LOGINWilda begins having nightmares and wakes up naked in strange places soon after her parents die. Soon after, a man enters her life, turning it upside down. She is being hunted by what she doesn't know, let alone understand. An alpha and a hunter, one to kill her, one to use her, none to save her... none to help her. What will become of our lost wolf, who doesn't know anything of the world she is about to be thrust into?
View More“Ah! Di situ, Mas … enak.”
“Enak?” Pram sedikit mengernyitkan dahinya, lalu melirik wanita yang ada di bawahnya dengan dahi penuh keringat. “Ini ya, Bu?” “Shh … iyaa itu, Mas!” Pram kembali fokus pada kegiatannya. Tangannya bergerak cepat menjamah bagian-bagian yang terasa kurang pas. Namun, pikirannya terasa mulai hilang arah. Sejak tadi, Pram bertanya soal posisi plafon yang tepat pada Sisil, tetangganya, karena wanita itu meminta bantuan untuk memperbaiki plafon kamarnya yang bocor. Namun, setiap kali Pram bertanya, wanita itu menjawab dengan suara yang terdengar seperti desahan. Entah itu sugesti pikiran Pram saja karena hampir 15 menit melihat Sisil yang hanya mengenakan gaun tidur satin yang nyaris transparan. Bahkan, dari atas tangga besi itu, ia juga bisa melihat jelas onggokan buah kenyal nan bulat yang tidak diberi penyangga. Atau wanita itu memang sengaja bersuara demikian. Pram tidak tahu! Yang jelas, Pram ingin segera menyelesaikan urusannya di sini. Bahaya kalau sampai pikirannya semakin liar pada Sisil, sebab wanita itu sudah bersuami! “S–sudah, Bu, yang ini,” kata Pram setelah selesai memasang plafon itu dalam posisi yang sesuai. “Oke, turunnya pelan-pelan ya, Mas. Aku pegang tangganya biar gak geser,” kata Sisil, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk memegang dua sisi tangga besi itu. Ketika Pram kembali menatap ke bawah saat akan turun dari tangga besi itu, ia kembali melihat bongkahan kenyal Sisil. ‘Gila! Gila! Gila!’ batin Pram berteriak. Ia pria normal, sejak tadi diberi pemandangan seperti itu jelas membuat tubuhnya panas dingin. Setahu Pram, Sisil ini berusia sekitar 35 tahunan. Tapi, bentuk tubuhnya benar-benar masih terawat, seperti remaja usia 20an. Dari luar, kulitnya putih bersih, terlihat lembut, dan kencang. Dan sekarang, Pram juga baru tahu kalau ternyata bagian dalamnya juga terlihat lebih wah, padat dan kenyal. “Kenapa, Mas? Kok bengong?” tanya Sisil penasaran, senyum di wajahnya tidak pernah pudar. Pram menggelengkan kepalanya. “Nggak, Bu.” Sisil tersenyum, lalu mundur selangkah ketika melihat Pram sudah menuruni tangga. “Makasih ya, Mas Pram. Plafon kamar aku jadi gak bocor lagi,” kata Sisil lembut. “Iya, Bu, senang kalau saya bisa membantu,” jawab Pram sopan. “Kalau gitu saya pamit–” “Eh, tunggu!” potong Sisil. “Sebentar, Mas, aku udah siapin minuman di kulkas. Aku ambilin, ya!” Belum sempat Pram menjawab, Sisil sudah lebih dahulu pergi ke dapur. Tanpa Pram sadari, matanya langsung tertuju kepada lekuk tubuh Sisil dari belakang. Pram menelan ludahnya, tenggorokannya terasa kering. Pram buru-buru menggeleng, menghilangkan pemikirannya tentang Sisil. Tak lama, Sisil kembali dengan segelas minuman dingin yang tampak begitu segar. Ia menyuguhkannya sambil duduk di atas sofa. “Minum, Mas. Ini jus buah naga!” Pram mengikuti Sisil duduk di atas sofa lalu segera mengambil gelas dan menyesap manisnya jus buah naga yang sudah disiapkan Sisil. “Terima kasih, Bu. Ini enak.” “Ahh.. Enak, ya, Mas?” tanya Sisil dengan senyum yang mengulas di atas wajah. Pram terperanjat dengan pertanyaan itu. Entah perasaannya saja atau bagaimana, tetapi Sisil kembali mengeluarkan suara seperti desahan. Meski baru saja disuguhi minum, tenggorokan Pram terasa kering lagi. Pram hanya mampu mengangguk salah tingkah. “I-iya, Bu.” “Oh, iya, Mas Pram,” Sisil memajukan tubuhnya, membuat Pram terbelalak. Pasalnya, belahan dada Sisil semakin terlihat dari sini. “Kamu betulan nggak mau jual rumahmu? ‘Kan lumayan kalau Mas Pram masih kerja serabutan.” Rumah milik Pram memang sudah lama ingin dibeli keluarga Sisil untuk memperluas lahan. Sebetulnya itu penawaran menarik karena Pram belum memiliki pekerjaan tetap. Uang hasil menjualnya pasti bisa Pram gunakan untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa waktu. Namun, Pram enggan menjualnya. Ia ingin mempertahankan satu-satunya harta yang dimiliki. “Nggak, Bu,” kata Pram tegas sambil terdengar sopan. Sisil tersenyum dan mengangguk, mencoba menghormati keputusan Pram. “Kalau gitu, Mas Pram mau nggak kerja sama saya?” Pram terkejut. “Kerja sama Bu Sisil?” “Iya!” seru Sisil. “Kerja kayak tadi, Mas Pram. Bantu aku membetulkan plafon atau pipa bocor, oh, Mas Pram juga bisa nyetir ‘kan?” “Bisa, sih, Bu…,” Pram mengerutkan dahinya, terlihat sedikit bingung dengan tawaran Sisil. “Tapi, maaf, Bu. Memangnya suami Bu Sisil nggak bisa membantu buat hal-hal itu?” Alih-alih tersinggung, Sisil justru tertawa mendengar pertanyaan itu. “Ah, kamu kayak nggak tahu aja, Mas Pram! Suamiku ‘kan jarang ada di rumah!” Pram mengingat-ingat. Memang suami Sisil jarang terlihat di rumah. Pram pikir karena suaminya sering bekerja lembur. “Lagipula, Mas Pram,” Sisil melanjutkan. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi. Napas Pram tercekat. Wangi tubuh Sisil semakin tercium. “Suamiku itu pemalas. Nggak kayak, Mas Pram yang rajin!” Pujian itu tidak membuat Pram tergerak sebab inderanya terlanjur dimanja oleh wangi dan tubuh Sisil yang menggoda. Pram menelan ludahnya lagi. Ia merasa sebentar lagi dirinya akan menjadi gila. Lalu, pikirannya kembali mengarah kepada penawaran Sisil. Jika ia menerima tawaran pekerjaan itu, apakah Sisil akan terus berpakaian dan berlagak seperti … ini? ‘Ah, tapi kayaknya nggak mungkin. Paling kebetulan!’ batin Pram meyakinkan dirinya. Lagipula, Pram membutuhkan uang untuk hidup sehari-hari. Di hadapannya, Sisil dengan kulit seputih susu dan wajah cantiknya masih menatap Pram, menunggu jawabannya. “Gimana, Mas Pram? Aku bayar dengan layak kok!” Tidak ingin membuat wanita itu menunggu padahal sudah baik untuk menawarkan, Pram akhirnya membuat keputusan. “Saya mau, Bu Sisil,” ujar Pram. Wajah Sisil langsung berbinar mendengarnya. “Syukurlah!” Pram mengangguk sopan. “Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, Bu.” Pram dan Sisil berdiri dari duduknya di sofa. Namun, ketika ingin berjalan ke pintu depan, Sisil tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan… “Aduh!” Sebelum Sisil jatuh, Pram dengan sigap menangkapnya dari belakang. Punggung Sisil berada di atas dada Pram, sementara tangan kanan Pram jatuh di atas dada Sisil yang dibalut pakaian tipis.CONAN The guilt I feel as I leave Wilda's room is overwhelming. 'I did what I has to do to get to the truth.' I try to convince myself. 'And it's not like my feelings were fake.' I say to myself. I just used them to manipulate her. Which sounds really bad, now that I think about it. But then again, the whole point of finding the prophesied wolf was to manipulate it to be on our side. It was never expected that the wolf would come with us willingly. I just never expected to feel any amount of guilt over the methods. 'Any other person would do the same.' I tell myself. And I don't even know Wilda enough to feel like I'm betraying her... I already have a degree of her trust, I should be glad over the advantage I have over anyone else who would try to manipulate her. I should be glad. I'm doing exactly what I came here to do. So why is my heart heavy? Why in The Moon goddess's name did I get involved with her? I look around the majestic corridors of the Gray's mansion to distract
WILDA Before logic can convince me otherwise, I wrap my small towel around my body and step out of the shower, sparing a moment to wipe the steam off the mirror, just to make sure I look as best as I can considering the circumstances. The bags under my eyes are still visible, but the red in my eyes is gone and I am flushed enough that, thanks to the hot shower... or maybe the man in my room, I no longer look like a ghost. I freeze in place the minute I step out of the bathroom and catch a glimpse of him, closing the door behind me to stop the steam from following me into the room. His head lifts at the sound of the door closing and a second later, blue eyes stare back at mine with such intensity my legs almost turn to spaghetti. Cooked spaghetti. I find myself unable to move, breathe or think as his gaze drops to the towel around me, down to my legs,lingering for a second before meeting my eyes and dropping to the towel again. I get the feeling that he wants it off, that he wan
WILDA.I'm running in the woods. It's dark and I can't tell what time of the night it is. The woods are dark as midnight on a moonless night, but somehow, I can still see the shadows of bushes and trees. The night is quiet, the only sound that of my footsteps and behind me… panting…panting… like the sound of a dog… or a wolf.My heart pounds in my chest. ‘Run faster,’ My brain pleads. Despite my efforts, I do not seem to be moving at all. I feel as if I'm running on a treadmill, all effort but no distance.Branches break behind me, fallen twigs snap under the weight of my pursuer's feet, dry fallen leaves crunch under shoes, the sound coming closer and closer, each sound making my heart race faster and my efforts seem pointless.“Wildaaaa...” A voice sings, the familiarity of the sound making the cold air catch in my throat. Goosebumps grow on my bare arms, nothing to do with the cold that makes the air I exhale visible before me.‘I need to get away.’ I think, willing my legs to move
WILDA.Damian does not speak or look at me the whole way. His grip on my arm does not loosen either. It is as if he is afraid I might still run away or something.We walk to the house in silence, my heart beating hard in my chest and my palms dripping with sweat. what will happen to me? What will I say should he ask me what I remembered? What did I remember?Grey fur… yellow eyes… white fur… red eyes… skin turning inside out into fur… the sound of bones crushing… my father… am I going crazy? Why did no one tell me I was there? Why did no one tell me I was the reason for my father’s death?My eyes begin to tear up as my chest grows heavier. No. I will not cry. Not in front of my sadistic brother. I sneak a look at him walking beside me, eyes locked on our house in the distance, there is a troubled expression on his face I have never seen before. It disappears the minute he notices me watching him and I look away immediately.Somehow, I get the feeling he will not continue his interrog






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews