Mag-log inSelang seminggu setelah Belva mengalami pendarahan, ia membawa surat rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Malu-malu, Belva menurunkan celananya, lalu berbaring kaku di ranjang. Ia menggigit bibir kala merasakan perut bawahnya ditekan.
“Tahan, ya. Akan sakit sedikit.”
Mendengar suara tegas itu, Belva mengangguk pelan. Ia menghela napas panjang, lalu meringis sedikit setelahnya.
“Maaf. Agak tidak nyaman memang.”
Deg. Belva menatap wajah di atasnya. Tampan dengan wajah proporsional. Tubuhnya juga bagus dan harum.
Dokter ini... dokter yang ia tabrak saat melamun di depan apotek. Belva sampai sulit mencerna apa yang diucapkan karena fokusnya pada wajah mempesona itu.
Belva menahan napas, tubuhnya masih kaku di ranjang. Wajahnya panas bukan hanya karena rasa tidak nyaman, tapi juga karena jarak yang begitu dekat.
“Sudah.” Alvin, dokter kandungan berusia empat puluh dua tahun, menarik alat pipih itu perlahan, lalu membersihkan gel dari perut bawah Belva dengan tisu medis seolah tak menyadari betapa degup jantung pasien mudanya semakin berantakan.
“USG-nya jelas. Tidak ada kelainan serius,” katanya sambil menatap layar sebentar, lalu menuliskan sesuatu di berkas pasien. “Kram yang kamu rasakan dan pendarahan yang terjadi lebih karena hormon dan siklus menstruasi yang tidak teratur.”
Dokter itu kembali menatap layar dan menjelaskan beberapa gambar pada Belva yang hanya bisa termangu.
“Aku akan berikan obat untuk menstabilkan hormon. Kita pantau satu bulan lagi.”
Belva berusaha mengangguk, meski pipinya masih memerah. Ia merasa malu sekali karena sejak tadi terlalu fokus pada wajah tampan dokter itu, sampai nyaris lupa kalau ini hanyalah pemeriksaan medis biasa.
Alvin menutup map berkasnya dan menatapnya lagi, kali ini lebih personal. “Pikiran juga mempengaruhi kondisi rahim.” Suaranya tetap datar namun entah mengapa membuat Belva salah tingkah.
Belva menghela napas lega, namun segera mendengar kalimat lanjutan.
“Jadi, kemungkinan siklus menstruasimu kacau karena faktor stres. Pikiranmu sedang berat akhir-akhir ini?”
Pertanyaan itu membuat matanya terasa panas. Ia menunduk, meremas ujung bajunya.
Stress. Kata itu menamparnya.
Bagaimana tidak?
Sejak ia menolak melayani atasannya, pekerjaannya sebagai staff hotel semakin menumpuk. Pak Surya menjelek-jelekkan kinerjanya di depan staff bahkan tamu hotel.
“Iya, Dok.” Suaranya bergetar. “Akhir-akhir ini memang banyak tekanan.”
Alvin menatapnya, sorot mata yang lembut membuat Belva membeku. “Kamu masih muda. Jangan biarkan masalah luar merusak tubuhmu. Kamu harus lebih sayang pada dirimu sendiri.”
Ucapan sederhana itu justru membuat dada Belva terasa hangat. Ada sesuatu yang berbeda. Sampai membuat jantung Belva berdebar tak karuan.
“Baik, Dok.” Ia buru-buru merapikan celananya, menghindari tatapan itu.
Dokter Alvin memberi resep untuk Belva. Konsultasi itu selesai. Belva dan Dokter Alvin saling bertatapan sejenak sebelum berpamitan.
Hujan petir menyambut Belva yang melangkah keluar dari rumah sakit. Tangannya masih memegang map hasil pemeriksaan, sementara pikirannya berputar pada kata-kata dokter Alvin. “Jangan biarkan masalah luar merusak tubuhmu.”
Termenung, ia berdiri di halte, menunggu bis yang tak kunjung datang. Angin membawa air hujan, membuat pakaiannya basah.
Dua puluh dua tahun hidupnya hanya dikelilingi masalah. Ibunya meninggal saat ia berusia lima tahun. Ayahnya pun menyusul pergi saat ia SMP dengan meninggalkan hutang pengobatan di rumah sakit.
Suara deru mesin mobil membuatnya menoleh. Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depannya. Kaca jendela perlahan turun, menampilkan sosok yang sama sekali tidak ia sangka.
“Sendirian?” suara itu menyapanya tegas.
Belva terperangah. Lelaki yang membuka kaca jendela mobil itu adalah dokter yang barusan memeriksanya. “D-Dr. Alvin?”
Alvin mencondongkan sedikit tubuh, tatapannya lurus padanya. “Kamu mau pulang? Ayo, biar aku antar. Sudah malam, tidak aman menunggu di jalan.”
Belva buru-buru menggeleng. “Tidak usah, Dok. Aku bisa naik bis—”
“Tapi bis-nya lama.” Alvin memotong cepat. Tatapannya serius, nyaris membuat Belva tak berkutik. “Hujannya juga semakin deras.”
Sejenak, keheningan menggantung. Belva bisa merasakan jantungnya memukul di dada.
Lalu, Alvin menambahkan dengan suara yang lebih dalam. “Aku tidak akan tenang kalau membiarkanmu pulang sendiri malam-malam begini.”
Belva mengumpat dalam hati saat telah duduk di dalam mobil. Kenapa ia bisa mudah sekali menerima perhatian dari lelaki yang baru ia kenal?
“Ke mana?” Suara Dokter Alvin memecah keheningan.
Spontan, Belva menoleh. “Oh. Hotel Imperial Queen, Dokter. Aku bekerja di sana.”
Dokter itu memutar kendaraannya tanpa berkomentar lagi.
Kepala dan tubuh Belva basah karena air hujan. Ia mulai menggigil. Dokter Alvin mengatur suhu di dalam mobil, namun tetap saja Belva merasa kedinginan.
“Kamu lompat ke belakang. Di dalam tas, ada kemejaku. Pakai saja daripada kamu sakit karena pakaianmu basah.”
Kepala Belva segera menggeleng. “Tidak perlu, Dok. Terima kasih.”
“Jangan membantah. Perjalanan kita masih jauh. Ganti pakaian basahmu.”
Lagi-lagi, Belva menurut. Di kursi belakang, ia menunduk serendah-rendahnya untuk berganti pakaian. Setelahnya, ia kembali ke kursi depan.
“Terima kasih, Dokter.”
“Tak masalah. Aku memang selalu membawa pakaian ganti di mobil. Jangan salah sangka, baru kali ini juga saya mengangkut pasien.”
Belva mengangguk pelan. Hingga mobil akhirnya tiba di gedung apartemen pegawai hotel. Hujan masih sangat deras.
“Pakai ini. Jangan keras kepala. Psikismu sedang tidak baik-baik saja. Paling tidak jangan menambah sakit tubuhmu.” Dokter Alvin memberikan jas hujan dari bawah kursinya.
Belva terpaku. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa merasakan kehangatan tubuh Alvin. Aroma maskulin bercampur wangi antiseptik khas dokter menyusup ke inderanya. Jantungnya berdetak tak karuan lagi.
“Terima kasih, Dokter…,” suaranya hampir berbisik.
Tidak ada balasan. Belva segera menggunakan jas hujan. Mobil itu langsung pergi begitu ia keluar.
Bagi Belva, Dokter Alvin adalah sosok penolong.
Belva bahkan berharap bisa bertemu lagi dengan dokter itu.
Tiba-tiba, Belva berdiri. “Kalian kenapa, sih? Aku nggak papa. Tadi sebenarnya... cuma ngantuk.”Semua orang di ruangan saling berpandangan. Kemudian, mereka menatap Belva.“Serius nggak papa?” Hendra menatap wajah Belva.Kepala Belva mengangguk, lalu menunjuk Alvin. “Aku kurang tidur gara-gara ayangku ini.”Alvin mengangkat kedua alisnya. Lalu ekspresinya dengan cepat berubah. Ia tersenyum pada semua orang.“Kalian pasti mengerti maksud Belva.”Sambil menggeleng pelan, satu persatu keluar dari ruang ganti. Belva dan Alvin berjalan paling belakang. Alvin mengecup kepala sang istri.“Maaf, kamu aku jadikan alasan. Tapi, aku nggak bohong semalam memang kurang tidur.” Belva berbisik.“Aku nggak keberatan menjadi tamengmu, Sayang.” Lengan Alvin merengkuh bahu Belva. “Merahasiakan sesuatu itu memang sangat berat.”Belva menatap wajah Alvin. “Setelah pesta usai, bisa kita umumkan.”Para tamu mulai berpamitan, suasana berubah menjadi jauh lebih santai. Musik band telah berhenti. Lampu-lampu d
Pernikahan Estella dan Hendra berlangsung meriah.Tamu-tamu memenuhi area resepsi—wajah-wajah yang datang dari dua dunia yang berbeda namun malam itu menyatu dengan alami. Staf kesehatan dengan setelan rapi berbincang hangat di satu sisi, sementara para model dan rekan industri kreatif Estella menambah kilau dengan gaun dan jas yang elegan. Tidak ada jarak yang terasa canggung. Semua hadir dengan satu tujuan yang sama: merayakan cinta.Upacara sakral telah selesai. Doa-doa terucap khidmat. Ketika pasangan pengantin melangkah keluar dengan senyum lega, tepuk tangan mengalun panjang. Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih ringan. Musik mengalir—band kenamaan tampil di panggung, membawakan lagu-lagu yang mengundang tamu bergoyang kecil sambil menikmati hidangan.Di antara keramaian itu, Belva memilih duduk di meja VIP. Tidak berusaha menarik perhatian. Piringnya terisi secukupnya. Ia makan dengan tenang, menikmati jeda yang jarang ia dapatkan di tengah pesta besar. Sesekali matanya m
“Apa kata Mamamu? Kok kamu matikan teleponnya?” Belva bertanya pada Arumi yang sudah menurunkan ponsel dari telinganya.Arumi menatap Belva, lalu menunduk. “Mama cuma langsung bilang minta dibayar tebusannya biar bisa keluar dari penjara.”Belva dan Edo saling bertatapan sejenak, lalu mengembuskan napas berat. Mereka membiarkan Arumi yang termangu sendiri menatap ke luar jendela.Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen, Arumi segera minta waktu bicara dengan Alvin berdua saja. Belva meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Sementara Edo pun langsung berpamitan.“Ada apa, Arumi?”Selama putrinya bercerita, Alvin menatapnya dengan ekspresi datar. Hingga akhirnya Arumi berhenti dan memeluk Alvin sambil terisak.“Aku nggak tau harus bagaimana, Pa?”Sejenak Alvin hanya diam. Lalu perlahan, tangannya mulai mengelus punggung sang putri. Ia mengurai pelukan Arumi dan menatap wajahnya.“Kenapa Mama bisa sampai seperti ini?” Arumi balas menatap mata Alvin.Sebelum menjawab, Alvin menghela na
Musim semi menyambut keluarga yang berkumpul lengkap di luar negeri untuk menghadiri wisuda Arumi dan Edo yang hanya selisih satu hari.Di halaman kampus yang luas, toga-toga hitam bergerak seperti gelombang kecil. Fredy dan Yarra berdiri berdampingan, wajah mereka dipenuhi senyum yang tidak dibuat-buat. Belva berdiri di sisi Alvin, tangannya sesekali merapikan kerah jas suaminya—kebiasaan kecil yang kini terasa wajar.“Papa, Belva,” panggil Arumi dari kejauhan.Ia melangkah mendekat dengan senyum lebar, toga membingkai wajahnya yang matang. Di sampingnya, Edo berjalan dengan langkah tenang. Mereka berhenti tepat di depan keluarga.“Selamat, Rumi,” ucap Fredy, suaranya berat namun hangat.Yarra memeluk cucunya lama. “Kami bangga sekali.”Belva tersenyum bahagia lalu menggenggam kedua tangan Arumi. “Gimana? Sudah lega?”Arumi tertawa kecil dan mengangguk. “Aku akhirnya selesai.”Edo menunduk sopan. “Terima kasih sudah datang.”Alvin menepuk bahu Edo singkat. Tidak banyak kata, tapi isy
Saat semua orang bergembira dan menjabat tangan Edo dan Arumi bergantian. Alvin terdiam sambil menatap Edo tanpa berkedip. Lalu, perlahan, ia menyeret Edo ke pojok ruangan.“Sejak kapan?” Alvin melipat kedua yang tangannya di perut sambil menatap Edo tanpa jeda.“Umm... maaf, Om. Kami semakin dekat saat kembali bersama ke luar negeri. Karena satu kampus juga, kami jadi sering bertemu.” Edo menjelaskan.“Kenapa kalian diam-diam? Belva tau?”Edo menggeleng. “Arumi bilang, kalau Belva tau, ia akan langsung cerita pada Om. Arumi mau ini menjadi kejutan.”“Oh yaa.” Alvin mendelik. “Aku memang sangat terkejut.”Edo menunduk santun. “Maaf, Om.”Lalu, Alvin teringat sesuatu. “Belva pernah bilang kamu sudah memiliki kekasih.”“Kami tidak berjodoh.” Edo menghela napas. “Kami sudah putus sebelum aku memutuskan sekolah lagi.”“Begitu.”“Aku minta restu, Om.”Alvin mendekat ke telinga Edo dan mengancam, “Kupatahkan lehermu kalau sampai menyakiti putriku!”Setelahnya, Alvin bergabung pada keluargan
Pagi itu datang dengan situasi yang berbeda. Alvin memeluk dan mengelus punggung Belva yang terbuka. Wanita itu masih nyaman tidur dalam dekapan.“Sayang, aku harus siap-siap ke rumah sakit,” ucap Alvin.“Umm... aku masih mau dipeluk begini.” Belva menggumam sambil mengeratkan pelukannya.Alvin terkekeh. “Lima menit lagi. Oke?”Tidak ada jawaban. Hingga lima menit berikutnya, Alvin mengangkat tubuh Belva dan membopongnya ke kamar mandi.“Aku masih mau tiduran.” Belva merengut kala Alvin melepas pakaiannya.“Sekalian aku mandi, Sayang. Setelah aku berangkat, kamu bisa tidur lagi.”Akhirnya, Belva pasrah dimandikan sang suami. Dengan manja, Belva mengalungkan lengannya di leher Alvin saat tangan lelaki itu mengusap sabun ke seluruh tubuh istrinya. Mereka bertatapan, berciuman hingga kedua kaki Belva kini naik ke pinggang Alvin.Sambil menjaga keseimbangannya di lantai yang basah, Alvin membantu Belva bergerak di atas tubuhnya. Setelah sama-sama mendapat pelepasan, Belva menjejakkan kaki







