Inicio / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 3 – Malam yang Tidak Benar-Benar Tidur

Compartir

Bab 3 – Malam yang Tidak Benar-Benar Tidur

Autor: Vika moon
last update Fecha de publicación: 2026-01-02 15:52:35

Sunyi yang aneh terlalu rapat, terlalu berat, seolah udara ikut menahan napas. Pak Seno berdiri di tengah ruang tamu, punggungnya sedikit membungkuk, wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding saat pertama menyambut mereka. Bu Seno menutup pintu perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke daun pintu, kedua tangannya gemetar.

“Sampun, Nak… wis cukup.”

(Sudah, Nak… cukup.)

Suara Pak Seno parau. Ia menatap satu per satu wajah para mahasiswa KKN itu wajah-wajah muda yang masih dipenuhi kebingungan dan ketakutan yang belum sepenuhnya mereka pahami.

“Saiki istirahat mawon. Benjing enjing, panjenengan sedoyo badhe miwiti tugas.”

(Sekarang istirahat saja. Besok pagi kalian mulai tugas.)

Bu Seno mengangguk pelan.

“Ojo dipun pikir rumiyin. Kabeh sampun wonten sing ngatur.”

(Jangan dipikirkan dulu. Semua sudah ada yang mengatur.)

Kalimat itu justru membuat Aruna merinding.

Kami yang diatur… atau sesuatu yang lain?

“Kami benar-benar minta maaf kalau merepotkan,” ucap Aruna sopan, berusaha menenangkan suasana.

Pak Seno menatapnya lama. Tatapan itu berat, seolah mengandung penyesalan.

“Nduk… kulo namung nyuwun setunggal. Menawi krungu opo-opo, ojo nate wani.”

(Nak… saya hanya minta satu hal. Kalau mendengar apa pun, jangan pernah berani.)

Aruna mengangguk Namun di dalam hatinya, ia tahu tidak semua hal bisa diabaikan, terutama ketika dunia lain sengaja menyentuh dunianya.

“Saudara sekalian, silakan ke kamar masing-masing,” kata Pak Seno akhirnya dalam bahasa Indonesia, nadanya kembali formal. “Besok pagi kita mulai dengan perkenalan ke warga.”

Satu per satu, mereka bergerak menuju kamar.

Langkah kaki terdengar pelan di lantai kayu yang dingin.

Kamar Aruna tidak terlalu besar. Dinding kayunya sedikit retak, jendela kecil menghadap halaman belakang. Bulan duduk di tepi ranjang, membuka tasnya tanpa bicara. Pelangi mondar-mandir, jelas gelisah.

“Ini… bukan desa biasa,” Pelangi akhirnya bersuara, nada suaranya lebih pelan dari biasanya.

Bulan mengangguk. “Aku tahu.”

Pelangi menoleh ke Aruna. “Kamu kelihatan paling tenang. Tapi mata kamu… nggak.”

Aruna tersenyum tipis. “Karena aku tahu apa yang kita hadapi belum benar-benar muncul.”

Pelangi menelan ludah. “Jangan ngomong gitu.”

Bulan mematikan lampu kecil di sudut kamar, menyisakan cahaya temaram. “Tidur saja. Besok kita harus kelihatan normal.”

Aruna berbaring, namun matanya menatap langit-langit. Getaran halus masih terasa, seperti sisa-sisa suara yang belum benar-benar pergi.

Di kamar lain, Bagas menjatuhkan tubuhnya ke kasur.

“Gila, aku merinding asli,” katanya sambil menatap langit-langit. “Tapi sumpah, suaranya… kok kayak sinden beneran.”

Hileon duduk di kursi dekat jendela, menyilangkan tangan. Matanya tajam, penuh pikiran. “Ini bukan soal suara. Ini soal peringatan.”

Alvaro membuka ranselnya, mengeluarkan obat-obatan. “Kita harus siap. Kalau ada yang sakit atau kerasukan—”

“Kerasukan?” Bagas mendudukkan diri. “Eh, jangan becanda.”

Alvaro menatapnya serius. “Aku nggak bercanda.” Hileon terdiam, lalu berkata pelan, “Yang paling bahaya justru Aruna.”

Bagas mengernyit. “Karena kamu naksir dia?”

Hileon melirik tajam. “Karena dia bisa melihat.”

Bagas terdiam Di kamar paling ujung, Embun duduk memeluk lutut. Alex berdiri di dekat pintu, ragu apakah harus bicara atau diam.

“Kamu juga lihat, kan?” tanya Embun lirih.

Alex mengangguk. “Di halaman… tadi.”

Embun menutup wajahnya. “Aku cuma bisa lihat selintas. Tapi rasanya… kayak ditarik.”

Alex memberanikan diri duduk lebih dekat. “Kalau kamu kenapa-kenapa… bilang aku.”

Embun tersenyum kecil, lelah. “Kamu berani juga, ya.”

Alex tersenyum kaku. “Sedikit.”

Lampu kamar mereka berkedip sekali.

Lalu stabil Malam semakin larut.

Jam dinding menunjukkan pukul dua belas lewat sedikit Aruna terbangun tiba-tiba Dadanya sesak.

Telinganya berdenging Lalu… suara itu terdengar lagi Bukan dari luar Tapi dari dalam rumah.

Lirih. Sangat pelan. Seolah dinyanyikan tepat di balik dinding Aruna duduk perlahan. Jantungnya berdegup cepat Ia bangkit, membuka pintu kamar sedikit Di lorong gelap, ia melihat Hileon berdiri, sama terbangunnya Mata mereka bertemu.

“Kamu dengar,” bisik Hileon.

Aruna mengangguk.

Suara itu mendekat… lalu berhenti tepat di depan pintu ruang tengah.

Aruna merasakan sesuatu berbisik di telinganya, sangat dekat.

“Durung kabeh turu…”

(Belum semua tidur…)

Aruna menutup mata.

Saat ia membukanya kembali suara itu lenyap.

Hening Hileon menatapnya penuh tanya. “Kamu nggak apa-apa?”Aruna mengangguk, tapi wajahnya pucat. “Ini baru awal.”Mereka kembali ke kamar masing-masing.

Pagi pun datang perlahan, membawa cahaya pucat yang tak sepenuhnya mengusir gelap.

Pak Seno sudah menunggu di ruang tengah, wajahnya letih Bu Seno menyiapkan teh, tangannya masih gemetar.

“Mugi dinten punika langkung sae,” ucap Bu Seno lirih.(Semoga hari ini lebih baik.)

Namun jauh di dalam tanah Desa Sendang Pitu

sesuatu telah terbangun Dan ia mulai menghitung.

Pagi datang tanpa suara ayam berkokok.

Cahaya matahari merambat pelan melalui celah-celah jendela kayu, jatuh membentuk garis-garis tipis di lantai rumah. Udara masih dingin, lembap, dan menyimpan sisa-sisa malam yang belum sepenuhnya pergi.

Aruna terbangun lebih dulu.

Ia duduk perlahan di ranjang, menghela napas panjang. Tidurnya tidak nyenyak—dipenuhi mimpi samar tentang panggung gamelan dan suara sinden yang menyebut namanya dengan nada lirih. Namun saat terjaga, rumah terasa… terlalu tenang.

Ia melirik jam di ponselnya. Pukul enam pagi.

Aruna keluar kamar. Di ruang tengah, aroma masakan hangat menyambutnya. Bau nasi, sayur bening, dan gorengan sederhana memenuhi udara—aroma yang seharusnya menenangkan, namun entah kenapa membuat dadanya kembali terasa sesak.

Di dapur, Bu Seno berdiri membelakangi pintu. Kebayanya rapi, rambutnya disanggul sederhana. Tangannya cekatan mengatur piring-piring di atas meja makan kayu panjang.

“Sugeng enjing, Nduk,” ucap Bu Seno tanpa menoleh, seolah tahu Aruna sudah berdiri di sana.

(Selamat pagi, Nak.)

“Pagi, Bu,” jawab Aruna lembut.

Bu Seno menoleh, tersenyum tipis. Mata perempuan itu tampak sembap, seperti kurang tidur. “Sampun tangi sedoyo durung?”

(Sudah bangun semua belum?)

“Belum, Bu. Saya bangunin sebentar lagi.”

Bu Seno mengangguk. “Nggih. Nanging ndang dhahar rumiyin. Pak Seno sampun mangkat teng kelurahan.”

(Iya. Tapi makan dulu. Pak Seno sudah berangkat ke kelurahan.)

Aruna sedikit terkejut. “Pak Seno sudah pergi?”

“Inggih. Wonten rembugan sekedhik kaliyan perangkat desa. Panjenengan sedoyo badhe dipun entenana wonten mriki sakwise siyap.”

(Iya. Ada sedikit urusan dengan perangkat desa. Kalian nanti menyusul setelah siap.)

Bu Seno kemudian menaruh mangkuk sayur di tengah meja. “Monggo, Nduk. Dhahar rumiyin. Sakwise punika, adus lan resik-resik. Omah punika sampun suwe kosong.”

(Silakan makan dulu. Setelah itu mandi dan bersih-bersih. Rumah ini sudah lama kosong.)

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 277 - RUMAH YANG TIDAK LAGI KOSONG

    Gerbang cahaya keemasan itu berdiri megah di hadapan mereka. Serpihan cahaya putih masih beterbangan pelan di udara ruang perantara, membuat semuanya terasa seperti mimpi yang belum benar benar selesai. Pelangi berjalan pelan di samping Asa. Sesekali ia melirik cahaya kecil itu diam diam. Dan semakin ia melihatnya… semakin terasa bahwa Asa benar benar berubah. Bukan berubah menjadi lebih kuat saja. Namun lebih tenang. Rasa sakit itu masih ada. Pelangi tahu itu. Namun sekarang rasa sakit itu tidak lagi menghancurkan Asa dari dalam. Aruna berjalan beberapa langkah di depan mereka sambil memperhatikan gerbang. “Jalan pulang sudah stabil.” Sosok besar langsung mencatat sesuatu lagi. “Peluang perpindahan aman.” Pelangi langsung menghela napas lega. “Akhirnya ada kabar bagus.” Namun sebelum mereka melangkah lebih dekat… gerbang itu tiba tiba berdenyut pelan. Cahaya keemasannya bergerak seperti air. Pelangi langsung berhenti. “Eh…” Asa juga ikut diam. “…hangat…” Gerbang

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 276 - Cahaya Yang Dibawa Pulang

    Portal bercahaya itu bergetar pelan di depan mereka. Retakan ruang di belakang semakin melebar, membuat suara runtuhan terus terdengar seperti gema panjang yang tidak ada akhirnya.Pelangi berdiri di samping Asa sambil menatap portal itu hati hati.“Kita beneran masuk?”Aruna mengangguk singkat.“Kalau tidak, kita ikut hancur bersama ruang ini.”Pelangi langsung menelan ludah.“Oke… pertanyaan bodoh.”Sosok besar berjalan lebih dulu mendekati portal sambil tetap mencatat sesuatu di buku cahayanya.“Stabilitas cukup untuk dilewati.”Pelangi melihat Asa.Cahayanya kini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.Masih redup karena kehilangan.Namun tidak lagi kacau.“Asa…”Asa menoleh perlahan.“…iya…”Pelangi tersenyum kecil.“Kita pulang.”Sunyi sebentar.Lalu cahaya Asa bergerak pelan.“…pulang…”Seolah kata itu masih terasa asing baginya.Pelangi mengangguk kecil.“Iya.”Ia menggenggam cahaya Asa lagi.“Bareng.”Dan untuk pertama kalinya…Asa menggenggam balik dengan lebih jelas.Cahaya

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 275 H DUNIA SETELAH KEHILANGAN

    Cahaya portal di ujung ruang itu terus berkedip tidak stabil. Retakan besar menyebar ke mana mana, membuat seluruh tempat terasa seperti akan hancur dalam hitungan detik.Pelangi menggenggam Asa erat sambil berlari.“Atas sana! Cepat!”Aruna bergerak lebih dulu melewati serpihan cahaya yang terus berjatuhan. Sosok besar mengikuti di belakang mereka sambil terus mencatat keadaan ruang yang semakin kacau.“Integritas ruang tersisa dua belas persen.”Pelangi langsung panik.“Bisa nggak sih ngomong yang nggak bikin stres?!”Namun tidak ada yang menjawab.Karena semua orang tahu…keadaan mereka memang sedang buruk.Asa bergerak di samping Pelangi tanpa banyak bicara.Cahayanya redup.Sangat redup.Pelangi meliriknya beberapa kali dengan khawatir.“Asa…”Asa tidak menjawab.Ia masih terlihat kosong setelah kepergian Eren.Dan itu membuat hati Pelangi terasa berat.Dummm!Lantai di belakang mereka runtuh besar sekali.Pelangi refleks mempercepat langkah.“Cepat!”Portal bercahaya itu kini te

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 274 - SAAT DUNIA MULAI RUNTUH

    Retakan besar di bawah mereka terus melebar. Cahaya putih yang selama ini memenuhi ruang perlahan runtuh menjadi serpihan serpihan kecil seperti kaca pecah yang jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar. Pelangi hampir kehilangan pijakan saat lantai di bawahnya berguncang hebat. “Asa!” Ia menggenggam cahaya Asa kuat kuat. Asa bergerak mendekat refleks. “…Pelangi…” Suara runtuhan terdengar dari segala arah. Langit ruang itu juga mulai retak semakin parah, memperlihatkan pusaran hitam besar di baliknya. Aruna berdiri menjaga keseimbangan sambil melihat sekeliling. “Ruang ini tidak akan bertahan lama.” Sosok besar langsung mencatat. “Perkiraan kehancuran total semakin dekat.” Pelangi langsung panik. “Terus kita harus gimana?!” Sosok tinggi itu menatap retakan di langit. “Kita harus keluar sebelum inti ruang hancur sepenuhnya.” Eren masih berdiri di dekat pintu yang nyaris pecah total. Cahaya hitam di tubuhnya bergerak tidak stabil mengikuti runtuhnya tempat itu.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 273 - ORANG YANG MENARIK ASA KEMBALI

    Cahaya hitam itu terus merambat dari tangan Eren menuju tubuh Asa perlahan seperti akar gelap yang hidup. Seluruh ruang dipenuhi getaran aneh yang membuat udara terasa semakin berat.Pelangi langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa sakit akibat terpental tadi.“Asa!”Asa menoleh sedikit.Cahayanya berkedip kacau.“…Pelangi…”Namun tangan Eren masih mencengkeramnya erat.Tatapan gelap itu tidak berpindah sedikit pun dari Asa.“Aku sudah terlalu lama sendirian,” katanya pelan.Pelangi menggigit bibir kuat kuat.“Aku bilang lepasin dia!”Ia mencoba mendekat lagi.Namun kali ini Aruna langsung menahan lengannya.“Tunggu.”Pelangi langsung menoleh kesal.“Nunggu apalagi?!”Aruna menatap Eren serius.“Kalau kau bergerak sembarangan sekarang, energi mereka bisa bentrok.”Sosok besar langsung menambahkan.“Kemungkinan kehancuran ruang meningkat drastis.”Pelangi mengepalkan tangan.Ia benci harus diam saat Asa terlihat kesakitan.Eren perlahan mendekatkan wajahnya ke Asa.“Aku terus meman

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 272 - JANGAN PERGI SENDIRI LAGI

    Retakan di pintu itu terus menyebar seperti luka yang tidak bisa dihentikan. Cahaya hitam keluar semakin banyak, membuat seluruh ruang terasa dingin dan berat.Tangan Eren kini sudah sepenuhnya mencengkeram sisi pintu.Perlahan.Namun pasti.Ia sedang mencoba keluar.Pelangi masih menggenggam cahaya Asa erat erat. Jantungnya berdetak kacau saat melihat Asa melangkah maju tadi.Ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya muncul sepenuhnya.Bukan takut pada kehancuran.Bukan takut pada Eren.Namun takut kehilangan Asa.“Asa…” suaranya pelan namun bergetar.Asa menoleh perlahan.Cahayanya bergerak tidak stabil.“…aku harus…”“Nggak,” potong Pelangi cepat.Ia menggenggam cahaya itu semakin erat.“Kamu jangan ngomong kayak mau ninggalin aku.”Sunyi.Kalimat itu membuat Asa langsung diam.Bahkan retakan pintu yang terus berbunyi terasa seperti menjauh beberapa detik.Eren memperhatikan mereka dari balik celah pintu.Matanya yang gelap bergerak perlahan.“Masih sama seperti dulu.”Pelangi la

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 33- Ketenangan Yang Datang Pagi Hari

    Bu Seno datang dengan langkah pelan dari arah dapur. Di tangannya ada secangkir kecil berisi cairan cokelat keemasan yang masih mengepulkan uap tipis. Aroma rempahnya lembut jahe, sereh, dan entah apa lagi—membuat udara pagi terasa lebih ramah. “Nduk Aruna,” panggilnya lirih. “Iki wedang kanggo k

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 32 – Firasat yang Datang Tanpa Nama

    Aruna terbangun dengan dada terasa sesak. Bukan karena mimpi. Bukan pula karena rasa sakit di tubuhnya. Perasaan itu datang begitu saja tiba-tiba, menekan, seolah ada sesuatu yang salah namun tak bisa ia sebutkan. Langit-langit kamar Pak Seno terlihat buram di matanya. Lampu temaram menggantung d

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 31 – Pantangan yang Terlewat

    Keheningan menyelimuti ruang tengah rumah Pak Seno Lampu bohlam kuning menggantung rendah, cahayanya bergetar pelan seiring angin malam yang menyusup dari celah jendela. Suasana terasa berat, seolah udara sendiri ikut menahan nafas Pak Seno berdiri di dekat pintu, tangannya bersedekap. Tatapannya m

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 30 – Saat Nafas Kembali Menemukan

    Gerakan kecil itu kembali terjadi Kali ini bukan sekadar getaran samar, melainkan tarikan nafas yang sedikit lebih dalam dari sebelumnya. Dada Aruna naik perlahan, lalu turun, seolah tubuhnya sedang mengingat kembali cara bernapas.Hileon menegang.“Runa…?” panggilnya lirih, suaranya hampir tak ber

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status