Share

Part 7 Nina Kekasih Palsu

Penulis: La Bianconera
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-05 21:15:50

"Nina? Siapa Nina?" Wanita itu menoleh, tatapannya menuntut jawaban pada Darren.

Darren menggaruk tengkuk yang tidak gatal, lalu segera merangkul bahu wanita itu. Melihat sikap agresif Darren, wanita cantik itu justru tidak nyaman.

Yuda memperhatikan interaksi pasangan itu, dengan alis terangkat sebelah. Sebelah sudut bibirnya tersenyum sinis. Tiba-tiba, Yuda curiga dengan wanita bernama Nina itu.

Darren segera menarik tangan Nina dan membawanya menyingkir. Meskipun sedikit terkejut, Nina hanya menurut saja.

"Pa-Pak Darren, kenapa Anda begitu aneh?" tanya Nina palsu bingung dan tidak nyaman.

Darren mengerutkan bibir, lalu tertawa kecil seolah tidak terjadi sesuatu. Dengan sengaja, dia merangkul dan mengusap kepala Nina palsu.

"Dista, maaf, ada yang salah. Seharusnya, tadi aku katakan dulu padamu. Please, kita harus menjalankan sandiwara ini sebaik mungkin!"

"Saya belum mengerti!" Wanita bernama Dista itu mengernyitkan dahi.

"Di depan semua orang, kamu kenalkan namamu Dista Karenina, panggilan sayangku Nina!" bisik Darren sambil menekan kata "sayangku".

Dista mengangguk mengerti. "Baiklah, Pak! Hanya sandiwara, kan?"

Darren langsung mengangguk. Ya, hanya sandiwara. Meskipun tidak dipungkiri, pesona Darren membuat Dista berulang kali menahan napas.

"Jangan memanggilku Bapak! Panggil aku apa pun, asal bukan resmi. Kamu ingin tas branded terbaru, kan?" Darren mengedipkan sebelah mata. "Aku akan kasih bonus sepuluh juta, kalau Yuda percaya kita pasangan kekasih."

Hanya disuruh pura-pura menjadi pacar laki-laki tampan dan kaya. Tidak sulit. Lalu, dapat imbalan tas branded dan uang sepuluh juta? Dista langsung mengangguk setuju. Maka, mereka pun menjalankan sandiwara dadakan sebagai pasangan kekasih. Namun, palsu.

"Ahh, dasar pelupa! Sudah kubilang, aku tidak suka dipanggil Nina, namaku Dista Karenina. Nina itu, kucing kesayangan Mama yang suka merusak sofa! Nyebelin!" Dista memberengut.

Darren kembali tertawa kecil, lalu mengusap gemas kepala Dista. "Bagus. Seperti ini terus sampai kita pulang!" bisiknya. Lalu, Darren melirik pada Yuda yang mendekat.

"Berapa lama kalian pacaran? Darren ini aneh, punya pacar malah disembunyikan!"

"Ah, iya. Maaf, saya agak introvert soalnya."

"Iya, Nina banyak tugas di kampus juga."

Yuda mengangguk samar. Tatapannya tertuju pada jemari Darren dan Nina yang bertaut erat. Yuda menoleh, ketika Renata mendekat sambil membawa dua mangkuk kecil puding.

"Ini puding eksperimen. Silakan dicicipi, Kak Nina, Mas Darren!"

"Hm, thanks Rena. Puding leci?"

"Iya, ternyata Mas Yuda bawa banyak leci juga dari Bandung."

"Oh, aku coba, ya!"

Renata mengangguk antusias. Bibirnya melekuk senyum. Sesekali, Darren memperhatikan Renata. Senyum itu terlihat lepas, tidak seperti biasanya. Tanpa sadar, Darren menarik napas lega.

"Ehm, masih ada leci segar. Nanti kamu bisa bawa pulang, Ren! Aku tidak mungkin habiskan semua sendiri!"

"Baiklah, aku bisa bawa ke kantor besok!"

"Apa kamu tidak suka? Seingatku, kamu tidak pantangan buah!"

Darren terkekeh pelan, lalu ingat masih punya dua kotak leci di kulkasnya. "Ah, bukan! Kebetulan aku beli kemarin lusa!"

Tatapan Yuda menajam pada sahabatnya itu. Lantas, dia melirik pada Renata yang tampak salah tingkah meskipun pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.

Tangan Renata mengambang, urung mengambil nasi. Lalu, dia meletakkan kembali centong nasi dan meninggalkan tempat itu. Renata bergegas mendekati teman-temannya. Tidak lupa, dia juga mengajak Dista.

Menjelang jam 10 malam, para tamu mulai berpamitan. Tinggal Darren dan Dista. Yuda mengambil satu kantong plastik leci segar untuk Darren. Semua orang juga membawa satu kantong.

Kemarin lusa, Yuda memborong dua karung leci dari warga untuk dibagikan pada tetangga dan teman kantor.

Yuda mengantar Darren dan Dista sampai di teras.

"Wah, thank you, Bro! Kami pulang dulu!"

Darren menepuk pelan bahu Yuda. Segera, Darren meletakkan kantong plastik di bagasi mobil. Darren urung menutup pintu bagasi, saat melihat Renata berdiri di ambang pintu.

Tatapan wanita itu kosong pada Darren. Di tangannya ada dua buah paper bag. Yuda mengikuti arah pandangan Darren, lalu menatap sekilas paper bag di tangan Renata.

"Ah, iya. Kalian bawa pulang!" Yuda, mengambil alih paper bag dari tangan istrinya.

"Wow, malah ngrepoti kamu, Ren!"

"Ah, tidak, Mas!"

Setelah meletakkan dua paper bag itu, Darren bergegas memasuki mobil diikuti oleh Dista. Dari teras, Renata dan Yuda menunggu mobil itu pergi. Darren sengaja membuat sandiwaranya terkesan sempurna.

Dia mencondongkan tubuh lebih dekat pada Dista, seolah mencium pipi wanita itu. Yuda menatap tanpa ekspresi interaksi mereka. Berbeda dengan Renata yang langsung membuang pandangan.

Darren melihat itu. Namun, lepas dari perhatian Yuda yang berdiri di samping Renata.

"Semoga Darren tidak main-main, dan segera menikahi Nina!" ucap Yuda, begitu mobil Darren sudah keluar dari halaman.

Renata menanggapi dengan anggukan kecil, lalu bergegas meninggalkan suaminya. Dia segera membereskan meja makan dibantu Yuda. Beberapa kali, Renata mendengus lirih dengan gusar.

"Huuf!" Renata mengembungkan mulutnya, lalu membuang napas dengan kasar.

Hal itu tidak lepas dari perhatian Yuda. "Kamu kenapa? Sejak tadi murung, padahal ide makan malam ini kamu yang buat!" selidiknya.

"Aku hanya capek, Mas! Tidak apa-apa, kok!"

Bergegas, Renata membawa beberapa piring kotor ke dapur. Dia kembali lagi mengambil lap. Namun, sama sekali tidak mau menatap Yuda.

Yuda mengambil alih lap dari tangan istrinya. "Kamu istirahat saja! Biar aku yang kerjakan!"

"Tidak apa-apa, Mas. Hanya mengelap ini saja!"

"Rena, sebenarnya kamu kenapa? Aku perhatikan sikapmu aneh begini!"

Renata menatap sekilas pada Yuda, lalu menggeleng. "Tidak ada yang aneh, Mas. Sudahlah, aku hanya sedikit lelah saja!" dalihnya.

Berulang kali, Renata mengutuk diri. Tidak seharusnya dia terlena oleh perhatian Darren. Renata sudah punya suami dan Darren juga memiliki kekasih. Mungkin saja, perhatian Darren hanya karena bersahabat dengan Yuda.

Tidak! Renata berusaha menolak hatinya. Itu tidak benar. Penilaian Alina di supermarket itu hanya fitnah. Darren bukan perhatian, tetapi sekadar kasihan.

Namun, ciuman Darren dan genggaman eratnya pada Nina, membuat sudut hati Renata tidak nyaman.

"Baiklah, semoga kali ini kamu jujur, Sayang!" Yuda tersenyum miris.

"Kenapa Mas Yuda selalu curiga padaku, Mas?"

Yuda tidak menjawab. Bergegas, dia ke luar rumah sambil membawa kantong sampah. Tangan Yuda urung menutup tong sampah, ketika ingat sesuatu.

"Leci, Nina, sikap aneh mereka ..." Yuda tersenyum miring sekilas. "Aku akan cari bukti! Mulut kalian bisa mengelak, tapi tatapan dan bahasa tubuh, tidak bisa berbohong!"

****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 70 Baby Rauf (Ending)

    Air mata Darren menetes tidak tertahankan. Dengan hati-hati, dia menyentuh perut Renata yang bergerak.Setelah itu, diciumnya perut buncit itu sembari mengucapkan doa dan harapan.Dulu keinginan merasakan tendangan kecil seperti itu buyar akibat kecelakaan. Sekarang, Darren tidak mau melewatkan momen itu. Rasa bahagia tidak tergambarkan karena sebulan lagi menjadi seorang ayah. Bahkan, Darren semakin posesif pada istrinya itu."Bagaimana rasanya kalau dia nendang gini? Sakit?"Renata tersenyum, lalu mengusap perutnya yang menonjol di sebelah kiri. "Tidak sakit hanya geli saja. Ini kayaknya lutut, Mas. Lucu sekali!" "Ajaib, ya. Ah, aku calon ayah paling bahagia. Banyak kisah mengharukan sebelum kita sampai di tahap ini, Sayang."Tangan Renata berganti mengusap dagu Darren yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Lalu, diciumnya lembut bibir kemerahan laki-laki tampan itu."Apa yang ingin kamu katakan pada anak kita nanti?" Bibir Darren mengkerut sejenak, lalu tersenyum jahil. "Em, mungkin aku

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 69 Garis Dua

    "Lin, kamu mau bareng apa tidur di sini?" Suara dan tatapan Yuda sama datarnya.Alina terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia segera pamit pada Renata dan Darren. Renata juga berpesan pada keduanya untuk hati-hati.Namun, karena buru-buru, sepatu Alina tersangkut gamisnya sendiri. "Auuuh!" Alina terkejut, hampir terjungkal di anak tangga teras. Beruntung, Yuda sigap menangkapnya. Pemandangan itu tidak lepas dari perhatian Darren dan Renata yang berdiri di depan pintu."Sepertinya mereka berjodoh," bisik Darren pada Renata.Renata mengangguk dan tersenyum kecil. Dia ingat kedekatannya dengan Darren dulu berawal dari kejadian seperti itu. Renata berharap, Yuda berjodoh dengan Alina. Dia yakin, Yuda sudah berubah dan tidak seperti dulu.Yuda segera melepas tangannya dari bahu Alina setelah memastikan wanita itu aman. Pipi Alina merona karena malu, lalu melambai kecil pada Renata."Assalamualaikum!" pamit Alina, sebelum memasuki mobil."Waalaikumsalam, hati-hati, Lin, Mas Yuda!" Yu

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 68 Membuka Lembaran Baru

    Renata mengerjap pelan, ketika mendengar bacaan ayat-ayat suci dari masjid pondok. Dia menoleh, menatap Darren yang masih lelap dalam mimpi. Dengan hati-hati, Renata menyingkirkan tangan Darren dari perutnya. "Ehmm ..." Darren menggumam samar dan memeluk Renata lagi. "Mas, aku mau mandi dulu. Sudah telat shalat tahajjud." Darren langsung membuka mata. "Ya sudah. Kalau gitu, kita mandi bareng saja!" ajaknya sembari duduk. "Ngawur. Aku duluan!" Segera, Renata mengambil pakaiannya yang tergeletak di sisi tempat tidur. Dia memakainya cepat dan bergegas ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Renata justru bertemu Darren di dapur. Suaminya itu tampak berbincang dengan Bu Ayu dan dua orang kerabat. Darren tersenyum jahil, ketika melihat Renata buru-buru memasuki kamar. Setelah shalat malam, sambil menunggu waktu subuh, Darren kembali keluar dari kamar. Dia segera mengetuk kamar kakaknya. Cindi yang masih tidur, mengerutkan kening sambil membuka pintu. "Mbak, sudah subuh tu

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 67 Suamiku

    Tatapan Darren menyipit, bibirnya melekuk senyum jahil. Dia mengangkat tangan, lalu mengusap kepala Renata dengan lembut. Namun, Renata segera menggeser tubuh. Darren yang sadar, langsung menangkupkan telapak tangan di dada. Melihat itu, Renata justru tertawa kecil. "Pulang sana, Mas! Basah semua itu. Seperti anak kecil saja, pakai acara basah-basahan!" "Kalau tidak gitu, kamu mana mau datang? Aku pulang dulu, ya!" Darren menatap sekali lagi pada Renata, lalu membuka pintu mobil. "Besok pagi, aku jemput ke sini, ya, Calon Istri!" ucapnya dengan senyum bahagia. Renata mengangguk samar, kemudian mengikuti anak-anak yang kembali ke pondok. Darren menunggu mereka sampai melewati gerbang. Setelah itu, Darren melajukan mobil kembali ke rumah. * Pak Susilo menatap dingin pada Renata dan Darren. Mulanya dia masih bersikukuh dengan egonya. Namun, Darren tidak menyerah. Niat untuk membawa Renata pulang ke Jakarta sebagai istrinya sudah bulat. Bu Yanisah menangis haru di pelukan Renata, se

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 66 Dilamar

    Tatapan Renata nanar. "Kamu sudah tahu, Mas?"Darren terdiam sembari menekan emosi, lalu mengangguk samar. Almira memang pernah mengakui, saat Darren menceraikannya di depan keluarga. Karena beberapa pertimbangan, akhirnya Darren memilih tidak memperpanjang kasus itu.Bagaimanapun, janin itu telah pergi. Darren tidak mau terus larut dalam duka. Melihat diamnya Darren, Renata menggeleng samar dengan hati sangat kecewa."Kenapa kamu tidak mengatakan padaku, Mas?""Maafkan aku, Rena. Aku ..."Tatapan nanar Renata berubah sinis pada Darren dan Almira. "Kalian sama saja. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku sudah kehilangan janin dalam kandunganku. Lebih baik, aku juga kehilanganmu, Mas!""Astaghfirullah, Rena! Dengarkan dulu, Sayang!"Bergegas, Renata keluar dari ruangan itu. Setengah berlari, dia meninggalkan Darren dan Almira. Tidak dihiraukannya panggilan Darren. Renata segera memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam. Di sana, dia kembali menumpahkan tangis."Jahat sekali

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 65 Pertemuan

    "Ada, dia mencintaimu, Renata! Bahkan, sudah disiapkan cincin pernikahan untukmu."Bibir Renata kembali melekuk senyum satu sudut. "Maaf, Mbak. Aku tidak mau membicarakan ini. Aku hanya ingin memperbaiki diri!" sahutnya, kemudian berlalu.Langkah Renata semakin cepat, lalu memasuki kamar. Setelah itu, dia segera menutup dan mengunci pintunya. Renata duduk di tepi ranjang, lalu mengambil handphone.Dengan ragu, dia menyalakannya. Hanya bermaksud melihat aktivitas chat dari Alina ataupun Darren. Renata menelan ludah, mendapati banyak sekali daftar panggilan dan pesan dari mereka. Bahkan, beberapa panggilan dan pesan dari Yuda."Maafkan aku, Mas. Aku sudah jahat padamu. Tapi aku butuh waktu di sini. Aku malu bertemu kalian."Ternyata, di saat yang sama, Darren sedang online. Dia pun tampak mengetik pesan. Renata mendengus kasar penuh sesal karena kepergok Darren. Seharusnya, dia tidak terbawa oleh perasaan."Astaghfirullah. Dia tidak boleh tahu!"Buru-buru, Renata menutup handphone. Namu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status