مشاركة

Chapter 2B

مؤلف: Chacha Prima
last update تاريخ النشر: 2026-06-04 16:17:21

Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas.

Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di kepalanya; kenapa jadi seperti ini? Bukankah sebulan lalu Jameka—didukung penuh oleh adiknya—sudah mengatakan kalau masih asyik quirky alone? Jameka juga ingat betul Jayden pernah mengingatkan papa mereka kalau ia bisa mencari jodoh sendiri. Tidak perlu menggunakan acara perjodohan.

Dahulu, papanya kebelet punya menantu dari wanita yang dicintai Jayden, sekarang dari Jameka. Sungguh memusingkan. Jameka benar-benar tidak bisa mereka-reka jalan pikiran papanya.

Oke, umur Jameka memang sudah lewat kepala tiga. Untuk ukuran wanita yang tinggal di Indonesia, memang itu seperti aib keluarga. Namun, ada alasan kenapa ia bisa sampai seperti ini. Ia pernah hampir menikah dengan River. Sangat disayangkan, konspirasi alam semesta yang apik seolah-olah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama. Alias tidak berjodoh.

Napas berat yang tersembus pelan mengiringi garpu dalam genggaman Jameka yang sontak diletakkan piring secara perlahan. “Pa—” Wanita itu terpaksa menghentikan protes sebab kakinya disenggol kaki Allecio.

“Dicoba dulu, Jame.” Allecio lalu melihat satu per satu penghuni meja makan. “Iya, kan?” lanjutnya meminta persetujuan dari semua orang.

Para orang tua jelas mengangguk antusias bin girang. Jameka pun melihat Kevino yang masih makan gule kambing. Seolah-olah makanan itu merupakan unsur terpenting dari segala aspek yang ada di sekelilingnya.

Aneh, pikir Jameka. Kevino ini jelas kelihatan dingin, auranya juga pembangkang. Namun, kenapa pria itu sama sekali tidak protes? Atau memang tidak bisa? Lalu apa yang harus diperbuatnya?

Hingga acara makan malam selesai, Kevino hanya menjawab seadaanya dan mau-mau saja diminta mulai menjalin hubungan dengan Jameka. Sedangkan wanita itu selalu berkilah, menolak dengan cara halus. “Sekarang saya masih berpusing-pusing ria ngurus Heratl. Mungkin nanti kalau saya sudah bisa meng-handle Heratl, Pa, Om, Tante.”

“Oh, santai aja, Nak Jame. Pendekatan dulu aja pelan-pelan,” jawab Tante Bianca. Jelas tidak paham maksud omongan Jameka dan beralih ke Kevino, “Ya, kan, Kev?”

Pria itu baru mengangkat wajah dari mangkok gule yang sudah ludes lalu menjawab mamanya. “Atur aja, Bun.”

Eh! Mana bisa gitu! Enak bener kalau ngomong! Jameka memaki dalam hati. _________________________________________

“Pa, aku, kan, udah bilang, kalau masih asyik sendiri ke Papa. Jadi, Papa nggak perlu repot-repot buat jodohin aku,” protes Jameka setelah keluarga Davis Eclipster sudah meninggalkan mansion.

Mendengar itu, Allecio menghentikan langkahnya masuk rumah untuk menjawab putrinya. “Jame, Papa udah tua, Nak. Papa khawatir sama kamu.”

Dari wajah dan nada datar, Jameka berubah mengernyit. “Khawatir karena umurku? Nggak perlu khawatir, Pa. Entar kalau jodohku udah dateng, aku pasti bakalan nikah, kok. Dan kalau Papa ngiranya dengan perjodohan ini Heratl bisa dapet sokongan dana, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pa. Aku nolak.”

“Pikiranmu, kok, sama kayak adikmu?”

Oh, rupanya Jayden juga berpikir seperti Jameka? Baguslah kalau begitu. Jameka jadi penasaran, apakah Tito dan sahabat-sahabatnya akan sependapat?

“Nah, tuh. Si Bambank aja sampai mikir gitu. Mungkin orang lain juga bakal mikir gitu. Kenapa aku nggak boleh mikir gitu juga, Pa? Lagian, Papa ini aneh-aneh, deh.”

Wajah Allecio jelas berubah kecewa. “Papa ini udah tua, Nak. Papa cuma pengin lihat anak-anak Papa nikah didampingi Papa. Demi Tuhan, nggak ada maksud Papa buat jadiin kamu alat biar Heratl dapet sokongan dana dari Utama Raya.”

“Tapi aku—”

“Jame, jangan pikir Papa nggak tahu kamu baru putus sama cowok yang namanya River. Sampai nangis terus-terusan. Kamu pikir, Papa nggak sedih lihat kamu kayak gitu?”

Degh!

Satu hantaman kencang tak kasat mata tanpa tedeng aling-aling menumbuk ulu hati Jameka. Hingga rasanya sangat sakit ketika merasakan setiap detak yang dihasilkan. Ia pun diam seribu bahasa.

“Coba kamu ceritain River itu siapa?”

Jameka menunduk. “Maaf, Pa. Aku belum siap. Kalau udah siap, aku bakalan cerita, kok. Tapi please ... jangan libatin dia sama perjodohan Papa. Jangan tuduh dia macem-macem.”

Satu decakan lolos di bibir Allecio. “Gimana Papa nggak nuduh River macem-macem kalau lihat kamu nangis-nangis kayak gitu gara-gara dia terus?” tuntut Allecio. “Kamu ini putri Papa yang tegar. Tapi gara-gara River—”

“Pa,” potong Jameka, “pokoknya nggak kayak yang Papa pikir, kok. Intinya aku sama dia putus baik-baik. Papa nggak perlu khawatir.”

“Kalau baik-baik itu nggak bakal putus, Jame.”

Aku juga maunya gitu, Pa! Kalau bisa aku juga pengin sama River terus!

Alih-alih meneriakkan kegusaran hatinya mengenai River, Jameka memilih memejam dan mengeluarkan napas berat. Sehingga papanya kembali membuka suara.

“Papa heran. Nggak kamu, nggak Jayden, nggak ada yang punya niatan cerita River ke Papa,” cerca Allecio.

“Maksudnya Jay nggak cerita ke Papa? Emang dia tahu semuanya soal River?”

“Tahu, buktinya adikmu ngelindungi kamu sama River, kan? Papa yakin kalian sekongkol. Herannya lagi, kok, mau-maunya Jay sekongkol dari cowok yang udah bikin kamu nangis,” tuduh Allecio dengan nada sangat serius sehingga membuat jantung Jameka berdetak lebih cepat. Suhu badannya juga sontak menurun. Sungguh, ia berusaha tegar untuk bahasan topik sensitif; River Devoss.

Sementara itu benaknya masih bertanya-tanya: Jayden tahu? Adiknya tahu? Namun, kenapa tidak mengatakan apa pun padanya? Dan kalau Jayden tahu, itu berarti secara otomatis Tito juga tahu.

Jameka memejam sambil menggeleng. Benar-benar!

Jameka menatap papanya kembali selama beberapa saat. Otaknya berperang melawan batin dengan segala kecamuk tentang River. Papanya jelas tidak ingin dilawan kali ini. Jadi, apa daya? Ia menjawab dengan nada pelan. “Aku juga lagi usaha lupain dia, Pa.”

“Makanya, Jame. Papa nyodorin Kevino ke kamu,” bisik Allecio dengan nada penuh penekanan, dengan tangan bebas berkekspresi.

Jameka mengerjap beberapa kali sembari menggeleng. “Maaf, Pa. Kita bahas ini lain kali aja. Aku mau pulang ke kondo dulu. Aku butuh mikir soal semua ini.”

Tanpa mengidahkan papanya, wanita itu berjalan ke kamarnya, dengan cepat mengambil blezer dan tas, lalu naik taksi.

Di tengah perjalanan ke komdominium, tiba-tiba Jameka merasa tidak ingin sendirian lantaran takut menyiksa diri dengan membuka semua memori tentang River.

Ia berpikir ingin pergi ke rumah sahabatnya bernama Bella, tetapi yakin wanita hamil itu tak ingin ia bebani dengan perkara ini. Ingin pergi ke rumah Karina, tetapi yakin wanita itu sedang sibuk mengurus bayi. Ingin menelepon Jayden, tetapi pasti sibuk.

Apa boleh buat?

Jameka lantas menggeser-geser layar ponsel untuk menelepon Tito. Pada dering kelima, pria itu baru mengangkatnya. Dan hal yang pertama kali ia dengar adalah suara musik yang menggedor-gedor gendang telinga.

“Di kelab mana lo?” tuduh Jameka to the point.

“Kenapa emang, Yang Mulia?” balas Tito. Kendati berteriak untuk mengalahkan suara musik yang bertimpang tindih, tetap saja Jameka kesulitan menangkap maksudnya.

“Kagak kedengeran lo ngomong apaan. Gua WA aja. Baca dan bales cepet!”

Telepon ditutup sepihak oleh Jameka. Tak ingin membuang waktu barang sedetik pun, ia lantas megirim pesan ke Tito.

Jameka Michelle: Di kelab mana lo?

Tito si Kadal Sawah: Rahasia. Entar lo razia. Berape urusannya. Ada apaan? Gue kagak mau ngerespons kalau urusan pekerjaan. Capek cuy.

Decakan sebal Jameka lolos tanpa penyaring. Kurang ajar memang si Kadal Sawah ini! Berani-beraninya!

Jameka Michelle: Gue mau gabung minum-minum. Share loc, sekarang!

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 5B

    Evo abu-abu milik Arga berhenti di area penjemputan Heratl tepat sepuluh menit sebelum jam kantor mulai beroperasi. Suara mesin mobil itu masih menggeram rendah saat Tito membuka pintu depan dan menjejakkan sepatu ke pelataran. Ia lalu berucap, “Makasih, Ga.”Dari balik kemudi, Arga mengulurkan tangan untuk menagih, “Bensin, Bang.”Tito menutup pintu, lalu menunduk ke jendela yang masih terbuka. “Tagih ke Bos. Gue cuma tawanan yang kalian culik.”Di antara kepulan asap rokok, Lih menyembulkan wajah dari jok belakang. “Tawanan paling rewel.”“Daripada mulut lo, Jang. Jarang banget dibuka. Tapi sekalinya bunyi, langsung nyelekit.”Arga tertawa, tetapi masih rajin mengulurkan tangan sambil menodong Tito. “Tapi serius, Bang. Uang rokok mana, uang rokok?”“Dasar anak durhaka!” hardik Tito yang nyaris menampol Arga. “Noh, minta rokok si Bujang aja.”“Ya elah ... pelit amat,” gerutu Arga.Masih untung Tito hanya menepuk-nepuk atap mobil pria itu, bukan membaliknya mirip Hulk ngamuk. Ia juga

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 5A

    Ketika mereka kembali ke gedung utama, jam digital di lobi menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh menit. Aroma makanan dari pantry lantai dasar mulai naik melalui lorong layanan. Seseorang membawa kotak nasi melewati pintu akses, meninggalkan bau ayam bakar dan sambal yang langsung membuat perut Tito bereaksi. Di waktu yang sama ponsel di saku Tito bergetar. Dengan segera ia membaca pesan masuk. Si Bujang Lih Gashani: Di depan. Buruan. Satu pesan berikutnya masuk dari Arga. Arga: Kalau lima menit lagi lo belum turun, gue tinggal, ya, Bang. Tito mendecakkan lidah. Berani betul dus manusia ini berlagak akan meninggalkannya. Dari ponsel, ia mengangkat wajah dan melempar pandangan ke Jameka yang berjalan di sampingnya. Jika sudah berkutat dengan tablet, Tito tahu betul wanita itu tidak akan terusik oleh apa pun di sekitarnya. Maka dari itu, di tengah para pegawai yang berlalu lalang, Tito memanggil, “Bu Jameka.” Jameka belum sempat menjawab Tito saat ponsel genggam di t

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 4B

    “Ha?” Tito langsung terbengong-bengong. Walaupun Jameka sudah sempat menceritakan gosip itu, tetap saja Tito tidak siap mendengarnya keluar dari mulut rekan-rekan sekantor. “Pak Tito, kan, juga mau nikah sama Bu Carissa,” tukas Naray dengan raut wajah antusias. Baginya, tiada pagi yang lebih menyenangkan dari memulai hari dengan berita baik. Secara bersamaan, Tito masih penasaran. Dari mana sebenarnya gosip itu berasal? Tidak mungkin dari Jameka, kan? Masih sepagi ini, tetapi lagi-lagi otak Tito sudah dituntut bekerja maksimal dalam menggali ingatan untuk menelusuri hal ini. Ia mengingat perkataan Jameka tentang Carissa sendiri yang mengaku ia lamar di depan Jameka, Kevino, dan Vivian yang waktu itu menjenguk di rumah sakit. Jadi, gosip itu pasti beredar dari salah satu dari mereka, simpul Tito sederhana. Sekali lagi Tito meyakinkan bahwa bukan Jameka yang menyebarkan gosip itu. Untuk apa juga? Iya, kan? Tito menggali kemungkinan lain. Ya kali si Bang Ke alias Kevino itu ..

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 4A

    Tunggu sebentar ....Niat Tito melangkah keluar lift secara praktis mandek. Mirip angkot yang mengerem dadakan gara-gara diserobot emak-emak motoran. Biasanya si sopir angkot sontak dilema dalam mengambil keputusan. Antara mau tetap lanjut mengikuti alur emak-emak itu atau justru berbelok arah.Sebab si sopir tahu, sering kali lampu sein yang dinyalakan emak-emak tidak sejalan dengan laju motor. Sudah jadi rahasia umum kalau lampu sein kiri yang dinyalakan, motor malah dibelokkan ke kanan. Begitu pula sebaliknya. Kadang-kadang justru terus berjalan lurus, seolah-olah tidak pernah menyalakan lampu sein; mungkin juga lampu penanda itu hanya dianggap dekorasi untuk meramaikan suasana saja.Tidak heran masyarakat menyebut fenomena emak-emak yang mengemudikan motor di jalan raya dianggap sebagai raja jalanan. Dalam beberapa hal, bisa juga disebut penguasa bumi. Masih untung emak-emak itu tidak freestyle di atas motor. Kalau iya, sudah terbayang di otak Tito tentang kemacetan lalu lintas ka

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 3B

    “Kok, gue jadi deg-degan gini, ya?” gumam Jameka sembari celingak-celinguk mengawasi parkiran basemen Heratl. Tangannya memegangi seatbelt erat-erat seolah-olah ia akan terlempar kapan saja apabila mengendorkan jari-jemarinya. “Deg-degan kenapa?” tanya Tito yang duduk di balik kemudi di sebelah Jameka. Ia telah mematikan pendingin udara dan mesin mobil. Sekarang ia hendak melepas seatbelt. “Carissa masuk hari ini.” Merasa tidak ada masalah dengan itu, Tito berbalik tanya, “Ya terus kenapa?” Jameka sontak menoleh pria itu. “Udah gue ceritain, kan? Dia ngobrol sama gue, mohon-mohon sama gue biar gue ngejauhin lo. Dan gue bilang kagak mau. Gue bilang, lo keluarga gue. Kenapa gue harus ngejauhin keluarga gue sementara posisi gue secinta itu sama lo—hei! Jangan grepe-grepe!” Jameka menampol tangan Tito yang merayap ke paha kanannya. Rok pensilnya disingkap dan disentuh ringan oleh Tito membuatnya menegang, mendirikan buku kuduknya. Menelan ludah guna mencegah desahan keluar dari mulut

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 3A

    Nyaris dua jam kemudian, seluruh ruang sudah bersih dan wangi. Orang-orang yang disewa jasanya oleh Tito juga sudah pergi. Jameka duduk di meja makan. Pandangannya ke luar dinding kaca depan dapur. Ia melihat kegelapan yang menggantung di langit telah menghiasi Jakarta. Rintik-rintik air hujan memburamkan kaca.Membawa hawa sejuk dan petrikor—yang lucunya—tercium hingga di lantai paling atas gedung ini. Jameka mengira mungkin beberapa penghuni punya tanaman di pot dengan media tanah. Terkena hujan, jadi bisa menimbulkan aroma khas tersebut. Jameka berjingkat ketika sesekali kilat menyambar bagai bayangan akar pohon disinari cahaya sekejap. Kadang-kadang disusul suara guntur yang cukup menekankan pendengaran. Akibat cuaca itulah, Tito dan Jameka malas keluar. Untuk makan malam, Tito memasak mie instan. “Nih.” Tito meletakkan semangkok mie di depan Jameka. Mangkok itu membuat alis Jameka mengernyit. “Kan, lo tahu betul gue kagak makan telur. Kenapa punya gue lo kasih telur? Topp

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2A

    Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengi

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1B

    “Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini mem

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1A

    You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjut

  • TAMING THE BOSS   Prolog

    “Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status