Share

CHAPTER 2 : Jona?

Author: 16secret
last update Last Updated: 2023-06-16 18:57:08

20 menit berlalu, Joan baru saja keluar dari kamar mandi masih memakai jubah mandi dan handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

Lelaki itu lalu menatap Kiana yang sedang melakukan hal konyol untuk membuat bayi itu berhenti menangis.

"Apa yang ia lakukan? Melakukan hal konyol adalah ide yang ada dalam pikirannya?" Batin Joan, ia terkekeh pelan melihat tingkah Kiana.

Sebenarnya ia sudah lama menyimpan perasaan suka pada gadis itu, hanya saja ia takut mengungkapkannya karena tak mau persahabatan yang sudah lama mereka bina hancur begitu saja. jika Kiana sampai tau Joan menyayanginya lebih dari seorang sahabat, mungkin gadis itu akan menjauh perlahan-lahan.

"Wah, kau sudah sangat cocok menjadi seorang ibu,"goda Joan membuat Kiana menatap lelaki tampan itu dengan tatapan sinis.

"Semua perempuan memang akan menjadi seorang ibu, Joan,"jelas Kiana dengan nada ketus.

"Kau akan merawatnya? Apa kau sanggup merawat bayi ini sendirian? Lihat saja rumah ini, banyak botol alkohol. Berantakan," kata-kata Kiana terdengar sangat nyelekit di telinga Joan, lelaki itu hanya bisa menatap Kiana dengan ekspresi kesal sekaligus malu.

"Kau menghinaku? Lagi pula aku tidak punya waktu untuk membersihkan semuanya, Kiana …," Joan berusaha membela dirinya di lautan fakta. Tidak punya banyak waktu untuk membersihkan? Lalu bagaimana ia merawat bayi kecil itu, menyuruhnya Menganti popok sendiri?

"Kau akan membiarkan bayi ini hidup dalam hunian mu yang jorok?" Kiana masih dengan kata-kata nyelekitnya, gadis itu sepertinya punya dendam kesumat pada Joan.

"Sejujurnya aku bingung, bagaimana kalau bunda dan ayah tau aku merawat seorang bayi yang tak ku ketahui orang tuanya. Bisa habis diriku di omeli bunda, dan siap-siap saja ayah menendangku dari rumah," ujar Joan menghela nafas panjang lalu menjatuhkan dirinya ke sofa.

Lama mereka diam untuk berpikir, sebelum Kiana akhirnya melontarkan ide yang terdengar cukup cemerlang.

"Katakan saja pada mereka, kau mengasuh bayi ini dari panti asuhan. Kurasa itu sudah cukup untuk meyakinkan mereka," enteng sekali Kiana mengucapkan kalimat seperti itu pada Joan, padahal ia sendiri tau sifat keras yang di miliki ayah sahabatnya itu.

"Kiana … apa kau tidak tahu bagaimana sifay ayahku? Dia akan menanyakan dokumen hak asuh dan minta untuk diperlihatkan panti asuhan tempat bayi itu ku asuh, tidak semudah yang ada dalam bayanganmu," perbedaan pendapat membuat mereka kebingungan mencari jalan keluar dari masalah itu. Apa solusi dari Kiana akan berjalan lancar?

"Bagaimana kalau kita Katakan saja sudah menikah secara siri?" Ide gila mulai muncul dalam pikiran Joan, saat ini hanya itu salah satu solusi yang menurutnya aman.

"Tidak, aku tidak mau!" Dengan lantang Kiana menolak ide gila sahabatnya itu, ini tidak hanya menyangkut tentang ayah Joan. tetapi kedua orang tua Kiana juga, Belum lagi orang-orang yang mungkin mengecap mereka berhubungan di luar nikah, pikiran buruk mulai terlintas di benak Kiana. Gadis itu memijat-mijat pelipisnya sembari terus menatap bayi kecil yang ada di hadapannya.

"Lalu harus bagaimana? Apa kau ingin menitipkan bayi ini ke panti asuhan?" Joan semakin membuat Kiana bingung, lelaki tampan itu terus saja mengoceh di depannya.

"Nama!" celetuk Kiana membuat Joan kebingungan, apa maksudnya menyebut kata itu? Nama apa?

"Ayo kita rawat dia, Joan! Yeah … sekarang aku memilih merawatnya!" Pekik Kiana menatap Joan dengan mata berbinar membuat lelaki tampan itu tambah keheranan.

"Kau akan menerima segala resiko yang ada?" Joan balik menatap Kiana dengan serius, Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa Senti saja.

Mendengar itu Kiana pun mengangguk dengan wajah sumringah, entah apa yang membuatnya bersemangat seperti itu. Apa karena ocehan Joan yang membuka pikirannya?

"Sekarang ayo beri dia nama," pinta Kiana pada Joan, ia lalu beralih menatap bayi itu dengan senyum bahagia.

"Hm … aku bingung, nama apa yang cocok untuknya? Bagaimana kalau Dena?" Joan memutar otaknya, memikirkan nama apa yang cocok untuk seorang bayi perempuan.

"Sudah banyak yang memakai nama itu, di kampus saja ada lebih 50 orang yang menyelipkan kata Dena pada namanya," tepis Kiana dengan nada ketus masih berusaha memikirkan sebuah nama yang bagus.

"Agustin?" Joan kembali menyarankan nama lain, namun lagi-lagi di tolak oleh Kiana. Membuat Joan kebingungan nama seperti apa yang gadis itu akan berikan pada bayi yang ada di depannya.

"Jangan, nanti pas sekolah namanya malah jadi bahan ejekan, pasti bakalan sering di panggil Agus atau enggak Tin, kayak bunyi klakson mobil yang ada di novel-novel," Kiana dengan nada ketus nya. membuat Joan pasrah menyerahkan keputusan sepenuhnya pada sahabatnya itu.

"Lalu nama apa yang menurutmu bagus? Terserahlah, aku lelah," Joan kembali menyandarkan kepalanya ke sofa lalu memegang tangan mungil bayi itu.

"Bagaimana kalau … Jona!?" Celetuk Kiana membuat Joan tersentak.

"Jona?" Joan masih bingung, berusaha mencerna apa nama Jona bagus untuk bayi imut itu.

"Iya! Itu singkatan dari nama kita, Jo-an dan Kia-na," Kiana lalu mendekati Joan menatap lelaki itu dengan mata berbinar, kedua tangannya mengunci tubuh kekar Joan.

"Kiana? Kau sehat?" Joan terkejut dengan sikap Kiana kepadanya, gaya mereka saat itu membuat pikiran Joan kemana-mana.

"Maaf, aku hanya sangat bahagia," Kiana menjauhkan tubuhnya dari Joan dengan rasa malu, walau mereka sudah bersahabat cukup lama. Jarang sekali Kiana berinteraksi lebih dulu pada Joan sedekat itu.

"Tumben sekali otakmu encer," Joan berusaha menghilangkan pikiran kotornya karena sikap Kiana tadi, hampir saja ia bersikap terlalu jauh.

"Halo Jona, nama kamu Jona … dia senyum Joan!" Pekik Kiana saat melihat ekspresi bayi Jona berubah, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Jona, anaknya ayah Joan dan bunda Kiana," Joan pun ikut mengajak bayi Jona berbicara.

"Apa sih, jangan ngelunjak!Masih untung aku mau bantu jaga bayi Jona," celetuk Kiana dengan nada ketus dan tatapan sinis.

"Iya, iya. Thanks honey," suara berat Joan membuat Kiana salah tingkah.

"Sudah, sana pakai bajumu. aku ini masih normal," pekik Kiana hanya sesekali menatap Joan, ia takut lelaki itu tiba-tiba berbuat gila.

"Benarkah? Kau tak ingin melihatnya?" Joan tambah membuat Kiana gelisah, tatapan dan senyum miring pria itu terlihat menyeramkan Dimata Kiana.

"Apa!?" Kiana berteriak dengan lantang karena terkejut sekali lagi mendengar ucapan mesum Joan.

"Tatto baruku, sayang …," Joan dengan wajah gembira berjalan menuju kamarnya namun suara tawa kecil Joan bahkan terdengar oleh Kiana saking sunyinya rumah besar itu.

"Joan! Jangan pikir aku tak mendengarnya!" Teriak Kiana.

"Ampun sayang … ampun," Joan memohon dengan nada bercanda.

"Sekali lagi kau menyebut kalimat seperti itu, ku tinggalkan kau sendiri bersama Jona," ancaman Kiana membuat Joan bungkam, lelaki itu segera keluar dari kamarnya lalu berjongkok memohon pada Kiana.

"Jangan! Jangan ya, Kiana Agung Triwahyuni," Joan berusaha membujuk Kiana dengan wajah memelasnya.

"Eh, maaf ya Jona. Soalnya kak Joan berisik," Kiana terkejut karena tiba-tiba bayi Jona terbangun dari tidurnya dan menangis.

"Ayah Joan, bunda …," Joan masih sempat-sempatnya bercanda di situsi genting itu.

"Iya ayah Joan! Sudah puas?," Pekik Kiana, menatap Joan dengan wajah kesal.

"Sangat puas,"Joan lalu tersenyum miring menatap Kiana intens. Kekaguman lelaki tampan itu tak teralihkan oleh apapun. Sikap cekatan Kiana membuat Joan terpesona.

"Pantas saja, lihatlah. popoknya penuh," ujar Kiana saat memeriksa popok bayi Jona yang sudah penuh, bahkan rembes mengenai sofa.

"Lalu bagaimana?" Tanya Joan dengan nada santai. Lelaki tampan itu sama sekali tak tahu jika seorang bayi memiliki keperluan yang sangat banyak.

"Beli popok untuk bayi Jona," tegas Kiana membuat Joan malah tambah heran, mana bisa ia membeli sebuah popok.

Memegangnya saja ia tak pernah.

"Kau ingin aku keluar untuk membeli popok? aku tidak tahu benda apa itu Kiana … kenapa bukan kau saja yang keluar membelinya?" Joan dengan nada ketus, menatap Kiana yang berusaha menenangkan Jona.

"Jika aku meninggalkanmu berdua dengan Jona, kau hanya akan membuatnya menangis," kalimat ketus kembali terlontar dari mulut Kiana, gadis itu menggeleng kepalanya membayangkan jika Joan yang akan menjaga Jona walau hanya sebentar.

"Baiklah, cepat tulis apa yang perlu ku beli untuknya,"pinta Joan, mendengar itu Kiana pun langsung menyerahkan jona pada Joan untuk sementara. Setelah itu mengambil secarik kertas dan pulpen di meja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 107

    "Kami hanya orang desa yang terjebak oleh kemiskinan, anak saya terpaksa membuang putri kecilnya karena tak mampu menerima omongan para tetangga saat pulang ke kampung halaman tanpa membawa suami," nenek tua itu membuat suasana hening.Suaranya terdengar gemetar, bagai penuh tekanan batin. Pandangannya benar-benar meminta untuk di kasihani dan diberi kesempatan."Anak gadis saya di tipu dan di ambil begitu saja keperawanannya tanpa pertanggung jawaban, dan saya yang miskin ini tak mampu membantu anak saya keluar dari masalah yang telah ia tuai sendiri," sambungnya, kini tampak matanya berkaca-kaca saat menatap Hendra.Tatapan mata lelaki itu tampak sendu, wajahnya yang galak tampak mengharu mendengar curhatan isi hati nenek tua itu."Kami orang-orang miskin hanya bisa tertunduk bisu di depan orang-orang kaya yang berkuasa seperti kalian, saya malu menampakkan diri ke depan anda dengan gelar sebagai ibu dari seorang gadis bernama Melati yang dengan kejamnya membuang putri kecilnya send

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 106

    "Ayah ingin orang bodoh yang memimpin perusahaan besar itu?" Ucap Joan dengan nada ketus, melayangkan tatapan dingin kearah Hendra.ucapan Hendra malah terasa menghardik dirinya, lelaki tampan itu tak ingin memimpin sebuah perusahaan dengan otak kosong, ia tak ingin malah tangan kanannya nanti yang lebih tahu tentang perusahaan."Kau sudah layak Joan, tidak kau lihat puluhan pialamu yang terpajang di ruang prestasi? Itu sudah cukup membuat ayah bangga kau dalam dunia pendidikan," tegas Hendra dengan penekanan."sekarang ayah ingin kau mengukir kemampuanku dalam dunia bisnis, hanya kamu yang bisa memimpin. ayah tidak bisa mempercayai orang lain selain putra ayah sendiri," sambungnya dengan salah satu tangan mengelus lembut punggung Joan."Ayah tidak bisa hanya mengambil satu pandangan saja, setiap orang berhak memilih," Joan menimpal dengan nada ketus sama menekannya seperti Hendra."Lagi pula itu hanyalah piala dalam bidang olahraga.""Namun setiap orang tua tak ada yang mau anaknya m

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 105

    "Anak ini gila!? Banyak sekali pembalut yang ia beli, obat pereda? Untukku?" Kiana memandangi beberapa kotak obat pereda nyeri untuk wanita menstruasi, gadis itu cukup terkejut Joan membeli itu untuknya."Kenapa dia begitu peka akhir-akhir ini? Apa ada yang salah?"Kiana bergumam sendiri, mematung masih menatap kotak obat itu merasa tersipu malu sekaligus keheranan.Memang akhir-akhir ini Joan terlihat seperti suami siap siaga, apa ia sedang berlatih sebelum mendapatkan gelar itu?"Kiana … hey … apa semua yang ku beli benar? Buka pintunya," suara Joan dari luar terdengar seperti sedang berbisik, lelaki tampan itu menempelkan mulutnya di celah pintu agar Kiana dapat mendengarnya.malu rasanya jika Hendra dan Vera melihat kebucinannya pada Kiana, rasanya pasti akan terasa canggung."Ya, ada apa?" Kiana segera mendekat ke arah pintu, ia tak langsung membukakan pintu untuk lelaki tampan itu karena takut kewarasannya kembali hilang.tahu sendiri Joan kalau sudah tak bersama Jona atau Kiana

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 104

    "Pak, ini semua barang permintaan anda," pegawai lelaki itu muncul dengan troli yang sudah full, melayangkan senyuman bahagia ke arah Joan.Joan sudah ia tandai sebagai pembeli VIP, lelaki tampan itu jika berbelanja sendirian selalu menghabiskan jutaan rupiah, entah memang ia bodoh atau tak tahu hidup di dunia dengan baik."Oh, sudah? Selamat tinggal, semangat bekerja Pak wartawan," Joan berlenggang meninggalkan kumpulan wartawan itu, tak lagi menjawab pertanyaan yang lebih dulu mereka lontarkan.padahal dirinyanya yang wartawan itu pusingkan, sudah beberapa kali mereka mencoba masuk ke dalam komplek perumahan lelaki tampan itu namun sudah di blokir untuk kedamaian."Wah, saya baru kali Ini melihat seorang lelaki membeli pembalut wanita sebanyak itu ….""Eh, tunggu! Bukannya dia bujangan yang baru saja mengadopsi seorang anak? Apa dia ingin mencari istri kedua dan meninggalkan anak dan istri pertamanya? Tidak heran, gayanya saja seperti itu. Padahal di balik maskernya terdapat wajah y

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 103

    "Wah, hidup orang-orang berada nikmat sekali ya, semua orang yang ada di dunia ini bisa menjadi pesuruhnya," pria itu mematung sesaat memandangi punggung Joan yang mulai menjauh, ia melamun membayangkan sedang berada di posisi lelaki tampan itu.siapa yang tidak ingin hidup di kelilingi oleh harta dan di kejar-kejar oleh uang? sekali menjadi model saja uang sudah mengalir deras ke dalam black card-nya."Bukan nikmat lagi, sudah di atas level nikmat. Tapi di lihat-lihat wajahnya tak asing, seperti sering di lihat namun siapa?" Wanita itu kembali menimpal seraya tersenyum tipis ikut memandangi postur tubuh Joan yang benar-benar kriteria sejuta umat wanita."Hm, biasalah orang kaya memang begitu, vibesnya semuanya hampir sama. Jangan lupakan kata-kata singkatnya yang menusuk hingga ke ginjal," ucap pria itu dengan helaan nafas panjang, menggeleng pelan merasa posisi Joan adalah langit cerah yang sulit tergapai.semua orang pasti akan bermimpi tampil menjadi orang yang di hormati seperti

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 102

    "Lihatlah ayah, bayi ini lucu sekali," bagai terhipnotis, Vera langsung mengelus lembut kepala Joan dengan haru. Tampak sangat excited ingin menggendong bayi kecil itu, raut wajahnya tampak begitu bahagia melihat keberadaan Jona dalam dekapan Kiana.."Dimana Joan? Anak itu tak ada lelahnya membuat saya pusing!" Berbeda dengan respon Vera, Hendra malah tampak sangat mendidih. ia sangat tak Abar bertemu dengan putra semata wayangnya penerus perusahaan besar keluarga. Kemarahannya tak dapat di redam oleh apapun, sepertinya kali ini ia benar-benar murka."Silahkan masuk kedalam, beberapa hari ini banyak wartawan yang meliput di sekitar sini," Kiana mempersilahkan keduanya untuk masuk, takut jika tiba-tiba ada wartawan yang malah menyorot dari sudut pandang yang berbeda.Vera tampak terkejut menatap tiap sudut rumah itu."terawat ya, bunda pikir akan jadi rumah angker atau gudang. Sudah berapa hari kamu menginap di sini?""Sudah … 2 Minggu lebih mungkin, Kiana tidak ingat," ucap Kiana deng

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 101

    "Saya tahu kamu mulai tergila-gila dengan ketampanan saya, tapi untuk saat ini kita harus serius, okey? Kamu bisa paham, kan?" Alen berusaha menahan rasa malunya karena tersipu oleh ucapan gadis itu."Baru sedikit bumbu centil sudah terpancing," gerutu Alexa, padahal ia sendirilah yang terus memancing. Mengapa jadi kesal sendiri dengan respon Alen?"Baiklah, jelaskan semuanya dengan sejelas-jelas mungkin. Aku akan mendengarkannya, sayang …," gadis ini memang gila, jika saja Alen menggubrisnya dengan serius mana berani ia berucap demikian.Gadis itu tidak tahu saja seobsesi apa Alen pada tubuh seorang wanita, terkhusus dengan hasratnya pada Kiana."Kita akan memata-matai keduanya dari jarak jauh, kita mendekat pada mereka hanya untuk mengambil gambar yang mungkin bisa menjadi masalah," Alen kembali menekankan, mengambil keputusan sesuka hati. ya, kita tahu, dialah yang berkuasa di sana."Hm, terus …?" Alexa semakin memancing, memasang senyuman manis bak seorang istri yang menunggu untu

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 100

    "Yah! Untuk hal itu akan segera kita lakukan, saya hanya perlu membujuk anak gadis saya untuk bersiap-siap menjadi seorang istri," ucap Rifky dengan senyum getir, ia benar-benar takut mengucapkan kata yang mungkin menyinggung hati lelaki yang ada di hadapannya.kekuasaan lelaki tampan itu sungguh melambung jauh dari Rifky.Rifky berperilaku seolah sangat akrab dengan lelaki tampan itu, padahal harga dirinya tengah di pertaruhkan. Dania sama sekali tidak mengetahui jika suaminya dalam tindasan pemaksaan karena hutang piutang yang berakar.Ya! Hutang, Rifky sempat berhutang pada perusahaan lelaki itu dengan jumlah yang sangat besar untuk menutupi kerugian yang membuat perusahaannya hampir bangkrut.selama ini ia tak pernah bercerita Lika liku perusahaan mereka pada kedua wanita yang sangat ia cintai, betapa kecewanya Dania jika tahu perusahaan turun temurun milik kedua orang tuanya yang di gabung oleh perusahaan Rifky jatuh bangkrut begitu saja."Ingat! Saya tidak akan tinggal diam jika

  • TAKDIR Cinta sang tuan muda    CHAPTER 99

    Joan segera berlari kecil menuju Kiana yang tampak sudah keberatan menggendong Jona. gadis itu sudah seperti seorang ibu muda.keduanya mendapati pintu dalam keadaan terkunci, dalam pikiran mereka harusnya ada Alexa di dalam."Pintunya di kunci? Apa gadis itu sedang tak ada di rumah?" Joan kembali mengambil ponselnya bertujuan untuk menanyakan kunci rumah pada Alexa yang mungkin ada di dalam namun tak tahu keduanya ada di depan pintu.Alexa: Alen, kunci rumah ada di pot sebelah kanan.Pesan lama dari Alexa baru saja di baca oleh Joan, lelaki tampan itu cukup terkejut. Namun di akhir senyum tipis terukir di bibirnya.Kiana menatap Joan dengan heran."Mengapa hanya tersenyum? Apa Alexa ada di dalam?" Joan masih terus menatap layar ponselnya, tatapan matanya tampak serius penuk seksama membaca tiap pesan Alexa.Joan lalu mendongak dengan mata berbinar dan senyum bahagia."Dia sudah pulang."Kiana melongo mendengar ucapan Joan, bibirnya terkatup masih tak paham."Pulang? Pulang ke Australia m

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status