/ Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 106 – Bayangan yang Akhirnya Pulih

공유

Bab 106 – Bayangan yang Akhirnya Pulih

작가: Vika moon
last update 게시일: 2026-02-15 09:57:05

Dua minggu setelah malam tembang terakhir, desa mulai kembali ke ritme lamanya. Namun, bagi Aruna, Embun, Bulan, Pelangi, dan seluruh keluarga, kehidupan tak pernah benar-benar sama lagi. Setiap rumah, setiap sudut jalan, bahkan setiap pepohonan mengingatkan mereka pada luka yang pernah ada luka yang kini harus mereka rawat dengan hati-hati.

Aruna duduk di teras rumah, menatap halaman yang kini mulai ditanami bunga-bunga baru. Embun duduk di sampingnya, memegang secangkir teh hangat. “Aku rasa
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 277 - RUMAH YANG TIDAK LAGI KOSONG

    Gerbang cahaya keemasan itu berdiri megah di hadapan mereka. Serpihan cahaya putih masih beterbangan pelan di udara ruang perantara, membuat semuanya terasa seperti mimpi yang belum benar benar selesai. Pelangi berjalan pelan di samping Asa. Sesekali ia melirik cahaya kecil itu diam diam. Dan semakin ia melihatnya… semakin terasa bahwa Asa benar benar berubah. Bukan berubah menjadi lebih kuat saja. Namun lebih tenang. Rasa sakit itu masih ada. Pelangi tahu itu. Namun sekarang rasa sakit itu tidak lagi menghancurkan Asa dari dalam. Aruna berjalan beberapa langkah di depan mereka sambil memperhatikan gerbang. “Jalan pulang sudah stabil.” Sosok besar langsung mencatat sesuatu lagi. “Peluang perpindahan aman.” Pelangi langsung menghela napas lega. “Akhirnya ada kabar bagus.” Namun sebelum mereka melangkah lebih dekat… gerbang itu tiba tiba berdenyut pelan. Cahaya keemasannya bergerak seperti air. Pelangi langsung berhenti. “Eh…” Asa juga ikut diam. “…hangat…” Gerbang

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 276 - Cahaya Yang Dibawa Pulang

    Portal bercahaya itu bergetar pelan di depan mereka. Retakan ruang di belakang semakin melebar, membuat suara runtuhan terus terdengar seperti gema panjang yang tidak ada akhirnya.Pelangi berdiri di samping Asa sambil menatap portal itu hati hati.“Kita beneran masuk?”Aruna mengangguk singkat.“Kalau tidak, kita ikut hancur bersama ruang ini.”Pelangi langsung menelan ludah.“Oke… pertanyaan bodoh.”Sosok besar berjalan lebih dulu mendekati portal sambil tetap mencatat sesuatu di buku cahayanya.“Stabilitas cukup untuk dilewati.”Pelangi melihat Asa.Cahayanya kini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.Masih redup karena kehilangan.Namun tidak lagi kacau.“Asa…”Asa menoleh perlahan.“…iya…”Pelangi tersenyum kecil.“Kita pulang.”Sunyi sebentar.Lalu cahaya Asa bergerak pelan.“…pulang…”Seolah kata itu masih terasa asing baginya.Pelangi mengangguk kecil.“Iya.”Ia menggenggam cahaya Asa lagi.“Bareng.”Dan untuk pertama kalinya…Asa menggenggam balik dengan lebih jelas.Cahaya

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 275 H DUNIA SETELAH KEHILANGAN

    Cahaya portal di ujung ruang itu terus berkedip tidak stabil. Retakan besar menyebar ke mana mana, membuat seluruh tempat terasa seperti akan hancur dalam hitungan detik.Pelangi menggenggam Asa erat sambil berlari.“Atas sana! Cepat!”Aruna bergerak lebih dulu melewati serpihan cahaya yang terus berjatuhan. Sosok besar mengikuti di belakang mereka sambil terus mencatat keadaan ruang yang semakin kacau.“Integritas ruang tersisa dua belas persen.”Pelangi langsung panik.“Bisa nggak sih ngomong yang nggak bikin stres?!”Namun tidak ada yang menjawab.Karena semua orang tahu…keadaan mereka memang sedang buruk.Asa bergerak di samping Pelangi tanpa banyak bicara.Cahayanya redup.Sangat redup.Pelangi meliriknya beberapa kali dengan khawatir.“Asa…”Asa tidak menjawab.Ia masih terlihat kosong setelah kepergian Eren.Dan itu membuat hati Pelangi terasa berat.Dummm!Lantai di belakang mereka runtuh besar sekali.Pelangi refleks mempercepat langkah.“Cepat!”Portal bercahaya itu kini te

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 274 - SAAT DUNIA MULAI RUNTUH

    Retakan besar di bawah mereka terus melebar. Cahaya putih yang selama ini memenuhi ruang perlahan runtuh menjadi serpihan serpihan kecil seperti kaca pecah yang jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar. Pelangi hampir kehilangan pijakan saat lantai di bawahnya berguncang hebat. “Asa!” Ia menggenggam cahaya Asa kuat kuat. Asa bergerak mendekat refleks. “…Pelangi…” Suara runtuhan terdengar dari segala arah. Langit ruang itu juga mulai retak semakin parah, memperlihatkan pusaran hitam besar di baliknya. Aruna berdiri menjaga keseimbangan sambil melihat sekeliling. “Ruang ini tidak akan bertahan lama.” Sosok besar langsung mencatat. “Perkiraan kehancuran total semakin dekat.” Pelangi langsung panik. “Terus kita harus gimana?!” Sosok tinggi itu menatap retakan di langit. “Kita harus keluar sebelum inti ruang hancur sepenuhnya.” Eren masih berdiri di dekat pintu yang nyaris pecah total. Cahaya hitam di tubuhnya bergerak tidak stabil mengikuti runtuhnya tempat itu.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 273 - ORANG YANG MENARIK ASA KEMBALI

    Cahaya hitam itu terus merambat dari tangan Eren menuju tubuh Asa perlahan seperti akar gelap yang hidup. Seluruh ruang dipenuhi getaran aneh yang membuat udara terasa semakin berat.Pelangi langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa sakit akibat terpental tadi.“Asa!”Asa menoleh sedikit.Cahayanya berkedip kacau.“…Pelangi…”Namun tangan Eren masih mencengkeramnya erat.Tatapan gelap itu tidak berpindah sedikit pun dari Asa.“Aku sudah terlalu lama sendirian,” katanya pelan.Pelangi menggigit bibir kuat kuat.“Aku bilang lepasin dia!”Ia mencoba mendekat lagi.Namun kali ini Aruna langsung menahan lengannya.“Tunggu.”Pelangi langsung menoleh kesal.“Nunggu apalagi?!”Aruna menatap Eren serius.“Kalau kau bergerak sembarangan sekarang, energi mereka bisa bentrok.”Sosok besar langsung menambahkan.“Kemungkinan kehancuran ruang meningkat drastis.”Pelangi mengepalkan tangan.Ia benci harus diam saat Asa terlihat kesakitan.Eren perlahan mendekatkan wajahnya ke Asa.“Aku terus meman

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 272 - JANGAN PERGI SENDIRI LAGI

    Retakan di pintu itu terus menyebar seperti luka yang tidak bisa dihentikan. Cahaya hitam keluar semakin banyak, membuat seluruh ruang terasa dingin dan berat.Tangan Eren kini sudah sepenuhnya mencengkeram sisi pintu.Perlahan.Namun pasti.Ia sedang mencoba keluar.Pelangi masih menggenggam cahaya Asa erat erat. Jantungnya berdetak kacau saat melihat Asa melangkah maju tadi.Ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya muncul sepenuhnya.Bukan takut pada kehancuran.Bukan takut pada Eren.Namun takut kehilangan Asa.“Asa…” suaranya pelan namun bergetar.Asa menoleh perlahan.Cahayanya bergerak tidak stabil.“…aku harus…”“Nggak,” potong Pelangi cepat.Ia menggenggam cahaya itu semakin erat.“Kamu jangan ngomong kayak mau ninggalin aku.”Sunyi.Kalimat itu membuat Asa langsung diam.Bahkan retakan pintu yang terus berbunyi terasa seperti menjauh beberapa detik.Eren memperhatikan mereka dari balik celah pintu.Matanya yang gelap bergerak perlahan.“Masih sama seperti dulu.”Pelangi la

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 21 – Tawaran yang Tak Bisa Ditolak

    Setelah puas berkeliling melihat benda-benda penyimpanan sanggar—topeng-topeng tua, kain jarik berusia puluhan tahun, hingga properti tari yang disimpan rapi namun terasa berat aura anak-anak KKN kembali berkumpul di pendopo kecil sanggar. Suasana mendadak terasa lebih sunyi, seolah sanggar ikut me

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab - 20 Gelang Awal Malapetaka

    Pak Wiryo akhirnya melangkah mendekat, senyum ramah masih terukir di wajahnya, seolah tidak menyadari ketegangan yang sempat terjadi barusan. Tangannya menepuk pelan tiang kayu pendopo, lalu ia memandang satu per satu wajah para mahasiswa KKN.“Wis, wis,” ucapnya lembut namun tegas.“Ayo, podo delo

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 19 - Tatapan Di Antara Gending

    Motor-motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan luas dengan pendopo terbuka. Atapnya tinggi, ditopang tiang-tiang kayu tua yang menghitam dimakan usia. Dari dalam, suara gamelan mengalun pelan—gendhing Jawa yang ritmenya teratur, namun entah kenapa terasa berat di telinga.“Mungkin ini s

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 18 – Tatapan yang Tertinggal

    Aruna kembali dengan langkah tergesa. Wajahnya pucat, nyaris tak ada warna. Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, meski pagi belum begitu terik. Tangannya gemetar samar ketika ia meraih setang motor.Hileon yang sejak tadi memperhatikannya langsung turun dari motor.“Aruna,” panggilnya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status