Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 35– Latihan yang Dipisahkan

Share

Bab 35– Latihan yang Dipisahkan

Author: Vika moon
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-09 07:48:13

Halaman sanggar tari Pak Wiryo sudah ramai saat rombongan anak KKN tiba. Dari luar, suara gamelan terdengar samar tidak keras, tidak pula lembutnseperti detak jantung yang berdenyut perlahan namun pasti. Udara di sekitar sanggar terasa lebih dingin dibandingkan jalan desa yang baru saja mereka lewati, meski matahari telah naik cukup tinggi Aruna melangkah pertama kali memasuki halaman, seperti biasa. Wajahnya tenang, tapi di balik ketenangan itu, dadanya berdenyut tidak nyaman. Setiap kali ia
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 273 - ORANG YANG MENARIK ASA KEMBALI

    Cahaya hitam itu terus merambat dari tangan Eren menuju tubuh Asa perlahan seperti akar gelap yang hidup. Seluruh ruang dipenuhi getaran aneh yang membuat udara terasa semakin berat.Pelangi langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa sakit akibat terpental tadi.“Asa!”Asa menoleh sedikit.Cahayanya berkedip kacau.“…Pelangi…”Namun tangan Eren masih mencengkeramnya erat.Tatapan gelap itu tidak berpindah sedikit pun dari Asa.“Aku sudah terlalu lama sendirian,” katanya pelan.Pelangi menggigit bibir kuat kuat.“Aku bilang lepasin dia!”Ia mencoba mendekat lagi.Namun kali ini Aruna langsung menahan lengannya.“Tunggu.”Pelangi langsung menoleh kesal.“Nunggu apalagi?!”Aruna menatap Eren serius.“Kalau kau bergerak sembarangan sekarang, energi mereka bisa bentrok.”Sosok besar langsung menambahkan.“Kemungkinan kehancuran ruang meningkat drastis.”Pelangi mengepalkan tangan.Ia benci harus diam saat Asa terlihat kesakitan.Eren perlahan mendekatkan wajahnya ke Asa.“Aku terus meman

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 272 - JANGAN PERGI SENDIRI LAGI

    Retakan di pintu itu terus menyebar seperti luka yang tidak bisa dihentikan. Cahaya hitam keluar semakin banyak, membuat seluruh ruang terasa dingin dan berat.Tangan Eren kini sudah sepenuhnya mencengkeram sisi pintu.Perlahan.Namun pasti.Ia sedang mencoba keluar.Pelangi masih menggenggam cahaya Asa erat erat. Jantungnya berdetak kacau saat melihat Asa melangkah maju tadi.Ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya muncul sepenuhnya.Bukan takut pada kehancuran.Bukan takut pada Eren.Namun takut kehilangan Asa.“Asa…” suaranya pelan namun bergetar.Asa menoleh perlahan.Cahayanya bergerak tidak stabil.“…aku harus…”“Nggak,” potong Pelangi cepat.Ia menggenggam cahaya itu semakin erat.“Kamu jangan ngomong kayak mau ninggalin aku.”Sunyi.Kalimat itu membuat Asa langsung diam.Bahkan retakan pintu yang terus berbunyi terasa seperti menjauh beberapa detik.Eren memperhatikan mereka dari balik celah pintu.Matanya yang gelap bergerak perlahan.“Masih sama seperti dulu.”Pelangi la

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 271 - PENANTIAN YANG BERUBAH MENJADI GELAP

    Retakan di pintu itu terus melebar perlahan. Cahaya hitam yang keluar darinya mulai memenuhi udara di sekitar mereka seperti kabut tipis yang hidup.Pelangi berdiri di depan Asa tanpa sadar. Tangannya sedikit gemetar, namun ia tetap tidak mundur.Entah kenapa…semakin lama mendengar suara Eren…semakin terasa bahwa sesuatu dalam dirinya telah berubah terlalu jauh.Asa masih menunduk.Cahayanya tidak stabil.“…Eren…”Suara itu terdengar seperti bisikan penuh rasa bersalah.Dari balik pintu, mata gelap itu tetap memandang lurus ke arah Asa.“Akhirnya kau masih mengingat namaku.”Sunyi.Namun kali ini…sunyi itu terasa seperti luka yang membuka dirinya perlahan.Pelangi menoleh sedikit ke arah Asa.“Kamu… dekat sama dia ya…”Asa diam cukup lama.Lalu perlahan berkata.“…dia… sahabat…”Kalimat itu membuat dada Pelangi terasa sesak.Karena sekarang semuanya mulai masuk akal.Rasa bersalah Asa begitu besar bukan hanya karena kehilangan seseorang.Namun karena yang hilang adalah orang yang s

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 270 - SOSOK DI BALIK RETAKAN

    Suara dentuman dari pintu itu terus menggema ke seluruh ruang. Setiap bunyinya terdengar berat, seperti sesuatu yang sangat besar sedang mencoba menghantam dari sisi lain.Dummm…Retakan cahaya di permukaan pintu semakin melebar sedikit demi sedikit.Pelangi berdiri mematung sambil menggenggam cahaya Asa lebih erat. Jantungnya berdetak sangat cepat.“Aku serius… ini nggak normal…”Aruna menatap pintu itu tanpa berkedip.“Memang bukan.”Sosok besar langsung mencatat.“Tekanan energi meningkat drastis.”Asa gemetar di samping Pelangi.“…dia… bangun…”Pelangi langsung menoleh.“Siapa dia…”Namun Asa hanya menunduk.Cahayanya bergerak kacau.Seperti ketakutan lama yang kembali muncul seluruhnya.Sosok tinggi itu melangkah mendekati pintu perlahan.“Aku tidak menyangka segelnya melemah secepat ini.”Pelangi langsung berkata cepat.“Kalau emang berbahaya kenapa nggak ditahan!”Sosok itu diam beberapa detik.Lalu menjawab pelan.“Karena segel itu terhubung dengan Asa.”Sunyi.Pelangi langsun

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 269 - PINTU YANG LAMA TERTUTUP

    Waktu di tempat itu terasa aneh. Tidak ada siang atau malam, tidak ada matahari ataupun langit yang berubah warna. Namun entah kenapa, Pelangi merasa seperti mereka telah melewati perjalanan yang sangat panjang. Ia duduk sambil memperhatikan Asa yang kini jauh lebih tenang dibanding pertama kali mereka bertemu. Cahaya itu masih bergerak lembut. Tidak lagi liar. Tidak lagi seperti sesuatu yang takut disentuh. Pelangi tersenyum kecil sendiri. “Kamu berubah banyak ya…” Asa bergerak perlahan. “…berubah…” Pelangi mengangguk. “Iya.” Ia tertawa kecil. “Dulu ngomong aja nggak bisa.” Asa diam beberapa detik. Lalu terdengar pelan. “…bingung…” Pelangi langsung tertawa. “Sekarang juga kadang masih bingung sih.” Asa ikut bergetar kecil seperti tertawa. Dan melihat itu membuat hati Pelangi terasa hangat. Aruna memperhatikan dari samping. “Perkembangannya lebih cepat dari yang kupikirkan.” Sosok besar langsung menambahkan. “Kondisi emosional stabil memper

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 268 - CAHAYA YANG TIDAK LAGI SENDIRI

    Ruang itu terasa jauh lebih tenang setelah percakapan panjang tentang masa lalu Asa. Untuk pertama kalinya sejak semua ingatan mulai terbuka, cahaya di sekitar Asa tidak lagi dipenuhi getaran kacau ataupun tekanan yang berat. Ia masih sedih. Masih menyimpan luka. Namun kini rasa itu tidak lagi sepenuhnya menelannya hidup hidup. Pelangi duduk bersandar pelan sambil menatap cahaya lembut di depannya. “Aku baru sadar sesuatu…” katanya tiba tiba. Aruna menoleh sedikit. “Apa?” Pelangi tersenyum kecil. “Dulu setiap Asa ingat sesuatu… dia langsung panik.” Asa bergerak kecil mendengar namanya disebut. “…panik…” Pelangi tertawa kecil. “Iya…” Ia menunjuk Asa pelan. “Sekarang kamu mulai bisa cerita tanpa langsung kehilangan kendali.” Asa diam beberapa detik. Lalu perlahan berkata. “…karena… ada…” Pelangi mengerutkan kening sedikit. “Ada apa?” Asa bergerak mendekat. “…kamu…” Sunyi. Namun kali ini… sunyi itu terasa hangat sekali. Pelangi langsung

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 13 – Pagi yang Datang Terlambat

    Malam itu akhirnya mereda Setelah beberapa saat terdiam, Aruna dan Embun kembali berbaring. Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak. Embun memejamkan mata dengan tubuh menegang, sementara Aruna memandangi langit-langit kamar, menunggu hingga detak jantungnya kembali normal. Ketika akhirnya terle

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 12 – Jendela yang Tidak Pernah Diam

    Embun berdiri di dapur dengan gelas di tangannyavAir di dalamnya sudah tenang, namun jari-jarinya belum. Getaran halus merambat dari telapak ke pergelangan, memaksa ia menggenggam gelas lebih erat agar tidak jatuh. Cahaya bulan masuk dari kisi-kisi jendela, membentuk garis pucat di lantai tanah ya

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 11 – Nyanyian dalam Gelap

    Malam benar-benar jatuh di Desa Sendang Pitu. Rumah Pak Seno telah terlelap. Lampu-lampu dipadamkan, menyisakan cahaya bulan yang menyusup melalui celah jendela kayu. Suara jangkrik bersahut-sahutan, teratur, seperti lullaby alam yang meninabobokan siapa pun yang mendengarnya Satu per satu, merek

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 10 – Jarak yang Salah

    Malam turun perlahan saat mereka meninggalkan sanggar tari. Jalan desa tampak lebih sempit dibanding sore tadi. Lampu-lampu rumah warga menyala redup, memantulkan bayangan panjang di tanah Angin berdesir, membawa aroma daun basah Bulan berjalan sedikit di belakang Hileon. Sejak keluar dari sanggar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status