Masuk"Ada apa lagi sekarang?"Suara Max terdengar penasaran saat menerima teleponku.Aku berdiri di dekat jendela kantor sambil menatap keluar. Dadaku masih naik turun menahan emosi setelah berbicara dengan Cindy."Yang kau katakan hari itu... Ayo kita cari buktinya," ucapku tanpa bertele-tele.Max terdengar hampir tertawa, tetapi berhasil menahannya. "Kukira kau tidak percaya dengan teoriku. Kau bilang itu omong kosong."Aku mengangguk panjang. menyadari kekeliruanku sendiri. "Aku salah," akuku pelan. "Sekarang, aku rasa semua hal perlu diselidiki. Apalagi kalau menyangkut nama baik Sam."Max kemudian bertanya, "Kau yakin siap melakukannya?""Aku siap." Jawabanku keluar tanpa ragu."Kau juga siap menerima segala konsekuensinya?"Aku menggigit bibir. Suara Max kembali terdengar, lebih menekan."Termasuk kehilangan orang yang kau sayangi?"Aku benar-benar terdiam. Jantungku berdebar karena aku tahu apa yang dia maksud. Untuk sesaat, aku merasa ragu. "Audrey... kalau kau mau bertindak, kau
Hari itu, karena Max sudah masuk kantor, aku langsung menemuinya. Rasa penasaran yang kutahan-tahan tak lagi bisa kutekan lebih lama. Kepalaku nyaris meledak karena terus memikirkannya. "Kau pasti tahu siapa orangnya, kan?" Aku langsung melontarkan pertanyaan tanpa banyak basa-basi pada Max. Pria itu berdiri di dekat jendela menatap ke luar beberapa saat sebelum menjawab."Aku memang mencurigai seseorang." Dia menyilangkan tangan di dada. "Dan waktu itu di rumah duka, dia terlihat sangat gelisah setelah menerima telepon.""Siapa?" tanyaku cepat. "Siapa dia?""Dia salah satu dokter di rumah sakit." Max berhenti sejenak. "Namanya Dokter Andrew."Aku langsung tercengang. "Dokter?"Mataku membesar. "Mereka bekerja bersama?"Max mengangguk singkat."Jadi selama ini mereka selingkuh sambil bekerja?"Rasanya sulit dipercaya. Namun semakin kupikirkan, semua semakin masuk akal.Tiba-tiba aku teringat bagaimana reaksi Cindy saat mengetahui hubunganku dengan Sam. Dia memang marah, tetapi tid
Aku spontan duduk lebih tegak dengan tubuh menegang."Tidak. Tidak mungkin...," gumamku tak yakin.Dengan tangan gemetar, aku memutar ulang rekaman itu dari awal.Mendengarkannya sekali lagi.Lalu sekali lagi.Dan sekali lagi.Setiap kali hasilnya tetap sama. Aku tidak salah dengar. Isi percakapan itu benar-benar di luar dugaan. Bahkan setelah mendengarnya berulang kali, aku masih sulit mempercayainya.Karena jika isi percakapan itu benar...Maka banyak hal yang selama ini kuanggap sebagai kebetulan ternyata bukan kebetulan sama sekali.Dan yang lebih mengerikan...Kemungkinan besar seseorang telah berbohong kepada kami semua sejak awal.**Max pulang dari rumah duka keluarga Arsen lebih cepat setelah aku menghubunginya dan memintanya datang menemuiku.Sejak turun dari taksi tadi, aku terus duduk di teras rumah tanpa berpindah tempat. Pikiranku dipenuhi potongan-potongan kejadian dari masa lalu. Serta kemungkinan-kemungkinan mengerikan yang terus berputar di benakku.Suara mesin mobil
Aku menatap pesan itu beberapa saat. Lalu menghela napas panjang."Baiklah," gumamku lesu.Kalau Max harus menyuruhku melakukan ini di tengah suasana duka seperti sekarang, pasti ada alasan kuat.Akhirnya aku menyusul Cindy. Kutemukan wanita itu berhenti di sudut yang jauh lebih sepi dari ruang utama.Kepalanya celingukan beberapa kali sebelum dia mengeluarkan ponsel.Untungnya, aku sudah bersembunyi di balik pilar besar sambil mengintip hati-hati. “Kenapa kau bersamanya?” suara Cindy terdengar samar. Dia mungkin marah. “Kau sudah tahu kau tidak seharusnya muncul di sini.”Aku langsung memfokuskan pendengaran. Sayangnya suara lawan bicaranya tidak terdengar sama sekali. Hanya suara Cindy yang sesekali sampai ke telingaku.Nada bicaranya menunjukkan bahwa percakapan itu bukan percakapan biasa. Entah dengan siapa dia bicara. Yang jelas, orang itu membuatnya sangat gelisah.Aku semakin penasaran. Dengan sangat hati-hati, aku mulai bergerak mendekat. Selangkah demi selangkah. Sebisa mung
Rahang Cindy beradu keras.Otot di wajahnya menegang, sementara tatapannya menyiratkan seolah dia ingin melumatku hidup-hidup saat itu juga. Dia jelas tidak terima ditantang seperti ini. Terlebih olehku.Aku menatapnya tanpa berkedip."Apa kau akan membuatku terkena serangan jantung juga?" tanyaku tajam.Mata Cindy langsung membesar karena marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Namun alih-alih menyangkal, dia justru mendekat dan berkata pelan dengan senyum tipis yang membuat bulu kudukku meremang."Kau benar. Aku memang memberitahu mendiang ayah mertuaku tentang perselingkuhan kalian."Tanganku langsung mengepal. Seharusnya aku tidak terkejut. Sejak awal aku sudah mencurigainya. Tetapi mendengar pengakuan itu keluar langsung dari mulutnya tetap membuat dadaku sesak.Dia benar-benar melakukannya. Sungguh jahat."Pria tua itu sangat terkejut," lanjut Cindy santai. "Dan tidak bisa menguasai dirinya."Senyumnya semakin sinis."Itu artinya dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa putranya
Saat taksi yang kutumpangi berhenti di depan kediaman keluarga Arsen, dadaku langsung terasa makin sesak.Halaman rumah besar itu telah dipenuhi mobil-mobil mewah berwarna gelap. Orang-orang berpakaian hitam keluar masuk dengan wajah muram. Beberapa pelayan tampak sibuk menyambut tamu, sementara suara tangisan samar terdengar dari dalam rumah.Suasana duka itu terasa begitu nyata.Tanganku gemetar saat membuka pintu taksi. Bahkan kakiku nyaris lemas ketika melangkah turun.Tuan Henry benar-benar sudah tiada.Aku hampir berlari masuk ke dalam rumah. Para penjaga di depan gerbang hanya menatapku sekilas tanpa mencoba menghentikan. Mereka sudah mengenalku.Namun baru saja aku memasuki ruang duka, langkahku mendadak terhenti.Cindy berdiri tepat di depan pintu seperti sudah menungguku sejak tadi.Wajahnya dingin dan penuh kebencian.“Apa yang kau lakukan di sini?” desisnya tajam.Aku berusaha tetap tenang meski napasku memburu. “Aku ingin memberi penghormatan terakhir.”“Penghormatan?” Ci
Sebuah pesan singkat.Aku tercekat.Tulisan tangan itu langsung kukenal walau tak serapi biasanya. Itu tulisan Sam. Mungkin ditulis terburu-buru.“Aku tidak bisa menolongmu di sini, tapi aku akan menghentikan sumber masalahnya. Kuatlah. Kau akan kujemput setelah kondisimu membaik.”Mataku langsung
Sial. Pintu itu tidak terbuka.Entah karena tenagaku terlalu lemah atau karena memang ada yang menahannya dari luar.“Ibu!” teriakku serak, seperti desau angin. “Buka pintunya!”Di luar, suara ibu langsung terdengar lagi.“Tolong suruh sekuriti mengusir mereka sekarang juga. Kondisi putriku bisa ja
"Sean?" Aku berusaha memanggilnya dengan suara serak. "Ibu?" Tak ada sahutan apa pun.Awalnya aku ingin mengabaikannya dan kembali beristirahat. Tubuhku jelas belum pulih. Bahkan bernapas dalam saja terasa sulit. Tapi rasa penasaranku jauh lebih besar daripada rasa lelah itu.Suara gaduh di luar
“Ada apa?” tanya ibu cepat. Dia ikut tegang.Perawat menelan ludah pelan. Masih menatap tak yakin ke sela pahaku.“Ada flek darah.”Jantungku seperti berhenti.Perawat menatapku dengan wajah serius. “Tunggu sebentar. Saya akan memanggil dokter.”Sementara itu kram di perutku kembali datang. Lebih k







