Masuk‘Ternyata dia belum berubah.’ Tapi Saga tidak mengucapkan apa-apa.
Evelyn melangkah keluar . Wajahnya tampak tenang, tapi di dalam dadanya kebencian mulai mencuat. Sekarang ini dia harus berhati-hati. Bukan hanya pada Reno, tapi pada Amira juga. Dia harus berhadapan dengan lawan yang menakutkan. Dia teringat upaya gigih Amira untuk membantunya melarikan diri malam itu. Hingga berakhir takdir yang mengenaskan. Sepertinya Amira ditakdirkan sampai mati untuk menghancurkan hidupnya. Udara di halaman rumah Brahmana malam itu tenang tapi terasa ganjil. Langit dikuasai bulan bundar yang menggantung indah, pucat keperakan, memberi cahaya suram pada pekarangan luas yang sepi. Evelyn berjalan perlahan keluar dari pintu samping. Pakaian tidurnya tampak lusuh, oversized, menutupi tubuhnya yang mungil. Wajahnya seperti biasa—penuh riasan mencolok yang tampak seperti lelucon. Eyeshadow gelap, lipstik hitam keunguan, alis menukik tajam seperti dandanan layaknya anak punk. Ia berdiri sejenak di tepi anak tangga batu. Dia menoleh ke belakang, memandangi rumah megah yang ikut membesarkannya. Rumah ini dibangun dengan cinta dan kasih sayang Saga, tapi sayangnya Evelyn tidak pernah memahaminya. Saat itu, di matanya, rumah itu tak ubahnya makam sunyi. Mewah tapi kosong. Benar-benar membuatnya muak, menderita. Seolah menjadi sebuah penjara baginya. Tapi untuk kehidupan sekarang, dia berjanji akan membuat rumah itu menjadi sebuah surga yang penuh dengan kasih sayang. Angin malam menyelusup perlahan, membawa aroma samar bunga yang nyaris layu di hamparan halaman. Rumput di tengah pekarangan sudah menguning, patah-patah diinjak waktu. Kolam ikan di sisi timur pun nyaris kering, airnya keruh dan berlumut. Tidak ada lagi koi-koi berwarna cerah yang dulu pernah mengisi tempat itu. Dia masih sangat ingat, di kehidupan yang lalu halaman ini dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah dan segar. Berbagai macam tanaman buah-buahan. Kolam itu juga diisi dengan berbagai jenis ikan hias favoritnya. Saga yang telah mengaturnya. Dia menghabiskan waktu dan uang untuk menciptakan halaman luas itu menjadi taman yang indah. Tapi apa yang dilakukan oleh-nya? Justru mengabaikan semua itu. Dan menganggap jika Itu adalah sebuah taman neraka. "Evelyn." Suara itu terdengar dari balik kegelapan. Membuat Evelyn terkejut dari lamunannya. Dia langsung menoleh ke arah suara, pandangannya teralihkan dari kolam yang memantulkan cahaya bulan. Sosok Reno berdiri di sana, menembus kabut malam. Setelan formal mahal membalut tubuh tingginya dengan sempurna. Rambutnya tertata rapi, sepatu mengilap meski berpijak di atas kerikil. Wajahnya — tampan, bersih, berkelas. Seperti pria yang baru saja keluar dari iklan parfum pria bergengsi. Evelyn memandangnya datar, walau dalam hati sempat mengakui: Ya, Reno memang tampan. Lebih memesona dari iblis seperti Saga. Tapi penampilan bukan segalanya. Kini mereka berhadapan. Dua sosok dengan kontras mencolok. Yang satu tampak seperti putra bangsawan, sementara yang satu lagi seperti anak perempuan yang menjadi pemberontak jalanan. Reno mengerutkan alisnya, matanya menyapu wajah Evelyn. “Kenapa kamu masih merendahkan dirimu sendiri sampai seperti ini?” Nada suaranya seperti mencampur rasa kecewa dan iba. “Sudah berapa kali aku bilang kamu nggak perlu dandan seperti ini lagi, Evelyn…” Evelyn tertawa pendek, sinis. Lalu dia menatap Reno tanpa senyum. Merendahkan diriku sendiri? Dulu, dia rela melakukan segalanya untuk pria ini. Mengubah penampilannya, menyembunyikan jati dirinya, berpura-pura menjadi gadis yang tidak diinginkan siapapun. Semua itu... hanya untuk membuat Saga menjauh. Tapi yang ia dapat? Hanya cap bahwa dia sedang 'merendahkan diri'. “Menarik,” gumam Evelyn, lirih tapi terdengar tajam. “Kamu bilang aku merendahkan diriku. Aku cuma mau tanya, kamu bilang seperti itu dari posisi mantan tunanganku… atau calon saudara iparku?” Karena saat ini, Evelyn sudah melupakan Reno sebagai pacar tercintanya dan Reno ini adalah kerabat Saga yang artinya adalah calon saudara iparnya juga. Reno tersentak. Mata lelaki itu seketika membulat, “Evelyn… aku tahu kamu kecewa karena kita gagal melarikan diri malam itu. Aku… memang belum bisa melakukan hal terbaik untukmu. Tapi aku nggak mungkin lepas tangan begitu saja. Aku ikut bertanggung jawab atas… dirimu sekarang atau kedepannya,” kata Reno, agak gugup. “Ayo ikut aku. Kita keluar dari ibu kota. Aku bisa bawa kamu pergi malam ini dan kali ini kita akan berhasil.” Evelyn menatapnya lama. Sorot matanya bukan lagi milik gadis yang dulu mencintai Reno dengan buta. Dia diam. Tapi di dalam dadanya, suara kenangan menjerit. Dulu, jika Reno berkata demikian, dia pasti akan langsung menangis haru. Saat Reno menawarkan jalan keluar, dia akan langsung lari ke pelukannya. Tapi sekarang… dia bukan gadis itu lagi. Aku sudah mati sekali dan hidup kembali! Lalu dia berkata, “Reno, aku ini tunangan Saga. Kalau aku pergi denganmu, orang-orang akan menghinamu. Dimana harga dirimu?” Angin malam tiba-tiba. Suhunya menurun tajam. Di kejauhan, di balik pohon besar, dua sosok berdiri dalam diam. Saga berdiri kaku, tubuhnya seperti bayangan gelap yang tak bergerak. Di sampingnya, Leo tampak panik. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan nafasnya tercekat. ‘Ini musibah! Kalau Nona Evelyn sampai kabur lagi malam ini… kita semua akan tamat…’ Semua orang tahu, saat Saga marah, maka seluruh orang di rumah ini akan menderita. Saat ini Saga menatap Reno seperti hewan buas yang bersiap menerkam. Tapi tiba-tiba dia terkejut dengan adegan di depan mereka. Leo juga terkejut bukan main. Dia hampir terjengkang ke belakang. Berulang kali dia mengusap matanya.Air mata Leo hampir saja tumpah seperti sungai saat dia keluar dari ruangan itu.Bayangkan saja, dia yang sudah bersusah payah berada di tengah, mencoba menenangkan kedua pihak, bahkan sampai merasa bersalah sepanjang waktu. Tapi pada akhirnya, Tuan malah menyuruhnya untuk “mengawasinya dengan baik”?Yang lebih mengejutkan lagi, bahkan ketika pembicaraan menyinggung tentang Qina, Tuan sama sekali tidak terlihat marah kepada Evelyn.Leo benar-benar merasa dirinya telah melakukan kesalahan besar.Bagaimana bisa dia sampai lupa bahwa Tuannya yang sekarang sedang begitu bersemangat… menjadi seseorang yang sangat bodoh demi cinta?Setelah percakapannya dengan Leo selesai, Evelyn kembali memusatkan perhatian pada pelajarannya. Materi yang harus dia pelajari menjelang ujian benar-benar padat dan melelahkan.Sejak Saga sempat muncul di sekolah beberapa waktu lalu, area taman belakang yang biasanya ramai, terutama di sekitar pohon persik—mendadak sepi. Ditambah lagi dengan tekanan ujian yang
Setelah beberapa saat, ibunya perlahan membungkuk kembali dan melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian. Satu demi satu pakaian digantung dengan hati-hati.Melihat tubuh ibunya yang kurus dan wajahnya yang terlihat begitu lelah, Evelyn hampir saja berlari menghampirinya.Tapi…Apa yang bisa kulakukan jika aku muncul sekarang?Selain menangis dan meminta maaf… selain membuat Ibu semakin khawatir… aku tidak bisa melakukan apa pun.Aku harus segera membawa Ayah dan Ibu keluar dari tempat ini!Aku tidak akan membiarkan mereka terus diperlakukan seperti ini!Dulu Evelyn terlalu keras kepala. Demi mempertahankan citranya di depan Reno, dia menghabiskan banyak uang yang diberikan ayahnya untuk membeli barang-barang mahal yang sebenarnya tidak berguna.Sekarang dia baru menyadari satu hal.Dia membutuhkan uang.Banyak uang.Bukan hanya cukup untuk membeli rumah bagi orang tuanya.Bukan hanya untuk membuat mereka hidup layak.Dia membutuhkan kekayaan yang sangat besar.Kekayaan yang bahkan cuk
Dia memang tidak ingin makan dan tinggal di rumah orang lain tanpa berbuat apa-apa. Selama masih sanggup, mencuci dan memasak bukan masalah baginya.Namun, Shireen justru mengernyit tidak senang.“Ibu, kenapa Ibu begitu baik padanya? Dia makan dan tinggal di sini gratis, pakai semua fasilitas rumah. Memintanya mencuci beberapa baju saja sudah seharusnya. Aku tidak suka ada orang luar di rumah kita. Mengganggu!”Feni segera menenangkan putrinya.“Tenang, Sayang. Ibu akan memintanya menjaga jarak supaya tidak mengganggumu. Kamu fokus saja belajar dan persiapan ujian.”Shireen mendengus.“Bu, Ibu bercanda? Mana bisa Ibu menyamakan aku dengan Evelyn?”Feni menatap putrinya dengan bangga.“Ya, ya, Ibu yang salah. Putriku jelas cantik dan luar biasa. Nanti kalau kamu masuk Media Imperial, Ibu akan minta ayahmu bicara dengan Bibi Liana supaya kamu bisa magang di Langit Kaisar.”“Masa? Aku bisa magang di Langit Kaisar?” wajah Shireen langsung berseri.“Tentu saja. Istri Presiden Grup Mahendra
“Aku tahu Saga mempercayakan semua urusan yang berkaitan denganku padamu. Dan kalau sesuatu sampai terjadi padaku, orang pertama yang akan dia salahkan pasti kamu,” ucap Evelyn pelan. “Jadi… kenapa kita tidak bekerja sama saja?” Leo menatap perempuan di depannya. Ada sesuatu yang jelas berubah pada diri Evelyn. Ekspresinya ikut mengeras. “Bekerja sama? Maksudmu apa?” Evelyn menyipitkan mata. “Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti di Kebun Brahmana. Berhadapan dengan orang yang sulit ditebak dan kejam seperti Saga, kamu yang paling paham batasannya. Kamu sudah bertahun-tahun berada di sisinya. Kalau di saat-saat genting kamu bisa memberi isyarat agar aku tidak menginjak ranjau, itu akan menguntungkan kita berdua.” Dia berhenti sejenak, lalu menatap Leo tajam. “Bagaimana?” Usulan itu terdengar masuk akal… sekaligus mengerikan bagi Leo. Bukankah ini sama saja dengan berkhianat? Perempuan ini terlalu berani. Melihat wajah Leo yang ragu, Evelyn langsung me
Setelah itu, Saga membantu Evelyn sedikit duduk dan menyodorkan segelas air putih ke bibirnya.Tanpa sadar, Evelyn membuka mulut. Air dingin membasahi tenggorokannya, membuat rasa perih itu perlahan mereda.“Apa yang terjadi denganku?” tanya Evelyn pelan setelah menghabiskan air itu.Bukankah semalam dia sedang mengerjakan soal latihan di ruang tengah? Kenapa sekarang dia berada di kamar… dan matahari sudah terbit?“Demam,” jawab Saga singkat, nada suaranya kembali dingin. “Kamu sama sekali tidak sadar?”Evelyn mengernyit, kepalanya masih sedikit berat.“Aku memang merasa tidak enak semalam… pusing, pandangan berkunang-kunang. Tapi kupikir itu cuma karena soal matematika yang terlalu rumit…”Begitu merasakan perubahan ekspresi Saga, Evelyn refleks menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya.Saga tidak langsung menjawab. Aura dinginnya sempat menghilang, lalu kembali saat dia menekan bel di samping tempat tidur, memanggil pelayan.Evelyn menatapnya dengan perasaan aneh.Kenapa Sa
Leo sempat mengira tuannya tidak akan pulang malam ini. Namun nyatanya, Saga meninggalkan jamuan makan lebih awal, tepat pukul delapan malam.Leo tahu betul satu hal, pantangan terbesar Saga adalah kehilangan kendali.Dan belakangan ini, Evelyn semakin sulit dipahami. Bukan hanya sikapnya, tetapi juga seluruh keberadaannya.Akan lebih baik jika Evelyn bersikap penurut. Namun Leo bisa dengan jelas merasakan bahwa gadis itu telah menguji kesabaran Saga sedikit demi sedikit.Begitu batas itu terlewati, tak peduli sebaik apa pun perilaku Evelyn nantinya, semua akan sia-sia.Tak lama kemudian, mobil berhenti di Kebun Jala.Keheningan di ruang utama terasa ganjil.Saga sengaja meninggalkan Bengis Putih di rumah. Dia yakin, dengan kedekatan Evelyn pada makhluk buas itu, gadis itu pasti akan ribut sendiri sepanjang malam. Namun kini, rumah itu sunyi.. terlalu sunyi.Leo mengambil mantel Saga dan mengikutinya masuk dengan perasaan tak enak.Begitu mereka melangkah ke ruang utama, pemandangan d







