Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / 1. TEROR SINDEN GHAIB

Share

TEROR SINDEN GHAIB
TEROR SINDEN GHAIB
Author: Vika moon

1. TEROR SINDEN GHAIB

Author: Vika moon
last update Last Updated: 2025-12-29 13:34:39

Vika putri A.

BAB 1 : DESA YANG SUDAH MENUNGU

Mesin mobil tua itu meraung pelan sebelum akhirnya melambat. Roda-rodanya menggilas jalan tanah yang lembap, meninggalkan jejak panjang di antara kabut tipis yang menggantung rendah. Pepohonan tinggi menjulang di kiri dan kanan, rantingnya saling bertaut seolah sengaja menutup jalan keluar Di depan mereka, sebuah papan kayu tua berdiri miring DESA SENDANG PITU

Cat hitamnya mengelupas, huruf-hurufnya pudar, seperti sudah terlalu lama tidak diperbarui. Aruna menatap papan itu cukup lama, sampai dadanya terasa sesak tanpa sebab.

“Kenapa berhenti?” tanya Bagas dari belakang, suaranya masih ceria seperti biasa.

“Sudah sampai,” jawab sopir singkat.

Aruna turun pertama.

Angin desa langsung menyentuh kulitnya—dingin, lembap, dan membawa aroma tanah basah bercampur bunga layu. Rambut hitamnya tergerai tertiup pelan, memperlihatkan mata hijaunya yang jernih. Ia tersenyum sopan, lesung pipinya muncul samar, senyum yang selalu membuat orang merasa tenang.

Namun kali ini, senyum itu tak sepenuhnya tulus.

Sebagai ketua kelompok KKN, Aruna terbiasa mengatur emosi. Sebagai mahasiswi kedokteran, ia percaya pada logika dan ilmu pengetahuan. Tapi sebagai indigo, ia tak bisa mengabaikan satu hal desa ini tidak kosong Ada banyak yang berdiri tak kasatmata Di belakangnya, Hileon ikut turun. Tubuhnya tegap, bahunya bidang, sorot matanya dingin dan waspada. Mahasiswa jurusan kemiliteran itu selalu terlihat tenang, nyaris tanpa ekspresi. Namun nalurinya bekerja cepat ada sesuatu yang salah di tempat ini.

Ia melirik Aruna sekilas.wajah gadis itu tetap tenang, tapi jari-jarinya mengepal halus.

“Teman-teman, tetap bareng ya,” ucap Aruna lembut tapi tegas. “Jangan berpencar.”

Embun langsung mengangguk antusias. Gadis sastra sejarah itu menurunkan tas besar dari mobil dengan semangat berlebihan. “Akhirnya KKN juga! Desa banget, aku suka!”

Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah. Matanya kosong sesaat, napasnya tertahan.

“Embun?” panggil Alex pelan.

“Eh nggak apa-apa,” Embun tersenyum cepat. “Cuma… kayak lihat bayangan doang.”

Tak ada yang menanggapi serius.

“Bayangan masa depan cerahmu,” sahut Bagas sambil tertawa keras. Mahasiswa hukum itu memang tak pernah bisa diam. Rambutnya sedikit berantakan, senyumnya lebar, dan matanya terang-terangan tertuju pada Aruna. “Tenang, Bu Ketua. Ada Bagas, semua aman.”

Aruna hanya tersenyum tipis.

Di sisi lain, Pelangi turun dengan ribet seperti biasa tasnya banyak, mulutnya tak berhenti bicara. Mahasiswi sastra psikologi itu cantik, ekspresif, dan terlalu sadar akan keberadaannya sendiri. Matanya langsung mencari Hileon.

“Hileon, panas nggak sih di sini? Aku kok ngerasa gerah ya,” katanya sambil mendekat.

Hileon hanya mengangguk singkat, lalu memalingkan wajah. Tatapannya justru kembali ke Aruna, memastikan gadis itu baik-baik saja.

Pelangi mendengus pelan.

Bulan turun paling akhir. Gadis dari sosiologi itu pendiam, wajahnya tenang, sorot matanya tajam. Ia cantik dengan caranya sendiri—tak banyak bicara, tapi selalu memperhatikan. Sejak menginjakkan kaki di desa itu, Bulan merasakan sesuatu yang berat di dadanya, tapi ia memilih diam Alvaro, partner Aruna dari kedokteran, berdiri di sampingnya. Wajahnya tampan, pembawaannya dingin dan dewasa. “Kamu kelihatan capek,” katanya pelan pada Aruna.

“Aku nggak apa-apa,” jawab Aruna, meski telinganya berdenging samar Terakhir, Alex turun sambil memeluk ranselnya erat. Pemuda pemalu itu menunduk, bahunya sedikit tegang. Matanya sempat menangkap sesuatu di balik pepohonan sekilas saja seperti kain hijau berkibar. Saat ia berkedip, tak ada apa punnIa menelan ludah.

Desa Sendang Pitu menyambut mereka dengan sunyi yang tidak wajar. Tidak ada anak-anak bermain. Tidak ada suara ayam atau motor. Hanya langkah kaki mereka sendiri dan desir angin yang menyusup di sela daun.

Beberapa warga desa berdiri di kejauhan, mengamati. Wajah mereka ramah, tapi mata mereka seperti menyimpan ketakutan lama.

“Kami sudah menunggu,” kata seorang lelaki tua yang akhirnya mendekat. “Saya Pak Lurah.”

Aruna menyalaminya sopan. “Terima kasih sudah menerima kami.”

Pak Lurah mengangguk, lalu menatap satu per satu wajah mereka. Saat pandangannya bertemu Aruna, alisnya berkerut samar. “Kalian delapan, ya?”

“Iya, Pak.”

Pak Lurah terdiam terlalu lama.

“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “ada beberapa aturan.”

Mereka dibawa ke rumah KKN bangunan tua berdinding kayu, catnya pudar. Di depan rumah, sebuah pohon besar berdiri, akarnya menjalar seperti ular.

“Jangan keluar malam,” ucap Pak Lurah. “Jangan ke sendang. Dan kalau dengar suara… jangan diikuti.”

“Suara apa, Pak?” tanya Bagas spontan.

Pak Lurah menatapnya lama. “Suara yang indah.”

Sore menjelang malam dengan cepat. Matahari tenggelam di balik pepohonan, membuat desa semakin gelap. Saat mereka membereskan barang, udara berubah lebih dingin Aruna berdiri di depan jendela, memandang kabut yang turun perlahan Lalu ia mendengarnya Tembang.

Lirih. Panjang. Indah tapi penuh kesedihan.

Aruna menutup mata. Bulu kuduknya meremang.

“Hileon,” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Kamu dengar?”

Hileon mengangguk. “Dengar.”

Embun muncul dari kamar dengan wajah pucat. “Kalian juga, kan?”

Pelangi tertawa kecil, mencoba menutupi gugup. “Paling suara radio desa.”

Namun Bulan berbisik, hampir tak terdengar, “Itu suara perempuan.”

Tembang itu semakin jelas Alex mundur selangkah saat matanya menangkap sosok di luar perempuan berkebaya hijau pucat, berdiri di bawah pohon besar. Rambutnya panjang menutupi wajah.

“Embun…” bisiknya gemetar.

Saat semua menoleh, sosok itu menghilang.

Tembang berhenti mendadak.

Digantikan bisikan pelan sangat dekat di telinga Aruna.

“Delapan datang satu akan tinggal.” Aruna tersentak. Napasnya tercekat Ia tahu, dengan sangat pasti KKN ini bukan kebetulan Dan mereka semua sudah dipilih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 129 – Di Antara Dua Jalan

    Malam setelah percakapan di bawah pohon beringin itu terasa berbeda.Aruna duduk sendiri di kamar kosnya. Lampu meja menyala redup, menyorot gelang akar yang tergeletak di atas buku catatan KKN mereka. Angin dari jendela membuat tirai tipis bergerak perlahan.Ia memandang gelang itu lama.“Kenapa kamu memilihku?” bisiknya pelan.Tidak ada suara menjawab.Namun ada rasa hangat yang menjalar pelan dari dada hingga ke ujung jarinya. Bukan desakan. Bukan paksaan. Seperti sebuah keyakinan yang tumbuh perlahan, tanpa perlu diyakinkan.Aruna memejamkan mata.Dan lagi-lagi ia berdiri di persimpangan.Dua jalan membentang di hadapannya.Yang satu terang, ramai, penuh suara tawa dan kehidupan biasa.Yang satu lagi sunyi, panjang, dengan cahaya samar yang tidak menyilaukan—namun dalam.“Tidak semua pilihan berarti meninggalkan,” suara lembut itu terdengar lagi.Aruna menoleh, tapi tidak ada siapa pun.“Apa aku harus memilih sekarang?” tanyanya.“Tidak.”“Lalu?”“Berjalanlah. Jalan akan memperlih

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 128 – Panggilan dari Akar yang Terkubur

    Langit kota tampak mendung sejak pagi, padahal musim kemarau belum benar-benar berakhir. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seperti beban yang belum dijatuhkan. Aruna berdiri di depan jendela kelas setelah dosennya selesai menjelaskan revisi laporan KKN. Suara teman-teman yang bercakap terdengar samar, seakan tertutup lapisan tipis di telinganya. Ia tidak sedang melamun. Ia sedang merasakan sesuatu. Getaran halus. Bukan ketakutan. Bukan ancaman. Melainkan panggilan. Pelangi yang berdiri di sampingnya menyenggol pelan. “Na… kamu lagi ngerasa ya?” Aruna mengangguk tanpa menoleh. Embun dan Bulan yang berada di belakang mereka ikut mendekat. Bima, Bagas, Alvaro, dan Hileon pun menghentikan obrolan. “Datang lagi?” tanya Hileon pelan. “Bukan datang,” jawab Aruna perlahan. “Tapi seperti… ada yang bangun.” Bima menghela napas panjang. “Jangan bilang kita harus balik ke desa.” “Bukan desa,” bisik Aruna. Semua terdiam. “Bukan di sana.” Sore itu mereka berkumpu

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 127– Jejak yang Tertinggal di Antara Dua Dunia

    Perjalanan kembali ke kota terasa berbeda dari saat mereka pertama kali datang ke Desa Sumber Arum. Dulu, mobil yang mereka tumpangi dipenuhi tawa penasaran dan candaan tentang KKN yang dianggap sekadar kewajiban akademik. Kini, suasana di dalam mobil sunyi, bukan karena ketakutan melainkan karena masing-masing tenggelam dalam pikiran. Aruna duduk di dekat jendela. Angin pagi menerpa wajahnya ketika ia membuka kaca sedikit. Ia menatap jalan yang semakin menjauh dari desa, seolah ingin memastikan bahwa semua yang terjadi benar-benar telah usai. Pelangi memecah keheningan. “Rasanya aneh ya… kayak kita ninggalin sesuatu yang besar banget.” Embun mengangguk pelan. “Atau mungkin… sesuatu itu yang ninggalin kita.” Bima tersenyum tipis. “Yang penting sekarang nggak ada lagi yang ikut.” Bagas tertawa kecil. “Jangan ngomong gitu. Nanti malah kebawa beneran.” Hileon menoleh ke Aruna. “Kamu gimana?” Aruna terdiam sejenak. “Aku merasa ringan. Tapi… bukan kosong.” Alvaro memahami

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 126– Suara yang Tak Lagi Terkutuk

    Malam turun perlahan di Desa Sumber Arum. Angin berdesir melewati pepohonan jati, membawa aroma tanah basah yang baru saja diguyur hujan sore. Di pendopo tua tempat mereka dulu pertama kali berkumpul saat KKN, lampu minyak kembali dinyalakan. Cahayanya bergetar lembut, seolah ikut bernapas bersama kenangan yang tersisa.Aruna berdiri paling depan. Wajahnya tidak lagi menyimpan ketakutan seperti dulu. Di matanya kini ada sesuatu yang lebih dalam—ketenangan yang lahir dari badai panjang yang berhasil dilewati.Pelangi duduk bersandar pada tiang kayu, memeluk lututnya. Embun menatap langit-langit pendopo yang sudah diperbaiki. Bulan duduk diam, tangannya menggenggam tasbih kecil pemberian Bu Seno. Bima berdiri tegap di samping Hileon dan Alvaro, sementara Bagas memeriksa sekeliling dengan waspada, meski hatinya tahu malam ini berbeda.Pak Seno dan Bu Seno datang membawa termos teh hangat.“Sudah waktunya,” ujar Pak Seno pelan.Aruna mengangguk.Sudah waktunya bukan untuk melawan. Bukan u

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 125 - Tembang Terakhir Di Bawah Langit

    Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Desa itu tidak lagi sekadar sunyi ia seperti menahan napas. Angin yang biasanya berdesir di antara pepohonan kini berhenti total, seolah waktu ikut membeku bersama ketakutan yang menggantung di udara. Aruna berdiri di depan pendopo tua, jantungnya berdegup tak beraturan. Di belakangnya, Pelangi menggenggam tangan Embun erat-erat. Bulan memeluk lengannya sendiri, mencoba mengusir dingin yang tidak wajar. Bima berdiri di sisi kanan, wajahnya tegang. Alvaro dan Bagas membawa senter, tapi cahaya itu terasa tak berarti di tengah kegelapan yang menebal seperti asap hitam. Pak Seno dan Bu Seno berdiri di ambang pintu rumah mereka. Wajah keduanya pucat. Dari dalam pendopo terdengar suara sinden. Pelan. Melengking. Lirih. Tapi bukan suara biasa. Itu tembang yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. “Dia kembali…” bisik Bu Seno gemetar. Aruna mengangguk pelan. “Bukan kembali. Dia belum pernah pergi.” Suara gamelan terdengar samar,

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 124– Akar yang Tidak Pernah Mati

    Hujan malam itu tidak berhenti.Air mengguyur atap kos Aruna seperti ribuan jari yang mengetuk tanpa henti. Langit kelabu sejak sore, dan kini gelapnya terasa lebih dalam dari biasanya.Aruna duduk di lantai kamarnya.Kain merah tergeletak di hadapannya.Ia tidak lagi ragu.Apa pun yang tinggal di rumah tua itu bukan sekadar arwah tersesat.Ia adalah sesuatu yang tumbuh.Dipupuk.Dibiarkan hidup oleh ketakutan dan kebungkaman selama puluhan tahun.Dan seperti akar pohon tuaia tidak akan mati hanya karena satu pintu dibuka.Sejak mereka kembali dari rumah itu, gangguan tidak berhenti.Embun mendengar suara langkah di loteng rumah orang tuanya.Pelangi melihat bayangan berdiri di sudut kamar saat lampu dimatikan.Bima bermimpi berulang kali tentang lorong panjang tanpa ujung.Bagas menemukan bekas goresan di meja belajarnya.Bulan terbangun dengan tangan terasa seperti diikat sesuatu yang tak terlihat.Dan ArunaAruna tidak lagi hanya bermimpi.Ia melihat.Dalam keadaan sadar.Bayangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status