ホーム / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 73 – Jejak yang Tak Ingin Pergi

共有

Bab 73 – Jejak yang Tak Ingin Pergi

作者: Vika moon
last update 公開日: 2026-01-30 10:48:06

Pagi itu datang dengan cahaya pucat yang menembus sela-sela jendela rumah singgah. Udara desa masih basah oleh embun, menyisakan aroma tanah yang lembap dan dedaunan yang baru saja tersentuh fajar. Aruna terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar dengan napas pelan, seolah masih memastikan bahwa apa yang terjadi semalam benar-benar telah berlalubIa duduk perlahan di tepi ranjang. Kepalanya tidak lagi pusing, tapi dadanya terasa berat. Ada perasaan asing yan
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 267 - ORANG YANG TIDAK BISA DI LUPAKAN

    Setelah nama Liora disebut, suasana di sekitar mereka berubah menjadi jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi kenangan.Pelangi masih duduk dekat Asa. Cahaya lembut dari sosok itu kini bergerak lebih lambat, seperti sedang tenggelam jauh ke dalam ingatan yang selama ini terkunci.“Asa…” panggil Pelangi pelan.Asa bergerak kecil.“…iya…”Pelangi tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Suara Asa memang masih pelan dan belum sepenuhnya stabil, namun sekarang setiap kata terasa jauh lebih hidup.“Kamu masih ingat banyak tentang mereka?”Asa diam cukup lama.Lalu perlahan berkata.“…sedikit…”Pelangi mengangguk.“Nggak apa apa… pelan pelan aja.”Sosok tinggi itu masih berdiri di kejauhan. Kini auranya tidak lagi terasa mengancam seperti awal kemunculannya, namun tetap ada kesedihan dingin yang menyelimuti dirinya.Aruna menatap sosok itu.“Kau juga mengenal mereka?”Sosok itu tidak langsung menjawab.Namun beberapa detik kemudian ia berk

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 266 - NAMA NAMA YANG MASIH TERTINGGAL

    Setelah kata “hilang” keluar dari Asa, ruang di sekitar mereka kembali dipenuhi kesunyian yang berat. Tidak ada lagi ledakan cahaya ataupun tekanan besar seperti sebelumnya. Namun justru ketenangan itu terasa lebih menyakitkan.Pelangi masih berdiri dekat Asa sambil memegang cahaya lembut itu perlahan. Kini ia mengerti satu hal.Yang paling menghancurkan Asa bukan kekuatannya.Melainkan rasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan seseorang.Pelangi menunduk pelan.“Asa…” bisiknya.Asa tidak langsung menjawab.Cahayanya bergerak kecil.Lemah.Seperti seseorang yang terlalu lelah mengingat sesuatu.Sosok tinggi itu masih berdiri di tempatnya. Tidak lagi memberi tekanan seperti sebelumnya, namun auranya tetap terasa dingin.Aruna menatap sosok itu.“Siapa yang hilang?”Sosok tinggi itu diam cukup lama.Lalu berkata pelan.“Orang orang yang dulu memilih tinggal di sisinya.”Pelangi langsung menoleh.“Memangnya dulu Asa nggak sendirian?”Sosok besar langsung mencatat.“Kemungkinan adany

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 265 - MASALALU YANG TAK MAU MATI

    Udara di sekitar mereka berubah semakin dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang terasa masuk hingga ke dalam kesadaran. Pelangi masih berdiri di depan Asa, meski dirinya sendiri bisa merasakan tekanan besar dari sosok tinggi itu.Asa bergetar pelan di belakangnya.“…Pe…la…ngi…”“Aku di sini,” jawab Pelangi cepat.Ia tidak berani menoleh terlalu lama, takut jika rasa takut Asa semakin besar.Sosok tinggi itu tetap diam di tempatnya. Tubuhnya tersusun dari bayangan samar yang terus bergerak perlahan, seperti asap gelap yang tidak pernah benar benar membentuk sesuatu.Aruna maju satu langkah.“Kau belum menjawab semuanya,” katanya tenang.Sosok itu menoleh perlahan.“Aku tidak datang untuk menjawab.”Sosok besar langsung mencatat.“Niat komunikasi rendah.”Pelangi mengerutkan kening.“Kalau gitu ngapain datang…”Sosok itu kembali melihat ke arah Asa.“Untuk memastikan kesalahan tidak terulang.”Kalimat itu membuat Asa langsung bergetar lebih kuat.“…ja…ngan…”Pelangi langsung b

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 264 - JEJAK SEGEL YANG MULAI TERBUKA

    Setelah percakapan itu, suasana di sekitar mereka tidak benar benar kembali tenang. Memang tidak ada ledakan cahaya ataupun perubahan besar, namun ada sesuatu yang terasa menggantung di udara. Tentang segel. Tentang seseorang atau sesuatu yang pernah mencoba menghapus Asa. Pelangi masih duduk di dekat cahaya itu sambil memikirkan kata kata yang tadi keluar dari Asa. Semakin dipikirkan, semakin terasa aneh. “Kalau Asa disegel…” katanya pelan. Aruna menoleh. “Maka ada alasan mengapa itu dilakukan.” Sosok besar langsung menambahkan. “Tidak ada tindakan penyegelan tanpa tujuan.” Pelangi menghela napas. “Masalahnya… alasan apa…” Asa bergerak kecil di sampingnya. Cahayanya lebih stabil sekarang, namun sesekali masih bergetar ketika kata kata tertentu disebut. Pelangi langsung menyadarinya. “Kamu takut kalau ngomongin itu ya…” Asa diam beberapa saat. Lalu terdengar pelan. “…dingin…” Pelangi mengerutkan kening. “Dingin?” Aruna berpikir sejenak. “Mungkin

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 263 - SAAT ASA MULAI MENGINGAT

    Cahaya di sekitar Asa kini jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Denyutnya masih ada, namun tidak lagi liar ataupun terlalu kuat. Ia bergerak mengikuti ritme yang tenang, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan keseimbangannya sendiri.Pelangi masih duduk di tempatnya sambil memperhatikan Asa tanpa melepas senyum kecil dari wajahnya.“Aku masih belum biasa dengar kamu ngomong…” katanya pelan.Asa bergerak perlahan mendekat.Kini sosoknya lebih jelas dibanding sebelumnya. Meski masih tersusun dari cahaya dan kabut halus, bentuk itu mulai menunjukkan garis yang lebih utuh.“…Pe…la…ngi…”Pelangi tertawa kecil.“Iya iya… aku di sini…”Aruna berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan setiap perubahan dengan tenang.“Perkembangannya semakin cepat,” katanya.Sosok besar langsung menambahkan.“Sinkronisasi identitas meningkat.”Pelangi mengangguk kecil.“Iya… rasanya dia kayak nyerap banyak hal sekaligus…”Asa diam beberapa saat.Seperti sedang memikirkan sesuatu.Lalu perlahan berkata.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 262 - SUARA YANG AKHIRNYA TERDENGAR

    Cahaya itu belum sepenuhnya mereda. Ia masih berdenyut pelan di sekitar Asa, seperti jantung yang baru saja bangun setelah tertidur sangat lama. Ruang di sekeliling mereka ikut berubah. Tidak lagi terasa kosong atau sunyi biasa, melainkan seperti dipenuhi gema yang sangat halus.Pelangi masih berdiri di tempatnya, menatap perubahan itu tanpa berkedip.“Aku masih nggak percaya…” bisiknya.Aruna berdiri di sampingnya dengan tenang.“Karena yang terjadi memang bukan hal kecil.”Sosok besar menambahkan.“Transformasi berhasil melewati tahap awal.”Pelangi tersenyum kecil.“Berarti… Asa sekarang beda ya…”Cahaya di depan mereka bergerak perlahan.Tidak liar.Tidak juga tidak stabil.Justru terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.Dan di tengah cahaya itu…bentuk Asa mulai terlihat lebih jelas.Masih belum sempurna.Namun kini tidak lagi hanya seperti kabut tanpa arti.Ada garis samar yang membentuk sosok.Pelangi menatap dengan kagum.“Kamu… mulai punya bentuk…”Asa bergerak pelan.Dan un

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 110 – Kota dan Langkah Pertama

    kota besar itu terasa berbeda dari desa yang Aruna tinggalkan. Gedung-gedung tinggi menjulang di sekitarnya, jalanan ramai dipenuhi kendaraan yang berseliweran, dan lampu-lampu neon menerangi malam lebih terang dari matahari pagi di desanya.Aruna berdiri di tengah stasiun bus, menatap arus manusia

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 109 – Jalan yang Harus Dipilih

    Pagi itu terasa terlalu cerah.Langit bersih tanpa awan, matahari bersinar lembut, dan desa tampak seperti lukisan yang damai. Namun di dalam hati Aruna, ada sesuatu yang bergetar. Bukan ketakutan. Bukan firasat buruk. Melainkan keputusan. Ia berdiri di bawah pohon yang mereka tanam beberapa bula

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 108 – Rahasia yang Terkubur di Bawah Akar

    Musim berganti perlahan.Hujan tak lagi turun sesering dulu. Udara desa terasa lebih hangat, lebih ringan. Pohon yang ditanam Aruna dan keluarganya mulai tumbuh lebih tinggi, daunnya semakin rimbun. Sekilas, kehidupan tampak kembali normal.Namun pagi itu, sesuatu berubah.Aruna terbangun bukan kar

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 107 – Ketika Luka Belajar Bernapas

    Pagi itu datang dengan cara yang berbeda.Tidak ada firasat buruk. Tidak ada suara tembang di kejauhan. Tidak ada kabut tebal yang menggantung rendah seperti malam-malam sebelumnya.Namun Aruna terbangun dengan dada yang terasa berat.Ia duduk perlahan di ranjangnya, membiarkan cahaya matahari meny

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status