Bwee seperti diharapkan. Begitu sampai bukannya bekerja malah jadi tukang cerita. Itu semua salah Selir Hui sendiri. Begitu datang, ia harusnya diberi dekrit untuk membuat orasi. Tapi, semua lupa. Semua ingin cerita cinta indah di Rumah Kebun Ceri. Rumah sederhana tempat Pendekar Go dan Nyonya Nio memadu kasih.Ong Bwee protes, tapi hadiah-hadiah dari pejabat dengan dukungan dari Kaisar dan Selir Hui malah menjadikan dia tukang cerita. Ia ingat waktu di Lan Hwa dan Peng Ji, dia suka membaca sastra. Sesekali jadi tukang cerita. Dan setiap ada dia, walaupun di musim dingin, pelanggan tetap datang. Mungkin karena terlalu sering buat janji diplomatis walaupun dia skeptis akan kelanjutan programnya.Kaisar walaupun secara hukum mengusir Nyonya Nio, tidak menyesal. Ia hanya menyesal: mengapa itu semua terjadi setelah tragedi Pangeran Bunga.Ong Bwee minta tidur agak awal. Ia harus bekerja buat orasi. Supaya negara bangga.Semua orang menurutinya. Seolah hari itu Kaisarnya adalah Ong Bw
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Orasi untuk Nurani yang HilangLokasi: Istana, sayap timur — Ruang kerja Selir HuiWaktu: Seminggu setelah kelahiran Go Hong San dan Go Hong Eng📋 SABAK KOSONG YANG MENYIKSAMeja panjang di ruang kerja Selir Hui dipenuhi gulungan kertas, tinta, dan kuas. Tapi yang paling mencolok: sabak- sabak besar—papan tulis batu hitam—yang masih polos total. Sudah dua bulan begini. Padahal 10 hari lagi harus berangkat ke Negeri Timur untuk undangan.Selir Hui: (mondar-mandir) "GILA! GILA! GILA!"Ong Kiat Seng: (duduk lemas) "Bu, udah 3 bulan. Sabaknya masih kosong. Padahal aku sudah bisa pipis karena obat sinseh Lam yang terbaru. Keng Hong malah istrinya hamil muda"Ong Keng Hong: (dari pojok, tiduran) "Gue udah mikir. Serius. Tapi yang keluar cuma..." (Muka mesum melihat lukisan istrinya)Dia menulis sesuatu di kertas:"Pimpin dengan hati. Karena hati itu penting. Hati itu... ya... hati."Selir Hui: (baca, lempar kertas) "INI MAKSUDNYA APA?!"Kiat Seng: "Itu... itu... kata-kata bagus, Bu."Selir Hui: "BAGUS APANYA?! INI KOSON
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: LAMARAN GILABeberapa minggu kemudian, situasi di Vazal Tenggara mulai stabil.Raja Vazal yang berkhianat sudah dieksekusi. Kepalanya dipajang di alun-alun—tontonan buat rakyat yang selama ini tertindas. Penggantinya? Bukan orang asing. Bukan bangsawan dari ibu kota. Tapi kakak pertama Choa Hok—Tan Kwee Tio.Kaisar memilihnya karena: satu, dia kompeten (lulusan akademi militer, berpengalaman di medan perang). Dua, dia saudara Choa Hok—dan Kaisar percaya keluarga Tan punya kesetiaan yang sudah terbukti.Tan Kwee Tio harus berangkat ke Vazal Tenggara. Tapi sesuai adat, dia harus tinggal bersama semua adiknya di altar leluhur utama di Rumah Choa Hok sebulan dulu. Pamit ke leluhur. Meninggalkan rumah, meninggalkan adik-adiknya, meninggalkan Altar leluhur utama. Choa Hok dapat dispensasi karena kondisi rentan secara psikis dan fisik. Jadi Tan Kwee Tio, Tan Kwee Beng, dan Tan Kwee Kiong menginap di rumah Choa Hok bersama anak dan istri mereka.---Choa Hok sendiri masih terbaring di Rumah Sakit Istana.
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: KRISAN YANG BELUM BERBUNGATiga hari setelah diagnosis Sinseh Yap Ciang, halaman belakang rumah Choa Hok berubah.Pembantu-pembantunya—dua pria setengah baya yang setia meski gaji kecil—berdiri di teras, melongo. Mata mereka mengikuti setiap gerakan Choa Hok yang sedang jongkok di tanah, tangan berlumpur, mencangkul pelan.Bukan latihan perang. Bukan panahan. Bukan berkuda.Menanam.Bunga Krisan. Bibit-bibit kecil berjejer rapi di tanah gembur. Di sampingnya, ada pohon jeruk, pohon plum, pohon kacang hijau—semua ditanam di halaman belakang yang biasanya kosong, rata, dipake buat latihan panah atau berkuda.“Tuan...” bisik pembantu tertua, “Tuan mau... pensiun?”Choa Hok gak ngejawab. Tangannya masih sibuk merapikan tanah di sekitar bibit.“Tuan, ini kan biasanya lapangan latihan. Kalo ditanami...”“Ya latihan di alun-alun. Kan udah ada tempat khusus. Di rumah mah santai,” potong Choa Hok datar. Tangannya lembut memperlakukan tanaman-tanaman mungil itu. Tetangga curi-curi lihat dari luar. Mereka mengakui kalo ha
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: TOPENG JELEK DAN BIBIT YANG RUSAKHari Pernikahan Pangeran dengan Yo Lan. Choa Hok sebenarnya ogah datang karena dua alasan: patah hati dan feeling. Laporan Markas seminggu ini nyampe. Dia bagian intelijen jadi setiap hari berita urgent pasti ada. Dikirim merpati atau lewat pelayan. Berita beberapa hari ini ada gerakan di Vazal tenggara. Mencurigakan. Bau-baunya berontak pas pesta istana. Pesta istana terdekat? Ya kawinan sahabat dia, Pangeran.Dia masih kerja bungkus hantaran Tiongkun Seng. Sampai selesai.Tapi undangan dari istana tetap mengintip dari atas meja. Kertas tebal. Cap naga. Tulisan bagus. “Duh, ogah dateng… libur”, omelnya pada undangan di meja. Ah Peng, ajudan butuh duit yang ikut kerja karena liburnya barengan dan ditawarin cuma bisa geleng liat Tiongkun dia. Di Markas, si Tiongkun itu pasti mode ‘siap, laksanakan’.Lah di sini? Mode manja-manja ogah tapi butuh, persis seniman. Ah Peng sampai curiga, jangan-jangan Tiongkun punya dua arwah kayak cerita mistis yang bukunya lagi booming itu.Hari itu, dia
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: ANAK ANGKAT KAISAR YANG TERSAKITIHari itu, di barak, Choa Hok duduk di depan tumpukan laporan. Bukan satu. Bukan dua. Tapi puluhan. Kertas-kertas berserakan di meja kayu besarnya—beberapa sudah dilipat rapi, beberapa masih terbuka, beberapa sudah dicap, beberapa masih menunggu verifikasi. Laporan intelijen. Laporan perbatasan. Laporan tambang garam haram yang kemarin dia selidiki bareng Prajurit Hok. Choa Hok bekerja. Setengah hari. Tanpa henti. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Jarinya menunjuk, menulis, mencoret, menandai. Ini valid. Ini gak valid. Ini perlu ditindaklanjuti. Ini arsip. Tangannya terlatih. Tapi pikirannya—pikirannya kadang melayang. Kemarin wisma. Dupa mahal. Chio Hiang. Cantik, semok montok. Dia geleng. Gak usah dipikirin. Kerja dulu. Laporan demi laporan selesai. Tumpukan di kiri pindah ke kanan. Cap lilin meleleh di atas api kecil, menetes, mengeras. Setengah hari. Dari pagi sampai siang. --- Siang. Matahari tepat di atas kepala. Panas. Udara pengap. Choa Hok baru aja ngelap
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: PROYEK DARI TAUKE LAWPagi itu, Choa Hok terbangun dengan pose sembrono.Kakinya nyungsep di atas bantal—bukan nyender, bukan nyampir, tapi beneran naik ke atas bantal kayak lagi memanjat sesuatu dalam mimpi. Selimut melingkar di kepalanya, nutupin muka, nutupin mata, cuma nyisain lubang kecil buat bernapas.Dia buka mata. Samar. Langit-langit rumahnya sendiri. Kayu biasa. Retak di ujung. Tapi rumah sendiri.Choa Hok duduk. Selimut jatuh ke pangkuan. Rambut acak-acakan kayak orang habis gulat sama angin.Ini pose apa, Hok? pikirnya sambil ngeliat kaki kirinya yang masih nyangkut di bantal. Masa tidur kayak orang kesurupan.Dia cabut kaki dari bantal. Rapikan selimut. Lipat. Taruh di pojok dipan.Lalu dia berdiri, jalan ke jendela, buka. Matahari pagi masih merah di ufuk timur, udara masih dingin, ayam-ayam tetangga mulai ribut.Hari ini kerja. Proyek dari Tauke Law.Choa Hok manggil pelayan. “Bantu siapin mandi.”Pelayan tua itu mengangguk, bergegas ke belakang, menghidupkan api, menghangatkan air.Di kama
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: PENYERAP ENERGI NEGATIFAkhirnya Choa Hok harus terima kenyataan. Dia bangun dalam keadaan basah. Bukan kiasan. Basah beneran. Kesadarannya baru balik setelah dia merasakan air dingin meresap ke seluruh pori-pori—bukan cuma di permukaan kulit, tapi sampai ke tulang. Dinginnya bukan main. Airnya bukan air biasa. Ada yang aneh. Wangi bunga. Wangi yang familiar. Bunga teratai. Tiga ember. Disiram bertubi-tubi. Dari atas kepala, dari kiri, dari kanan. Guyuran yang gak kenal ampun. Rasa airnya aneh—sedikit lengket, sedikit berminyak, kayak ada yang larut di dalamnya. Air rendaman bunga teratai yang dikasih mantra yang dibakar. Pelayan rumah Kwee—tiga orang perempuan dengan pakaian serba putih—berdiri di sekelilingnya, masih memegang ember kosong. Wajah mereka datar. Profesional. Kayak mereka sudah biasa melakukan ini. Choa Hok mengerjap. Rambutnya basah kuyup, menutupi setengah wajahnya. Air menetes dari ujung rambut ke ujung hidung, ke dagu, jatuh ke lantai marmer yang dingin. Gue baru bangun tidur,
Last Updated: 2026-06-20