LOGINYuda yakin, kecurigaannya benar. Dia hanya perlu mengumpulkan bukti-bukti hingga Renata dan Darren mengakuinya.
Mobil Darren berhenti di dekat sebuah gang. Dista menoleh, lalu melepas seat belt. Darren menatap ke samping mobil. Berbeda dengan rumah Darren yang megah, bangunan di sekitar sini sangat sederhana. "Kamu tinggal di sini, Dis?" "Iya, Pak! Hanya kontrakan ini yang dekat dengan tempat kerja!" Darren mengangguk. "Oke, terima kasih atas kerja samanya! Sudah aku transfer. Coba dicek!" Dista segera membuka handphone. Matanya mendelik memperhatikan angka-angka yang masuk ke rekeningnya. Ternyata, Darren mentransfer lebih besar dari yang mereka sepakati. "Pa-Pak, ini banyak sekali!" "Untuk tambahan tabungan anakmu!" ucap Darren, lalu membuka lock bagasi. "Kamu ambil saja leci dan makanannya. Bisa kamu bagi sama keluargamu!" "Tap-tapi itu punya Pak Darren!" "Tidak apa-apa, Dista! Aku tidak mungkin makan lagi malam ini. Sudah, kamu ambil saja semuanya!" "Ah, terima kasih, Pak! Bapak sama anakku pasti senang. Terima kasih! Semoga Pak Darren segera mendapatkan Nina yang asli!" Dista tertawa lirih, lalu turun dari mobil. Darren hanya tersenyum. Sejenak, laki-laki tampan itu terdiam. Bayangan wajah murung Renata kembali mengobrak-abrik alam warasnya. "Aah! Sepertinya aku sudah gila! Apa di dunia ini hanya ada Renata? Dia istri orang, masih ada perempuan yang ..." Tiba-tiba Darren tersenyum miris. Kembali rasa bimbang menggelayut di hati. Jika terus memperhatikan Renata, Darren takut semakin jatuh cinta dan mengkhianati persahabatannya dengan Yuda. Namun, jika Darren bersikap tidak peduli, Renata akan terus menderita. Darren tidak tega setiap kali bertemu pandang dengan Renata. Tatapan gelisah penuh trauma itu seolah minta tolong. Dengan berat, Darren melajukan mobil pulang ke rumah. Namun, pikirannya justru masih tertinggal di rumah Yuda. Pada sosok istri lemah, Renata Mardanina. * Siang sudah bergelincir menginjak sore. Renata menghentikan mobil di depan rumah. Dia urung memarkir mobilnya di garasi. Tatapan Renata tertuju mobil Yuda yang terparkir di halaman. "Mas Yuda sudah pulang?" gumam Renata heran. Renata terdiam sejenak, lalu dengan langkah berat turun dari mobil. Begitu menginjak teras, Renata disambut suara tidak asing. Mendengar kedatangan Renata, tiga orang yang tadi berbincang-bincang, langsung diam. "Assalamualaikum!" Renata langsung mendekati Yuda, mencium punggung tangan suaminya itu. Lalu, Renata mendekati dua tamu yang tidak lain orang tua Yuda. Dengan takzim disalaminya kedua orang itu. "Baru pulang, Ren! Bagaimana di sekolah?" "Iya, Bu! Maaf, telat karena harus menyelesaikan bikin soal ulangan!" "Apa mobilmu tidak ada masalah lagi, Sayang?" Yuda menatap ke luar jendela. Renata segera duduk di samping suaminya itu. "Tidak, Mas! Mungkin karena beberapa hari tidak dipakai, jadinya mogok! Kata orang bengkel masalah listriknya, aku tidak paham!" "Kalau sering mogok, kamu ganti mobil saja!" usul Yuda santai, tetapi langsung ditolak oleh Renata. Wanita itu menatap sekilas ke meja. Hanya ada teh dan dua toples kue. Renata bergegas bangkit, lalu pergi ke kamar, berganti baju. Setelah itu, Renata ke dapur. Ternyata, di sana seorang ART sibuk memasak. "Maaf saya baru pulang, Bi. Bibi masak apa?" tanya Renata sambil mencuci tangan. "Ini, Bibi mau goreng ayam dan bikin sop, Bu! Pak Yuda bilang, untuk siang seadanya saja. Nanti malam katanya makan di luar!" Renata terdiam. Dia sedikit melongok ke arah ruang tamu meskipun terhalang dinding. Lantas, Renata menarik napas pelan. Dia bukan keberatan mertuanya tidur di rumah ini. Renata hanya kecewa pada Yuda yang tidak memberi tahu sebelumnya. Renata hendak membantu Bibi memasak. Namun, justru dicegah oleh ibu mertuanya. Perempuan setengah tua itu menuntun tangan Renata, mengajaknya duduk di ruang makan. "Kamu jangan terlalu capek, Rena!" tegur Bu Rasti, ibunda Yuda. Tatapan Renata mengikuti pergerakan tangan Bu Rasti. Wanita paruh baya itu mengambil sebuah paper box dari dalam plastik berlogo supermarket. "Ibu bawa oleh-oleh khusus untukmu! Kemarin Budhe pulang umroh!" ucap Bu Rasti antusias membuka paper box. Begitu kotak berwarna cokelat itu terbuka, Renata langsung menelan ludah getir. Buah kurma muda berwarna hijau kekuningan menyesakkan dada Renata. "Kurma muda?" Suara Renata tercekat. "Iya, Ibu tahu, kalian sudah ikhtiar, sudah berdoa. Tapi tidak ada salahnya, to Nduk, kalau Ibu ikut ikhtiar untuk kalian?" "I-iya, Bu. Terima kasih!" Bu Rasti tersenyum, lalu mengusap bahu Renata. Lantas dia menatap pada Yuda yang mendekat. Rupanya, Yuda penasaran dengan oleh-oleh khusus dari ibunya itu. "Buat apa kurma muda, Bu?" Sebenarnya, pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Yuda tahu, ibunya ingin segera menimang cucu. Bu Rasti kesal dengan pertanyaan anak tunggalnya itu. "Kamu itu! Umurmu sudah tiga puluh tahun, Yuda! Sampai kapan pacaran terus? Dua tahun sudah cukup untuk kalian pacaran! Saatnya kasih cucu pada Bapak dan Ibu. Jangan sampai kalian tidak punya anak! Untuk apa kamu kerja dan mengurus bisnis itu?" Yuda mengorek telinga yang tidak gatal mendengar ceramah dadakan ibunya. Lantas dia menatap Renata yang tampak murung. "Iya, iya, Bu! Namanya juga rezeki. Kalau Allah belum kasih, kita mau bagaimana? Ya, kalau Ibu dan Bapak tidak sabar, kita bisa adopsi anak!" "Adopsi?" Sekali lagi, Renata dipaksa menelan ludah berat. Tatapannya nanar pada Yuda. Hati Renata semakin nelangsa. Renata tidak sakit hati, kalau mereka belum dikaruniai anak karena faktor rezeki. Yang membuat Renata sakit hati, Yuda sengaja tidak ingin punya anak dulu. "Husst! Kalian itu sehat! Kata dokter juga subur. Bisa-bisanya punya ide adopsi anak. Kalian boleh adopsi seluruh anak di panti asuhan pun silakan, tapi kasih Bapak dan Ibu cucu kandung!" Bu Rasti semakin berang. Dia menoyor kepala Yuda sembari memberengut. Namun, lagi-lagi Yuda menanggapi ocehan ibunya dengan santai. Bahkan, tidak peduli dengan tekanan batin yang dialami Renata. Beruntung, Bibi segera menyuguhkan makan siang sehingga perdebatan itu terhenti. Renata sama sekali tidak menikmati makanannya. Hatinya benar-benar nelangsa. Renata lebih banyak diam dan memilih menjadi pendengar pembicaraan. Bahkan, sampai makan siang selesai.... "Jangan ambil hati ucapan Ibu, Sayang!" Yuda melingkarkan lengan di tubuh Renata. Sekarang mereka berdua ada di kamar. Renata menoleh pada Yuda yang sudah berganti pakaian olah raga. "Mas Yuda mau ke gym?" tanya Renata mengabaikan ucapan Yuda. "Iya, sebelum Maghrib aku pulang. Kalau kamu mau jalan-jalan sama Bapak dan Ibu silakan!" "Mungkin besok saja, Mas. Ibu dan Bapak biar istirahat dulu. Aku mau mengoreksi naskah soal." Yuda mengangguk samar. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu!" pamitnya, lalu mencium kening Renata. Bergegas, Yuda keluar dari kamar. Laki-laki itu segera menuju carport. Tidak berapa lama, suara motor Yuda keluar dari pekarangan rumahnya. Beberapa menit kemudian, sudah berbaur dengan kendaraan lain di jalan raya. Ciiiit! Setengah mendadak, Yuda mengerem motor besarnya di belakang sebuah taxi. Keningnya mengkerut menatap taxi yang mulai melaju itu. "Nina ..." ****Air mata Darren menetes tidak tertahankan. Dengan hati-hati, dia menyentuh perut Renata yang bergerak.Setelah itu, diciumnya perut buncit itu sembari mengucapkan doa dan harapan.Dulu keinginan merasakan tendangan kecil seperti itu buyar akibat kecelakaan. Sekarang, Darren tidak mau melewatkan momen itu. Rasa bahagia tidak tergambarkan karena sebulan lagi menjadi seorang ayah. Bahkan, Darren semakin posesif pada istrinya itu."Bagaimana rasanya kalau dia nendang gini? Sakit?"Renata tersenyum, lalu mengusap perutnya yang menonjol di sebelah kiri. "Tidak sakit hanya geli saja. Ini kayaknya lutut, Mas. Lucu sekali!" "Ajaib, ya. Ah, aku calon ayah paling bahagia. Banyak kisah mengharukan sebelum kita sampai di tahap ini, Sayang."Tangan Renata berganti mengusap dagu Darren yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Lalu, diciumnya lembut bibir kemerahan laki-laki tampan itu."Apa yang ingin kamu katakan pada anak kita nanti?" Bibir Darren mengkerut sejenak, lalu tersenyum jahil. "Em, mungkin aku
"Lin, kamu mau bareng apa tidur di sini?" Suara dan tatapan Yuda sama datarnya.Alina terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia segera pamit pada Renata dan Darren. Renata juga berpesan pada keduanya untuk hati-hati.Namun, karena buru-buru, sepatu Alina tersangkut gamisnya sendiri. "Auuuh!" Alina terkejut, hampir terjungkal di anak tangga teras. Beruntung, Yuda sigap menangkapnya. Pemandangan itu tidak lepas dari perhatian Darren dan Renata yang berdiri di depan pintu."Sepertinya mereka berjodoh," bisik Darren pada Renata.Renata mengangguk dan tersenyum kecil. Dia ingat kedekatannya dengan Darren dulu berawal dari kejadian seperti itu. Renata berharap, Yuda berjodoh dengan Alina. Dia yakin, Yuda sudah berubah dan tidak seperti dulu.Yuda segera melepas tangannya dari bahu Alina setelah memastikan wanita itu aman. Pipi Alina merona karena malu, lalu melambai kecil pada Renata."Assalamualaikum!" pamit Alina, sebelum memasuki mobil."Waalaikumsalam, hati-hati, Lin, Mas Yuda!" Yu
Renata mengerjap pelan, ketika mendengar bacaan ayat-ayat suci dari masjid pondok. Dia menoleh, menatap Darren yang masih lelap dalam mimpi. Dengan hati-hati, Renata menyingkirkan tangan Darren dari perutnya. "Ehmm ..." Darren menggumam samar dan memeluk Renata lagi. "Mas, aku mau mandi dulu. Sudah telat shalat tahajjud." Darren langsung membuka mata. "Ya sudah. Kalau gitu, kita mandi bareng saja!" ajaknya sembari duduk. "Ngawur. Aku duluan!" Segera, Renata mengambil pakaiannya yang tergeletak di sisi tempat tidur. Dia memakainya cepat dan bergegas ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Renata justru bertemu Darren di dapur. Suaminya itu tampak berbincang dengan Bu Ayu dan dua orang kerabat. Darren tersenyum jahil, ketika melihat Renata buru-buru memasuki kamar. Setelah shalat malam, sambil menunggu waktu subuh, Darren kembali keluar dari kamar. Dia segera mengetuk kamar kakaknya. Cindi yang masih tidur, mengerutkan kening sambil membuka pintu. "Mbak, sudah subuh tu
Tatapan Darren menyipit, bibirnya melekuk senyum jahil. Dia mengangkat tangan, lalu mengusap kepala Renata dengan lembut. Namun, Renata segera menggeser tubuh. Darren yang sadar, langsung menangkupkan telapak tangan di dada. Melihat itu, Renata justru tertawa kecil. "Pulang sana, Mas! Basah semua itu. Seperti anak kecil saja, pakai acara basah-basahan!" "Kalau tidak gitu, kamu mana mau datang? Aku pulang dulu, ya!" Darren menatap sekali lagi pada Renata, lalu membuka pintu mobil. "Besok pagi, aku jemput ke sini, ya, Calon Istri!" ucapnya dengan senyum bahagia. Renata mengangguk samar, kemudian mengikuti anak-anak yang kembali ke pondok. Darren menunggu mereka sampai melewati gerbang. Setelah itu, Darren melajukan mobil kembali ke rumah. * Pak Susilo menatap dingin pada Renata dan Darren. Mulanya dia masih bersikukuh dengan egonya. Namun, Darren tidak menyerah. Niat untuk membawa Renata pulang ke Jakarta sebagai istrinya sudah bulat. Bu Yanisah menangis haru di pelukan Renata, se
Tatapan Renata nanar. "Kamu sudah tahu, Mas?"Darren terdiam sembari menekan emosi, lalu mengangguk samar. Almira memang pernah mengakui, saat Darren menceraikannya di depan keluarga. Karena beberapa pertimbangan, akhirnya Darren memilih tidak memperpanjang kasus itu.Bagaimanapun, janin itu telah pergi. Darren tidak mau terus larut dalam duka. Melihat diamnya Darren, Renata menggeleng samar dengan hati sangat kecewa."Kenapa kamu tidak mengatakan padaku, Mas?""Maafkan aku, Rena. Aku ..."Tatapan nanar Renata berubah sinis pada Darren dan Almira. "Kalian sama saja. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku sudah kehilangan janin dalam kandunganku. Lebih baik, aku juga kehilanganmu, Mas!""Astaghfirullah, Rena! Dengarkan dulu, Sayang!"Bergegas, Renata keluar dari ruangan itu. Setengah berlari, dia meninggalkan Darren dan Almira. Tidak dihiraukannya panggilan Darren. Renata segera memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam. Di sana, dia kembali menumpahkan tangis."Jahat sekali
"Ada, dia mencintaimu, Renata! Bahkan, sudah disiapkan cincin pernikahan untukmu."Bibir Renata kembali melekuk senyum satu sudut. "Maaf, Mbak. Aku tidak mau membicarakan ini. Aku hanya ingin memperbaiki diri!" sahutnya, kemudian berlalu.Langkah Renata semakin cepat, lalu memasuki kamar. Setelah itu, dia segera menutup dan mengunci pintunya. Renata duduk di tepi ranjang, lalu mengambil handphone.Dengan ragu, dia menyalakannya. Hanya bermaksud melihat aktivitas chat dari Alina ataupun Darren. Renata menelan ludah, mendapati banyak sekali daftar panggilan dan pesan dari mereka. Bahkan, beberapa panggilan dan pesan dari Yuda."Maafkan aku, Mas. Aku sudah jahat padamu. Tapi aku butuh waktu di sini. Aku malu bertemu kalian."Ternyata, di saat yang sama, Darren sedang online. Dia pun tampak mengetik pesan. Renata mendengus kasar penuh sesal karena kepergok Darren. Seharusnya, dia tidak terbawa oleh perasaan."Astaghfirullah. Dia tidak boleh tahu!"Buru-buru, Renata menutup handphone. Namu







