ホーム / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 2 – Larangan yang Ora Kena Dilanggar

共有

Bab 2 – Larangan yang Ora Kena Dilanggar

作者: Vika moon
last update 公開日: 2026-01-02 15:32:13

Rumah itu berdiri agak menjorok ke dalam, jauh dari rumah warga lain. Dinding kayunya tua, sebagian menghitam dimakan usia Halamannya luas, namun tak satu pun tanaman bunga tumbuh di sana hanya pohon besar dengan akar menjalar seperti urat nadi Lampu minyak menggantung di teras cahayanya kuning redup.

“Monggo, Nak… mlebet rumiyin,”

suara seorang lelaki tua terdengar berat namun terjaga wibawanya Aruna menoleh.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Tubuhnya kurus tapi tegap, sorot matanya tajam dan dalam. Di sampingnya berdiri seorang perempuan berkebaya cokelat, wajahnya lembut, namun matanya menyimpan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

“Kulo Seno,” ujar lelaki itu.

“Iki garwa kulo, Bu Seno.”

Aruna menunduk sopan. “Nuwun sewu, Pak, Bu. Terima kasih sudah menerima kami.”

Bu Seno tersenyum tipis. “Inggih, mugi-mugi kalian betah wonten mriki.”

Saat Aruna melangkah masuk, hawa dingin langsung menyergap, seolah rumah itu menarik napas panjang menyambutnya. Getaran halus menyentuh indra keenamnya Rumah ini tidak kosong Hileon otomatis melangkah lebih dekat ke Aruna. Ia tak mengerti alasannya, tapi nalurinya menyuruh begitu.

“Rumahnya gede juga, Pak,” celetuk Bagas, mencoba santai. “Kayak rumah orang penting.”

Pak Seno meliriknya sekilas.

“Nggih… rumiyin, griyo punika gadhah tiyang ingkang… katah panguwasane.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Embun memandang ke sudut rumah. “Tempat ini… berat,” gumamnya pelan.

Alex berjalan paling belakang. Lantai kayu berderit setiap kali diinjak, bunyinya panjang, seolah mengeluh Mereka dikumpulkan di ruang tengah. Meja kayu panjang, teko teh panas, dan beberapa cangkir tanah liat tersusun rapi. Dindingnya penuh foto-foto lama.

Bulan terpaku pada satu foto Seorang perempuan berkebaya hijau, berdiri di depan gamelan. Wajahnya cantik, senyumnya samar—namun matanya kosong.

“Pak…” Bulan membuka suara pelan. “Foto ini…”

Pak Seno langsung berdiri dan menurunkan foto itu.

“Sampun. Ojo dipun rembug.”

(Jangan dibicarakan.)

Tangannya sedikit bergetar.

Aruna menangkapnya jelas.

Pak Seno menarik napas panjang, lalu duduk kembali. Wajahnya berubah serius.

“Saiki kulo badhe ngendika. Puniko penting.”

(Sekarang saya akan bicara. Ini penting.)

Semua terdiam.

“Wonten mriki, kathah paugeran. Dudu kagem medeni, nanging kagem njagi nyowo panjenengan sedoyo.”

(Di sini ada banyak aturan. Bukan untuk menakuti, tapi untuk menjaga nyawa kalian.)

Bu Seno menunduk, jemarinya saling meremas.

“Sing sepisan,” lanjut Pak Seno,

“sawise magrib, aja metu griyo. Sanajan namung wonten teras.”

(Setelah magrib, jangan keluar rumah. Bahkan ke teras.)

“Kalau ada yang sakit darurat, Pak?” tanya Alvaro sopan.

Pak Seno menatapnya lama.

“Ora wonten darurat sing langkung wigati tinimbang slamete nyowo.”

(Tidak ada keadaan darurat yang lebih penting dari keselamatan nyawa.)

Pelangi terkekeh kecil, gugup. Tak ada yang menanggapi.

“Sing kaping kalih,” suara Pak Seno merendah,

“aja nyedhaki sendang. Awit nopo wae.”

(Jangan mendekati sendang. Apa pun alasannya.)

Aruna menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Lan sing kaping tiga,”

Pak Seno menatap mereka satu per satu.

“Menawi panjenengan krungu swanten nyanyian… ojo nate dipun tindak. Ojo dijawab. Ojo digoleki.”

(Jika kalian mendengar suara nyanyian… jangan diikuti. Jangan dijawab. Jangan dicari.)

Embun menggigit bibir. Alex menunduk, napasnya berat.

Bagas mencoba bercanda, suaranya ragu. “Nyanyian apa, Pak?”

Pak Seno menatapnya tajam.

“Swanten ingkang ayu. Nanging mateni.”

(Suara yang indah. Tapi mematikan.)

Ruangan seketika terasa lebih dingin.

“Lan sing pungkasan,”

Pak Seno menghela napas panjang.

“Aja nate nyuwun crito bab desa punika. Masa kapungkur langkung sae tetep kapendem.”

(Jangan pernah bertanya tentang masa lalu desa ini. Lebih baik tetap terkubur.)

Bu Seno akhirnya bicara, suaranya lirih.

“Ana sing mboten kersa dipun eling-elIng.”

(Ada yang tidak ingin diingat.)

Aruna mengangguk perlahan. “Kami akan patuh, Pak.”

Pak Seno menatap Aruna lebih lama dari yang lain.

“Nduk… panjenengan kedah langkung ngati-ati.”

(Nak… kamu harus lebih berhati-hati.)

Aruna tersentak kecil. “Maksud Bapak?”

Pak Seno tidak menjawab. Ia berdiri.

“Sampun. Wanci wis sonten. Mangga istirahat.”

Malam turun cepat Jam dinding berdentang pelan Ding…Lampu berkedipnLalu…tembang itu terdengar lagi Lebih dekat Lebih jelas.

Embun keluar kamar dengan wajah pucat. “Itu… suara itu lagi…”Bulan mematung. Pelangi memeluk lengannya sendiri.

Hileon berdiri di depan Aruna. “Jangan bergerak.”

Namun Aruna melihat ke jendela Di halaman rumah.perempuan berkebaya hijau berdiri di bawah pohon Mulutnya bergerak melantunkan tembang Bu Seno tiba-tiba membuka pintu.

“Astaghfirullah… mlebet! Saiki uga!”

(Masuk! Sekarang juga!)

Pak Seno menyiramkan air dan bunga ke tanah sambil membaca doa Jawa kuno Tembang itu berhenti mendadak Sosok itu menghilang.

Pak Seno menutup mata.

“Wis miwiti maneh…”

(Sudah mulai lagi…)

Aruna tahu Larangan itu bukan nasihat Itu peringatan terakhir.

Aruna pun semakin penasaran apa yang sedang terjadi di desa ini . Aruna ingin bertanya kepada pak Seno tapi takut menyinggung perasaannya sebagai kepala desa

Aruna hanya bisa terdiam dan tengelam dalam pikirannya mengenai desa ini karena semenjak awal ia datang ia merasakan ada yang tidak beres dengan desa ini. yang membuat Aruna dan embun semakin curiga

tetapi masalah ini hanya embun dan Aruna yang tahu teman temanya tida,jadi mereka berdualah yang harus memecahkan misteri didesa ini apa yang sedang terjadi

Dari kejauhan pak Seno menatap embun dan Aruna dengan tatapan tak biasa pak Seno mengetahui bahwa Aruna dan embun adalah anak spesial tapi ia hanya diam saja.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 277 - RUMAH YANG TIDAK LAGI KOSONG

    Gerbang cahaya keemasan itu berdiri megah di hadapan mereka. Serpihan cahaya putih masih beterbangan pelan di udara ruang perantara, membuat semuanya terasa seperti mimpi yang belum benar benar selesai. Pelangi berjalan pelan di samping Asa. Sesekali ia melirik cahaya kecil itu diam diam. Dan semakin ia melihatnya… semakin terasa bahwa Asa benar benar berubah. Bukan berubah menjadi lebih kuat saja. Namun lebih tenang. Rasa sakit itu masih ada. Pelangi tahu itu. Namun sekarang rasa sakit itu tidak lagi menghancurkan Asa dari dalam. Aruna berjalan beberapa langkah di depan mereka sambil memperhatikan gerbang. “Jalan pulang sudah stabil.” Sosok besar langsung mencatat sesuatu lagi. “Peluang perpindahan aman.” Pelangi langsung menghela napas lega. “Akhirnya ada kabar bagus.” Namun sebelum mereka melangkah lebih dekat… gerbang itu tiba tiba berdenyut pelan. Cahaya keemasannya bergerak seperti air. Pelangi langsung berhenti. “Eh…” Asa juga ikut diam. “…hangat…” Gerbang

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 276 - Cahaya Yang Dibawa Pulang

    Portal bercahaya itu bergetar pelan di depan mereka. Retakan ruang di belakang semakin melebar, membuat suara runtuhan terus terdengar seperti gema panjang yang tidak ada akhirnya.Pelangi berdiri di samping Asa sambil menatap portal itu hati hati.“Kita beneran masuk?”Aruna mengangguk singkat.“Kalau tidak, kita ikut hancur bersama ruang ini.”Pelangi langsung menelan ludah.“Oke… pertanyaan bodoh.”Sosok besar berjalan lebih dulu mendekati portal sambil tetap mencatat sesuatu di buku cahayanya.“Stabilitas cukup untuk dilewati.”Pelangi melihat Asa.Cahayanya kini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.Masih redup karena kehilangan.Namun tidak lagi kacau.“Asa…”Asa menoleh perlahan.“…iya…”Pelangi tersenyum kecil.“Kita pulang.”Sunyi sebentar.Lalu cahaya Asa bergerak pelan.“…pulang…”Seolah kata itu masih terasa asing baginya.Pelangi mengangguk kecil.“Iya.”Ia menggenggam cahaya Asa lagi.“Bareng.”Dan untuk pertama kalinya…Asa menggenggam balik dengan lebih jelas.Cahaya

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 275 H DUNIA SETELAH KEHILANGAN

    Cahaya portal di ujung ruang itu terus berkedip tidak stabil. Retakan besar menyebar ke mana mana, membuat seluruh tempat terasa seperti akan hancur dalam hitungan detik.Pelangi menggenggam Asa erat sambil berlari.“Atas sana! Cepat!”Aruna bergerak lebih dulu melewati serpihan cahaya yang terus berjatuhan. Sosok besar mengikuti di belakang mereka sambil terus mencatat keadaan ruang yang semakin kacau.“Integritas ruang tersisa dua belas persen.”Pelangi langsung panik.“Bisa nggak sih ngomong yang nggak bikin stres?!”Namun tidak ada yang menjawab.Karena semua orang tahu…keadaan mereka memang sedang buruk.Asa bergerak di samping Pelangi tanpa banyak bicara.Cahayanya redup.Sangat redup.Pelangi meliriknya beberapa kali dengan khawatir.“Asa…”Asa tidak menjawab.Ia masih terlihat kosong setelah kepergian Eren.Dan itu membuat hati Pelangi terasa berat.Dummm!Lantai di belakang mereka runtuh besar sekali.Pelangi refleks mempercepat langkah.“Cepat!”Portal bercahaya itu kini te

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 274 - SAAT DUNIA MULAI RUNTUH

    Retakan besar di bawah mereka terus melebar. Cahaya putih yang selama ini memenuhi ruang perlahan runtuh menjadi serpihan serpihan kecil seperti kaca pecah yang jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar. Pelangi hampir kehilangan pijakan saat lantai di bawahnya berguncang hebat. “Asa!” Ia menggenggam cahaya Asa kuat kuat. Asa bergerak mendekat refleks. “…Pelangi…” Suara runtuhan terdengar dari segala arah. Langit ruang itu juga mulai retak semakin parah, memperlihatkan pusaran hitam besar di baliknya. Aruna berdiri menjaga keseimbangan sambil melihat sekeliling. “Ruang ini tidak akan bertahan lama.” Sosok besar langsung mencatat. “Perkiraan kehancuran total semakin dekat.” Pelangi langsung panik. “Terus kita harus gimana?!” Sosok tinggi itu menatap retakan di langit. “Kita harus keluar sebelum inti ruang hancur sepenuhnya.” Eren masih berdiri di dekat pintu yang nyaris pecah total. Cahaya hitam di tubuhnya bergerak tidak stabil mengikuti runtuhnya tempat itu.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 273 - ORANG YANG MENARIK ASA KEMBALI

    Cahaya hitam itu terus merambat dari tangan Eren menuju tubuh Asa perlahan seperti akar gelap yang hidup. Seluruh ruang dipenuhi getaran aneh yang membuat udara terasa semakin berat.Pelangi langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa sakit akibat terpental tadi.“Asa!”Asa menoleh sedikit.Cahayanya berkedip kacau.“…Pelangi…”Namun tangan Eren masih mencengkeramnya erat.Tatapan gelap itu tidak berpindah sedikit pun dari Asa.“Aku sudah terlalu lama sendirian,” katanya pelan.Pelangi menggigit bibir kuat kuat.“Aku bilang lepasin dia!”Ia mencoba mendekat lagi.Namun kali ini Aruna langsung menahan lengannya.“Tunggu.”Pelangi langsung menoleh kesal.“Nunggu apalagi?!”Aruna menatap Eren serius.“Kalau kau bergerak sembarangan sekarang, energi mereka bisa bentrok.”Sosok besar langsung menambahkan.“Kemungkinan kehancuran ruang meningkat drastis.”Pelangi mengepalkan tangan.Ia benci harus diam saat Asa terlihat kesakitan.Eren perlahan mendekatkan wajahnya ke Asa.“Aku terus meman

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 272 - JANGAN PERGI SENDIRI LAGI

    Retakan di pintu itu terus menyebar seperti luka yang tidak bisa dihentikan. Cahaya hitam keluar semakin banyak, membuat seluruh ruang terasa dingin dan berat.Tangan Eren kini sudah sepenuhnya mencengkeram sisi pintu.Perlahan.Namun pasti.Ia sedang mencoba keluar.Pelangi masih menggenggam cahaya Asa erat erat. Jantungnya berdetak kacau saat melihat Asa melangkah maju tadi.Ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya muncul sepenuhnya.Bukan takut pada kehancuran.Bukan takut pada Eren.Namun takut kehilangan Asa.“Asa…” suaranya pelan namun bergetar.Asa menoleh perlahan.Cahayanya bergerak tidak stabil.“…aku harus…”“Nggak,” potong Pelangi cepat.Ia menggenggam cahaya itu semakin erat.“Kamu jangan ngomong kayak mau ninggalin aku.”Sunyi.Kalimat itu membuat Asa langsung diam.Bahkan retakan pintu yang terus berbunyi terasa seperti menjauh beberapa detik.Eren memperhatikan mereka dari balik celah pintu.Matanya yang gelap bergerak perlahan.“Masih sama seperti dulu.”Pelangi la

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 91 – Ketika Manusia Mulai Menjadi Ancaman

    Malam turun pelan, tapi tidak membawa ketenangan Langit desa tampak bersih, tanpa awan, tanpa tanda hujan. Bulan menggantung pucat, terlalu terang untuk sebuah malam yang seharusnya sunyi. Cahaya itu menyorot rumah-rumah tua, memperjelas dinding yang mulai retak dan atap yang lapuk seolah memperlih

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 89 – Retak yang Tak Bisa

    Pagi datang tanpa kicau burung.Desa itu bangun seperti orang yang baru saja tersadar dari mimpi buruk mata terbuka, tubuh hidup, tapi jiwa masih tertinggal di malam sebelumnya. Kabut tipis menggantung rendah, menempel di atap rumah dan dedaunan, seolah enggan pergi sebelum memastikan sesuatu benar

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 88 – Malam Ketika Kebenaran Dipaksa Keluar

    Aruna berjalan di barisan depan bersama Pak Wiryo dan Pak Seno. Di belakang mereka, anak-anak KKN mengikuti dengan langkah berat. Tak ada tawa, tak ada obrolan. Bahkan Bagas yang biasanya paling cerewet kini menunduk, rahangnya mengeras. Embun berjalan paling belakang, tangannya gemetar, napasnya ta

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 87 – Ketika Desa Memilih Diam

    Malam datang tanpa aba-aba. Tidak ada hujan, tidak ada angin kencang, namun udara terasa berat seperti menggantung di dada setiap orang yang masih terjaga. Lampu-lampu rumah menyala redup, sebagian bahkan sengaja dimatikan lebih awal. Desa itu seperti sepakat untuk tidak menarik perhatian. Aruna

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status