مشاركة

Chapter 1B

مؤلف: Chacha Prima
last update تاريخ النشر: 2026-06-04 14:59:10

“Udahalah kagak usah banyak drama.“

Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“

Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.”

Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini memiliki maksud tertentu sampai ingin menraktir Jameka. Jadi, sebaiknya ia menolak. “Ini bukan soal traktir, To.”

“Jangan banyak gaya! Inget, lo lagi bokek.”

Lagi-lagi Jameka menganga. Ah, sialan! Memangnya gara-gara siapa ia jadi menanggung beban berat seperti ini? Mana perutnya sudah melilit gara-gara sumber makanannya sudah digunakan untuk berpikir sehingga lambungnya kosong. Jadi, ia harus mengisi energinya dulu dengan makan siang.

“Tapi nggak harus di warteg juga! Lo tahu gue vegetarian yang berevolusi jadi vegan!“

Kali ini Tito menghela napas panjang. “Tenang aja, Yang Mulia. Di sini ada nasi pecel. Entar gue bilangin ke ibu wartegnya pakai tempe ama tahu goreng aja. Peyeknya juga yang kacang aja. Kagak usah pakai lauk ayam atau hewan-hewan lain.” Tak menunggu jawaban Jameka, ia lantas turun dan membukakan pintu untuk wanita. “Blazer lo lepas aja. Nggak usah bawa apa-apa juga. Blazer, tas, HP, semuanya taroh mobil.”

Sekali lagi Jameka melihat ke sebelah kiri. Warteg tersebut kelihatan ramai. Namun, wajar, sekarang sedang jam makan siang. Banyak orang mengisi perut. Ada rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak berbaju PNS, tukang gorengan, sopir taksi, dan lain sebagainya yang makan di sana.

Akhirnya wanita itu meluncur dari mobil setelah melepas blazernya, tanpa membawa apa pun seperti kata Tito. Sepatu hak tingginya beradu dengan paving ketika ia berjalan mengekori pria itu masuk warteg. Seluruh penghuni tempat makan tersebut sontak melihat mereka dan fokus pada Jameka lantaran mengira bule berpacaran dengan orang Indonesia. Hitung-hitung perbaikan keturunan. Tidak sedikit juga bapak-bapak yang langsung merasa matanya melek dan segar karena melihat Jameka yang sedikit mengibas kucir ekor kudanya untuk mengusir gerah.

Sedangkan Tito celingukan mencari tempat duduk. Beruntungnya, ia melihat kursi kayu panjang yang bisa ditempati dua orang. Letaknya di depan etalese yang langsung bersinggungan dengan dapur.

“Duduk sini dulu, biar gue pesenin.”

Jameka menuruti Tito dan melihat pria itu memesan makan siangnya yang langsung diambilkan ibu penjual.

“Yang satunya nasi campur lauk ayam goreng aja, Bu.” Dan ibu itu segera mengambilkan makanan Tito. “Makasih, Bu. Baik banget. Cantiknya tambah berkali-kali lipat loh, Bu.”

Kedua alis Jameka naik sedikit mendengar pria itu bicara demikian. Tito ini memang edan kuadrat. Tidak pandang bulu, ibu penjual warteg pun digombali meski suaminya ada di belakang mereka.

“Nih, pesenan lo.” Tito mengulurkan sepiring nasi pecel di meja depan Jameka dan meletakkan nasi campurnya sendiri. “Oh ya, minumnya apa?”

“Air mineral aja, makasih.”

Setelah mengambil sebotol air mineral, Tito mulai makan. Begitu pula dengan Jameka. Namun, wanita itu tiba-tiba sedikit terhenyak mendengar penjual sedang memasukkan ikan bandeng ke wajan panas. Suara minyak goreng yang menerima makanan itu membuat Jameka sontak memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya yang berdetak kencang mengiringi produksi air matanya yang ingin terjun bebas.

“Kadal, ibu itu goreng ikan,” bisiknya, “ayo pergi dari sini.”

Kunyahaan Tito sedikit melambat. “Ya elah .... Baru juga gue makan dua sendok. Tahan bentarlah .... Gue kelaperan.”

Jameka menunduk ke bahu Tito, ingin menyembunyikan wajahnya yang kacau. “Dibungkus aja. Ayo!” desaknya.

“Udahlah kagak usah dilihatin. Lo makan hadap gue aja.”

Jameka mulai menumpahkan air matanya. “Kagak bisa. Suaranya masih kedengeran.”

Hah! Merepotkan saja Yang Mulia Ratu satu ini. Niat Tito ingin makan masakan yang dirindukan dengan tenang, tetapi malah lupa memperhitungkan hal-hal sepele seperti ini. Ia memang sudah tahu sejak bertahun-tahun lalu bahwa Jameka adalah vegetarian yang berevolusi menjadi vegan lantaran menganggap hewan yang dimasak merupakan tindakan tidak animal welvare[2]. Dan Jameka selalu menangis apabila melihat orang mengolahnya.

“Kadal, buruan dibungkus aja!” desak Jameka sembari menarik-narik lengan kemeja panjang biru dongker Tito yang sukses menyembunyikan tato-tato miliknya. Sedangkan yang di jari-jemari dan lehernya ditutupi alas bedak oleh Jameka sebelum berangkat ke Heratl. Setiap hari wanita itu membantunya demikian agar penghuni Heratl tidak menyangka Tito preman.

Embusan napas berat Tito keluar begitu saja. Akhirnya ia mengalah. “Ya udah lo tunggu aja di mobil. Nih, kuncinya.”

“Anterinlah, Kadal. Gue lagi nangis, nih! Masa harus balik sendiri? Kagak peka banget, sih, jadi cowok!” bisik Jameka, kian rajin menggoyang-goyang lengan Tito yang kini berwajah datar.

Sekali lagi Tito mengembuskan napas. Banyak pula maunya wanita ini. Itulah kenapa Tito tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita dengan komitmen jangka panjang. Selain akibat trauma masa lalu yang diciptakan keluarganya, ia juga malas dengan hal-hal ribet seperti ini yang biasanya didapatkan dari seorang wanita. Andaikan Jameka bukan kakak sahabatnya, Tito pasti sudah meninggalkan wanita itu nangis berguling-guling di lantai mirip bocah tantrum, cuma gara-gara kasihan lihat ikan digoreng.

“Udah nangisnya. Lo makan aja, tuh, pecelnya udah dibungkusin,” kata Tito ketika keduanya sudah berada di mobil. Berhubung tidak ada yang merokok, pria itu menyalakan pendingin udara.

Jameka masih mengusap-usap air matanya menggunakan tisu. “Lo tadi lihat muka ikannya kagak? Kasihan banget, Kadal. Dia berhak hidup, tapi kenapa malah dibunuh terus dimakan? Lo juga, malah makan ayam!”

Tito menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ck! Udah diem, deh, lo. Kalau kagak, gue tinggal balik ke warteg.”

“Gue cuma mau nyadarin lo kalau tindakan lo itu kejam!”

“Ssshhh! Berisik banget, sih, lo! Heran gue. Casing lo, tuh, cewek kuat, kagak cengeng, muka selalu datar kayak adek lo. Tapi kalau yangkut makanan dari hewan, lo bisa nangis kejer kayak begini ya?”

Jameka menyeka ingus di tisu lalu dilemparkan ke Tito. Pria itu sontak menghindar. Beruntungnya nasi campur di pangkuannya tidak tumpah.

“Eh! Jorok! Apa gunanya tong sampang di mobil gue, Yang Mulia?”

Perdebatan keduanya berhenti akibat ponsel Jameka yang berdering nyaring. Wanita itu mengubek tas untuk mengambil ponsel, membaca sekilas yang menelepon, lalu menggeser layar sebelum menempelkannya ke telinga.

Tito pura-pura makan dengan takzim, tetapi diam-diam memasang pendengarannya secara maksimal untuk mengorek informasi. Siapa tahu River Devoss yang menghubungi Jameka. Ia, kan, harus pasang badan sesuai pesan adik Jameka bahwa jangan sampai kakaknya menyentuh apa pun yang berhubungan dengan River.

“Halo, Pa?”

Kelegaan membajiri Tito. Rupanya calon mertuanya yang menelepon. Eh, maksudnya Om Allecio.

“Jame, kok, suaranya bindeng gitu? Kamu lagi nangis? Nangisin cowok?”

“Astaga, Papa. Enggaklah. Aku cuma nggak sengaja lihat ikan digoreng aja, kok. Ada ada, Pa?”

Sembari mulai menyuapkan nasi pecel ke mulutnya, Jameka mendengar papanya melepas napas lega. “Untunglah bukan gara-gara cowok. Oh ya, nanti malem makan sama Papa ya?”

“Oke, Pa. Entar biar aku ke rumah Papa.”

“Sendirian aja ya, nggak usah ngajak Tito.” Jameka sontak melihat Tito yang sedang minum. Dan papanya masih menukas, “Atau dia boleh nganter kamu, tapi habis itu langsung pulang.”

Jameka refleks melirik Tito. “Kenapa? Kan, biasanya sama dia juga, Pa.”

“Udah ..., pokoknya dateng sesuai yang Papa bilang ya, Jame. Soalnya ada yang pengin Papa omongin sama kamu.”

______________________________________________

[2] Hak asasi hewan

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 5B

    Evo abu-abu milik Arga berhenti di area penjemputan Heratl tepat sepuluh menit sebelum jam kantor mulai beroperasi. Suara mesin mobil itu masih menggeram rendah saat Tito membuka pintu depan dan menjejakkan sepatu ke pelataran. Ia lalu berucap, “Makasih, Ga.”Dari balik kemudi, Arga mengulurkan tangan untuk menagih, “Bensin, Bang.”Tito menutup pintu, lalu menunduk ke jendela yang masih terbuka. “Tagih ke Bos. Gue cuma tawanan yang kalian culik.”Di antara kepulan asap rokok, Lih menyembulkan wajah dari jok belakang. “Tawanan paling rewel.”“Daripada mulut lo, Jang. Jarang banget dibuka. Tapi sekalinya bunyi, langsung nyelekit.”Arga tertawa, tetapi masih rajin mengulurkan tangan sambil menodong Tito. “Tapi serius, Bang. Uang rokok mana, uang rokok?”“Dasar anak durhaka!” hardik Tito yang nyaris menampol Arga. “Noh, minta rokok si Bujang aja.”“Ya elah ... pelit amat,” gerutu Arga.Masih untung Tito hanya menepuk-nepuk atap mobil pria itu, bukan membaliknya mirip Hulk ngamuk. Ia juga

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 5A

    Ketika mereka kembali ke gedung utama, jam digital di lobi menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh menit. Aroma makanan dari pantry lantai dasar mulai naik melalui lorong layanan. Seseorang membawa kotak nasi melewati pintu akses, meninggalkan bau ayam bakar dan sambal yang langsung membuat perut Tito bereaksi. Di waktu yang sama ponsel di saku Tito bergetar. Dengan segera ia membaca pesan masuk. Si Bujang Lih Gashani: Di depan. Buruan. Satu pesan berikutnya masuk dari Arga. Arga: Kalau lima menit lagi lo belum turun, gue tinggal, ya, Bang. Tito mendecakkan lidah. Berani betul dus manusia ini berlagak akan meninggalkannya. Dari ponsel, ia mengangkat wajah dan melempar pandangan ke Jameka yang berjalan di sampingnya. Jika sudah berkutat dengan tablet, Tito tahu betul wanita itu tidak akan terusik oleh apa pun di sekitarnya. Maka dari itu, di tengah para pegawai yang berlalu lalang, Tito memanggil, “Bu Jameka.” Jameka belum sempat menjawab Tito saat ponsel genggam di t

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 4B

    “Ha?” Tito langsung terbengong-bengong. Walaupun Jameka sudah sempat menceritakan gosip itu, tetap saja Tito tidak siap mendengarnya keluar dari mulut rekan-rekan sekantor. “Pak Tito, kan, juga mau nikah sama Bu Carissa,” tukas Naray dengan raut wajah antusias. Baginya, tiada pagi yang lebih menyenangkan dari memulai hari dengan berita baik. Secara bersamaan, Tito masih penasaran. Dari mana sebenarnya gosip itu berasal? Tidak mungkin dari Jameka, kan? Masih sepagi ini, tetapi lagi-lagi otak Tito sudah dituntut bekerja maksimal dalam menggali ingatan untuk menelusuri hal ini. Ia mengingat perkataan Jameka tentang Carissa sendiri yang mengaku ia lamar di depan Jameka, Kevino, dan Vivian yang waktu itu menjenguk di rumah sakit. Jadi, gosip itu pasti beredar dari salah satu dari mereka, simpul Tito sederhana. Sekali lagi Tito meyakinkan bahwa bukan Jameka yang menyebarkan gosip itu. Untuk apa juga? Iya, kan? Tito menggali kemungkinan lain. Ya kali si Bang Ke alias Kevino itu ..

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 4A

    Tunggu sebentar ....Niat Tito melangkah keluar lift secara praktis mandek. Mirip angkot yang mengerem dadakan gara-gara diserobot emak-emak motoran. Biasanya si sopir angkot sontak dilema dalam mengambil keputusan. Antara mau tetap lanjut mengikuti alur emak-emak itu atau justru berbelok arah.Sebab si sopir tahu, sering kali lampu sein yang dinyalakan emak-emak tidak sejalan dengan laju motor. Sudah jadi rahasia umum kalau lampu sein kiri yang dinyalakan, motor malah dibelokkan ke kanan. Begitu pula sebaliknya. Kadang-kadang justru terus berjalan lurus, seolah-olah tidak pernah menyalakan lampu sein; mungkin juga lampu penanda itu hanya dianggap dekorasi untuk meramaikan suasana saja.Tidak heran masyarakat menyebut fenomena emak-emak yang mengemudikan motor di jalan raya dianggap sebagai raja jalanan. Dalam beberapa hal, bisa juga disebut penguasa bumi. Masih untung emak-emak itu tidak freestyle di atas motor. Kalau iya, sudah terbayang di otak Tito tentang kemacetan lalu lintas ka

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 3B

    “Kok, gue jadi deg-degan gini, ya?” gumam Jameka sembari celingak-celinguk mengawasi parkiran basemen Heratl. Tangannya memegangi seatbelt erat-erat seolah-olah ia akan terlempar kapan saja apabila mengendorkan jari-jemarinya. “Deg-degan kenapa?” tanya Tito yang duduk di balik kemudi di sebelah Jameka. Ia telah mematikan pendingin udara dan mesin mobil. Sekarang ia hendak melepas seatbelt. “Carissa masuk hari ini.” Merasa tidak ada masalah dengan itu, Tito berbalik tanya, “Ya terus kenapa?” Jameka sontak menoleh pria itu. “Udah gue ceritain, kan? Dia ngobrol sama gue, mohon-mohon sama gue biar gue ngejauhin lo. Dan gue bilang kagak mau. Gue bilang, lo keluarga gue. Kenapa gue harus ngejauhin keluarga gue sementara posisi gue secinta itu sama lo—hei! Jangan grepe-grepe!” Jameka menampol tangan Tito yang merayap ke paha kanannya. Rok pensilnya disingkap dan disentuh ringan oleh Tito membuatnya menegang, mendirikan buku kuduknya. Menelan ludah guna mencegah desahan keluar dari mulut

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 3A

    Nyaris dua jam kemudian, seluruh ruang sudah bersih dan wangi. Orang-orang yang disewa jasanya oleh Tito juga sudah pergi. Jameka duduk di meja makan. Pandangannya ke luar dinding kaca depan dapur. Ia melihat kegelapan yang menggantung di langit telah menghiasi Jakarta. Rintik-rintik air hujan memburamkan kaca.Membawa hawa sejuk dan petrikor—yang lucunya—tercium hingga di lantai paling atas gedung ini. Jameka mengira mungkin beberapa penghuni punya tanaman di pot dengan media tanah. Terkena hujan, jadi bisa menimbulkan aroma khas tersebut. Jameka berjingkat ketika sesekali kilat menyambar bagai bayangan akar pohon disinari cahaya sekejap. Kadang-kadang disusul suara guntur yang cukup menekankan pendengaran. Akibat cuaca itulah, Tito dan Jameka malas keluar. Untuk makan malam, Tito memasak mie instan. “Nih.” Tito meletakkan semangkok mie di depan Jameka. Mangkok itu membuat alis Jameka mengernyit. “Kan, lo tahu betul gue kagak makan telur. Kenapa punya gue lo kasih telur? Topp

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2B

    Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2A

    Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengi

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1A

    You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjut

  • TAMING THE BOSS   Prolog

    “Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status