Mag-log inWaktu di tempat itu terasa aneh. Tidak ada siang atau malam, tidak ada matahari ataupun langit yang berubah warna. Namun entah kenapa, Pelangi merasa seperti mereka telah melewati perjalanan yang sangat panjang. Ia duduk sambil memperhatikan Asa yang kini jauh lebih tenang dibanding pertama kali mereka bertemu. Cahaya itu masih bergerak lembut. Tidak lagi liar. Tidak lagi seperti sesuatu yang takut disentuh. Pelangi tersenyum kecil sendiri. “Kamu berubah banyak ya…” Asa bergerak perlahan. “…berubah…” Pelangi mengangguk. “Iya.” Ia tertawa kecil. “Dulu ngomong aja nggak bisa.” Asa diam beberapa detik. Lalu terdengar pelan. “…bingung…” Pelangi langsung tertawa. “Sekarang juga kadang masih bingung sih.” Asa ikut bergetar kecil seperti tertawa. Dan melihat itu membuat hati Pelangi terasa hangat. Aruna memperhatikan dari samping. “Perkembangannya lebih cepat dari yang kupikirkan.” Sosok besar langsung menambahkan. “Kondisi emosional stabil memper
Ruang itu terasa jauh lebih tenang setelah percakapan panjang tentang masa lalu Asa. Untuk pertama kalinya sejak semua ingatan mulai terbuka, cahaya di sekitar Asa tidak lagi dipenuhi getaran kacau ataupun tekanan yang berat. Ia masih sedih. Masih menyimpan luka. Namun kini rasa itu tidak lagi sepenuhnya menelannya hidup hidup. Pelangi duduk bersandar pelan sambil menatap cahaya lembut di depannya. “Aku baru sadar sesuatu…” katanya tiba tiba. Aruna menoleh sedikit. “Apa?” Pelangi tersenyum kecil. “Dulu setiap Asa ingat sesuatu… dia langsung panik.” Asa bergerak kecil mendengar namanya disebut. “…panik…” Pelangi tertawa kecil. “Iya…” Ia menunjuk Asa pelan. “Sekarang kamu mulai bisa cerita tanpa langsung kehilangan kendali.” Asa diam beberapa detik. Lalu perlahan berkata. “…karena… ada…” Pelangi mengerutkan kening sedikit. “Ada apa?” Asa bergerak mendekat. “…kamu…” Sunyi. Namun kali ini… sunyi itu terasa hangat sekali. Pelangi langsung
Setelah nama Liora disebut, suasana di sekitar mereka berubah menjadi jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi kenangan.Pelangi masih duduk dekat Asa. Cahaya lembut dari sosok itu kini bergerak lebih lambat, seperti sedang tenggelam jauh ke dalam ingatan yang selama ini terkunci.“Asa…” panggil Pelangi pelan.Asa bergerak kecil.“…iya…”Pelangi tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Suara Asa memang masih pelan dan belum sepenuhnya stabil, namun sekarang setiap kata terasa jauh lebih hidup.“Kamu masih ingat banyak tentang mereka?”Asa diam cukup lama.Lalu perlahan berkata.“…sedikit…”Pelangi mengangguk.“Nggak apa apa… pelan pelan aja.”Sosok tinggi itu masih berdiri di kejauhan. Kini auranya tidak lagi terasa mengancam seperti awal kemunculannya, namun tetap ada kesedihan dingin yang menyelimuti dirinya.Aruna menatap sosok itu.“Kau juga mengenal mereka?”Sosok itu tidak langsung menjawab.Namun beberapa detik kemudian ia berk
Setelah kata “hilang” keluar dari Asa, ruang di sekitar mereka kembali dipenuhi kesunyian yang berat. Tidak ada lagi ledakan cahaya ataupun tekanan besar seperti sebelumnya. Namun justru ketenangan itu terasa lebih menyakitkan.Pelangi masih berdiri dekat Asa sambil memegang cahaya lembut itu perlahan. Kini ia mengerti satu hal.Yang paling menghancurkan Asa bukan kekuatannya.Melainkan rasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan seseorang.Pelangi menunduk pelan.“Asa…” bisiknya.Asa tidak langsung menjawab.Cahayanya bergerak kecil.Lemah.Seperti seseorang yang terlalu lelah mengingat sesuatu.Sosok tinggi itu masih berdiri di tempatnya. Tidak lagi memberi tekanan seperti sebelumnya, namun auranya tetap terasa dingin.Aruna menatap sosok itu.“Siapa yang hilang?”Sosok tinggi itu diam cukup lama.Lalu berkata pelan.“Orang orang yang dulu memilih tinggal di sisinya.”Pelangi langsung menoleh.“Memangnya dulu Asa nggak sendirian?”Sosok besar langsung mencatat.“Kemungkinan adany
Udara di sekitar mereka berubah semakin dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang terasa masuk hingga ke dalam kesadaran. Pelangi masih berdiri di depan Asa, meski dirinya sendiri bisa merasakan tekanan besar dari sosok tinggi itu.Asa bergetar pelan di belakangnya.“…Pe…la…ngi…”“Aku di sini,” jawab Pelangi cepat.Ia tidak berani menoleh terlalu lama, takut jika rasa takut Asa semakin besar.Sosok tinggi itu tetap diam di tempatnya. Tubuhnya tersusun dari bayangan samar yang terus bergerak perlahan, seperti asap gelap yang tidak pernah benar benar membentuk sesuatu.Aruna maju satu langkah.“Kau belum menjawab semuanya,” katanya tenang.Sosok itu menoleh perlahan.“Aku tidak datang untuk menjawab.”Sosok besar langsung mencatat.“Niat komunikasi rendah.”Pelangi mengerutkan kening.“Kalau gitu ngapain datang…”Sosok itu kembali melihat ke arah Asa.“Untuk memastikan kesalahan tidak terulang.”Kalimat itu membuat Asa langsung bergetar lebih kuat.“…ja…ngan…”Pelangi langsung b
Setelah percakapan itu, suasana di sekitar mereka tidak benar benar kembali tenang. Memang tidak ada ledakan cahaya ataupun perubahan besar, namun ada sesuatu yang terasa menggantung di udara. Tentang segel. Tentang seseorang atau sesuatu yang pernah mencoba menghapus Asa. Pelangi masih duduk di dekat cahaya itu sambil memikirkan kata kata yang tadi keluar dari Asa. Semakin dipikirkan, semakin terasa aneh. “Kalau Asa disegel…” katanya pelan. Aruna menoleh. “Maka ada alasan mengapa itu dilakukan.” Sosok besar langsung menambahkan. “Tidak ada tindakan penyegelan tanpa tujuan.” Pelangi menghela napas. “Masalahnya… alasan apa…” Asa bergerak kecil di sampingnya. Cahayanya lebih stabil sekarang, namun sesekali masih bergetar ketika kata kata tertentu disebut. Pelangi langsung menyadarinya. “Kamu takut kalau ngomongin itu ya…” Asa diam beberapa saat. Lalu terdengar pelan. “…dingin…” Pelangi mengerutkan kening. “Dingin?” Aruna berpikir sejenak. “Mungkin
Pagi itu datang dengan cahaya pucat yang menembus sela-sela jendela rumah singgah. Udara desa masih basah oleh embun, menyisakan aroma tanah yang lembap dan dedaunan yang baru saja tersentuh fajar. Aruna terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar dengan napas p
Malam turun perlahan, membawa hawa lembap yang menyelinap ke sela-sela jendela rumah Pak Seno. Lampu-lampu dinyalakan lebih awal dari biasanya, seolah semua orang sepakat bahwa gelap tak boleh diberi ruang sedikit pun. Di ruang tengah, anak-anak KKN duduk berdekatan. Tak ada tawa, tak ada canda. Ya
Pagi itu desa belum sepenuhnya terbangun, namun Aruna sudah duduk di teras rumah Pak Seno dengan punggung tegak dan mata kosong menatap halaman. Embun masih menggantung di ujung daun, dan udara dingin menyusup perlahan ke kulit. Semalam hampir tak ada yang benar-benar tidur nyenyak. Kata pintu teru
Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang Cahaya matahari merambat pelan melewati celah jendela rumah Pak Seno, namun udara di dalam tetap terasa dingin, seperti sisa malam yang enggan pergi. Aruna terbangun dengan kepala berat dan dada sesak, seolah ia baru saja berlari jauh dalam mimpi yang ti







