LOGIN“Ini tempatnya, Mbak?” Tama menatap perempuan yang merupakan tetangga kontrakan Lilik tersebut dengan kening mengkerut. “Iya, ini, Mas. Beberapa hari yang lalu juga ada yang mencari Mbak Lilik. Perempuan. Bahkan dia menitipkan sesuatu untuk Zidane.” Tama terdiam, tapi otaknya berpikir menerka-nerk
Amira terdiam, menunggu jawaban Tama. Sebenarnya dia sendiri ragu, tidak yakin dengan idenya ini. Tapi, Amira merasa perlu melakukan itu demi kebaikan Zidane. [Jangan memintaku yang tidak-tidak, Mir! Mustahil aku kembali dengan Lilik. Itu tidak mungkin terjadi.] Tama mengirimkan pesan balasan pada
“Lilik?” Samar, Amira memanggil wanita yang sedang menuntun bocah cilik sambil menenteng tas yang terlihat berisi dagangan. “Pak tolong berhenti sebentar.” Amira meminta kepada sopir taksi. “Tapi argonya tetap jalan, ya, Mbak.” Sopir mengingatkan. “Nggak masalah, Pak. Nanti saya lebihkan untuk
“Kapan acara lamarannya, De?” tanya Fikri di negeri seberang sana. Amira baru saja menceritakan niat baik Reza yang ingin melamarnya kepada Fikri. “Rencananya empat hari lagi, Bang. Abang sekarang sudah merestui ‘kan?” tanya Amira yang belum begitu yakin sepenuhnya terhadap restu Fikri. “Insya
“Terima kasih banyak, ya, Mas. Maaf nggak bisa menyuruh mampir. Ini susah sangat malam.” Amira menghampiri pria yang berada di balik kemudi bulat setelah memarkirkan motornya di depan rumah. “Memang seharusnya aku tidak mampir, De. Kalau mampir nanti bahaya,” kelakar laki-laki di balik kemudi yang
“Mau sampai kapan kamu diam di situ, Lilik? Mau sampai kapan kamu membiarkan Zidane mengacak-acak permainannya? Cepat bereskan rumah ini! Aku muak melihat kamu yang seperti ini terus! Sudah berapa kali aku bilang? Jangan biarkan anakmu mengacak-acak ruang tamu atau ruang tengah dengan permainannya i
Di media sosial, sebuah akun dengan nama ‘Manusia Unik’ memposting kotak nasi berlabel Amira catering dan beberapa beberapa lauk pauk di dalamnya. [Sumpah, aku tidak akan pernah menggunakan catering ini. Catering sampah. Tidak punya adab dan etika. Tidak bisa memanusiakan manusia. Lihat baik-baik,
POV Lilik “Mas, mana cukup uang segini? Semua harga itu naik. Lebih baik ibu sendiri beli di tukang sayur. Biar tahu berapa harga-harga sayuran dan daging. Aku tak mau mempermalukan diri sendiri di pasar dengan membawa uang segitu.” Aku menatap jengkel pada suami. Kutatap uang selembar berwarna b
POV 3 “Ibu tidak perlu repot-repot ke sini kalau hanya untuk membujuk saya agar rujuk kembali ke Mas Tama. Mau menangis darah pun Ibu meminta, saya tetap akan menolak.” Dengan tegas Amira menolak permintaan konyol mertuanya tersebut. Mumun menarik napas kasar mendengar jawaban Amira. Perempuan
“Ada apa, Bi?” tanyaku pada Bibi setelah menjawab salam beliau. Aku sedikit menjauh dari posisi Bu Sukma. “Nduk. Kamu bisa pulang sekarang? Mertuamu datang ke sini. Bibi takut dia membuat onar.” Jawaban Bibi membuatku membelalakkan mata. Tumben? Ada apa ini? Apa yang sedang ia rencanakan? “Seka







