ログインAku menarik napas panjang.Max yang berdiri tidak jauh dari ambang pintu memilih diam. Dia memberi kami ruang, tanpa benar-benar pergi. Tatapannya lurus padaku, seolah berkata bahwa keputusan ini ada di tanganku.Aku menunduk sejenak.Jemari tanganku saling menggenggam erat di pangkuan, mencoba menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. Suasana yang tadi sempat hangat karena kepulangan Ibu kini berubah lagi. Lebih tegang dan menekan.“Ibu…” suaraku pelan, hampir tidak terdengar.Ibu langsung menangkap nada itu. Dia mengenalku terlalu baik.“Audrey,” panggilnya lembut, tapi ada kecemasan di sana. “Lihat Ibu.”Aku mengangkat wajah perlahan."Apa ini seperti yang ibu pikirkan?" Tatapannya yang cukup dalam membuatku tidak bisa mengelak. Aku lekas menggenggam tangannya. “Kalau aku cerita…” kataku ragu, “Ibu harus janji tidak panik.”Ibu langsung mengernyit. Suaranya merendah dengan tajam. “Audrey... kau masih berhubungan dengan pria itu?"Mataku beralih pada Max sesaat. Bukan meminta ba
“Ibu?” teriakku sambil membuka pintu dan melangkah masuk dengan cepat.Tanganku langsung meraba sakelar. Lampu menyala satu per satu, menerangi ruang tamu yang kosong. Tidak ada suara televisi, tidak ada aroma masakan, tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja pulang.Aku tidak berhenti. Langkahku berubah jadi berlari.Aku membuka pintu kamar Ibu. Kosong.“Kamar mandi?” gumamku panik, langsung berlari ke sana.Kosong juga.Di dapur pun tidak ada.Jantungku mulai berdegup tidak karuan.“Ibu?” suaraku mulai pecah oleh rasa takut.Aku berbalik dan berlari ke kamarku sendiri, berharap entah kenapa dia ada di sana.“Audrey—” Suara Max yang masuk menghampiriku terdengar, tapi aku melewatinya begitu saja.“Ibu! Ibu di mana?”Aku membuka pintu kamarku. Tetap kosong.Semua ruangan sudah kulihat. Tapi ibu tak ada di mana pun. Aku bahkan membuka kamar tamu, berharap keajaiban kecil dan masih kecewa. “Ibu!” Suaraku menggema cukup kerras, tapi tidak ada jawaban.Aku berbalik cepat ke arah Max yan
“Tak perlu khawatir,” bisik Max tiba-tiba. Aku terlonjak kecil. Suara itu muncul begitu dekat di telingaku, nyaris seperti hembusan napas yang tidak diundang. Aku yang sejak tadi masih berdiri di tempat yang sama, berusaha menyusun kembali pikiranku setelah menjelaskan konsep panjang lebar, bahkan tidak menyadari kapan dia sudah berada di sampingku. Lamunanku buyar seketika. Beberapa langkah dari kami, Tuan Henry dan Nyonya Miranda sedang berbincang dengan Sam. Obrolan mereka tentang tamu terdengar samar. “Selama aku di sini, tak ada yang bisa menekanmu,” lanjut Max pelan. Aku menoleh padanya. Wajahnya kembali terlihat santai seperti biasa. Aku menunduk sedikit. “Terima kasih,” ucapku pelan. “Apa?” Aku mengangkat kepala, sedikit mengernyit. “Terima kasih.” “Apa?” ulangnya lagi, kali ini dengan ekspresi pura-pura tidak mengerti. Aku menatapnya kesal. “Terima kasih,” kataku lagi, sedikit lebih keras. Max masih belum bereaksi. Dia malah memiringkan kepala, mendekat
“Dokter Cindy Arsen, lama tak bertemu,” sapa Max dengan wajah datar. Tidak ada senyum ramah seperti biasanya. Tidak ada nada santai yang sering dia gunakan untuk mencairkan suasana. Kali ini, suaranya terdengar formal. Cukup dingin, seperti sengaja menjaga jarak. Cindy membalas tatapan itu tanpa berkedip. “Harusnya aku sudah tahu kau di balik rencana ini,” gumamnya pelan, matanya menyipit tipis. Aku mengernyit tanpa sadar. Ucapan itu… terdengar seperti tuduhan. Aku tidak mengerti maksudnya. Bahkan, aku baru menyadari satu hal yang lebih mengganggu: bagaimana mereka saling mengenal? Max melangkah maju perlahan, dengan tenang. Dia berhenti tepat di sampingku, cukup dekat hingga kehadirannya terasa seperti benteng yang berdiri di antara aku dan Cindy. “Audrey adalah stafku,” katanya tegas. “Dia sudah melewati pelatihan dan memiliki pengalaman di lapangan.” “Dalam waktu sesingkat itu?” Cindy mengangkat alis, jelas tidak percaya. “Untuk orang secerdas dia, itu bukan hal
Kenapa wanita jahat itu ke sini?Tanganku mengepal. Mataku menyipit menahan amarah. Aku masih ingat ancamannya terakhir kali kami bertemu. Tak kusangka kami akan bertemu lagi secepat ini.Cindy berjalan dengan langkah pasti menuju ke arah kami, sepatu haknya mengetuk lantai halaman dengan ritme teratur yang terdengar semakin jelas.Namun begitu jarak kami tinggal beberapa langkah, matanya menangkap keberadaanku. Langkahnya goyah seketika, melambat tanpa benar-benar berhenti, seolah tubuhnya masih ingin maju sementara pikirannya tertahan di tempat.Wajahnya kosong. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi. Hanya kebingungan yang bercampur kecemasan.Matanya langsung beralih pada Sam, tajam dan penuh tanya.“Kenapa dia di sini? Kau membawanya?”Aku refleks melirik ke arah Tuan Henry dan Nyonya Miranda, jantungku berdegup tidak beraturan. Ketakutan terburukku langsung muncul.Bagaimana kalau Cindy kehilangan kendali dan membongkar semuanya di sini?Sam sendiri tampak terkejut. Alisnya menge
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku sedikit panik. Takut ada yang memergoki kami."Menurutmu apa?" tanya Sam balik menantang. Keningku berkerut menatapnya. “Jadi,” suaranya rendah, “kau menikmatinya?”Aku mengernyit. “Apa?”“Perhatian dari Max.”Jantungku langsung berdetak lebih cepat.“Apa kamu menikmatinya?”Aku menggeleng cepat. “Jangan mulai lagi, Sam. Dia hanya—”“Hanya apa?” potongnya.“Dia hanya berusaha memperlakukan stafnya dengan baik,” jawabku tegas, meski suaraku sedikit tertahan karena jarak kami yang terlalu dekat.Sam mendengus pelan. Senyum kecut tersungging di bibirnya.“Ya. Terlihat sekali. Dia pasti memperlakukanmu sangat baik sampai kau betah bekerja dengannya.”Tangannya sedikit mengencang di pinggangku.“Kau menolak ajakanku ke luar negeri,” lanjutnya, suaranya semakin rendah, “dan mulai menghindar dariku.”Dadaku terasa sesak.“Itu tidak ada hubungannya dengan Max,” kataku tegas. “Aku sudah bilang.”“Aku percaya,” potongnya cepat. “Tadinya.”Satu kata itu cukup me
"Bukan begitu, Audrey?" tanya Max menatapku lekat.Aku tak bisa menjawab.Seluruh tubuhku kini menegang. Bukan karena sentuhannya kasar, tapi justru karena terlalu lembut. Terlalu akrab di mata orang lain.Tuan Henry dan Nyonya Miranda tertawa kecil, menganggapnya sebagai interaksi yang menggemaska
Aku tercekat menatap mereka bergantian.Tapi lagi-lagi, sepertinya hanya aku di sana yang menyadari situasi berbahaya ini.Mataku beralih ke sandaran kursi. Menatap pegangan halus yang berubah jadi lebih tegas dalam hitungan detik. Tidak ada yang bicara. Hanya dua orang yang sama-sama tidak berniat
“Hai, Audrey,” sapa Max sok akrab. Kepalanya mengangguk kecil.Aku berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mencoba menyusun ekspresi yang seharusnya profesional. Tanganku refleks merapikan ujung lengan kemeja, sementara mataku sempat melirik ke arah Sam di sampingku.Dia diam terpaku. Pastinya d
"Kalau soal itu, kalian bisa membicarakannya di meja makan," protes Nyonya Miranda halus. Kalimat itu terlontar ringan, sebuah candaan kecil. Tidak ada nada curiga, hanya keyakinan bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan. Bagi mereka, urusan kami sebatas atasan dan bawahan. Atau seorang ayah dan







