LOGIN“Udahalah kagak usah banyak drama.“
Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini memiliki maksud tertentu sampai ingin menraktir Jameka. Jadi, sebaiknya ia menolak. “Ini bukan soal traktir, To.” “Jangan banyak gaya! Inget, lo lagi bokek.” Lagi-lagi Jameka menganga. Ah, sialan! Memangnya gara-gara siapa ia jadi menanggung beban berat seperti ini? Mana perutnya sudah melilit gara-gara sumber makanannya sudah digunakan untuk berpikir sehingga lambungnya kosong. Jadi, ia harus mengisi energinya dulu dengan makan siang. “Tapi nggak harus di warteg juga! Lo tahu gue vegetarian yang berevolusi jadi vegan!“ Kali ini Tito menghela napas panjang. “Tenang aja, Yang Mulia. Di sini ada nasi pecel. Entar gue bilangin ke ibu wartegnya pakai tempe ama tahu goreng aja. Peyeknya juga yang kacang aja. Kagak usah pakai lauk ayam atau hewan-hewan lain.” Tak menunggu jawaban Jameka, ia lantas turun dan membukakan pintu untuk wanita. “Blazer lo lepas aja. Nggak usah bawa apa-apa juga. Blazer, tas, HP, semuanya taroh mobil.” Sekali lagi Jameka melihat ke sebelah kiri. Warteg tersebut kelihatan ramai. Namun, wajar, sekarang sedang jam makan siang. Banyak orang mengisi perut. Ada rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak berbaju PNS, tukang gorengan, sopir taksi, dan lain sebagainya yang makan di sana. Akhirnya wanita itu meluncur dari mobil setelah melepas blazernya, tanpa membawa apa pun seperti kata Tito. Sepatu hak tingginya beradu dengan paving ketika ia berjalan mengekori pria itu masuk warteg. Seluruh penghuni tempat makan tersebut sontak melihat mereka dan fokus pada Jameka lantaran mengira bule berpacaran dengan orang Indonesia. Hitung-hitung perbaikan keturunan. Tidak sedikit juga bapak-bapak yang langsung merasa matanya melek dan segar karena melihat Jameka yang sedikit mengibas kucir ekor kudanya untuk mengusir gerah. Sedangkan Tito celingukan mencari tempat duduk. Beruntungnya, ia melihat kursi kayu panjang yang bisa ditempati dua orang. Letaknya di depan etalese yang langsung bersinggungan dengan dapur. “Duduk sini dulu, biar gue pesenin.” Jameka menuruti Tito dan melihat pria itu memesan makan siangnya yang langsung diambilkan ibu penjual. “Yang satunya nasi campur lauk ayam goreng aja, Bu.” Dan ibu itu segera mengambilkan makanan Tito. “Makasih, Bu. Baik banget. Cantiknya tambah berkali-kali lipat loh, Bu.” Kedua alis Jameka naik sedikit mendengar pria itu bicara demikian. Tito ini memang edan kuadrat. Tidak pandang bulu, ibu penjual warteg pun digombali meski suaminya ada di belakang mereka. “Nih, pesenan lo.” Tito mengulurkan sepiring nasi pecel di meja depan Jameka dan meletakkan nasi campurnya sendiri. “Oh ya, minumnya apa?” “Air mineral aja, makasih.” Setelah mengambil sebotol air mineral, Tito mulai makan. Begitu pula dengan Jameka. Namun, wanita itu tiba-tiba sedikit terhenyak mendengar penjual sedang memasukkan ikan bandeng ke wajan panas. Suara minyak goreng yang menerima makanan itu membuat Jameka sontak memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya yang berdetak kencang mengiringi produksi air matanya yang ingin terjun bebas. “Kadal, ibu itu goreng ikan,” bisiknya, “ayo pergi dari sini.” Kunyahaan Tito sedikit melambat. “Ya elah .... Baru juga gue makan dua sendok. Tahan bentarlah .... Gue kelaperan.” Jameka menunduk ke bahu Tito, ingin menyembunyikan wajahnya yang kacau. “Dibungkus aja. Ayo!” desaknya. “Udahlah kagak usah dilihatin. Lo makan hadap gue aja.” Jameka mulai menumpahkan air matanya. “Kagak bisa. Suaranya masih kedengeran.” Hah! Merepotkan saja Yang Mulia Ratu satu ini. Niat Tito ingin makan masakan yang dirindukan dengan tenang, tetapi malah lupa memperhitungkan hal-hal sepele seperti ini. Ia memang sudah tahu sejak bertahun-tahun lalu bahwa Jameka adalah vegetarian yang berevolusi menjadi vegan lantaran menganggap hewan yang dimasak merupakan tindakan tidak animal welvare[2]. Dan Jameka selalu menangis apabila melihat orang mengolahnya. “Kadal, buruan dibungkus aja!” desak Jameka sembari menarik-narik lengan kemeja panjang biru dongker Tito yang sukses menyembunyikan tato-tato miliknya. Sedangkan yang di jari-jemari dan lehernya ditutupi alas bedak oleh Jameka sebelum berangkat ke Heratl. Setiap hari wanita itu membantunya demikian agar penghuni Heratl tidak menyangka Tito preman. Embusan napas berat Tito keluar begitu saja. Akhirnya ia mengalah. “Ya udah lo tunggu aja di mobil. Nih, kuncinya.” “Anterinlah, Kadal. Gue lagi nangis, nih! Masa harus balik sendiri? Kagak peka banget, sih, jadi cowok!” bisik Jameka, kian rajin menggoyang-goyang lengan Tito yang kini berwajah datar. Sekali lagi Tito mengembuskan napas. Banyak pula maunya wanita ini. Itulah kenapa Tito tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita dengan komitmen jangka panjang. Selain akibat trauma masa lalu yang diciptakan keluarganya, ia juga malas dengan hal-hal ribet seperti ini yang biasanya didapatkan dari seorang wanita. Andaikan Jameka bukan kakak sahabatnya, Tito pasti sudah meninggalkan wanita itu nangis berguling-guling di lantai mirip bocah tantrum, cuma gara-gara kasihan lihat ikan digoreng. “Udah nangisnya. Lo makan aja, tuh, pecelnya udah dibungkusin,” kata Tito ketika keduanya sudah berada di mobil. Berhubung tidak ada yang merokok, pria itu menyalakan pendingin udara. Jameka masih mengusap-usap air matanya menggunakan tisu. “Lo tadi lihat muka ikannya kagak? Kasihan banget, Kadal. Dia berhak hidup, tapi kenapa malah dibunuh terus dimakan? Lo juga, malah makan ayam!” Tito menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ck! Udah diem, deh, lo. Kalau kagak, gue tinggal balik ke warteg.” “Gue cuma mau nyadarin lo kalau tindakan lo itu kejam!” “Ssshhh! Berisik banget, sih, lo! Heran gue. Casing lo, tuh, cewek kuat, kagak cengeng, muka selalu datar kayak adek lo. Tapi kalau yangkut makanan dari hewan, lo bisa nangis kejer kayak begini ya?” Jameka menyeka ingus di tisu lalu dilemparkan ke Tito. Pria itu sontak menghindar. Beruntungnya nasi campur di pangkuannya tidak tumpah. “Eh! Jorok! Apa gunanya tong sampang di mobil gue, Yang Mulia?” Perdebatan keduanya berhenti akibat ponsel Jameka yang berdering nyaring. Wanita itu mengubek tas untuk mengambil ponsel, membaca sekilas yang menelepon, lalu menggeser layar sebelum menempelkannya ke telinga. Tito pura-pura makan dengan takzim, tetapi diam-diam memasang pendengarannya secara maksimal untuk mengorek informasi. Siapa tahu River Devoss yang menghubungi Jameka. Ia, kan, harus pasang badan sesuai pesan adik Jameka bahwa jangan sampai kakaknya menyentuh apa pun yang berhubungan dengan River. “Halo, Pa?” Kelegaan membajiri Tito. Rupanya calon mertuanya yang menelepon. Eh, maksudnya Om Allecio. “Jame, kok, suaranya bindeng gitu? Kamu lagi nangis? Nangisin cowok?” “Astaga, Papa. Enggaklah. Aku cuma nggak sengaja lihat ikan digoreng aja, kok. Ada ada, Pa?” Sembari mulai menyuapkan nasi pecel ke mulutnya, Jameka mendengar papanya melepas napas lega. “Untunglah bukan gara-gara cowok. Oh ya, nanti malem makan sama Papa ya?” “Oke, Pa. Entar biar aku ke rumah Papa.” “Sendirian aja ya, nggak usah ngajak Tito.” Jameka sontak melihat Tito yang sedang minum. Dan papanya masih menukas, “Atau dia boleh nganter kamu, tapi habis itu langsung pulang.” Jameka refleks melirik Tito. “Kenapa? Kan, biasanya sama dia juga, Pa.” “Udah ..., pokoknya dateng sesuai yang Papa bilang ya, Jame. Soalnya ada yang pengin Papa omongin sama kamu.” ______________________________________________ [2] Hak asasi hewanOh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di kepalanya; kenapa jadi seperti ini? Bukankah sebulan lalu Jameka—didukung penuh oleh adiknya—sudah mengatakan kalau masih asyik quirky alone? Jameka juga ingat betul Jayden pernah mengingatkan papa mereka kalau ia bisa mencari jodoh sendiri. Tidak perlu menggunakan acara perjodohan. Dahulu, papanya kebelet punya menantu dari wanita yang dicintai Jayden, sekarang dari Jameka. Sungguh memusingkan. Jameka benar-benar tidak bisa mereka-reka jalan pikiran papanya. Oke, umur Jameka memang sudah lewat kepala tiga. Untuk ukuran wanita yang tinggal di Indonesia, memang itu seperti aib keluarga. Namun, ada alasan kenapa ia bisa sampai seperti ini. Ia pernah hampir menikah dengan River. Sangat disa
Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengin berduaan sama bokap,” jawab wanita itu, menuruti kata papanya. “Yah ... padahal lagi pengin makan gratis,” gumam Tito yang tidak digubris Jameka. Kedua netra pria itu menelisik ke luar jendela mobil. Bangunan bergaya Italy ini tampak sepi dan gelap. Hanya bagian sayap kanan yang menyala, sementara ruang-ruang lain lampunya sengaja dipadamkan. Gemericik air mancur di kaskade depan pintu masuk juga tidak lagi menyambut. Ini akibat pengurangan jumlah pekerja dan penghematan daya super. Mulanya Tito sempat menyampaikan pendapat lebih baik menjual atau menyewakan mansion super megah ini dan Om Allecio bisa tinggal di kondominium Jameka. Sementara itu, ia dan Jameka bersama seluruh karyawa
“Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini memiliki maksud tertentu sampai ingin menraktir Jameka. Jadi, sebaiknya ia menolak. “Ini bukan soal traktir, To.” “Jangan banyak gaya! Inget, lo lagi bokek.” Lagi-lagi Jameka menganga. Ah, sialan! Memangnya gara-gara siapa ia jadi menanggung beban berat seperti ini? Mana perutnya sudah melilit gara-gara sumber makanannya sudah digunakan untuk berpikir sehingga lambungnya kosong. Jadi, ia harus mengisi energinya dulu dengan makan siang. “Tapi nggak harus di warteg juga! Lo tahu gue vegetarian yang berevolusi jadi vegan!“ Kali ini Tito menghela napas panjang. “Tenang aja, Yang Mulia. Di sini ada nasi pecel. Entar gue bilangin ke ibu wartegnya pakai tempe ama tahu goreng aja. Peyeknya juga
You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjutnya akan kita bahas besok pagi. Mohon maaf bila ada salah kata. Saya akhiri, selamat siang.”Orang-orang yang duduk mengelilingi meja ruang rapat mengangguk sebelum akhirnya berduyun-duyun keluar ruangan. Menyisakan Jameka Michelle—yang baru saja mengakhiri rapat—dan Tito Alvarez.“Abis makan siang jadwal gue apa?” tanya Jameka kepada Tito menggunakan bahasa nonformal. Memang begitulah kebiasaan dan kenyamanan keduanya kalau sedang tidak ada orang-orang kantor.Bergegas mengecek buku catatan kecil yang berisi seluruh jadwal Jameka, Tito menjawab, “Ninjau barang yang mau dikirim ke Summertown. Entar bisa kita tanyain ke Pak Sony.”Anggukan pelan menjadi pertanda Jameka menjawab Tito. Tubuhnya
“Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat. “Morning. Maaf, semalam aku sudah tidur, tidak tahu kapan kau datang. Tadi pagi aku juga tidak berani membangunkanmu,” balas wanita itu rikuh, lalu membiarkan sendok pengaduk di cangkir untuk menyentuh lengan-lengan kekar yang melingkari perutnya. Bubuhan bibir di kening dan pundaknya membuat ia merinding sekaligus merasa dicintai. “It’s okay. Kau mungkin kelelahan. Ingat, akhir-akhir ini kau memang sering kelelahan.” “Itu karena aku bekerja keras.” Benar, membangun usaha yang sedang diambang kebangkrutan memang sangat melelahkan. “Jangan terlalu keras bekerja, biar aku saja. Omong-omong, mula-mula kau membuat teh? Biasanya Americano.” Pria itu meletakkan dagu di pundak tunangannya







