เข้าสู่ระบบ
Vika putri A.
BAB 1 : DESA YANG SUDAH MENUNGU Mesin mobil tua itu meraung pelan sebelum akhirnya melambat. Roda-rodanya menggilas jalan tanah yang lembap, meninggalkan jejak panjang di antara kabut tipis yang menggantung rendah. Pepohonan tinggi menjulang di kiri dan kanan, rantingnya saling bertaut seolah sengaja menutup jalan keluar Di depan mereka, sebuah papan kayu tua berdiri miring DESA SENDANG PITU Cat hitamnya mengelupas, huruf-hurufnya pudar, seperti sudah terlalu lama tidak diperbarui. Aruna menatap papan itu cukup lama, sampai dadanya terasa sesak tanpa sebab. “Kenapa berhenti?” tanya Bagas dari belakang, suaranya masih ceria seperti biasa. “Sudah sampai,” jawab sopir singkat. Aruna turun pertama. Angin desa langsung menyentuh kulitnya—dingin, lembap, dan membawa aroma tanah basah bercampur bunga layu. Rambut hitamnya tergerai tertiup pelan, memperlihatkan mata hijaunya yang jernih. Ia tersenyum sopan, lesung pipinya muncul samar, senyum yang selalu membuat orang merasa tenang. Namun kali ini, senyum itu tak sepenuhnya tulus. Sebagai ketua kelompok KKN, Aruna terbiasa mengatur emosi. Sebagai mahasiswi kedokteran, ia percaya pada logika dan ilmu pengetahuan. Tapi sebagai indigo, ia tak bisa mengabaikan satu hal desa ini tidak kosong Ada banyak yang berdiri tak kasatmata Di belakangnya, Hileon ikut turun. Tubuhnya tegap, bahunya bidang, sorot matanya dingin dan waspada. Mahasiswa jurusan kemiliteran itu selalu terlihat tenang, nyaris tanpa ekspresi. Namun nalurinya bekerja cepat ada sesuatu yang salah di tempat ini. Ia melirik Aruna sekilas.wajah gadis itu tetap tenang, tapi jari-jarinya mengepal halus. “Teman-teman, tetap bareng ya,” ucap Aruna lembut tapi tegas. “Jangan berpencar.” Embun langsung mengangguk antusias. Gadis sastra sejarah itu menurunkan tas besar dari mobil dengan semangat berlebihan. “Akhirnya KKN juga! Desa banget, aku suka!” Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah. Matanya kosong sesaat, napasnya tertahan. “Embun?” panggil Alex pelan. “Eh nggak apa-apa,” Embun tersenyum cepat. “Cuma… kayak lihat bayangan doang.” Tak ada yang menanggapi serius. “Bayangan masa depan cerahmu,” sahut Bagas sambil tertawa keras. Mahasiswa hukum itu memang tak pernah bisa diam. Rambutnya sedikit berantakan, senyumnya lebar, dan matanya terang-terangan tertuju pada Aruna. “Tenang, Bu Ketua. Ada Bagas, semua aman.” Aruna hanya tersenyum tipis. Di sisi lain, Pelangi turun dengan ribet seperti biasa tasnya banyak, mulutnya tak berhenti bicara. Mahasiswi sastra psikologi itu cantik, ekspresif, dan terlalu sadar akan keberadaannya sendiri. Matanya langsung mencari Hileon. “Hileon, panas nggak sih di sini? Aku kok ngerasa gerah ya,” katanya sambil mendekat. Hileon hanya mengangguk singkat, lalu memalingkan wajah. Tatapannya justru kembali ke Aruna, memastikan gadis itu baik-baik saja. Pelangi mendengus pelan. Bulan turun paling akhir. Gadis dari sosiologi itu pendiam, wajahnya tenang, sorot matanya tajam. Ia cantik dengan caranya sendiri—tak banyak bicara, tapi selalu memperhatikan. Sejak menginjakkan kaki di desa itu, Bulan merasakan sesuatu yang berat di dadanya, tapi ia memilih diam Alvaro, partner Aruna dari kedokteran, berdiri di sampingnya. Wajahnya tampan, pembawaannya dingin dan dewasa. “Kamu kelihatan capek,” katanya pelan pada Aruna. “Aku nggak apa-apa,” jawab Aruna, meski telinganya berdenging samar Terakhir, Alex turun sambil memeluk ranselnya erat. Pemuda pemalu itu menunduk, bahunya sedikit tegang. Matanya sempat menangkap sesuatu di balik pepohonan sekilas saja seperti kain hijau berkibar. Saat ia berkedip, tak ada apa punnIa menelan ludah. Desa Sendang Pitu menyambut mereka dengan sunyi yang tidak wajar. Tidak ada anak-anak bermain. Tidak ada suara ayam atau motor. Hanya langkah kaki mereka sendiri dan desir angin yang menyusup di sela daun. Beberapa warga desa berdiri di kejauhan, mengamati. Wajah mereka ramah, tapi mata mereka seperti menyimpan ketakutan lama. “Kami sudah menunggu,” kata seorang lelaki tua yang akhirnya mendekat. “Saya Pak Lurah.” Aruna menyalaminya sopan. “Terima kasih sudah menerima kami.” Pak Lurah mengangguk, lalu menatap satu per satu wajah mereka. Saat pandangannya bertemu Aruna, alisnya berkerut samar. “Kalian delapan, ya?” “Iya, Pak.” Pak Lurah terdiam terlalu lama. “Kalau begitu,” katanya akhirnya, “ada beberapa aturan.” Mereka dibawa ke rumah KKN bangunan tua berdinding kayu, catnya pudar. Di depan rumah, sebuah pohon besar berdiri, akarnya menjalar seperti ular. “Jangan keluar malam,” ucap Pak Lurah. “Jangan ke sendang. Dan kalau dengar suara… jangan diikuti.” “Suara apa, Pak?” tanya Bagas spontan. Pak Lurah menatapnya lama. “Suara yang indah.” Sore menjelang malam dengan cepat. Matahari tenggelam di balik pepohonan, membuat desa semakin gelap. Saat mereka membereskan barang, udara berubah lebih dingin Aruna berdiri di depan jendela, memandang kabut yang turun perlahan Lalu ia mendengarnya Tembang. Lirih. Panjang. Indah tapi penuh kesedihan. Aruna menutup mata. Bulu kuduknya meremang. “Hileon,” panggilnya pelan. “Iya?” “Kamu dengar?” Hileon mengangguk. “Dengar.” Embun muncul dari kamar dengan wajah pucat. “Kalian juga, kan?” Pelangi tertawa kecil, mencoba menutupi gugup. “Paling suara radio desa.” Namun Bulan berbisik, hampir tak terdengar, “Itu suara perempuan.” Tembang itu semakin jelas Alex mundur selangkah saat matanya menangkap sosok di luar perempuan berkebaya hijau pucat, berdiri di bawah pohon besar. Rambutnya panjang menutupi wajah. “Embun…” bisiknya gemetar. Saat semua menoleh, sosok itu menghilang. Tembang berhenti mendadak. Digantikan bisikan pelan sangat dekat di telinga Aruna. “Delapan datang satu akan tinggal.” Aruna tersentak. Napasnya tercekat Ia tahu, dengan sangat pasti KKN ini bukan kebetulan Dan mereka semua sudah dipilih.Pagi itu meja makan kembali dipenuhi aroma nasi hangat dan lauk sederhana buatan Bu Seno. Namun suasananya berbeda. Tidak ada canda ringan, tidak ada suara tawa kecil yang biasanya mengisi ruang itu. Yang terdengar hanya bunyi sendok menyentuh piring pelan, teratur, namun terasa hampa.Aruna duduk di tempatnya, punggung tegak tapi kaku. Ia menyuap makanan dengan gerakan lambat, seolah makan hanyalah kewajiban, bukan kebutuhan. Pandangannya kosong, berhenti di satu titik tanpa benar-benar melihat. Wajahnya pucat, bibirnya nyaris tak bergerak selain untuk mengunyah.Embun beberapa kali melirik Aruna, lalu cepat-cepat menunduk lagi. Bulan dan Pelangi saling pandang, sama-sama menangkap kejanggalan itu. Hileon memperhatikan dari seberang meja, alisnya berkerut, ada kekhawatiran yang tidak ia ucapkan. Alvaro ikut terdiam, matanya sesekali tertuju pada Aruna.Bu Seno berhenti di samping Aruna. Ia menatap gadis itu lama, seperti seorang ibu menatap anaknya yang sedang menahan beban terlalu b
Pagi datang tanpa suara. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah jendela, jatuh di lantai kamar dengan lembut, seolah enggan membangunkan siapa pun. Rumah Pak Seno masih sunyi. Nafas para penghuni terdengar teratur, tenggelam dalam sisa-sisa tidur malam yang panjang Aruna membuka mata lebih dulu.Tubuhnya masih terasa pegal, lehernya sedikit nyeri, namun kebiasaan sebagai ketua membuatnya tak betah berlama-lama berbaring. Ia duduk perlahan, mengusap wajahnya, lalu menatap sekeliling kamar. Embun masih tertidur di ranjang sebelah, wajahnya pucat bahkan dalam tidur Aruna menghela napas pelan “Semoga hari ini… biasa saja,” gumamnya lirih Ia bangkit, mengambil handuk, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan yang lain. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit. Dapur masih sepi, halaman belakang diselimuti kabut tipis Kamar mandi terletak di bagian belakang rumah Aruna masuk, menutup pintu perlahan. Cahaya matahari belum sepenuhnya menjangkau ruang
Aruna akhirnya menghela napas panjang. Cangkir teh di tangannya sudah hampir dingin, tapi ia tetap menyesapnya sekali lagi sebelum bangkit dari bangku teras. Malam semakin larut, dan angin yang tadi terasa sejuk kini mulai menusuk kulit. Ia tidak ingin berlama-lama di luar bukan karena dingin, melainkan karena pikirannya terlalu penuh Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang, memastikan langkahnya ringan agar tidak menarik perhatian siapa pun. Lampu ruang tengah masih menyala redup. Suara tawa kecil dari dapur terdengar samar Bagas entah sedang bercanda apa dengan yang lain. Aruna mempercepat langkahnya, menyusuri lorong menuju kamarnya.Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya Begitu sendirian, tubuh Aruna seperti kehilangan penopangnya. Ia bersandar sebentar di daun pintu, memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit fisik, melainkan oleh perasaan yang sejak tadi ia tekan rapi Ia berjalan ke ranjang, duduk di tepinya, lalu meletakkan map catatan di sa
Langit mulai berubah jingga ketika motor-motor mereka memasuki halaman rumah Pak Seno. Suara mesin dimatikan satu per satu, digantikan oleh suara jangkrik yang mulai berani bersahutan. Setelah seharian penuh dengan latihan dan ketegangan yang tak terucap, rumah itu terasa seperti tempat berlindung yang diam-diam mereka rindukan Leon memarkir motornya terakhir. Aruna turun pelan dari boncengan, merapikan jaketnya, lalu berdiri sejenak. Tidak ada lagi kecanggungan seperti di jalan, hanya kelelahan yang samar dan perasaan yang masih mengendap di dada mereka masing-masing Bagas turun dengan wajah paling cerah di antara semuanya. “Ya ampun… gue laper setengah mati,” keluhnya dramatis sambil memegang perut. “Kalau nggak makan sekarang, gue bisa pingsan.” Bulan mendengus. “Drama.”Namun sebelum Bagas sempat membalas, aroma masakan hangat menyeruak dari dalam rumah. Bau sayur bening, tumisan, dan sambal segar bercampur jadi satu aroma yang langsung membuat perut mereka semua bergejolak. “L
Latihan akhirnya dihentikan sementara. Gamelan mereda, menyisakan dengung halus yang masih terasa di udara pendapa. Para penari perempuan mundur perlahan, mengatur napas, sebagian mengelap keringat di pelipis. Aruna berdiri di antara Bulan dan Pelangi, bahunya sedikit turun, tanda lelah yang berusaha ia sembunyikan Di sisi lain sanggar, Hileon menutup buku catatannya. “Selesai,” ucapnya singkat.Alvaro mengangguk, Alex merapikan kertas sketsa, dan Bagas langsung berdiri lebih dulu. “Akhirnya. Duduk di lantai bikin pinggang protes,” keluhnya Mereka berjalan menuju pendapa, tempat para perempuan sudah menunggu. Langkah mereka menyatu dengan suara kayu yang berderit pelan. Saat Hileon mendekat, Aruna mendongak. Tatapan mereka bertemu sesaat—cukup singkat, cukup untuk saling memastikan bahwa yang lain baik-baik saja.“Kalian sudah?” tanya Aruna.“Sudah,” jawab Hileon. “Catatan lengkap.”Bulan melirik buku di tangan Hileon, lalu ke arah Aruna. “Kamu kelihatan capek.”Aruna tersenyum kecil.
Ruang sebelah sanggar terasa lebih sepi dibanding pendapa utama. Suara gamelan masih terdengar, tapi teredam seperti denyut jauh yang tidak ikut melibatkan mereka secara langsung. Hileon duduk bersila di lantai kayu, buku catatan terbuka di pangkuannya. Tangannya bergerak cepat, mencatat setiap detail yang sempat ia tangkap posisi penari, arah hadap, urutan masuk, dan gerak yang berulang Alvaro duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arah pendapa lewat celah tiang. Alex sedikit lebih jauh, fokus menggambar sketsa sederhana tata ruang sanggar. Bagas meski berusaha serius beberapa kali menghela napas panjang, bosan menunggu.“Ini detailnya ribet juga,” gumam Alvaro pelan.Hileon hanya mengangguk. “Iya. Tapi harus lengkap.”Saat ia menunduk lagi untuk menulis, ujung bukunya tersenggol lutut. Pulpen di jarinya terlepas, jatuh ke lantai kayu dengan bunyi kecil namun jelas Tik Pulpen itu menggelinding pendek sebelum berhenti di dekat kaki seseorang.Hileon refleks membungkuk. “Ah—”Di saat







