Mag-log in
"Parman, kamu lagi apa?" Tanya seorang ibu yang lagi berdiri sambil menggendong bakul nasi yang terisi piring dan cangkir kotor, ibu tersebut nampaknya ingin mencucinya di kali, tempat masyarakat kampung itu mandi, mencuci pakaian, piring dan lain-lain.
"Seperti biasa, Mak, aku lagi terbang ke bulan terus aku petik bulan itu, nanti di sini kita jual kan bisa kaya kali kita, Mak." Jawab Pemuda yang bernama Parman, anak ibu paruh baya tersebut. "Ya ampun. Parman-Parman... Kamu ini bicara apa? lagi mimpi apa sudah sedeng kamu Parman. Sudah! Daripada kamu melamun yang gak jelas begitu tolong cariin kayu bakar, Mak mau masak sudah tidak ada kayu bakar di rumah." Ujar ibu tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setelah mendengar ucapan anaknya, semakin lama khayalan anaknya semakin tidak jelas. Bahkan terkadang ibunya, yang bernama Sarti selalu mengelus-ngelus dada. Setelah mendengar dan melihat kelakuan anaknya seperti saat itu. Parman. Selalu berpikir ingin kaya-raya, tetapi setiap hari hanya termenung duduk di depan rumah panggung butut mereka tanpa melakukan pekerjaan apapun selain melamun. Seperti saat ini, ucapannya selalu membuat kesal ibu Sarti tatkala mendengar jawaban Parman, anaknya, jika ditanya. "Ah, Mak ini ada-ada saja, suka mengganggu ketenangan putramu ini yang lagi melayang indah mau memetik bulan jadinya gagal deh, Mak. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha." Jawabnya sambil tertawa membuat ibunya langsung melotot saking kesalnya. "Parman. Kalau lagi ngomong sama orang tua itu yang benar!" Ibu itu melotot mungkin saking kesalnya. "Jangan cengengesan kayak begitu, memangnya ada yang lucu? Lagi pula memang benar kamu ini pikirannya aneh-aneh aja. Bulan mau dipetik memangnya jambu yang mau kamu petik." Pada saat itu mata dan wajah wanita paruh baya itu sedikit merah saking marahnya, melihat tingkah laku Parman setiap saat ketika berbicara dengannya selalu tidak serius. Sudah! Sekarang pergi ke kebun cari kayu bakar, jangan melamun yang tidak-tidak. Ibu mau masak, jika tidak ada kayu bakarnya kita hari ini tidak akan makan. Mau kamu menahan perut lapar, Parman? Sudah mencari uang tidak mau, coba bantu pekerjaan Mak supaya agak ringan, Parman." Ibu Sarti bicaranya saat itu matanya berkaca-kaca saking kesal dan sedih campur aduk menjadi satu, mempunyai anak laki-laki satu-satunya tetapi belum bisa meringankan beban dia sedikitpun. Padahal saat ini hidup mereka hanya berdua, Bapak Parman telah meninggal dunia sejak lama. Tetapi Parman meskipun sudah tumbuh dewasa, namun entah mengapa tidak seperti Pemuda lainnya yang sebaya umurnya dengan Parman. Kebanyakan mereka selalu giat bekerja membantu pekerjaan orang tuanya. Namun, hingga saat ini setiap hari Parman, hanya duduk termenung seperti berat sekali mengangkat pinggul dari tempat duduknya, dan menggunakan kedua kaki dan tangannya untuk melangkah mencari rezeki. Supaya bisa menghidupi mereka berdua, ataupun minimal buat dirinya sendiri. hingga saat itu, Parman selalu diam melamun seperti saat ini. "Parman. Kamu mendengar ucapan Mak tidak? Tolong carikan kayu bakar sudah tidak ada kayu bakar sama sekali di rumah!" Kembali ibu Sarti berteriak karena Paman dari tadi belum bangkit dari duduknya. Malah kembali melamun menyandarkan punggungnya ke bilik bambu rumah mereka, sebagai pengganti tembok dan bilik bambu itu sudah pada lapuk dimakan usia. Sehingga menambah kesedihan ibu Sarti karena belum mampu memperbaiki rumah yang sudah semakin lapuk, bahkan terkadang ibu Sarti takut tiba-tiba rumah mereka roboh ketika mereka sedang tidur malam hari. "Iya Mak sebentar, sekarang jika Mak mau ke sumur silahkan, pokoknya tenang aja yang penting entar Mak pulang kayu bakar sudah ada buat memasak." Jawab Parman, namun tubuhnya tetap masih nyender dinding bilik bambu itu, membuat ibu Sarti semakin kesal. Namun, saat itu hanya menarik nafas dalam-dalam dan mengelus-elus dadanya berusaha menenangkan hatinya. Supaya jangan lebih marah lagi dan tidak mau sampai keluar kata-kata kotor terhadap Putra semata wayangnya. Meskipun setiap saat selalu membuatnya kesal bahkan selalu menangis ketika melihat kemalasan hidupnya. Namun, ibu Sarti sebagai seorang ibu dia tidak mau membuat anaknya menderita akibat ucapan buruk terhadap putranya. Sehingga sekuat mungkin sampai detik itu ibu Sarti selalu menahan diri sekuat mungkin, agar jangan sampai ada kata-kata kotor dari mulutnya terucapkan terhadap putranya. Meski benar-benar kesal dan bersedih, tapi dia selalu menahannya dan berusaha terus berdoa memohon sama yang maha Kuasa. Supaya Parman kelakuannya berubah jauh lebih baik lagi, saat itu pun mungkin ibu sarti sudah tidak mau berbicara apapun lagi, sebab jika terus ada di situ tentunya rasa kesalnya akan semakin bertambah. Kemudian ibu Sarti melangkahkan kakinya turun dari rumahnya terus menuju sumur, ditatap oleh Parman yang lagi tersenyum melihat ibunya pergi tak mau meladeni ucapannya. "Nah, begitu dong Mak, jadi orang tua itu jangan bawel terus. Masa ngasih makan anak satu aja seperti tidak mau, pokonya jika aku kaya. Nanti Mak akan senang, pokoknya Mak tidak akan kesulitan lagi hidup. Tapi saat ini Sabar dulu, Mak." Gumannya di tengah tawa kecilnya. Matanya terus menatap ibunya yang semakin lama semakin menjauh bahkan tak terlihat lagi. Setelah melewati rimbunnya pepohonan yang ada di sekeliling jalanan yang menuju sumur tempat segala keperluan semua warga Kampung tersebut. Pada saat itu Parman belum beranjak dari duduknya, entah lupa atau memang malas pergi. Meskipun tadi telah berjanji sama ibunya mau mengambil kayu bakar. Tapi entah mengapa saat ini malah kembali melamun semakin dalam. "Kayaknya kemarin sore ketika hampir masuk waktu maghrib, aku melihat wanita cantik tersenyum terhadapku. Sepertinya dia itu menyukaiku bahkan tadi malam juga mendatangiku ke dalam mimpi. Siapa dia ya? Aku penasaran banget?" Ternyata saat itu Parman sedang melamunkan seorang wanita yang dilihatnya, namun entah siapa sesungguhnya wanita tersebut. Nampaknya dia pun kala itu belum mengenalnya. "Apa aku harus mencari sesuai tempat yang tadi malam ada di mimpiku? Siapa tahu memang gadis itu ada di tempat itu, jika benar, Waduh! Hebat tenan aku bisa memiliki pacar cantik seperti wanita itu, bahkan jika mau dinikahi boleh juga kayaknya luar biasa mantul nya." Semakin lama kian dalam lamunannya saat itu, Parman terus memikirkan keadaan wanita tersebut. "Tapi, sepertinya. Aku belum pernah melihat wanita secantik itu di kampung ini atau kampung sebelah, siapa dia ya? Apa ada pendatang baru pindahan dari kampung lain yang belum aku tahu?" Pada saat itu semakin lupa sama tanggung jawab dia yang telah dimintai tolong ibunya untuk segera mengambil kayu bakar. Justru yang ada saat itu tiba-tiba Parman malah tertidur sambil nyender di bilik bambu itu. Kini, Parman sedang ada di alam mimpinya, Parman kembali bertemu wanita yang tadi sedang dipikirkan ia, kala itu dalam mimpinya wanita itu sedang tersenyum melambaikan tangan di sebuah kali besar, wanita cantik itu sedang duduk di atas batu besar sedang tersenyum terhadapnya. "Mas sini dong, kenapa malah menatapku seperti itu, apa kamu lupa sama aku? Aku kan kekasihmu, Mas."Rani masih berdiri di depan jendela kamar mewahnya saat Parman menyapanya dengan pertanyaan tersebut, ia segera mengalihkan tatapannya pada Suganda setelah cukup lama memikirkan pemikiran yang tentunya hanya dia yang tahu, dari mulai ramangnya malam yang perlahan berganti pagi hari yang cerah.Perlahan inar pagi menyelinap lembut melalui tirai tipis, menerangi wajahnya yang halus dan berseri. Rambut hitamnya yang tergerai rapi menambah kesan anggun pada sosoknya. Matanya kemudian melirik ke arah Parman, suaminya, yang sudah bangun dari tidur, duduk di tepi tempat tidur dengan ekspresi sedikit terkejut namun hangat.Tanpa kata, Rani tersenyum lembut, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Perlahan ia melangkah mendekat, memeluk tubuh suaminya yang masih dingin, selimut yang semula menutupi tubuh Parman saat itu masih terbalut pada tubuh Rani sendiri.“Aku tidak kenapa-napa, sayang. Tidak usah khawatir,” ucapnya lembut, suaranya menenangkan.Parman tanpa ragu menarik Ran
Karto dan Darto melangkah tertatih, napas mereka memburu namun mata tak berani berpaling dari sosok kakek tua yang berjalan di depan. Obor kecil di tangan mereka bergetar, cahayanya menari-nari di antara pepohonan lebat hutan Cisodong yang sunyi dan dingin. Suara dedaunan yang bergesekan dan ranting patah sesekali mengiringi langkah mereka, menambah berat suasana yang penuh ketegangan.Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, bayangan gubuk tua mulai muncul di antara rimbunnya pohon-pohon besar. Atapnya reyot, dindingnya rapuh, namun aura mistis yang menyelimutinya membuat Karto dan Darto nyaris lupa akan rasa takut mereka. Kakek itu menoleh, matanya menyiratkan ketegasan yang tak bisa ditawar.“Masuklah, jangan takut,” suaranya serak namun berwibawa, memerintah tanpa ruang untuk protes.Keduanya masuk ke dalam gubuk yang remang-remang. Bau dupa dan ramuan herbal menusuk hidung, sementara rak-rak kayu penuh sesak dengan botol-botol kaca berisi cairan berwarna aneh dan tulang
Darto memutar tubuhnya pelan, obor yang digenggamnya mengeluarkan cahaya temaram yang menari-nari di antara pepohonan rimbun. Matanya yang tajam berusaha menangkap bayangan apapun di balik gelapnya hutan, namun yang terlihat hanya siluet pohon besar menjulang tinggi, seperti penjaga sunyi yang mengawasi malam itu.Tiba-tiba, kembali telinga mereka mendengar jelas suara benda jatuh bergema keras, membuat telinga Darto berdenyut kencang. Napasnya memburu, jantungnya berdetak tak menentu. Di sisi lain, Karto berdiri diam, bibirnya terkunci rapat, tanpa sepatah kata pun keluar, hanya sesekali matanya menyapu kegelapan dengan waspada.Ketika suara benda jatuh itu kembali terdengar, kali ini disusul auman harimau yang menggetarkan, keduanya seketika membeku. Getaran ketakutan merayap di seluruh tubuh mereka; keringat dingin membasahi punggung.Tidak ada jalan keluar, mereka terperangkap di tengah hutan lebat, dikelilingi bayang-bayang ancaman. Darto dan Karto saling membelakangi, posisi yan
Kamar mewah itu dipenuhi aroma kayu jati dan wangi parfum mahal yang samar tercium di udara hangat. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya lembut di dinding emas, menciptakan suasana intim yang membalut Cinta Parman dan Rani. Tubuh mereka yang basah oleh keringat saling merapat, bergantian dalam gerakan penuh gairah yang tak kenal lelah. Napas Rani tercekat, matanya yang berkilau menatap dalam ke arah Parman dengan senyum penuh kepuasan. “Aku benar-benar puas, Mas. Terima kasih ya, sayang,” bisiknya lirih, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang tulus. “Aku bahagia menjadi istrimu.” Parman membalas dengan senyum hangat, tangannya lembut menyisir rambut hitam Rani yang sedikit berantakan. Ia menundukkan kepala, mencium keningnya yang halus, lalu merambat ke pipi yang memerah, dan akhirnya di bibir merah itu, penuh kelembutan dan hasrat yang sama-sama membara. Bibir mereka menyatu kembali, seolah ingin menyampaikan lebih dari kata-kata—janji, cinta, dan kehangatan yang tak terucapkan.
Darto dan Karto melangkah menyusuri jalan semakin jauh dari warung tersebut, ingin menuju kampung Cisodong walau jaraknya masih jauh. Matahari yang tadinya cerah perlahan merunduk, menyisakan semburat jingga yang merayap di balik pepohonan. Suara desir angin dan kicau burung berganti dengan keheningan yang menekan, membuat langkah mereka semakin berat terasa.“Masih jauh, ya?” Tanya Karto, suaranya serak, menyembunyikan kelelahan yang mulai menggerogoti semangatnya.Darto hanya mengangguk pelan, tatapannya tetap fokus menatap jalur di depan. Setelah beberapa menit hening, Karto akhirnya berhenti di pinggir jalan, membelalakkan matanya pada Darto. “Kan, tadi si bapak warung sudah berkata kalau jalan kaki memakan 7 hari 7 malam mau bagaimana ceritanya kita baru berjalan sebentar kamu bertanya masih jauh segala?" Ucap Karto sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lanjut Darto. "Kita ini mau terus jalan kaki sampai kapan? Nggak mau sewa kendaraan atau gimana?”Karto menoleh, wajahnya memanca
Kamar mewah itu dipenuhi aroma harum parfum dan desahan lembut yang saling bersahutan. Parman dan Rani bergerak lincah di atas ranjang, tangan mereka tak henti mengeksplorasi setiap lekuk tubuh, mencari titik-titik yang mampu membangkitkan gairah. Parman menarik Rani dengan lembut, tubuhnya bergeser ke atas, lalu mereka bergantian mengubah posisi, seolah menari dalam irama hasrat yang membara. Wajah Rani memerah, matanya terkadang tertutup rapat, terkadang menatap dalam ke mata suaminya, memancarkan kebahagiaan dan kerinduan yang terpendam lama."Kamu hebat banget sayang, tenagamu aku suka, seolah tidak ada lelahnya punyamu terus berdiri kokoh... Aku suka Mas teruskan... Ahhhh... Sayang..." Kembali bisikan lembut dibarengi desahan keluar dari mulut wanita cantik itu, sambil mengikuti irama goyangan pinggul Ridwan."Tentunya dong, bagaimana aku tidak bersemangat terus, punyamu sempit dan enak banget sayang... Aku benar-benar bahagia memiliki kamu..." Balas Ridwan sambil membalikkan tu







