Share

Chapter 1A

Author: Chacha Prima
last update publish date: 2026-06-03 20:20:21

You can’t treat people like yourself

Remember, every soul has difference in feeling

—Chacha Prima

_____________________________________________

“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjutnya akan kita bahas besok pagi. Mohon maaf bila ada salah kata. Saya akhiri, selamat siang.”

Orang-orang yang duduk mengelilingi meja ruang rapat mengangguk sebelum akhirnya berduyun-duyun keluar ruangan. Menyisakan Jameka Michelle—yang baru saja mengakhiri rapat—dan Tito Alvarez.

“Abis makan siang jadwal gue apa?” tanya Jameka kepada Tito menggunakan bahasa nonformal. Memang begitulah kebiasaan dan kenyamanan keduanya kalau sedang tidak ada orang-orang kantor.

Bergegas mengecek buku catatan kecil yang berisi seluruh jadwal Jameka, Tito menjawab, “Ninjau barang yang mau dikirim ke Summertown. Entar bisa kita tanyain ke Pak Sony.”

Anggukan pelan menjadi pertanda Jameka menjawab Tito. Tubuhnya beranjak dari kursi lalu keluar dari ruangan diikuti pria itu.

"Minutes of meeting segera gue bikin,“ sambung Tito lagi.

“Lo emang jempolan,“ puji Jameka sambil lalu. “Rokok gue mana?” todong wanita berbalut rok pensil satin hitam tepat di atas lutut dan kemeja satin senada yang dilapisi vintage tweed blazer Channel multi warna, dengan wajah datar sembari memijit pangkal hidung.

Efek rapat penting bersama direksi dan legalitas hukum yang membahas sengketa tanah HTI (Hutan Tanam Industri) dengan penduduk di Samarinda yang belum kunjung menemukan jalan keluar kini menyerang kepalanya.

Sejak sebulan lalu papanya mengumumkan peralihan paten jabatan Jameka dari COO Heratl Company menjadi CEO—menggantikan adik laki-lakinya, rasa-rasanya, wanita itu bertambah tua setiap detik lantaran pikiran yang terus-menerus diperas habis-habisan. Terutama mengenai Heratl yang berusaha bangkit di tengah kebangkrutan. Dimulai dari pembenahan berbagai divisi yang bermasalah, hingga bagian berat perkara HTI.

Padahal beberapa bulan lalu, Jameka—mendapat dukungan penuh dari CEO sebelumnya—baru saja menutup beberapa lini Heratl yang benar-benar tidak bisa diperbaiki. Kemudian menjualnya dengan harga murah. Lalu membagi hasilnya ke para pegawai sebagai uang pesangon dan tambahan uang untuk pengadaan bahan baku.

Bagaimana bisa ia harus berdamai dengan penduduk yang tinggal di sekitar HTI menggunakan uang suap di tengah masa sulit seperti usulan beberapa direksi tadi? Sementara hutan itu sendiri merupakan aset terpenting untuk menghasilkan bahan baku produk-produk peraboton cerdas perusahaan, artinya pendapatan juga didapat dari sana. Namun, apabila pengerjaannya terus dilakukan, tentu saja akan mendapat protes dari penduduk.

Sungguh memusingkan.

Beruntungnya Jameka tidak sendirian menghadapi semua ini. Selain karyawan-karyawan paling jempolan yang masih bertahan maupun dipertahankan bekerja di Heratl, ada Tito Alvarez yang ditugaskan menjadi sekretaris, merangkap asisten pribadi, plus bodyguard wanita itu atas permintaan adik laki-lakinya.

Ngomong-ngomong soal penjagaan, jangan pikir Jameka ini wanita manja yang ke mana-mana harus dikawal. Ia merupakan pribadi yang mandiri. Alasan adiknya meminta Tito menjaganya karena beberapa waktu lalu, ia ketahuan kalau sedang memandangi obrolannya dengan River Devoss di W******p. Maka terungkaplah semuanya.

Dan sekembalinya adik Jameka ke Inggris tentu membuat pria itu mengkhawatirkannya. Takut Jameka akan menyakiti diri sendiri atau parahnya lagi berniat bunuh diri. Jadi, ya, begitulah.

“Nih,” ulur Tito sebelum membukakan pintu Civic putihnya untuk pergi makan siang bersama Jemeka. Rutinitas mereka selama sebulan ini.

“Bedankt[1],” ucap Jameka sembari menerima kotak rokok lantas menyadari sesuatu. “Duduk gue di tengah ye, Kadal Sawah. Bukan di samping lo.”

“Yaelah sekali-kali, Yang Mulia Ratu. Biar gue kagak jadi sopir mulu.”

“Nah, kan, emang tugas lo. Gimana sih?”

“Sekali doang elaaah ....”

Bola mata Jameka berputar sembari mengeluarkan napas berat. “Lo beruntung kali gini gue lagi pusing, nggak pengin debat.”

Tito nyengir lebih lebar. Setelah Jameka duduk dan mengenakan seatbelt, ia menutup pintu dan memutari bagian depan mobil untuk mencapai kursi kemudi.

“Kali ini gue yang milih tempat makan. Bosen banget lo suruh makan di tempat yang cuma nyediain sayuran doang. Emang gue kambing?” usik Tito sembari menyalakan mobil. Kenalpot racing-nya sontak menggema di basemen.

Jemeka yang baru saja mengapit putung rokoknya di antara bibir sontak melihat Tito. “Eh, mana bisa gitu? Lo juga tahu gue vegetarian yang berevolusi jadi vegan. Mana bisa makan di sembarang tempat? Kalau bisa milih, gue prefer masak sendiri. Tapi, mana sempet, kan? Milih praktisnya doang,” semprotnya.

“Tenang, lo bisa, kok, makan di tempat ini.”

“Ya udah serah lo, deh. Pokoknya lo tahu makanan gue.”

“Baik, Yang Mulia Ratu Jameka.”

Untuk beberapa waktu yang singkat, setelah mengembuskan asap rokok ke jendela mobil yang sedikit dibuka, Jameka yang berwajar datar tidak sengaja mengingat hasil rapat tadi. Ia pun menggerutu pada intonasi landai. “Mana si Bambang lagi honeymoon lagi, kagak bisa dimintai konsultasi masalah HTI. Ck! Gue bisa gila kalau gini terus.”

“Bukannya dari dulu lo udah gila, ya?” sahut pria itu yang berpotensi besar menyulut genderang perang dalam diri Jameka.

Playboy cap kadal sawah ini mulutnya memang perlu disumpal menggunakan kain gombal. Agar sama dengan omongannya yang sering kali manis, lamis, dan bermulut fleksibel ketika mengobrol dengan setiap wanita yang berpapasan dengannya. Kadang-kadang, Jameka sampai risi dengan mulut pria itu.

“Kalau gue gila, lo apaan? Edan?” sindir Jameka masih bernada datar, lengkap dengan ekspresinya. Dan kian rajin menyedot rokok.

“Ya gila jugalah. Ya kali gue endan? Kan, nggak enak kalau mau ngerayu cewek. Masa bilangnya; aku lagi teredan-edan padamu?”

Jameka nyengir kuda mendengar jawaban cringe Tito. Setelah mengembuskan asap rokok dari hidung dan mulut, ia menjentikkan gulungan nikotin itu agar ujung yang terbakar bisa lepas di asbak mobil Tito yang beberapa lalu dipesannya khusus.

Kebiasaan Jameka merokok di mobil Tito selama proses antar-jemput tentu tidak ingin menjadikannya tukang pembuat onar dengan membuang percikan api rokok ke luar jendela. Bagaimana nanti kalau terkena pengendara lain? Kan, tidak elegan dan bisa berbuntut urusannya.

“Untung aja gue kagak mempan ama gombalan-gombalan lo. Gue kan, udah, katam ama kebusukan lo, Kadal,” gumam Jameka.

Salah satu sudut bibir Tito tertarik ke atas membentuk smirk smile ketika menghadap Jemeka sedektik lalu kembali fokus ke jalan raya. Alih-alih terlihat menyeramkan dengan senyum tersebut seperti adiknya Jameka, sex appeal pria itu malah meningkat. Sehingga tak heran para wanita langsung jatuh ke perangkap Tito. Kecuali Jameka—tentu saja, ia hanya mencintai River Devoss.

“Jangan ge er, deh, lo. Coba pikir lagi, pernah kagak selama ini gue gombalin lo?”

Hampir saja rokok yang disedot Jameka tertelan gara-gara ucapan Tito yang merupakan kebenaran. Selama saling mengenal, ia belum pernah sama sekali digombali Tito. Bukannya meminta juga. Namun, ia hanya melihat dari kacamatanya yang sering menjumpai Tito menjerat mangsa. Mungkin kalau diumpamakan pria itu menggombalinya, ia tidak akan terjebak.

Tawa Tito sontak mengudara. Dari spion tengah, ia melihat ekspresi Jameka yang tidak berubah. “Yang Mulia ..., Yang Mulia .... Bilang aja lo cemburu. Pengin gue gombalin juga.”

“Eh, sorry, ye, Kadal Sawah. Jangan mimpi gue cemburu ama lo.”

Tito tidak menjawab sanggahan Jameka sebab mobil yang dikendarainya sudah berhenti di tempat makan tujuan. “Yok, turun. Udah sampai.”

Sembari mengembuskan asap rokok lalu menjejalkan putungnya ke asbak, Jameka melihat sekitar. “To, ini warteg.“

“Siapa bilang ini wahana permainan? Yuk, turun.“

“To, seorang gue? Makan diwarteg? Lo lagi ngelawak, kan?“

______________________________________________

[1] Makasih: Belanda

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2B

    Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di kepalanya; kenapa jadi seperti ini? Bukankah sebulan lalu Jameka—didukung penuh oleh adiknya—sudah mengatakan kalau masih asyik quirky alone? Jameka juga ingat betul Jayden pernah mengingatkan papa mereka kalau ia bisa mencari jodoh sendiri. Tidak perlu menggunakan acara perjodohan. Dahulu, papanya kebelet punya menantu dari wanita yang dicintai Jayden, sekarang dari Jameka. Sungguh memusingkan. Jameka benar-benar tidak bisa mereka-reka jalan pikiran papanya. Oke, umur Jameka memang sudah lewat kepala tiga. Untuk ukuran wanita yang tinggal di Indonesia, memang itu seperti aib keluarga. Namun, ada alasan kenapa ia bisa sampai seperti ini. Ia pernah hampir menikah dengan River. Sangat disa

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2A

    Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengin berduaan sama bokap,” jawab wanita itu, menuruti kata papanya. “Yah ... padahal lagi pengin makan gratis,” gumam Tito yang tidak digubris Jameka. Kedua netra pria itu menelisik ke luar jendela mobil. Bangunan bergaya Italy ini tampak sepi dan gelap. Hanya bagian sayap kanan yang menyala, sementara ruang-ruang lain lampunya sengaja dipadamkan. Gemericik air mancur di kaskade depan pintu masuk juga tidak lagi menyambut. Ini akibat pengurangan jumlah pekerja dan penghematan daya super. Mulanya Tito sempat menyampaikan pendapat lebih baik menjual atau menyewakan mansion super megah ini dan Om Allecio bisa tinggal di kondominium Jameka. Sementara itu, ia dan Jameka bersama seluruh karyawa

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1B

    “Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini memiliki maksud tertentu sampai ingin menraktir Jameka. Jadi, sebaiknya ia menolak. “Ini bukan soal traktir, To.” “Jangan banyak gaya! Inget, lo lagi bokek.” Lagi-lagi Jameka menganga. Ah, sialan! Memangnya gara-gara siapa ia jadi menanggung beban berat seperti ini? Mana perutnya sudah melilit gara-gara sumber makanannya sudah digunakan untuk berpikir sehingga lambungnya kosong. Jadi, ia harus mengisi energinya dulu dengan makan siang. “Tapi nggak harus di warteg juga! Lo tahu gue vegetarian yang berevolusi jadi vegan!“ Kali ini Tito menghela napas panjang. “Tenang aja, Yang Mulia. Di sini ada nasi pecel. Entar gue bilangin ke ibu wartegnya pakai tempe ama tahu goreng aja. Peyeknya juga

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1A

    You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjutnya akan kita bahas besok pagi. Mohon maaf bila ada salah kata. Saya akhiri, selamat siang.”Orang-orang yang duduk mengelilingi meja ruang rapat mengangguk sebelum akhirnya berduyun-duyun keluar ruangan. Menyisakan Jameka Michelle—yang baru saja mengakhiri rapat—dan Tito Alvarez.“Abis makan siang jadwal gue apa?” tanya Jameka kepada Tito menggunakan bahasa nonformal. Memang begitulah kebiasaan dan kenyamanan keduanya kalau sedang tidak ada orang-orang kantor.Bergegas mengecek buku catatan kecil yang berisi seluruh jadwal Jameka, Tito menjawab, “Ninjau barang yang mau dikirim ke Summertown. Entar bisa kita tanyain ke Pak Sony.”Anggukan pelan menjadi pertanda Jameka menjawab Tito. Tubuhnya

  • TAMING THE BOSS   Prolog

    “Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat. “Morning. Maaf, semalam aku sudah tidur, tidak tahu kapan kau datang. Tadi pagi aku juga tidak berani membangunkanmu,” balas wanita itu rikuh, lalu membiarkan sendok pengaduk di cangkir untuk menyentuh lengan-lengan kekar yang melingkari perutnya. Bubuhan bibir di kening dan pundaknya membuat ia merinding sekaligus merasa dicintai. “It’s okay. Kau mungkin kelelahan. Ingat, akhir-akhir ini kau memang sering kelelahan.” “Itu karena aku bekerja keras.” Benar, membangun usaha yang sedang diambang kebangkrutan memang sangat melelahkan. “Jangan terlalu keras bekerja, biar aku saja. Omong-omong, mula-mula kau membuat teh? Biasanya Americano.” Pria itu meletakkan dagu di pundak tunangannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status