Chapter: GIOK, TEH, DAN STIGMA YANG LUMER“Ayok ke gudang, cari giok yang pantes buat tanda jadi!” kata Choa Hok.Ki Lan mengerjap. “Giok, Ah Cek?”“Buat lamaran. Lu kan mau lamar Kim Lan. Gak mungkin cuma modal senyum.”Ki Lan tersenyum. Lalu mengeluarkan kantong kain dari saku bajunya.Bukan kantong sembarangan. Kain sutra, warna merah tua, diikat pita kecil. Choa Hok menerima. Membuka. Matanya membelalak.Giok. Bentuk lingkaran warna hijau kebiruan, permukaan mengkilap dengan ukiran anggrek—tanda kualitas bagus, agak mahal. Pinggiran emasnya bersih.Choa Hok bersiul kecil. “Pesanan khusus?”“Iya, Ah Cek,” jawab Ki Lan, agak malu. “Gue sengaja bikin sebulan lalu. Karena gue udah niat. Kayak niat Ah Cek dulu gak main-main sama Ah Cim. Niat.”Choa Hok diam. Lalu mengangguk. Bangga. Tanpa banyak kata.Eng Hwa yang dari tadi menganalisis wajah Kim Lan, mendekat. Matanya menyipit.“Eh, boleh tau tanggal lahir kalian?”Ki Lan dan Kim Lan kompak memberikan tanggal. Eng Hwa mengeluarkan kertas kecil dari balik lengan bajunya—primbo
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: LAPORAN DARI BAYANGANPrajurit Hok berdiri di tempat rahasia di depot Bak Mie Long. Belakang wisma. Bau dupa masih tercium samar dari balik dinding bambu. Di depannya, Pangeran Ong Kiat Seng—pakaian hitam, topeng setengah muka, lencana disembunyikan. Mata pangeran tajam. Rahangnya merapat.“Laporan lu lengkap! Ciamik memang anak buah Choa Hok.” suara pangeran datar, tapi ada getar di ujung.Prajurit Hok mengangguk. Cuma bisa diem. Matanya keriyep-keriyep gara-gara semaleman di wisma akibat gagal tobat.Pangeran menghela napas. Hidungnya mengkerut. Lalu mengendus.Matanya membelalak.“Lu bau parfum wanita.”Prajurit Hok diam. Mulutnya terkunci.“Sebelum laporan, lu ke wisma dulu?”Prajurit Hok mengangguk. Takut. Malu. Tapi jujur.“Kaga tahan, Yang Mulia,” bisiknya. “Pulang perang... maunya tobat... tapi...”Pangeran menghela napas. Pusing. Tidak mau lanjut. Urusan moral prajurit bukan domainnya.“Udah. Laporan.”Prajurit Hok menarik napas. Mengeluarkan catatan dari saku bajunya.“Choa Hok tidak berkhianat
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: KEHIDUPAN YANG TUMBUHHari kedelapan setelah pernikahan. Choa Hok sudah boleh bekerja di luar. Secara adat, pengantin baru memang dilarang keluar rumah selama seminggu penuh. Tapi hari ini—hari kedelapan—bebas. Pintu rumah tidak lagi terkunci simbolis. Tamu tidak lagi datang bergelombang. Rumah kembali sepi. Normal.Tapi Choa Hok gak mood duduk di teras, makan kacang rebus. Dia menulis sesuatu. Lembar demi lembar. Menggambar lembar demi lembar. Buku tentang teknik-teknik intelijen. Hobi sampingan.Dia duduk di kursi bambu, di teras rumah warisan Tan yang sudah ia perlebar itu. Secangkir teh jahe di sampingnya. Dingin. Gak disentuh. Matanya kosong menatap halaman belakang—yang dulu lapangan latihan panah, sekarang sudah berubah. Pohon jeruk. Pohon plum. Pohon mangga. Dan yang paling banyak: bunga Krisan. Bibit-bibit kecil yang dia tanam beberapa minggu lalu, sekarang sudah mulai tumbuh. Daun-daun kecil berwarna hijau segar menjulur dari tanah, seolah-olah mengabarkan bahwa mereka akan mekar.“Tuan,” kata pe
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: MALAM TANPA DUPAMalam itu, Eng Hwa dibawa ke rumah orang tuanya. Bukan karena dia diusir. Bukan karena ada konflik. Tapi karena adat. Rumah Kwee akan menjadi tempat Sampai—tiga sembah kepada langit, leluhur, dan saling menghormati. Esok pagi, prosesi akan dimulai. Dan Eng Hwa harus berangkat dari rumah orang tuanya, bukan dari rumah mertua.Ah Pa Kwee duduk di ruang tamu, pakoa di tangan, alis berkerut. Di depannya, kertas merah berisi tanggal lahir Choa Hok dan Eng Hwa. Jari-jarinya bergerak menghitung wuku, pasaran, dan perputaran bintang.Mata Ah Pa Kwee membelalak."Cocok," bisiknya. "Cocok banget."Ah Me Kwee yang sedang merapikan seserahan mendekat. "Cocok, Pa?""Cocok. Tanggal yang ditulis Choa Hok—yang katanya asal-asalan, strategi pragmatis, pokoknya cepet—itu sama persis kayak tanggal paling bagus tahun ini yang gua dapet dengan hasil hitungan Hong Chui." Ah Pa Kwee menghela napas. "Dulu, waktu Eng Hwa nikah sama Liem Chay, Choa Hok nginep di sini. Dia ngorok. Gak sengaja netralin energi ne
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: DAUN KRISAN DAN DEKRIT DARI ISTANAEng Hwa duduk di teras rumah orang tuanya. Sepiring pia babi di sampingnya—kue kering isi daging babi cincang, wangi, gurih, masih hangat karena baru saja dipanggang. Tapi dia tidak makan. Matanya kosong menatap halaman depan yang sunyi. Pohon mangga yang dulu sering dipanjat Liem Chay masih berdiri di sudut. Daunnya mulai menguning—musim berganti, tapi rasanya waktu berhenti di hari kematian suaminya.Pia babi itu akhirnya dia ambil. Gigit. Kecil. Tidak nafsu. Tapi dia makan karena harus. Karena tubuhnya butuh. Karena dia tidak bisa mati hanya karena patah hati. Liem Chay sudah menasehati agar dia hidup sehat. Tidak putus asa. Dia sudah berjuang agar istri dapat pesangon sejak muda.Belakangan ini, sejak Choa Hok menginap di rumah orang tuanya—dia selalu mimpi.Mimpi yang sama. Taman. Pohon Liong Liu besar. Bangku kayu di bawahnya. Dan Liem Chay—duduk di sampingnya, tersenyum, tangannya memegang daun hijau segar.“Kalo lu gua titipin ke Choa Hok, apa mau?”Eng Hwa menolak. Awalnya. H
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: LAMARAN GILABeberapa minggu kemudian, situasi di Vazal Tenggara mulai stabil.Raja Vazal yang berkhianat sudah dieksekusi. Kepalanya dipajang di alun-alun—tontonan buat rakyat yang selama ini tertindas. Penggantinya? Bukan orang asing. Bukan bangsawan dari ibu kota. Tapi kakak pertama Choa Hok—Tan Kwee Tio.Kaisar memilihnya karena: satu, dia kompeten (lulusan akademi militer, berpengalaman di medan perang). Dua, dia saudara Choa Hok—dan Kaisar percaya keluarga Tan punya kesetiaan yang sudah terbukti.Tan Kwee Tio harus berangkat ke Vazal Tenggara. Tapi sesuai adat, dia harus tinggal bersama semua adiknya di altar leluhur utama di Rumah Choa Hok sebulan dulu. Pamit ke leluhur. Meninggalkan rumah, meninggalkan adik-adiknya, meninggalkan Altar leluhur utama. Choa Hok dapat dispensasi karena kondisi rentan secara psikis dan fisik. Jadi Tan Kwee Tio, Tan Kwee Beng, dan Tan Kwee Kiong menginap di rumah Choa Hok bersama anak dan istri mereka.---Choa Hok sendiri masih terbaring di Rumah Sakit Istana.
Last Updated: 2026-07-18
Sì Hong To (Golok Empat Penjuru)
Dalam dunia Kang Ouw (dunia para pendekar silat Tiongkok), ada dua pusaka yang menjadi idaman semua pendekar Kang Ouw: Golok Empat Penjuru dan Ular Emas Maut. Setiap sepuluh tahun sekali, mereka yang terkuat akan bertarung memperebutkannya-bukan sekadar senjata, tapi juga tahta sebagai Ketua Aliansi Pendekar, yang disegani di Tiga Dunia dan Sembilan Benua.
Delapan belas tahun lalu, dua pendekar terhebat menang. Pendekar Go Hong Liu. Pendekar wanita misterius, Pendekar Ular Giok. Malam itu, mereka hilang bersama pusakanya.
Sekarang, seorang pangeran terbuang mendaki Gunung Lok San. Di depan gua, ia muntah darah mengenang wanita yang dicintainya-yang dipaksa menikah dengan Raja Utara oleh intrik Selir Hui.
Guru di dalam gua itu memegang liontin giok-pemberiannya pada tunangan yang hilang tiga puluh tahun lalu.
Golok akan bangkit. Pedang akan hancur. Dan dendam akan lunas.
Inspirasi: Lagu Si Bu Liao, by Ricchie Ren.
Read
Chapter: Mengunjungi Kawan KecilLokasi: Istana, halaman belakang kamar Ong BweeWaktu: Beberapa tahun setelah kematian Selir Hui, Keng Hong, dan Kiat Seng🏛️ KEMBALI KE ISTANAMatahari sore menyinari istana. Udara terasa berbeda—lebih ringan, seperti beban yang selama ini menggantung akhirnya terangkat.Ong Bwee berjalan pelan. Di sampingnya, Bunga Emas menggandeng Ong Bun Eng kini telah remaja dan Ong Bun Kun mulai tumbuh besar. Di belakang, Guru Tampan dan Nyonya Nio menggandeng Go Hong San dan Go Hong Eng.Mereka berhenti di depan sebuah gundukan kecil.Tanahnya sederhana. Tidak ada batu nisan megah. Hanya setangkai bunga layu yang diletakkan seseorang—mungkin dayang yang masih ingat.Ong Bwee: (berlutut) "Hunpo... Papa pulang."🐕 CERITA UNTUK HUNPOAngin berdesir pelan. Daun-daun kering berjatuhan.Ong Bwee: "Kau ingat? Dulu kau selalu tidur di sampingku. Waktu aku diasingkan, kau ikut. Waktu aku di gunung, kau yang pertama masuk gua. Waktu aku pingsan, kau jilat wajahku."Ia tersenyum.Ong Bwee: "Maaf baru p
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: BO TAN TO KUNLokasi: Arena duel, kaki Gunung Lok SanWaktu: Pagi, setelah tantangan Selir Hui🏔️ ARENA PERTARUNGANMatahari baru naik. Kabut tipis masih menyelimuti kaki gunung. Di tengah lapangan, dua sosok berdiri berhadapan.Selir Hui. Dengan Si Choa Kim—Ular Emas Maut. Pedang yang telah menghabisi banyak pangeran. Senjata aliran hitam yang selama ini hanya ia pertontonkan ke pangeran-pangeran, ia tunjukkan ke rakyat. Untuk supremasi lebih besar.Ong Bwee. Dengan Si Hong To—Golok Empat Penjuru. Pusaka aliran putih. Tapi di tangannya, ia juga membawa sesuatu yang lain: Bo Tan To Kun.💊 RAMUAN HITAM — THIAN TEK BIOSebelum duel, di kamarnya, Selir Hui membuka kotak kecil. Di dalamnya, pil hitam legam.Selir Hui: "Thian Tek Bio... Ramuan Langit dan Bumi. Pil ini menahan efek racun dalam beberapa hari. Cukup untuk memberikan pelajaran pangeran bunga itu."Selir Hui tau. Obat herbal itu tidak boleh diminum dua dosis dalam sebulan jika ingin usia panjang.Ia menelan satu.Tubuhnya langsung bergetar
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Di Mana Ada Lubang, Di Situ Ada JalanGuru Tampan akhirnya mengerti. Mengapa Ong Bwee selalu memulai dengan pohon. Waktu awal seleksi Guru, ia menanami wilayah calon gurunya itu dengan pohon-pohon aneh. Katanya untuk menjaga Chi masyarakat agar tetap mengalir dan harmonis. Rakyat kecil tidak terlalu memikirkan. Tapi pejabat sudah menganggap Ong Bwee tidak waras. Tapi setelah bertahun-tahun, bumi Lok San ini seperti kembali harmonis chi-nya. Dulu ia ingat kalau wilayah ini tandus. Tapi sejak Ong Bwee dan tim khususnya termasuk Tetua Besar Tio mendesainnya, tanah mulai subur. Kebun ceri Guru Tampan sendiri dulu tidak subur. Tapi Tetua Besar Tio sering memberikan pelatihan bertanam di ladang sempit. Konsep aneh, asing, tapi hasilnya sangat nyata. Di cabang-cabang Ki Kut Sun sendiri juga ada orang-orang sekte yang sudah dikader oleh Tetua Besar Tio untuk pelatihan bertanam dan rekayasa lingkungan untuk membuat sungai buatan. Hal ini awalnya ditertawakan partai silat lain. Tapi hasilnya nyata. Rakyat masih bisa makan.
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: TANGAN YANG MENUNTUTLokasi: Istana, Aula Sidang — Siang hariWaktu: Setelah Ong Bwee menyelesaikan catatan orasi Selir Hui.📜 SIDANG YANG TIDAK TERDUGAAula sidang penuh. Para pejabat duduk rapi. Kasim-kasim berjajar di samping. Di kursi utama, Selir Hui sedang berlatih orasi untuk konferensi di Negeri Timur—dibantu Kiat Seng dan Keng Hong yang sibuk mencatat.Tapi hari ini, semua mata tertuju pada satu orang.Ong Bwee.Ia berdiri di tengah aula. Di tangannya, setumpuk dokumen. Bukan orasi. Bukan laporan kompetisi. Tapi sesuatu yang lebih berat.Ong Bwee: "Ayah. Aku punya sesuatu."Kaisar: (dari singgasana) "Apa itu, Nak?"Ong Bwee tidak menjawab. Ia berjalan maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai di depan Kaisar, ia berlutut—dan meletakkan tumpukan dokumen itu di lantai.Ong Bwee: "Ini."Kaisar: (mengerut) "Apa ini?"Ong Bwee: "Laporan kematian. Otopsi. Dan giok."Sunyi.Selir Hui: (dari samping) "Pangeran Ong, ini bukan waktunya—"Ong Bwee: (tanpa menoleh) "Ini satu-satunya waktu."Ia mengambil satu
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Cinta yang TergadaiOng Bwee seperti diharapkan. Begitu sampai bukannya bekerja malah jadi tukang cerita. Itu semua salah Selir Hui sendiri. Begitu datang, ia harusnya diberi dekrit untuk membuat orasi. Tapi, semua lupa. Semua ingin cerita cinta indah di Rumah Kebun Ceri. Rumah sederhana tempat Pendekar Go dan Nyonya Nio memadu kasih.Ong Bwee protes, tapi hadiah-hadiah dari pejabat dengan dukungan dari Kaisar dan Selir Hui malah menjadikan dia tukang cerita. Ia ingat waktu di Lan Hwa dan Peng Ji, dia suka membaca sastra. Sesekali jadi tukang cerita. Dan setiap ada dia, walaupun di musim dingin, pelanggan tetap datang. Mungkin karena terlalu sering buat janji diplomatis walaupun dia skeptis akan kelanjutan programnya.Kaisar walaupun secara hukum mengusir Nyonya Nio, tidak menyesal. Ia hanya menyesal: mengapa itu semua terjadi setelah tragedi Pangeran Bunga.Ong Bwee minta tidur agak awal. Ia harus bekerja buat orasi. Supaya negara bangga.Semua orang menurutinya. Seolah hari itu Kaisarnya adalah Ong Bw
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Orasi untuk Nurani yang HilangLokasi: Istana, sayap timur — Ruang kerja Selir HuiWaktu: Seminggu setelah kelahiran Go Hong San dan Go Hong Eng📋 SABAK KOSONG YANG MENYIKSAMeja panjang di ruang kerja Selir Hui dipenuhi gulungan kertas, tinta, dan kuas. Tapi yang paling mencolok: sabak- sabak besar—papan tulis batu hitam—yang masih polos total. Sudah dua bulan begini. Padahal 10 hari lagi harus berangkat ke Negeri Timur untuk undangan.Selir Hui: (mondar-mandir) "GILA! GILA! GILA!"Ong Kiat Seng: (duduk lemas) "Bu, udah 3 bulan. Sabaknya masih kosong. Padahal aku sudah bisa pipis karena obat sinseh Lam yang terbaru. Keng Hong malah istrinya hamil muda"Ong Keng Hong: (dari pojok, tiduran) "Gue udah mikir. Serius. Tapi yang keluar cuma..." (Muka mesum melihat lukisan istrinya)Dia menulis sesuatu di kertas:"Pimpin dengan hati. Karena hati itu penting. Hati itu... ya... hati."Selir Hui: (baca, lempar kertas) "INI MAKSUDNYA APA?!"Kiat Seng: "Itu... itu... kata-kata bagus, Bu."Selir Hui: "BAGUS APANYA?! INI KOSON
Last Updated: 2026-03-21