Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB 242 - PENJAGA YANG DI JAGA

Share

BAB 242 - PENJAGA YANG DI JAGA

Author: Vika moon
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-26 10:21:31
Nyanyian itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang terpisah. Ia menyatu dengan ruang, dengan napas, bahkan dengan pikiran mereka. Setiap getaran yang muncul membawa sesuatu yang lebih jelas dari sebelumnya, seolah perlahan membuka pintu yang selama ini tertutup rapat.

Pelangi berdiri lebih dekat sekarang. Bukan karena ia berpindah tempat, melainkan karena perasaannya yang berubah. Ia tidak lagi menjaga jarak.

“Aku ngerasa… kita makin dekat,” katanya pelan.

Aruna mengangguk kecil.

“Iya.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 256 - SAAT SESUATU MULAI MEMILIH

    Kabut itu kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Meski masih tanpa bentuk yang jelas, ada perubahan yang perlahan mulai terasa. Seperti sesuatu yang sebelumnya hanya ada kini mulai menyadari keberadaannya sendiri.Pelangi berdiri dengan lebih santai, meskipun matanya tetap fokus.“Aku ngerasa… dia berubah dikit…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Tidak banyak, tapi cukup untuk terlihat.”Sosok besar menambahkan.“Perubahan struktur awal terdeteksi.”Pelangi menoleh.“Struktur lagi…”Ia tertawa kecil, lalu kembali menatap kabut itu.“Tapi bener sih… dia kayak nggak sekosong tadi…”Kabut itu bergerak sedikit. Tidak acak seperti sebelumnya. Ada pola kecil yang mulai terbentuk, meskipun masih samar.Pelangi memperhatikan dengan serius.“Kamu… mulai ngerti ya…” katanya pelan.Kabut itu bergetar halus.Seperti jawaban yang belum bisa menjadi kata.Aruna melangkah mendekat.“Dia mulai merespon bukan hanya kehadiran, tapi juga makna.”Pelangi mengangguk.“Iya… kayak dia mulai milih…”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 257 - YANG TIDAK PUNYA NAMA

    Kabut itu tidak bergerak menjauh meskipun mereka semakin mendekat. Justru sebaliknya, kehadiran mereka seperti memberi bentuk yang sedikit lebih jelas, meskipun masih belum bisa disebut utuh. Ia tetap seperti bayangan yang tidak tahu harus menjadi apa.Pelangi berdiri paling depan. Ia tidak merasa takut, namun ada rasa aneh yang terus mengganggu, seperti melihat sesuatu yang seharusnya punya makna, tapi belum menemukannya.“Aku ngerasa… dia kayak nunggu sesuatu…” katanya pelan.Aruna menatap kabut itu dengan lebih dalam.“Atau menunggu untuk dikenali.”Sosok besar menambahkan.“Identitas belum terbentuk.”Pelangi menoleh.“Berarti dia… belum jadi sesuatu ya?”Sosok besar mengangguk.“Belum memiliki definisi jelas.”Pelangi menghela napas.“Kasian juga ya…”Kabut itu bergerak sedikit, seolah merespon kata kata itu. Tidak agresif, tidak juga menjauh, hanya… mendekat sedikit lebih dekat.Aruna memperhatikan.“Dia bereaksi terhadapmu.”Pelangi tersenyum kecil.“Aku juga ngerasa gitu…”Ia

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 254 - SISA YANG TIDAK TERLIHAT

    Keheningan yang tertinggal setelah gerbang itu tertutup terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi sunyi yang penuh beban atau penantian, melainkan seperti ruang kosong yang baru saja ditinggalkan sesuatu yang penting. Tidak menyakitkan, namun juga tidak sepenuhnya biasa.Pelangi masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah gerbang yang kini kembali menjadi batas yang tenang.“Aneh ya…” katanya pelan.Aruna menoleh.“Apa?”Pelangi menarik napas dalam.“Harusnya aku ngerasa selesai… tapi kok kayak masih ada yang nyisa…”Sosok besar langsung merespon.“Residu proses.”Pelangi menoleh.“Residu?”Sosok besar mengangguk.“Sisa energi atau efek yang belum sepenuhnya hilang.”Pelangi mengangguk pelan.“Iya… mungkin itu…”Aruna memperhatikan dengan lebih serius.“Perasaanmu tidak salah. Setelah proses besar seperti itu, biasanya memang ada jejak yang tertinggal.”Pelangi menatap ke depan lagi.“Jejak… ya…”Sunyi.Namun kali ini…sunyi itu seperti mengajak untuk mendengar sesuatu yang lebih hal

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 254 - DI BALIK GERBANG YANG TERBUKA

    Cahaya itu tidak langsung menyilaukan. Ia justru muncul perlahan, seperti sesuatu yang sangat lama menunggu untuk tidak mengejutkan siapa pun yang melihatnya. Gerbang yang selama ini hanya terlihat sebagai batas kini mulai benar benar terbuka, bukan dengan suara keras atau perubahan tiba tiba, melainkan dengan keheningan yang dalam dan penuh arti.Pelangi berdiri diam, matanya tidak berkedip sedikit pun. Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun dari apa yang sedang terjadi.“Ini… beda banget dari yang aku bayangin…” katanya pelan.Aruna berdiri di sampingnya, wajahnya tetap tenang.“Karena ini bukan sesuatu yang dipaksa terbuka,” jawabnya.Sosok besar menambahkan.“Pembukaan alami menghasilkan stabilitas tinggi.”Pelangi menoleh sambil tersenyum kecil.“Iya sih… kerasa lebih… damai.”Di depan mereka, sosok itu dan perempuan itu masih berdiri berhadapan. Tangan mereka masih saling menggenggam, dan tidak ada lagi keraguan di antara mereka. Cahaya yang muncul dari sentuhan itu mengalir m

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 252 - JANJI YANG HAMPIR SELESAI

    Jarak itu kini tinggal seujung rasa. Tidak lagi terbentang luas seperti sebelumnya, tidak lagi dipenuhi kabut yang membingungkan. Kini hanya tersisa ruang tipis yang memisahkan dua sosok yang perlahan kembali saling mengenali.Pelangi berdiri diam, namun hatinya terasa penuh. Ia bisa merasakan semuanya dengan sangat jelas. Getaran emosi dari dua sisi itu tidak lagi bertabrakan, melainkan mulai selaras dalam satu aliran yang sama.“Aku ngerasa… ini bener bener udah dekat banget…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Ini titik yang paling menentukan.”Sosok besar berdiri di sisi mereka.“Konvergensi hampir selesai,” katanya.Pelangi menoleh.“Kamu kalau ngomong itu bikin deg degan tau.”Sosok besar tidak menjawab, namun tidak juga membantah.Di depan mereka, sosok itu dan perempuan itu kini berdiri saling berhadapan. Tidak lagi samar seperti sebelumnya. Bentuk mereka mulai lebih jelas, meskipun masih diliputi cahaya yang lembut.Sosok itu menatap perempuan itu dengan mata yang penuh k

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 251 - SAAT INGATAN MENJADI JEMBATAN

    Getaran yang sebelumnya terasa rapuh kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih stabil. Tidak lagi hanya sekadar sambungan tipis, melainkan seperti jembatan yang perlahan terbentuk di antara dua sisi yang selama ini terpisah.Pelangi masih berada di titik itu. Ia bisa merasakan keduanya dengan jelas. Di satu sisi perempuan yang selama ini menunggu, di sisi lain sosok yang perlahan mulai mengingat.Dan di tengah itu semua, ia menjadi penghubung.“Aku masih di sini… kalian berdua juga…” bisiknya pelan.Aruna berdiri dengan tenang, mengawasi tanpa mengganggu.“Biarkan prosesnya berjalan,” katanya lembut.Sosok besar tetap memperhatikan setiap perubahan.“Stabilitas meningkat. Risiko menurun,” ucapnya.Pelangi tersenyum tipis.“Nah… ini baru kabar baik.”Di hadapannya, sosok itu kini tidak lagi tampak kosong. Matanya bergerak lebih hidup, seperti seseorang yang sedang mengumpulkan potongan potongan ingatan yang tercecer.“Aku… ingat suara itu…” katanya pelan.Pelangi langsung merespon.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab - 157 Penjaga yang Terbangun

    Malam masih menyelimuti hutan Desa Sumberrejo ketika cahaya yang tadi muncul di tanah perlahan menghilang.Udara kembali dingin.Suara jangkrik mulai terdengar lagi satu per satu, seolah alam baru saja selesai menonton sesuatu yang besar dan kini mencoba kembali ke kehidupan normalnya.Aruna berdir

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab - 154 Bisikan dari Penjaga Hutan

    Malam turun perlahan di Desa Sumberrejo.Langit berubah menjadi gelap kebiruan, sementara bulan menggantung di atas pepohonan seperti mata yang mengawasi desa dari kejauhan. Suara jangkrik mulai memenuhi udara, bercampur dengan desau angin yang bergerak di antara rumpun bambu.Namun bagi Aruna, mal

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 143 - Bayangan yang Tidak Pulang

    Kabut turun lebih cepat dari biasanya.Aruna berdiri di tepi jurang kecil yang menghadap ke lembah tempat Desa Sumberrejo terbaring seperti tubuh yang lelah. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa dupa yang semalam dibakar Pak Seno di pendopo. Sejak ritual pemanggilan Horo Misteri

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 141 — PINTU YANG TAK LAGI TERKUNCI

    Angin sore menyapu pelataran rumah Pak Seno dan Bu Seno dengan lembut, membawa aroma tanah basah sehabis hujan. Langit berwarna jingga keemasan, seperti lembaran kisah panjang yang hampir ditutup namun belum benar-benar selesai. Aruna berdiri di depan jendela kamar, memandang jauh ke arah hutan yan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status