MasukOh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas.
Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di kepalanya; kenapa jadi seperti ini? Bukankah sebulan lalu Jameka—didukung penuh oleh adiknya—sudah mengatakan kalau masih asyik quirky alone? Jameka juga ingat betul Jayden pernah mengingatkan papa mereka kalau ia bisa mencari jodoh sendiri. Tidak perlu menggunakan acara perjodohan. Dahulu, papanya kebelet punya menantu dari wanita yang dicintai Jayden, sekarang dari Jameka. Sungguh memusingkan. Jameka benar-benar tidak bisa mereka-reka jalan pikiran papanya. Oke, umur Jameka memang sudah lewat kepala tiga. Untuk ukuran wanita yang tinggal di Indonesia, memang itu seperti aib keluarga. Namun, ada alasan kenapa ia bisa sampai seperti ini. Ia pernah hampir menikah dengan River. Sangat disayangkan, konspirasi alam semesta yang apik seolah-olah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama. Alias tidak berjodoh. Napas berat yang tersembus pelan mengiringi garpu dalam genggaman Jameka yang sontak diletakkan piring secara perlahan. “Pa—” Wanita itu terpaksa menghentikan protes sebab kakinya disenggol kaki Allecio. “Dicoba dulu, Jame.” Allecio lalu melihat satu per satu penghuni meja makan. “Iya, kan?” lanjutnya meminta persetujuan dari semua orang. Para orang tua jelas mengangguk antusias bin girang. Jameka pun melihat Kevino yang masih makan gule kambing. Seolah-olah makanan itu merupakan unsur terpenting dari segala aspek yang ada di sekelilingnya. Aneh, pikir Jameka. Kevino ini jelas kelihatan dingin, auranya juga pembangkang. Namun, kenapa pria itu sama sekali tidak protes? Atau memang tidak bisa? Lalu apa yang harus diperbuatnya? Hingga acara makan malam selesai, Kevino hanya menjawab seadaanya dan mau-mau saja diminta mulai menjalin hubungan dengan Jameka. Sedangkan wanita itu selalu berkilah, menolak dengan cara halus. “Sekarang saya masih berpusing-pusing ria ngurus Heratl. Mungkin nanti kalau saya sudah bisa meng-handle Heratl, Pa, Om, Tante.” “Oh, santai aja, Nak Jame. Pendekatan dulu aja pelan-pelan,” jawab Tante Bianca. Jelas tidak paham maksud omongan Jameka dan beralih ke Kevino, “Ya, kan, Kev?” Pria itu baru mengangkat wajah dari mangkok gule yang sudah ludes lalu menjawab mamanya. “Atur aja, Bun.” Eh! Mana bisa gitu! Enak bener kalau ngomong! Jameka memaki dalam hati. _________________________________________ “Pa, aku, kan, udah bilang, kalau masih asyik sendiri ke Papa. Jadi, Papa nggak perlu repot-repot buat jodohin aku,” protes Jameka setelah keluarga Davis Eclipster sudah meninggalkan mansion. Mendengar itu, Allecio menghentikan langkahnya masuk rumah untuk menjawab putrinya. “Jame, Papa udah tua, Nak. Papa khawatir sama kamu.” Dari wajah dan nada datar, Jameka berubah mengernyit. “Khawatir karena umurku? Nggak perlu khawatir, Pa. Entar kalau jodohku udah dateng, aku pasti bakalan nikah, kok. Dan kalau Papa ngiranya dengan perjodohan ini Heratl bisa dapet sokongan dana, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pa. Aku nolak.” “Pikiranmu, kok, sama kayak adikmu?” Oh, rupanya Jayden juga berpikir seperti Jameka? Baguslah kalau begitu. Jameka jadi penasaran, apakah Tito dan sahabat-sahabatnya akan sependapat? “Nah, tuh. Si Bambank aja sampai mikir gitu. Mungkin orang lain juga bakal mikir gitu. Kenapa aku nggak boleh mikir gitu juga, Pa? Lagian, Papa ini aneh-aneh, deh.” Wajah Allecio jelas berubah kecewa. “Papa ini udah tua, Nak. Papa cuma pengin lihat anak-anak Papa nikah didampingi Papa. Demi Tuhan, nggak ada maksud Papa buat jadiin kamu alat biar Heratl dapet sokongan dana dari Utama Raya.” “Tapi aku—” “Jame, jangan pikir Papa nggak tahu kamu baru putus sama cowok yang namanya River. Sampai nangis terus-terusan. Kamu pikir, Papa nggak sedih lihat kamu kayak gitu?” Degh! Satu hantaman kencang tak kasat mata tanpa tedeng aling-aling menumbuk ulu hati Jameka. Hingga rasanya sangat sakit ketika merasakan setiap detak yang dihasilkan. Ia pun diam seribu bahasa. “Coba kamu ceritain River itu siapa?” Jameka menunduk. “Maaf, Pa. Aku belum siap. Kalau udah siap, aku bakalan cerita, kok. Tapi please ... jangan libatin dia sama perjodohan Papa. Jangan tuduh dia macem-macem.” Satu decakan lolos di bibir Allecio. “Gimana Papa nggak nuduh River macem-macem kalau lihat kamu nangis-nangis kayak gitu gara-gara dia terus?” tuntut Allecio. “Kamu ini putri Papa yang tegar. Tapi gara-gara River—” “Pa,” potong Jameka, “pokoknya nggak kayak yang Papa pikir, kok. Intinya aku sama dia putus baik-baik. Papa nggak perlu khawatir.” “Kalau baik-baik itu nggak bakal putus, Jame.” Aku juga maunya gitu, Pa! Kalau bisa aku juga pengin sama River terus! Alih-alih meneriakkan kegusaran hatinya mengenai River, Jameka memilih memejam dan mengeluarkan napas berat. Sehingga papanya kembali membuka suara. “Papa heran. Nggak kamu, nggak Jayden, nggak ada yang punya niatan cerita River ke Papa,” cerca Allecio. “Maksudnya Jay nggak cerita ke Papa? Emang dia tahu semuanya soal River?” “Tahu, buktinya adikmu ngelindungi kamu sama River, kan? Papa yakin kalian sekongkol. Herannya lagi, kok, mau-maunya Jay sekongkol dari cowok yang udah bikin kamu nangis,” tuduh Allecio dengan nada sangat serius sehingga membuat jantung Jameka berdetak lebih cepat. Suhu badannya juga sontak menurun. Sungguh, ia berusaha tegar untuk bahasan topik sensitif; River Devoss. Sementara itu benaknya masih bertanya-tanya: Jayden tahu? Adiknya tahu? Namun, kenapa tidak mengatakan apa pun padanya? Dan kalau Jayden tahu, itu berarti secara otomatis Tito juga tahu. Jameka memejam sambil menggeleng. Benar-benar! Jameka menatap papanya kembali selama beberapa saat. Otaknya berperang melawan batin dengan segala kecamuk tentang River. Papanya jelas tidak ingin dilawan kali ini. Jadi, apa daya? Ia menjawab dengan nada pelan. “Aku juga lagi usaha lupain dia, Pa.” “Makanya, Jame. Papa nyodorin Kevino ke kamu,” bisik Allecio dengan nada penuh penekanan, dengan tangan bebas berkekspresi. Jameka mengerjap beberapa kali sembari menggeleng. “Maaf, Pa. Kita bahas ini lain kali aja. Aku mau pulang ke kondo dulu. Aku butuh mikir soal semua ini.” Tanpa mengidahkan papanya, wanita itu berjalan ke kamarnya, dengan cepat mengambil blezer dan tas, lalu naik taksi. Di tengah perjalanan ke komdominium, tiba-tiba Jameka merasa tidak ingin sendirian lantaran takut menyiksa diri dengan membuka semua memori tentang River. Ia berpikir ingin pergi ke rumah sahabatnya bernama Bella, tetapi yakin wanita hamil itu tak ingin ia bebani dengan perkara ini. Ingin pergi ke rumah Karina, tetapi yakin wanita itu sedang sibuk mengurus bayi. Ingin menelepon Jayden, tetapi pasti sibuk. Apa boleh buat? Jameka lantas menggeser-geser layar ponsel untuk menelepon Tito. Pada dering kelima, pria itu baru mengangkatnya. Dan hal yang pertama kali ia dengar adalah suara musik yang menggedor-gedor gendang telinga. “Di kelab mana lo?” tuduh Jameka to the point. “Kenapa emang, Yang Mulia?” balas Tito. Kendati berteriak untuk mengalahkan suara musik yang bertimpang tindih, tetap saja Jameka kesulitan menangkap maksudnya. “Kagak kedengeran lo ngomong apaan. Gua WA aja. Baca dan bales cepet!” Telepon ditutup sepihak oleh Jameka. Tak ingin membuang waktu barang sedetik pun, ia lantas megirim pesan ke Tito. Jameka Michelle: Di kelab mana lo? Tito si Kadal Sawah: Rahasia. Entar lo razia. Berape urusannya. Ada apaan? Gue kagak mau ngerespons kalau urusan pekerjaan. Capek cuy. Decakan sebal Jameka lolos tanpa penyaring. Kurang ajar memang si Kadal Sawah ini! Berani-beraninya! Jameka Michelle: Gue mau gabung minum-minum. Share loc, sekarang!Menjelang malam, Tito berdiri di depan pintu keberangkatan internasional dengan ransel menggantung di satu bahu.Lampu-lampu putih di langit-langit terminal memantul pada lantai yang mengilap. Suara roda koper beradu dengan pengumuman penerbangan, bunyi pemindai, percakapan para penumpang, dan tangisan seorang anak yang tidak mau melepaskan balon berbentuk pesawat.Di tengah seluruh keramaian itu, Lih berdiri di samping Tito dengan kedua tangan masuk ke saku jaket. Sejak mengantar Tito dari basecamp sampai terminal, pria itu hanya mengeluarkan kalimat seperlunya.Tito sudah mandi, mengganti pakaian, memasukkan dua kemeja ke ransel, lalu berangkat tanpa sempat memeriksa ulang barang bawaannya. Kepalanya masih penuh oleh Jayden, restu yang belum diberikan, serta Jameka yang menatapnya terlalu lama ketika ia pamit dari kantor.Lih melihat ransel di bahunya.“Paspor?”“Ada.”“Tiket?”“Di ponsel.”“Dompet?”“Ada.”“Pengisi daya?”Tito menoleh. “Ada.”“Obat?”“Gue kagak sakit.”“Buat mabuk
Tito menutup tutup wadah makanan Kevino sedikit lebih keras daripada yang diperlukan. “Kenapa?” tanya Jameka tanpa mengangkat wajah dari kroket ketiganya. “Kagak kenapa-kenapa.” “Kalau nggak kenapa-kenapa, itu kotak makan nggak akan lo banting.” “Gue taruh.” “Pakai dendam.” Tito memindahkan seluruh kiriman Kevino ke tas krem. Supnya sudah berkurang setengah, lauk ayam tinggal beberapa potong, sedangkan pudingnya ludes akibat pengorbanan besar Tito dalam menetralisasi jampi premium. Buket mawar masih berdiri di meja Jameka. Merah. Segar. Menyebalkan. Sejak tadi bunga itu terus masuk ke sudut pandangnya. Tito menggeser vasnya sedikit ke kanan. Kurang jauh. Ia geser lagi sampai nyaris jatuh dari ujung meja. “Jangan dirusak,” tegur Jameka. “Gue kagak ngerusak.” “Lo dorong terus dari tadi.” “Ganggu mata.” “Ya, jangan dilihat.” “Merah banget.” “Namanya juga mawar merah.” “Norak.” Jameka menatap bunga tersebut, lalu beralih kepada Tito. “Kroket lo juga bentuknya norak. Te
Tito mendorong pintu ruang CEO memakai bahu. Kedua tangannya penuh. Tas bekal hitam tersangkut di pergelangan kiri, sementara tangan kanannya membawa tas makanan berwarna krem. Buket mawar merah dijepit di antara lengan dan dada sampai beberapa kelopaknya nyaris masuk ke hidung. Ia baru hendak mengumumkan kedatangannya ketika suara Jameka lebih dahulu menyambut. “Iya, Ke. Udah sampai.” Langkah Tito langsung berhenti. Jameka duduk di belakang meja dengan ponsel menempel di telinga. Tatapannya mengarah ke layar laptop, satu tangan menggulir halaman dokumen. Wajahnya tetap datar, tetapi nada bicaranya terdengar jauh lebih lunak daripada saat memerintah Tito mengambil berkas. Tito menatap tulisan nama perusahaan pada tas krem. Lalu menatap mawar. Kemudian menatap Jameka yang masih berbicara dengan mantannya. Lengkap sudah penderitaannya. Jameka menunjuk meja rendah di dekat sofa, memberi isyarat agar semua barang diletakkan di sana. Tito malah berdiri di tempat. “Iya, nanti a
Vivian malah terlihat kagum. “Baik banget, Pak.” “Saya asistennya.” “Kalau semua asisten begini, saya mau jadi CEO juga.” “Coba dulu jadi ketua RT, Bu.” Vivian mendecakkan lidah sambil tertawa. Carissa belum ikut tersenyum. Pandangannya berpindah dari tas makanan Tito menuju kiriman Kevino. Dua makanan untuk satu perempuan. Satu dibuat oleh mantan yang masih dianggap kekasih. Satu lagi dibuat oleh pria yang menurut rumor akan menikah dengannya. Keadaan itu pasti mengganggu sesuatu di dalam kepalanya. Namun, Carissa lekas menarik alasan yang paling mampu menenangkan dirinya. “Pak Kevino memang tahu kesukaan Bu Jameka,” katanya. “Mereka, kan, udah lama dekat.” Vivian langsung menyambut. “Nah, iya. Bundanya juga pasti udah kenal Bu Jameka.” “Pasti.” “Tuh, kan? Berarti mereka emang nggak berantem.” Carissa tersenyum puas. “Dari tadi gue juga bilang begitu.” Tito menatap keduanya bergantian. Mereka sedang membangun kesimpulan dari mawar, makanan, dan satu
“Jangan dibalik, anjir!” Tito menangkap tas bekal yang nyaris meluncur dari jok motornya. Wadah makanan di dalamnya bergeser, menimbulkan bunyi pelan yang langsung membuat tengkuknya menegang. Ia sudah mengorbankan sekian ekor ikan, lima adonan, satu dapur, dan kesehatan ginjal anak-anak basecamp demi membuat makanan itu. Kalau kroketnya hancur sebelum sampai ke mulut Jameka, Tito bakal ikut hancur bersamanya. Tas bekal itu dirapatkan ke dada. Setelah memastikan tutup wadah masih terkunci, Tito memasuki gedung Heratl dengan langkah hati-hati. Baru beberapa meter melewati pintu kaca, langkahnya melambat. Meja resepsionis dipenuhi kiriman. Sebuah tas makanan berwarna krem berdiri di atas meja. Bentuknya elegan, bersih, lengkap dengan pita kecil pada pegangannya. Di sampingnya ada buket mawar merah yang dirangkai bersama bunga-bunga putih mungil. Mewah. Rapi. Menyebalkan. Vivian berdiri sambil membaca kartu kecil yang diikatkan pada tas makanan. Carissa merapat di s
Tito menaruh sepiring kroket di tengah meja ruang makan dengan bunyi sedikit keras. “Coba.” Arga yang tadi duduk sambil memainkan ponsel langsung mengangkat wajah. Lih, di seberangnya, hanya melirik piring tersebut selama satu detik sebelum kembali menatap layar. Tidak ada satu pun tangan yang bergerak. Tito menarik kursi. “Kenapa malah diem?” Arga menunjuk isi piring menggunakan dagu. “Itu makanan?” “Ya iyalah.” “Gue memastikan dulu.” Lima benda berwarna cokelat tua tergeletak di atas piring. Bentuknya berbeda-beda. Satu bulat, dua lonjong, satu pipih, sedangkan benda terakhir tidak memiliki bentuk yang dapat dipertanggungjawabkan. Permukaannya juga mengilap oleh minyak. Lih mengangkat satu kroket memakai garpu, memutarnya perlahan, lalu meletakkannya kembali. “Gosong,” komentarnya. “Kagak gosong.” Tito menarik piring mendekat untuk memeriksa. “Ini namanya matang maksimal.” “Hitam.” “Cokelat tua.” “Hitam.” “Lo buta warna, Bujang.” Lih tidak membantah
Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengi
“Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini mem
You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjut
“Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat







