Mag-log inKonspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama
—Taming the Boss ______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengin berduaan sama bokap,” jawab wanita itu, menuruti kata papanya. “Yah ... padahal lagi pengin makan gratis,” gumam Tito yang tidak digubris Jameka. Kedua netra pria itu menelisik ke luar jendela mobil. Bangunan bergaya Italy ini tampak sepi dan gelap. Hanya bagian sayap kanan yang menyala, sementara ruang-ruang lain lampunya sengaja dipadamkan. Gemericik air mancur di kaskade depan pintu masuk juga tidak lagi menyambut. Ini akibat pengurangan jumlah pekerja dan penghematan daya super. Mulanya Tito sempat menyampaikan pendapat lebih baik menjual atau menyewakan mansion super megah ini dan Om Allecio bisa tinggal di kondominium Jameka. Sementara itu, ia dan Jameka bersama seluruh karyawan Heratl akan mengurus perusahaan perabot pintar tersebut agar bisa bangkit kembali. Namun, sang ayah dan anak kompak menolak dengan alasan banyak kenangan yang bersemayam di sini. Jadi, solusi terbaik saat ini adalah berhemat. Tito kembali fokus pada Jameka yang mengambil tas dan blazer di jok tengah—lagi-lagi ia berhasil meyakinkan wanita itu untuk duduk di depan. “Lo nggak usah bukain pintu gue, Kadal,” pungkas Jameka sembari menggerakkan kepala supaya kucirnya jatuh ke punggung. Barulah membuka pintu dan meluncur turun. Dengan segera kaca mobil pintu tersebut diturunkan Tito agar bisa melihat Jameka. “Ya udah. Gue cabut dulu, Yang Mulia Ratu,” pamitnya, melambai singkat dan menutup kaca kembali setelah mendapat jawaban dari wanita itu. “Besok lo jemput di sini aja. Hati-hati. Makasih.” Setelah memastikan Civic putih Tito bergerak keluar pagar, Jameka membalik tubuh 180 derajat untuk masuk. Rasa penasaran jenis pembicaraan apa yang akan dilontarkan papanya sampai-sampai harus datang ke sini sendirian segera menggerogoti dirinya lagi. Namun, tidak lama sebab orang yang dipikirkan tiba-tiba sudah muncul. “Akhirnya kamu dateng, Jame,” sambut papanya yang terlihat lega bersama salah satu maid di foyer depan. “Mbak, tolong bawa ini ke kamarnya Jameka,” titah Allecio kepada maid tersebut. Jameka pun memberikan blazer dan tasnya. Lantas mengikuti langkah papanya ke area kolam renang yang dihias sedemikian rupa. Ia rasa, ini terlalu berlebihan untuk ukuran acara makan malam berdua. Sambil menggamit lengan papanya, Jameka mengernyit pertanda bingung. “Ada apaan, sih, Pa? Sampai dihias-hias begini? Kita harus hemat loh, Pa. Ngobrolnya, kan, bisa sambil makan malem di dalem.” Tangan Allecio mengibas santai. “Nggak usah dipikirin, ini cuma sekali.” “Lagian—” Belum rampung Jameka bicara, kedua indra pengelihatannya segera menangkap beberapa orang yang duduk melingkari meja makan di bawah gazebo dekat kolam renang itu. Secara tidak langsung menjawab serta menimbulkan pertanyaan baru baginya. “Loh, kok, ada banyak orang?” “Entar Papa jelasin. Ayo gabung dulu.” Meski mengganjal, tetapi Jameka menurut. Papanya menarik kursi untuknya supaya bisa duduk secara anggun bak wanita berkelas dengan tata krama baik. Sedangkan beberapa orang memperhatikan ayah dan anak tersebut dengan sambutan senyum hangat. Jameka melirik seorang wanita paruh baya dengan dandanan modis, pria paruh baya yang kelihatan berumur lebih tua dari wanita itu, dan seorang pria yang kelihatan sebaya darinya, tetapi berwajah dingin walau jelas tidak ada ketertarikan memandangnya. “Ini dia anakku yang namanya Jameka, Vis. Kakaknya Jayden,” terang Allecio kepada pria paruh baya yang duduk di hadapannya. Kemudian menoleh ke Jameka. “Jame, ini Pak Davis Eclipster yang punya Utama Raya Paper and Pulp. Perusaan yang dulu pernah Papa rekomendasikan buat kerja sama jadi mitra Heratl. Terus ini istrinya Pak Davis, Tante Bianca, dan ini anak ... kedua atau ketiga ini?” lanjut Allecio, cenderung mengingat-ingat sembari bertanya demikian. Tante Bianca sontak mengelus punggung putranya yang kelihatan agak risi. “Yang kedua, Pak Al. Namanya Kevino. Sebenernya dia kembar, tapi lahir duluan sebelum Gavino. Jadi urutannya: Erlang, Kenivo, Gavino, sama Satria. Semuanya cowok,” terangnya disertai senyum bangga. Berbeda dengan yang sedang dibangga-banggakan. Dari duduknya, Jameka bisa menangkap dengkusan pelan dan senyum miring Kevino. “Nggak apa-apa cowok semua, Bun. Kan, jadinya Bunda yang paling cantik di keluarga kita,” puji Om Davis sambil menatap istrinya penuh cinta. “Ah, Papa bisa aja. Entar kalau punya menantu, juga tambah banyak yang cantik,” balas wanita paruh baya itu sembari memegangi sebagian pipinya karena rikuh. “Tapi bagi Papa, tetep Bunda yang paling cantik.” Ini acara makan malam apaan, sih? Sampai-sampai kagak ngebolehin si Kadal ikutan? Perasaan ajang pamer kemesraan doang, batin Jameka mulai dongkol. “Kalian ini udah tua masih kayak baru nikah kemarin aja,” sahut Allecio yang membuat Om Davis Tante Bianca mengudarakan tawa malu-malu kucing. Persis remaja tanggung terkena sindrom merah jambu sedang kepergok orang tua macam Allecio. Om Davis pun membenarkan. “Itulah hebatnya istriku, Al. Masih bisa bikin aku jadi kayak gini.” Mbeeekkk .... Suara kambing mengembek sontak memenuhi otak Jameka ketika melihat Om Davis mendapat cubitan perut mesra oleh Tante Bianca. Ya ... ya ... serah Anda aja, Om, batin Jameka sambil menyasarkan pandangan ke kukunya yang dicat merah darah. “Percaya, Vis. Ngomong-ngomong ... ayo ... silakan dimakan. Jangan sungkan-sungkan,” ajak Allecio disertai gerakan tangan menunjuk-nunjuk menu makan malam di meja. “Wah! Spesial, nih menunya, Bun,” gumam Om Davis. Kemudian berbicara dengan putranya. “Kev, ini makanan kesukaanmu loh, gule kambing.” Tanpa tedeng aling-aling, Jameka praktis memejam sebentar untuk menghalau ingatan wajah kambing-kambing yang merumput dengan bahagia. Bagaimanapun, gule itu sudah tidak berbentuk hewan ternak dengan golongan penghasil susu terbaik itu. Hanya berupa potongan-potongan dadu. Ketiban untung, ia tidak melihat tulang-belulang ruminansia[3] itu dalam kuah gule. Membayangkannya saja sudah ngeri sendiri. Hiii .... Sekali lagi Jameka melihat Kevino yang hanya nyengir singkat lalu menerima semangkok gule yang diulurkan bundanya. Berikutnya wanita itu sedikit tersentak mendapati piringnya diisi nasi merah oleh Allecio. “Kalau Jameka ini vegetarian yang berevolusi jadi vegan, jadi harus ada menu khusus,” cerita Allecio sebelum mengambilkan orechiette brokoli untuk Jameka. “Gaya hidup sehat, kan, penting, Pak Al,” timpal Tante Bianca dengan senyum riang. “Betul, Al,” sahut Davis. Bah, belum tahu aja kalau gue ngerokok. Sehat bener gaya hidup gue. Jameka menjawab dalam hati ketika papanya mengudarakan tawa yang dibuat-buat. “Ngomong-ngomong, Jameka sekarang jadi CEO Heratl ganttin Jayden,” cerita Allecio, jelas bernada bangga. “Wah ... kebetulan, Al. Erlang juga kayaknya pengin bangun start up sendiri. Yang cabang di Brooklyn pengin diganti jadi apa gitu namanya.” “Gemilang, Pa,” timpal Tante Bianca. Lalu dengan senang hati, pria paruh baya itu melanjutkan ceritanya kepada Allecio. “Nah, itu. Berhubung Erlang pengin lepas dari Utama Raya Paper and Plup, Kevino yang bakalan aku minta jadi CEO-nya.” Ini apa-apaan, sih? Tadi mesra-mesraan, sekarang, kok, pada bangga-banggain anak masing-masing? Bukan kompetisi kaleee, batin Jameka kesal. Namun, tetap takzim memakan brokolinya. Yah, seandainya ada Tito. Pasti pria supel itu bisa menimpali obrolan para tetua—meski dengan celometannya yang tidak bermanfaat, tetapi bisa mendongkrak suasa menjadi lebih baik. Mengingat pria itu menggoda pemilik warteg, Jameka jadi penasaran. Kira-kira bundanya Kevino ini akan dirayu Tito juga tidak, ya? Kalau iya, akankah pria bertato itu bersaing sengan sang suami? Hm ... menarik. Sembari makan, obrolan-obrolan para orang tua terus mengalir. Jameka dan Kevino hanya diam, sengaja tidak ingin menguping tentang cerita-cerita lama mereka yang sebenarnya sudah keduanya dengar berulang kali, tetapi terus diulang-ulang. Seakan-akan tidak ada rasa bosan. Seolah kejadian-kejadian yang para tetua alami baru terjadi beberapa detik lalu. Hingga perkataan penting Allecio kali ini tertangkap oleh kedua rugu Jemeka. “Begini, Jame ... maksud Papa mengundang keluarga pak Davis selain untuk makan malam, kami juga pengin kamu bisa kenalan sama Kevino. Yah ... syukur-syukur kalian bisa berjodoh.” ______________ [3] mamalia yang memiliki bentuk kuku belah dua dan berlambung empat (sapi, kambing, domba, babi dan rusa)Evo abu-abu milik Arga berhenti di area penjemputan Heratl tepat sepuluh menit sebelum jam kantor mulai beroperasi. Suara mesin mobil itu masih menggeram rendah saat Tito membuka pintu depan dan menjejakkan sepatu ke pelataran. Ia lalu berucap, “Makasih, Ga.”Dari balik kemudi, Arga mengulurkan tangan untuk menagih, “Bensin, Bang.”Tito menutup pintu, lalu menunduk ke jendela yang masih terbuka. “Tagih ke Bos. Gue cuma tawanan yang kalian culik.”Di antara kepulan asap rokok, Lih menyembulkan wajah dari jok belakang. “Tawanan paling rewel.”“Daripada mulut lo, Jang. Jarang banget dibuka. Tapi sekalinya bunyi, langsung nyelekit.”Arga tertawa, tetapi masih rajin mengulurkan tangan sambil menodong Tito. “Tapi serius, Bang. Uang rokok mana, uang rokok?”“Dasar anak durhaka!” hardik Tito yang nyaris menampol Arga. “Noh, minta rokok si Bujang aja.”“Ya elah ... pelit amat,” gerutu Arga.Masih untung Tito hanya menepuk-nepuk atap mobil pria itu, bukan membaliknya mirip Hulk ngamuk. Ia juga
Ketika mereka kembali ke gedung utama, jam digital di lobi menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh menit. Aroma makanan dari pantry lantai dasar mulai naik melalui lorong layanan. Seseorang membawa kotak nasi melewati pintu akses, meninggalkan bau ayam bakar dan sambal yang langsung membuat perut Tito bereaksi. Di waktu yang sama ponsel di saku Tito bergetar. Dengan segera ia membaca pesan masuk. Si Bujang Lih Gashani: Di depan. Buruan. Satu pesan berikutnya masuk dari Arga. Arga: Kalau lima menit lagi lo belum turun, gue tinggal, ya, Bang. Tito mendecakkan lidah. Berani betul dus manusia ini berlagak akan meninggalkannya. Dari ponsel, ia mengangkat wajah dan melempar pandangan ke Jameka yang berjalan di sampingnya. Jika sudah berkutat dengan tablet, Tito tahu betul wanita itu tidak akan terusik oleh apa pun di sekitarnya. Maka dari itu, di tengah para pegawai yang berlalu lalang, Tito memanggil, “Bu Jameka.” Jameka belum sempat menjawab Tito saat ponsel genggam di t
“Ha?” Tito langsung terbengong-bengong. Walaupun Jameka sudah sempat menceritakan gosip itu, tetap saja Tito tidak siap mendengarnya keluar dari mulut rekan-rekan sekantor. “Pak Tito, kan, juga mau nikah sama Bu Carissa,” tukas Naray dengan raut wajah antusias. Baginya, tiada pagi yang lebih menyenangkan dari memulai hari dengan berita baik. Secara bersamaan, Tito masih penasaran. Dari mana sebenarnya gosip itu berasal? Tidak mungkin dari Jameka, kan? Masih sepagi ini, tetapi lagi-lagi otak Tito sudah dituntut bekerja maksimal dalam menggali ingatan untuk menelusuri hal ini. Ia mengingat perkataan Jameka tentang Carissa sendiri yang mengaku ia lamar di depan Jameka, Kevino, dan Vivian yang waktu itu menjenguk di rumah sakit. Jadi, gosip itu pasti beredar dari salah satu dari mereka, simpul Tito sederhana. Sekali lagi Tito meyakinkan bahwa bukan Jameka yang menyebarkan gosip itu. Untuk apa juga? Iya, kan? Tito menggali kemungkinan lain. Ya kali si Bang Ke alias Kevino itu ..
Tunggu sebentar ....Niat Tito melangkah keluar lift secara praktis mandek. Mirip angkot yang mengerem dadakan gara-gara diserobot emak-emak motoran. Biasanya si sopir angkot sontak dilema dalam mengambil keputusan. Antara mau tetap lanjut mengikuti alur emak-emak itu atau justru berbelok arah.Sebab si sopir tahu, sering kali lampu sein yang dinyalakan emak-emak tidak sejalan dengan laju motor. Sudah jadi rahasia umum kalau lampu sein kiri yang dinyalakan, motor malah dibelokkan ke kanan. Begitu pula sebaliknya. Kadang-kadang justru terus berjalan lurus, seolah-olah tidak pernah menyalakan lampu sein; mungkin juga lampu penanda itu hanya dianggap dekorasi untuk meramaikan suasana saja.Tidak heran masyarakat menyebut fenomena emak-emak yang mengemudikan motor di jalan raya dianggap sebagai raja jalanan. Dalam beberapa hal, bisa juga disebut penguasa bumi. Masih untung emak-emak itu tidak freestyle di atas motor. Kalau iya, sudah terbayang di otak Tito tentang kemacetan lalu lintas ka
“Kok, gue jadi deg-degan gini, ya?” gumam Jameka sembari celingak-celinguk mengawasi parkiran basemen Heratl. Tangannya memegangi seatbelt erat-erat seolah-olah ia akan terlempar kapan saja apabila mengendorkan jari-jemarinya. “Deg-degan kenapa?” tanya Tito yang duduk di balik kemudi di sebelah Jameka. Ia telah mematikan pendingin udara dan mesin mobil. Sekarang ia hendak melepas seatbelt. “Carissa masuk hari ini.” Merasa tidak ada masalah dengan itu, Tito berbalik tanya, “Ya terus kenapa?” Jameka sontak menoleh pria itu. “Udah gue ceritain, kan? Dia ngobrol sama gue, mohon-mohon sama gue biar gue ngejauhin lo. Dan gue bilang kagak mau. Gue bilang, lo keluarga gue. Kenapa gue harus ngejauhin keluarga gue sementara posisi gue secinta itu sama lo—hei! Jangan grepe-grepe!” Jameka menampol tangan Tito yang merayap ke paha kanannya. Rok pensilnya disingkap dan disentuh ringan oleh Tito membuatnya menegang, mendirikan buku kuduknya. Menelan ludah guna mencegah desahan keluar dari mulut
Nyaris dua jam kemudian, seluruh ruang sudah bersih dan wangi. Orang-orang yang disewa jasanya oleh Tito juga sudah pergi. Jameka duduk di meja makan. Pandangannya ke luar dinding kaca depan dapur. Ia melihat kegelapan yang menggantung di langit telah menghiasi Jakarta. Rintik-rintik air hujan memburamkan kaca.Membawa hawa sejuk dan petrikor—yang lucunya—tercium hingga di lantai paling atas gedung ini. Jameka mengira mungkin beberapa penghuni punya tanaman di pot dengan media tanah. Terkena hujan, jadi bisa menimbulkan aroma khas tersebut. Jameka berjingkat ketika sesekali kilat menyambar bagai bayangan akar pohon disinari cahaya sekejap. Kadang-kadang disusul suara guntur yang cukup menekankan pendengaran. Akibat cuaca itulah, Tito dan Jameka malas keluar. Untuk makan malam, Tito memasak mie instan. “Nih.” Tito meletakkan semangkok mie di depan Jameka. Mangkok itu membuat alis Jameka mengernyit. “Kan, lo tahu betul gue kagak makan telur. Kenapa punya gue lo kasih telur? Topp
Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di
“Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini mem
You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjut
“Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat







