Share

Bab 02

Author: Bawah Tanah
last update Last Updated: 2025-10-16 11:51:55

"Mas, jangan bengong aja dong. Apakah kamu lupa terhadapku?" Wanita itu kembali memanggilnya, senyumannya kian menggoda.

"Memangnya siapa kamu? Aku belum mengenal kamu." Ucap Parman sambil melangkahkan kaki mendekat ke arah wanita cantik itu yang tengah berdiri begitu santai di atas batu besar yang ada di tengah kali.

"Ah jangan begitu Mas, kenapa kamu jadi seperti ini, bukankah kamu sudah berjanji ingin menikahiku?"

"Kapan aku berjanji ingin menikahimu? Jangankan berjanji untuk menikahi mengenal namamu pun, belum." Jawab Parman, kembali langkahnya terhenti.

"Ih sayang, kenapa malah diam? Terus dong ke sini aku merindukanmu." Entah ada kekuatan apa, kaki Parman yang sebelumnya berhenti kembali melangkah.

Namun begitu sampai di pinggir kali, tiba-tiba kakinya terpeleset, tubuhnya basah kuyup tercebur ke kali yang dirasakannya, sekaligus terbangun dari mimpinya, ternyata sesungguhnya ia disiram air satu gayung oleh ibunya yang telah kembali dari kali.

"Parman! Kamu ini punya otak atau tidak? Kenapa malah tidur, Mak kan tadi meminta kamu segera mencarikan kayu bakar, kamu ini benar-benar ya, otakmu ditaruh di mana, mau makan atau tidak?!" Teriak wanita paruh baya itu matanya melotot, tangan kanannya yang menggenggam gayung lurus ke mukanya, sedangkan tangan kirinya tolak pinggang.

"Iya maaf Mak, aku ketiduran lagian Mak mengganggu aja, aku lagi senang-senangnya bertemu wanita cantik malah diganggu, ah dasar ibu tidak mengerti keinginanku."

Mendengar jawaban itu tentu saja wanita paruh baya itu semakin mendidih rongga dadanya oleh amarah, wanita itu bukan benci terhadap anak semata wayangnya. Namun yang menjadi kesal dan marahnya itu, kelakuannya tidak mencerminkan seorang pemuda yang telah dewasa.

"Apa? Dasar malas, memangnya perut lapar bisa kenyang oleh mimpimu itu? Cepat pergi carikan kayu bakar kalau belum mendapatkan kayu bakar jangan kembali lagi ke rumah!" Teriaknya sambil menghentakkan kakinya ke lantai papan kayu rumah panggung tersebut.

"Ah Mak ini, kenapa harus mencari kayu bakar segala saat ini udah sore, apa tidak bisa mengambil bambu kering yang digunakan jemuran dulu? Besok aku ganti, kalau sekarang aku ke hutan bisa kemalaman di jalan pulangnya, Mak."

Wanita paruh baya itu sampai menggeleng-gelengkan kepala, saat mendengar apa yang diutarakan Parman.

"Parman-parman, kamu ini benar-benar ya, segala maunya langsung enak aja, mending kalau janjimu itu suka ditepati, tidak pernah."

Kali ini telunjuknya lurus ke muka Pemuda itu. "Sekarang pergi mau kemalaman mau nggak terserah kamu, jika tidak mau kemalaman di jalan yang cepat kerjanya, Mak hanya meminta mencari kayu bakar untuk memasak sore ini, tidak masalah dapat sedikit juga, bukan malah menyuruh merusak. Cepat pergi apa mau disiram lagi?!"

Parman akhirnya bangkit juga meski malas, meski selalu membuat ibunya kesal, ia tak pernah berani menyakiti ibunya selain suka bicara yang membuat wanita paruh baya itu marah, seperti yang barusan dikatakannya, malah menyuruh merusak jemuran pakaian.

"Iya deh saat ini aku pergi, tapi tanggung jawab ya apabila ada apa-apa denganku." Ucapnya sambil berjalan ke arah dapur lalu mau ngambil golok.

Ibunya saat itu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap dada. "Ya Tuhan, aku mohon segera rubah sikap buruk anakku agar jauh lebih baik kelakuannya, aku bukan benci terhadap anakku, namun aku kasihan terhadap masa depannya."

Wanita paruh baya itu langsung terduduk matanya tidak melepaskan tatapannya, terus menatap punggung Parman yang semakin jauh dan akhirnya hilang di balik rimbunnya pepohonan yang dilewatinya.

"Aku sangat mengkhawatirkanmu Parman, meski kamu memiliki tubuh bagus wajah tampan, tapi namanya berumah tangga tidak cukup dengan ketampanan dan tubuh bagus aja, kalau kamu masih memelihara rasa malasmu, dengan siapapun nanti kamu berumah tangga tidak akan ada ketentraman."

Kembali wanita paruh baya itu mengangkat tangan memohon terhadap Sang pencipta langit dan bumi serta isinya. "Ya Tuhan, hampa tambah mohon segera perbaiki kelakuannya kelakuan buruknya, karena apabila Putra hamba menemukan seorang wanita yang mau dinikahi oleh Parman, kasihan istrinya."

Mau tidak mau air matanya perlahan mengalir dari kedua ujung kelopak mata yang penuh keriput. "Hamba tidak berharap Parman memiliki istri dalam keadaan seperti ini, tentunya istrinya lah yang akan membanting tulang demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, semua itu tidak aku harapkan Tuhan."

Itulah yang terus bergolak dalam batin wanita paruh baya itu. Sedangkan Parman yang tengah berjalan menuju hutan masih dalam keadaan kesal.

"Hah... Kalau yang memarahiku bukan Makku, wah sudah seperti apa keadaannya." Tangannya menggenggam golok, kini sudah dilagar, golok itu dihantamkan ke pepohonan kecil yang ada di depannya, tentu saja pohon yang tidak berdosa itu menjadi korban rasa kesalnya.

"Untung saja Mak, jadinya aku mengalah, tapi benar-benar aneh Mak ini. Kenapa tidak mengerti sama sekali keadaanku, malah menyuruh mencari kayu bakar di waktu yang hampir memasuki magrib? Apa yang dipikirkan Mak sesungguhnya?"

Kepala Parman menggeleng-geleng, betul-betul entah apa yang ada di dalam otaknya, padahal jelas-jelas ibunya menyuruh mencari kayu bakar itu sudah dari siang hari, bahkan pagi-pagi pun sebelum wanita paruh baya itu bekerja di ladang orang sudah meminta. Namun, Parman tidak bergerak sama sekali hanya duduk melamun, dalam lamunannya selalu memikirkan ingin kaya raya dengan cara mudah.

Begitu sampai di kebun tujuan untuk mencari kayu bakar, memang dasar aneh Pemuda itu, Parman bukannya segera mencari kayu dibakar padahal tahu kegelapan malam akan segera tiba, meski di depannya jelas banyak ranting kering dan pastinya, apabila mulai bekerja tidak lama pun akan mendapatkan kayu bakar cukup buat memasak sore itu, namun lagi-lagi Parman malah duduk di batang kayu besar yang roboh.

"Hah... Begini amat nasibku, coba kalau aku dilahirkan dari orang tua yang kaya raya, pastinya saat ini keadaanku tidak akan sengsara." Punggungnya disandarkan ke batang kayu besar yang berdiri kokoh di belakangnya.

Cukup lama melamun, lamunannya semakin dalam membuat hari mulai gelap tapi anehnya, Parman tetap belum mengambil ranting kayu satupun. "Siapa wanita itu ya? Walau aku dan dia selalu berjumpa dalam mimpi, aku merasa seperti nyata."

Keningnya sampai mengernyit. "Soalnya sudah tiga kali datang ke alam mimpiku, kalau benar dia calon istriku, harus kemana aku mencarinya?"

Dasar tumor, si tukang molor, meski waktu sudah betul-betul gelap, tangannya belum bergerak mengambil kayu bakar, kembali lagi matanya terpejam tidur cukup pulas di tempat tersebut.

Tiba-tiba, di depannya muncul sosok wanita berwajah menyeramkan, matanya merah tertawa cekikikan, tentu apabila ada yang mendengar akan ketakutan bagi yang lemah imannya.

"Kik kik kik kik kik kik kik kik kik." Sesudah tertawa cekikikan makhluk itu mendekatinya, lalu duduk di samping Parman.

"Sayang, kita memang berjodoh, tidak lama lagi kita akan hidup bersama, tunggu aku, aku akan datang untuk membahagiakanmu Mas, segala keinginanmu akan tercapai." Itulah yang diutarakan wanita yang berwujud menyeramkan itu.

Namun seketika wujud wanita menyeramkan itu hilang tak berbekas, seolah tertiup angin malam yang mulai dingin, berbarengan dengan bangunnya Parman dari tidur. "Ya ampun... Sudah gelap begini, aduh mana belum pendapatan kayu bakar. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 27

    Rani masih berdiri di depan jendela kamar mewahnya saat Parman menyapanya dengan pertanyaan tersebut, ia segera mengalihkan tatapannya pada Suganda setelah cukup lama memikirkan pemikiran yang tentunya hanya dia yang tahu, dari mulai ramangnya malam yang perlahan berganti pagi hari yang cerah.Perlahan inar pagi menyelinap lembut melalui tirai tipis, menerangi wajahnya yang halus dan berseri. Rambut hitamnya yang tergerai rapi menambah kesan anggun pada sosoknya. Matanya kemudian melirik ke arah Parman, suaminya, yang sudah bangun dari tidur, duduk di tepi tempat tidur dengan ekspresi sedikit terkejut namun hangat.Tanpa kata, Rani tersenyum lembut, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Perlahan ia melangkah mendekat, memeluk tubuh suaminya yang masih dingin, selimut yang semula menutupi tubuh Parman saat itu masih terbalut pada tubuh Rani sendiri.“Aku tidak kenapa-napa, sayang. Tidak usah khawatir,” ucapnya lembut, suaranya menenangkan.Parman tanpa ragu menarik Ran

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 26

    Karto dan Darto melangkah tertatih, napas mereka memburu namun mata tak berani berpaling dari sosok kakek tua yang berjalan di depan. Obor kecil di tangan mereka bergetar, cahayanya menari-nari di antara pepohonan lebat hutan Cisodong yang sunyi dan dingin. Suara dedaunan yang bergesekan dan ranting patah sesekali mengiringi langkah mereka, menambah berat suasana yang penuh ketegangan.Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, bayangan gubuk tua mulai muncul di antara rimbunnya pohon-pohon besar. Atapnya reyot, dindingnya rapuh, namun aura mistis yang menyelimutinya membuat Karto dan Darto nyaris lupa akan rasa takut mereka. Kakek itu menoleh, matanya menyiratkan ketegasan yang tak bisa ditawar.“Masuklah, jangan takut,” suaranya serak namun berwibawa, memerintah tanpa ruang untuk protes.Keduanya masuk ke dalam gubuk yang remang-remang. Bau dupa dan ramuan herbal menusuk hidung, sementara rak-rak kayu penuh sesak dengan botol-botol kaca berisi cairan berwarna aneh dan tulang

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 25

    Darto memutar tubuhnya pelan, obor yang digenggamnya mengeluarkan cahaya temaram yang menari-nari di antara pepohonan rimbun. Matanya yang tajam berusaha menangkap bayangan apapun di balik gelapnya hutan, namun yang terlihat hanya siluet pohon besar menjulang tinggi, seperti penjaga sunyi yang mengawasi malam itu.Tiba-tiba, kembali telinga mereka mendengar jelas suara benda jatuh bergema keras, membuat telinga Darto berdenyut kencang. Napasnya memburu, jantungnya berdetak tak menentu. Di sisi lain, Karto berdiri diam, bibirnya terkunci rapat, tanpa sepatah kata pun keluar, hanya sesekali matanya menyapu kegelapan dengan waspada.Ketika suara benda jatuh itu kembali terdengar, kali ini disusul auman harimau yang menggetarkan, keduanya seketika membeku. Getaran ketakutan merayap di seluruh tubuh mereka; keringat dingin membasahi punggung.Tidak ada jalan keluar, mereka terperangkap di tengah hutan lebat, dikelilingi bayang-bayang ancaman. Darto dan Karto saling membelakangi, posisi yan

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 24

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma kayu jati dan wangi parfum mahal yang samar tercium di udara hangat. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya lembut di dinding emas, menciptakan suasana intim yang membalut Cinta Parman dan Rani. Tubuh mereka yang basah oleh keringat saling merapat, bergantian dalam gerakan penuh gairah yang tak kenal lelah. Napas Rani tercekat, matanya yang berkilau menatap dalam ke arah Parman dengan senyum penuh kepuasan. “Aku benar-benar puas, Mas. Terima kasih ya, sayang,” bisiknya lirih, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang tulus. “Aku bahagia menjadi istrimu.” Parman membalas dengan senyum hangat, tangannya lembut menyisir rambut hitam Rani yang sedikit berantakan. Ia menundukkan kepala, mencium keningnya yang halus, lalu merambat ke pipi yang memerah, dan akhirnya di bibir merah itu, penuh kelembutan dan hasrat yang sama-sama membara. Bibir mereka menyatu kembali, seolah ingin menyampaikan lebih dari kata-kata—janji, cinta, dan kehangatan yang tak terucapkan.

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 23

    Darto dan Karto melangkah menyusuri jalan semakin jauh dari warung tersebut, ingin menuju kampung Cisodong walau jaraknya masih jauh. Matahari yang tadinya cerah perlahan merunduk, menyisakan semburat jingga yang merayap di balik pepohonan. Suara desir angin dan kicau burung berganti dengan keheningan yang menekan, membuat langkah mereka semakin berat terasa.“Masih jauh, ya?” Tanya Karto, suaranya serak, menyembunyikan kelelahan yang mulai menggerogoti semangatnya.Darto hanya mengangguk pelan, tatapannya tetap fokus menatap jalur di depan. Setelah beberapa menit hening, Karto akhirnya berhenti di pinggir jalan, membelalakkan matanya pada Darto. “Kan, tadi si bapak warung sudah berkata kalau jalan kaki memakan 7 hari 7 malam mau bagaimana ceritanya kita baru berjalan sebentar kamu bertanya masih jauh segala?" Ucap Karto sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lanjut Darto. "Kita ini mau terus jalan kaki sampai kapan? Nggak mau sewa kendaraan atau gimana?”Karto menoleh, wajahnya memanca

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 22

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma harum parfum dan desahan lembut yang saling bersahutan. Parman dan Rani bergerak lincah di atas ranjang, tangan mereka tak henti mengeksplorasi setiap lekuk tubuh, mencari titik-titik yang mampu membangkitkan gairah. Parman menarik Rani dengan lembut, tubuhnya bergeser ke atas, lalu mereka bergantian mengubah posisi, seolah menari dalam irama hasrat yang membara. Wajah Rani memerah, matanya terkadang tertutup rapat, terkadang menatap dalam ke mata suaminya, memancarkan kebahagiaan dan kerinduan yang terpendam lama."Kamu hebat banget sayang, tenagamu aku suka, seolah tidak ada lelahnya punyamu terus berdiri kokoh... Aku suka Mas teruskan... Ahhhh... Sayang..." Kembali bisikan lembut dibarengi desahan keluar dari mulut wanita cantik itu, sambil mengikuti irama goyangan pinggul Ridwan."Tentunya dong, bagaimana aku tidak bersemangat terus, punyamu sempit dan enak banget sayang... Aku benar-benar bahagia memiliki kamu..." Balas Ridwan sambil membalikkan tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status