MasukEvelyn melihat ke arah Leo yang masih berdiri melongo. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi Leo buru-buru memberi isyarat padanya agar diam. Lalu Leo membuat gerakan permohonan dan berkata dengan sangat pelan,”Tuan Saga belum tidur selama 5 hari.”
Apa? Belum tidur selama lima hari? Evelyn berkedip heran. Apa itu karena dia terus-terusan kabur? Selama ini, Evelyn selalu berusaha untuk melarikan diri. Meskipun selalu gagal, tapi dia tidak pernah berhenti. Evelyn menatap wajah Saga yang menunduk didadanya. Perasaan bersalah menghujam dadanya dengan keras. Terasa sangat sesak. Kenapa dia bisa sebodoh itu? Menyia-nyiakan Saga yang sangat mencintainya. Baru saja dia dan Leo merasa senang karena Saga tertidur, seorang penjaga berjalan masuk dan memanggilnya , “Tuan Leo,” Leo terkejut dan panik setengah mati. Dia reflek memukul penjaga itu dan hampir melemparnya keluar. Tapi terlambat. Saga terbangun. Dia membuka matanya. Terlihat sangat dingin dan kejam. Saga menatap Leo dengan sorot mata yang tajam hingga membuat Leo merinding takut. Evelyn juga ikut terkejut. Setiap kali terganggu tidurnya, Saga akan terlihat sangat mengerikan seperti iblis. Evelyn panik, kemudian dia buru-buru menutup mata Saga dengan satu telapak tangannya dan menyandarkan kepala Saga pada pundaknya. Tangan yang lain membelai rambut Saga. “Kak Saga, tenang ya. Tidur lagi, aku di sini kok.” Satu detik berlalu, beberapa detik kemudian Saga tidak bergerak. Setelah memastikan Saga tidak bergerak, Evelyn melepaskan tangannya dengan perlahan. Ternyata Saga kembali tertidur dengan pulas. Leo langsung merasa lega seperti baru saja terbebas dari rantai yang mengikat lehernya. Tubuhnya sampai lemas dan hampir pingsan. Dia menatap Evelyn dengan tatapan penuh syukur, kemudian pergi dengan perlahan sembari menyeret sang penjaga tadi. Sepanjang malam, Evelyn tidak berani bergerak sedikitpun sehingga dia tertidur dengan sendirinya. Saat terbangun, ternyata hari sudah pagi dan dia mendapati dirinya sudah berada di atas tempat tidur. Dia lupa kapan dia tertidur dan kapan Saga memindahkannya ke kamar ini. Dia kemudian bangun dan melihat sekeliling. Dia tidak menemukan Saga. Matanya berkedip-kedip dan terasa tidak nyaman. Lalu dia mengusap matanya. Ketika dia melihat tangannya, dia terkejut. Telapak tangannya telah dipenuhi kotoran sisa eyeliner yang ia pakai. Lalu dia teringat sesuatu dan kembali merasa sangat bodoh. Setiap gadis selalu ingin tampil cantik, tapi selama ini dia justru menginginkan penampilan yang paling jelek. Kemudian dia bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Setibanya di kamar mandi, Evelyn melihat bayangan dirinya di cermin. Tubuhnya penuh tato dan wajahnya memakai riasan yang tebal mirip seperti badut. Bibirnya berwarna ungu. Eyeliner yang ia pakai berwarna biru. Rambutnya juga berwarna jingga. Benar-benar penampilan yang sangat mencolok dan jelek! Dia teringat Amira memberinya saran agar dia berpenampilan paling jelek. Dengan begitu, Saga akan jijik padanya dan tidak akan memaksanya untuk menikah dengannya. Lalu dengan bantuan dan dukungan Amira, dia mengubah penampilannya menjadi seorang wanita yang ada di cermin itu. Dia masih merasa beruntung, dulu saat Amira menyarankannya untuk membuat tato permanen, Evelyn takut dengan jarum, jadi dia memutuskan untuk memakai tato temporer saja. Evelyn menghembuskan napas panjang, lalu perlahan dia melepaskan seluruh aksesori yang menempel di tubuhnya: anting-anting, gelang, cincin besar dan kalung rantai yang melingkar di lehernya. Kemudian dia menghapus riasan wajahnya, dan terakhir dia merendam seluruh tubuhnya di bak mandi yang telah ia tuang dengan sabun. Di bawah Di depan meja makan, Saga sedang menikmati kopinya dengan santai. Di depannya duduk Rendra, sahabat baiknya sekaligus saudara sepupunya. Rendra menatap Saga. Saudara sepupunya ini memiliki aura yang sangat kuat, berpenampilan sangat tampan, dan menjadi pujaan para wanita. Tiba-tiba dia merasa sangat kesal dan berkata, “Kak Saga, apa kamu nggak pernah berpikir gadis seperti apa yang pantas untukmu? Kenapa kamu terus merendahkan dirimu seperti ini?” Saga hanya meliriknya. Rendra kembali berkata, “Sebenarnya nggak masalah kalau kamu penasaran dan hanya ingin main-main dengan Evelyn, tapi ini sudah berlangsung beberapa tahun lamanya. Semua orang juga tahu bagaimana kamu tergila-gila dengan gadis badut itu. Sebagai saudaramu, aku nggak bisa membiarkanmu begitu saja. Aku harus bisa menyadarkanmu.” Saga sama sekali tidak menghiraukannya. Dia justru menoleh ke arah tangga. Secara reflek, Rendra pun ikut menoleh ke arah tangga. Dia terkejut bukan main saat melihat seorang gadis berdiri disana. Gadis itu mengenakan gaun berwarna coklat muda yang pas di tubuh rampingnya. Rambutnya hitam panjang dan sedikit menggelombang. Tatapannya sangat lembut, dan wajahnya begitu cantik jelita dengan kulit yang putih dan mulus. Rendra berkedip-kedip sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia seperti bermimpi bisa melihat bidadari di dalam rumah ini. Kemudian dia menoleh ke arah Saga. Alisnya berkerut saat melihat Saga yang terlihat biasa saja saat melihat kehadiran gadis cantik itu. Rendra kembali menoleh pada gadis itu secara bergantian dengan pikiran yang linglung. Saat Rendra masih bingung, gadis itu berjalan mendekati meja makan, kemudian lewat begitu saja di sampingnya dan duduk di samping Saga. Melihat gadis itu duduk di samping Saga, pikiran Rendra perlahan pulih. Kemudian dia tersenyum dengan sangat puas. “Kak Saga, ternyata kamu sudah berubah pikiran! Bagus… sangat bagus!” Dia menunjuk gadis itu beberapa kali. “Nah… Gadis seperti ini, baru yang benar-benar pantas untukmu. Jangan seperti si Evelyn badut itu!” Gadis itu tiba-tiba berdiri dan memukul tangannya keras. Lalu berteriak marah, “Rendra, sialan! Aku bukan badut!” “Hah!” “Kamu… kamu… Evelyn??” Rendra hampir terjengkang kebelakang saking terkejutnya. __Air mata Leo hampir saja tumpah seperti sungai saat dia keluar dari ruangan itu.Bayangkan saja, dia yang sudah bersusah payah berada di tengah, mencoba menenangkan kedua pihak, bahkan sampai merasa bersalah sepanjang waktu. Tapi pada akhirnya, Tuan malah menyuruhnya untuk “mengawasinya dengan baik”?Yang lebih mengejutkan lagi, bahkan ketika pembicaraan menyinggung tentang Qina, Tuan sama sekali tidak terlihat marah kepada Evelyn.Leo benar-benar merasa dirinya telah melakukan kesalahan besar.Bagaimana bisa dia sampai lupa bahwa Tuannya yang sekarang sedang begitu bersemangat… menjadi seseorang yang sangat bodoh demi cinta?Setelah percakapannya dengan Leo selesai, Evelyn kembali memusatkan perhatian pada pelajarannya. Materi yang harus dia pelajari menjelang ujian benar-benar padat dan melelahkan.Sejak Saga sempat muncul di sekolah beberapa waktu lalu, area taman belakang yang biasanya ramai, terutama di sekitar pohon persik—mendadak sepi. Ditambah lagi dengan tekanan ujian yang
Setelah beberapa saat, ibunya perlahan membungkuk kembali dan melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian. Satu demi satu pakaian digantung dengan hati-hati.Melihat tubuh ibunya yang kurus dan wajahnya yang terlihat begitu lelah, Evelyn hampir saja berlari menghampirinya.Tapi…Apa yang bisa kulakukan jika aku muncul sekarang?Selain menangis dan meminta maaf… selain membuat Ibu semakin khawatir… aku tidak bisa melakukan apa pun.Aku harus segera membawa Ayah dan Ibu keluar dari tempat ini!Aku tidak akan membiarkan mereka terus diperlakukan seperti ini!Dulu Evelyn terlalu keras kepala. Demi mempertahankan citranya di depan Reno, dia menghabiskan banyak uang yang diberikan ayahnya untuk membeli barang-barang mahal yang sebenarnya tidak berguna.Sekarang dia baru menyadari satu hal.Dia membutuhkan uang.Banyak uang.Bukan hanya cukup untuk membeli rumah bagi orang tuanya.Bukan hanya untuk membuat mereka hidup layak.Dia membutuhkan kekayaan yang sangat besar.Kekayaan yang bahkan cuk
Dia memang tidak ingin makan dan tinggal di rumah orang lain tanpa berbuat apa-apa. Selama masih sanggup, mencuci dan memasak bukan masalah baginya.Namun, Shireen justru mengernyit tidak senang.“Ibu, kenapa Ibu begitu baik padanya? Dia makan dan tinggal di sini gratis, pakai semua fasilitas rumah. Memintanya mencuci beberapa baju saja sudah seharusnya. Aku tidak suka ada orang luar di rumah kita. Mengganggu!”Feni segera menenangkan putrinya.“Tenang, Sayang. Ibu akan memintanya menjaga jarak supaya tidak mengganggumu. Kamu fokus saja belajar dan persiapan ujian.”Shireen mendengus.“Bu, Ibu bercanda? Mana bisa Ibu menyamakan aku dengan Evelyn?”Feni menatap putrinya dengan bangga.“Ya, ya, Ibu yang salah. Putriku jelas cantik dan luar biasa. Nanti kalau kamu masuk Media Imperial, Ibu akan minta ayahmu bicara dengan Bibi Liana supaya kamu bisa magang di Langit Kaisar.”“Masa? Aku bisa magang di Langit Kaisar?” wajah Shireen langsung berseri.“Tentu saja. Istri Presiden Grup Mahendra
“Aku tahu Saga mempercayakan semua urusan yang berkaitan denganku padamu. Dan kalau sesuatu sampai terjadi padaku, orang pertama yang akan dia salahkan pasti kamu,” ucap Evelyn pelan. “Jadi… kenapa kita tidak bekerja sama saja?” Leo menatap perempuan di depannya. Ada sesuatu yang jelas berubah pada diri Evelyn. Ekspresinya ikut mengeras. “Bekerja sama? Maksudmu apa?” Evelyn menyipitkan mata. “Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti di Kebun Brahmana. Berhadapan dengan orang yang sulit ditebak dan kejam seperti Saga, kamu yang paling paham batasannya. Kamu sudah bertahun-tahun berada di sisinya. Kalau di saat-saat genting kamu bisa memberi isyarat agar aku tidak menginjak ranjau, itu akan menguntungkan kita berdua.” Dia berhenti sejenak, lalu menatap Leo tajam. “Bagaimana?” Usulan itu terdengar masuk akal… sekaligus mengerikan bagi Leo. Bukankah ini sama saja dengan berkhianat? Perempuan ini terlalu berani. Melihat wajah Leo yang ragu, Evelyn langsung me
Setelah itu, Saga membantu Evelyn sedikit duduk dan menyodorkan segelas air putih ke bibirnya.Tanpa sadar, Evelyn membuka mulut. Air dingin membasahi tenggorokannya, membuat rasa perih itu perlahan mereda.“Apa yang terjadi denganku?” tanya Evelyn pelan setelah menghabiskan air itu.Bukankah semalam dia sedang mengerjakan soal latihan di ruang tengah? Kenapa sekarang dia berada di kamar… dan matahari sudah terbit?“Demam,” jawab Saga singkat, nada suaranya kembali dingin. “Kamu sama sekali tidak sadar?”Evelyn mengernyit, kepalanya masih sedikit berat.“Aku memang merasa tidak enak semalam… pusing, pandangan berkunang-kunang. Tapi kupikir itu cuma karena soal matematika yang terlalu rumit…”Begitu merasakan perubahan ekspresi Saga, Evelyn refleks menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya.Saga tidak langsung menjawab. Aura dinginnya sempat menghilang, lalu kembali saat dia menekan bel di samping tempat tidur, memanggil pelayan.Evelyn menatapnya dengan perasaan aneh.Kenapa Sa
Leo sempat mengira tuannya tidak akan pulang malam ini. Namun nyatanya, Saga meninggalkan jamuan makan lebih awal, tepat pukul delapan malam.Leo tahu betul satu hal, pantangan terbesar Saga adalah kehilangan kendali.Dan belakangan ini, Evelyn semakin sulit dipahami. Bukan hanya sikapnya, tetapi juga seluruh keberadaannya.Akan lebih baik jika Evelyn bersikap penurut. Namun Leo bisa dengan jelas merasakan bahwa gadis itu telah menguji kesabaran Saga sedikit demi sedikit.Begitu batas itu terlewati, tak peduli sebaik apa pun perilaku Evelyn nantinya, semua akan sia-sia.Tak lama kemudian, mobil berhenti di Kebun Jala.Keheningan di ruang utama terasa ganjil.Saga sengaja meninggalkan Bengis Putih di rumah. Dia yakin, dengan kedekatan Evelyn pada makhluk buas itu, gadis itu pasti akan ribut sendiri sepanjang malam. Namun kini, rumah itu sunyi.. terlalu sunyi.Leo mengambil mantel Saga dan mengikutinya masuk dengan perasaan tak enak.Begitu mereka melangkah ke ruang utama, pemandangan d







