Share

Chapter 2A

Author: Chacha Prima
last update publish date: 2026-06-04 15:55:16

Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama

—Taming the Boss

______________________________________________

“Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka.

“Enggak, gue lagi pengin berduaan sama bokap,” jawab wanita itu, menuruti kata papanya.

“Yah ... padahal lagi pengin makan gratis,” gumam Tito yang tidak digubris Jameka.

Kedua netra pria itu menelisik ke luar jendela mobil. Bangunan bergaya Italy ini tampak sepi dan gelap. Hanya bagian sayap kanan yang menyala, sementara ruang-ruang lain lampunya sengaja dipadamkan. Gemericik air mancur di kaskade depan pintu masuk juga tidak lagi menyambut. Ini akibat pengurangan jumlah pekerja dan penghematan daya super.

Mulanya Tito sempat menyampaikan pendapat lebih baik menjual atau menyewakan mansion super megah ini dan Om Allecio bisa tinggal di kondominium Jameka. Sementara itu, ia dan Jameka bersama seluruh karyawan Heratl akan mengurus perusahaan perabot pintar tersebut agar bisa bangkit kembali. Namun, sang ayah dan anak kompak menolak dengan alasan banyak kenangan yang bersemayam di sini. Jadi, solusi terbaik saat ini adalah berhemat.

Tito kembali fokus pada Jameka yang mengambil tas dan blazer di jok tengah—lagi-lagi ia berhasil meyakinkan wanita itu untuk duduk di depan.

“Lo nggak usah bukain pintu gue, Kadal,” pungkas Jameka sembari menggerakkan kepala supaya kucirnya jatuh ke punggung. Barulah membuka pintu dan meluncur turun.

Dengan segera kaca mobil pintu tersebut diturunkan Tito agar bisa melihat Jameka. “Ya udah. Gue cabut dulu, Yang Mulia Ratu,” pamitnya, melambai singkat dan menutup kaca kembali setelah mendapat jawaban dari wanita itu.

“Besok lo jemput di sini aja. Hati-hati. Makasih.”

Setelah memastikan Civic putih Tito bergerak keluar pagar, Jameka membalik tubuh 180 derajat untuk masuk. Rasa penasaran jenis pembicaraan apa yang akan dilontarkan papanya sampai-sampai harus datang ke sini sendirian segera menggerogoti dirinya lagi. Namun, tidak lama sebab orang yang dipikirkan tiba-tiba sudah muncul.

“Akhirnya kamu dateng, Jame,” sambut papanya yang terlihat lega bersama salah satu maid di foyer depan. “Mbak, tolong bawa ini ke kamarnya Jameka,” titah Allecio kepada maid tersebut.

Jameka pun memberikan blazer dan tasnya. Lantas mengikuti langkah papanya ke area kolam renang yang dihias sedemikian rupa. Ia rasa, ini terlalu berlebihan untuk ukuran acara makan malam berdua.

Sambil menggamit lengan papanya, Jameka mengernyit pertanda bingung. “Ada apaan, sih, Pa? Sampai dihias-hias begini? Kita harus hemat loh, Pa. Ngobrolnya, kan, bisa sambil makan malem di dalem.”

Tangan Allecio mengibas santai. “Nggak usah dipikirin, ini cuma sekali.”

“Lagian—” Belum rampung Jameka bicara, kedua indra pengelihatannya segera menangkap beberapa orang yang duduk melingkari meja makan di bawah gazebo dekat kolam renang itu. Secara tidak langsung menjawab serta menimbulkan pertanyaan baru baginya. “Loh, kok, ada banyak orang?”

“Entar Papa jelasin. Ayo gabung dulu.”

Meski mengganjal, tetapi Jameka menurut. Papanya menarik kursi untuknya supaya bisa duduk secara anggun bak wanita berkelas dengan tata krama baik. Sedangkan beberapa orang memperhatikan ayah dan anak tersebut dengan sambutan senyum hangat.

Jameka melirik seorang wanita paruh baya dengan dandanan modis, pria paruh baya yang kelihatan berumur lebih tua dari wanita itu, dan seorang pria yang kelihatan sebaya darinya, tetapi berwajah dingin walau jelas tidak ada ketertarikan memandangnya.

“Ini dia anakku yang namanya Jameka, Vis. Kakaknya Jayden,” terang Allecio kepada pria paruh baya yang duduk di hadapannya. Kemudian menoleh ke Jameka. “Jame, ini Pak Davis Eclipster yang punya Utama Raya Paper and Pulp. Perusaan yang dulu pernah Papa rekomendasikan buat kerja sama jadi mitra Heratl. Terus ini istrinya Pak Davis, Tante Bianca, dan ini anak ... kedua atau ketiga ini?” lanjut Allecio, cenderung mengingat-ingat sembari bertanya demikian.

Tante Bianca sontak mengelus punggung putranya yang kelihatan agak risi. “Yang kedua, Pak Al. Namanya Kevino. Sebenernya dia kembar, tapi lahir duluan sebelum Gavino. Jadi urutannya: Erlang, Kenivo, Gavino, sama Satria. Semuanya cowok,” terangnya disertai senyum bangga.

Berbeda dengan yang sedang dibangga-banggakan. Dari duduknya, Jameka bisa menangkap dengkusan pelan dan senyum miring Kevino.

“Nggak apa-apa cowok semua, Bun. Kan, jadinya Bunda yang paling cantik di keluarga kita,” puji Om Davis sambil menatap istrinya penuh cinta.

“Ah, Papa bisa aja. Entar kalau punya menantu, juga tambah banyak yang cantik,” balas wanita paruh baya itu sembari memegangi sebagian pipinya karena rikuh.

“Tapi bagi Papa, tetep Bunda yang paling cantik.” Ini acara makan malam apaan, sih? Sampai-sampai kagak ngebolehin si Kadal ikutan? Perasaan ajang pamer kemesraan doang, batin Jameka mulai dongkol.

“Kalian ini udah tua masih kayak baru nikah kemarin aja,” sahut Allecio yang membuat Om Davis Tante Bianca mengudarakan tawa malu-malu kucing. Persis remaja tanggung terkena sindrom merah jambu sedang kepergok orang tua macam Allecio.

Om Davis pun membenarkan. “Itulah hebatnya istriku, Al. Masih bisa bikin aku jadi kayak gini.”

Mbeeekkk ....

Suara kambing mengembek sontak memenuhi otak Jameka ketika melihat Om Davis mendapat cubitan perut mesra oleh Tante Bianca.

Ya ... ya ... serah Anda aja, Om, batin Jameka sambil menyasarkan pandangan ke kukunya yang dicat merah darah.

“Percaya, Vis. Ngomong-ngomong ... ayo ... silakan dimakan. Jangan sungkan-sungkan,” ajak Allecio disertai gerakan tangan menunjuk-nunjuk menu makan malam di meja.

“Wah! Spesial, nih menunya, Bun,” gumam Om Davis. Kemudian berbicara dengan putranya. “Kev, ini makanan kesukaanmu loh, gule kambing.”

Tanpa tedeng aling-aling, Jameka praktis memejam sebentar untuk menghalau ingatan wajah kambing-kambing yang merumput dengan bahagia. Bagaimanapun, gule itu sudah tidak berbentuk hewan ternak dengan golongan penghasil susu terbaik itu. Hanya berupa potongan-potongan dadu. Ketiban untung, ia tidak melihat tulang-belulang ruminansia[3] itu dalam kuah gule. Membayangkannya saja sudah ngeri sendiri. Hiii ....

Sekali lagi Jameka melihat Kevino yang hanya nyengir singkat lalu menerima semangkok gule yang diulurkan bundanya. Berikutnya wanita itu sedikit tersentak mendapati piringnya diisi nasi merah oleh Allecio.

“Kalau Jameka ini vegetarian yang berevolusi jadi vegan, jadi harus ada menu khusus,” cerita Allecio sebelum mengambilkan orechiette brokoli untuk Jameka.

“Gaya hidup sehat, kan, penting, Pak Al,” timpal Tante Bianca dengan senyum riang.

“Betul, Al,” sahut Davis.

Bah, belum tahu aja kalau gue ngerokok. Sehat bener gaya hidup gue. Jameka menjawab dalam hati ketika papanya mengudarakan tawa yang dibuat-buat.

“Ngomong-ngomong, Jameka sekarang jadi CEO Heratl ganttin Jayden,” cerita Allecio, jelas bernada bangga.

“Wah ... kebetulan, Al. Erlang juga kayaknya pengin bangun start up sendiri. Yang cabang di Brooklyn pengin diganti jadi apa gitu namanya.”

“Gemilang, Pa,” timpal Tante Bianca.

Lalu dengan senang hati, pria paruh baya itu melanjutkan ceritanya kepada Allecio. “Nah, itu. Berhubung Erlang pengin lepas dari Utama Raya Paper and Plup, Kevino yang bakalan aku minta jadi CEO-nya.”

Ini apa-apaan, sih? Tadi mesra-mesraan, sekarang, kok, pada bangga-banggain anak masing-masing? Bukan kompetisi kaleee, batin Jameka kesal. Namun, tetap takzim memakan brokolinya.

Yah, seandainya ada Tito. Pasti pria supel itu bisa menimpali obrolan para tetua—meski dengan celometannya yang tidak bermanfaat, tetapi bisa mendongkrak suasa menjadi lebih baik.

Mengingat pria itu menggoda pemilik warteg, Jameka jadi penasaran. Kira-kira bundanya Kevino ini akan dirayu Tito juga tidak, ya? Kalau iya, akankah pria bertato itu bersaing sengan sang suami?

Hm ... menarik.

Sembari makan, obrolan-obrolan para orang tua terus mengalir. Jameka dan Kevino hanya diam, sengaja tidak ingin menguping tentang cerita-cerita lama mereka yang sebenarnya sudah keduanya dengar berulang kali, tetapi terus diulang-ulang. Seakan-akan tidak ada rasa bosan. Seolah kejadian-kejadian yang para tetua alami baru terjadi beberapa detik lalu.

Hingga perkataan penting Allecio kali ini tertangkap oleh kedua rugu Jemeka. “Begini, Jame ... maksud Papa mengundang keluarga pak Davis selain untuk makan malam, kami juga pengin kamu bisa kenalan sama Kevino. Yah ... syukur-syukur kalian bisa berjodoh.”

______________

[3] mamalia yang memiliki bentuk kuku belah dua dan berlambung empat (sapi, kambing, domba, babi dan rusa)

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2B

    Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di kepalanya; kenapa jadi seperti ini? Bukankah sebulan lalu Jameka—didukung penuh oleh adiknya—sudah mengatakan kalau masih asyik quirky alone? Jameka juga ingat betul Jayden pernah mengingatkan papa mereka kalau ia bisa mencari jodoh sendiri. Tidak perlu menggunakan acara perjodohan. Dahulu, papanya kebelet punya menantu dari wanita yang dicintai Jayden, sekarang dari Jameka. Sungguh memusingkan. Jameka benar-benar tidak bisa mereka-reka jalan pikiran papanya. Oke, umur Jameka memang sudah lewat kepala tiga. Untuk ukuran wanita yang tinggal di Indonesia, memang itu seperti aib keluarga. Namun, ada alasan kenapa ia bisa sampai seperti ini. Ia pernah hampir menikah dengan River. Sangat disa

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2A

    Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengin berduaan sama bokap,” jawab wanita itu, menuruti kata papanya. “Yah ... padahal lagi pengin makan gratis,” gumam Tito yang tidak digubris Jameka. Kedua netra pria itu menelisik ke luar jendela mobil. Bangunan bergaya Italy ini tampak sepi dan gelap. Hanya bagian sayap kanan yang menyala, sementara ruang-ruang lain lampunya sengaja dipadamkan. Gemericik air mancur di kaskade depan pintu masuk juga tidak lagi menyambut. Ini akibat pengurangan jumlah pekerja dan penghematan daya super. Mulanya Tito sempat menyampaikan pendapat lebih baik menjual atau menyewakan mansion super megah ini dan Om Allecio bisa tinggal di kondominium Jameka. Sementara itu, ia dan Jameka bersama seluruh karyawa

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1B

    “Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini memiliki maksud tertentu sampai ingin menraktir Jameka. Jadi, sebaiknya ia menolak. “Ini bukan soal traktir, To.” “Jangan banyak gaya! Inget, lo lagi bokek.” Lagi-lagi Jameka menganga. Ah, sialan! Memangnya gara-gara siapa ia jadi menanggung beban berat seperti ini? Mana perutnya sudah melilit gara-gara sumber makanannya sudah digunakan untuk berpikir sehingga lambungnya kosong. Jadi, ia harus mengisi energinya dulu dengan makan siang. “Tapi nggak harus di warteg juga! Lo tahu gue vegetarian yang berevolusi jadi vegan!“ Kali ini Tito menghela napas panjang. “Tenang aja, Yang Mulia. Di sini ada nasi pecel. Entar gue bilangin ke ibu wartegnya pakai tempe ama tahu goreng aja. Peyeknya juga

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1A

    You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjutnya akan kita bahas besok pagi. Mohon maaf bila ada salah kata. Saya akhiri, selamat siang.”Orang-orang yang duduk mengelilingi meja ruang rapat mengangguk sebelum akhirnya berduyun-duyun keluar ruangan. Menyisakan Jameka Michelle—yang baru saja mengakhiri rapat—dan Tito Alvarez.“Abis makan siang jadwal gue apa?” tanya Jameka kepada Tito menggunakan bahasa nonformal. Memang begitulah kebiasaan dan kenyamanan keduanya kalau sedang tidak ada orang-orang kantor.Bergegas mengecek buku catatan kecil yang berisi seluruh jadwal Jameka, Tito menjawab, “Ninjau barang yang mau dikirim ke Summertown. Entar bisa kita tanyain ke Pak Sony.”Anggukan pelan menjadi pertanda Jameka menjawab Tito. Tubuhnya

  • TAMING THE BOSS   Prolog

    “Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat. “Morning. Maaf, semalam aku sudah tidur, tidak tahu kapan kau datang. Tadi pagi aku juga tidak berani membangunkanmu,” balas wanita itu rikuh, lalu membiarkan sendok pengaduk di cangkir untuk menyentuh lengan-lengan kekar yang melingkari perutnya. Bubuhan bibir di kening dan pundaknya membuat ia merinding sekaligus merasa dicintai. “It’s okay. Kau mungkin kelelahan. Ingat, akhir-akhir ini kau memang sering kelelahan.” “Itu karena aku bekerja keras.” Benar, membangun usaha yang sedang diambang kebangkrutan memang sangat melelahkan. “Jangan terlalu keras bekerja, biar aku saja. Omong-omong, mula-mula kau membuat teh? Biasanya Americano.” Pria itu meletakkan dagu di pundak tunangannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status