Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 72 – Jejak yang Bangkit dari Tanah

Share

Bab 72 – Jejak yang Bangkit dari Tanah

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-01-29 09:48:45

Malam turun perlahan, membawa hawa lembap yang menyelinap ke sela-sela jendela rumah Pak Seno. Lampu-lampu dinyalakan lebih awal dari biasanya, seolah semua orang sepakat bahwa gelap tak boleh diberi ruang sedikit pun. Di ruang tengah, anak-anak KKN duduk berdekatan. Tak ada tawa, tak ada canda. Yang tersisa hanya desah napas dan tatapan yang sesekali saling bertemu lalu buru-buru berpaling.

Aruna duduk di antara Hileon dan Embun. Bahunya tegang, punggungnya lurus, tapi matanya jauh. Irama itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 260 - SAAT JAWABAN TIDAK LAGI DICARI

    Langkah mereka tidak lagi terasa seperti mencari sesuatu yang hilang. Tidak ada lagi dorongan kuat untuk menemukan jawaban dengan cepat, tidak juga kegelisahan seperti di awal perjalanan. Yang ada justru perasaan yang lebih tenang, seperti menerima bahwa tidak semua hal harus dipahami sekaligus.Pelangi berjalan perlahan, meskipun sebenarnya tidak ada lantai yang benar benar ia pijak. Namun sensasi bergerak itu tetap terasa nyata.“Aku ngerasa… kita sekarang beda…” katanya pelan.Aruna menoleh sedikit.“Berbeda bagaimana?”Pelangi tersenyum kecil.“Dulu kita kayak kejar sesuatu terus… sekarang kayak… ya udah… jalan aja…”Sosok besar langsung merespon.“Perubahan pola perilaku.”Pelangi tertawa kecil.“Iya… itu…”Asa bergerak di sampingnya. Tidak lagi hanya mengikuti, tapi juga seperti memilih jalannya sendiri. Kadang mendekat, kadang sedikit menjauh, namun tidak pernah benar benar terpisah.Pelangi memperhatikannya.“Kamu juga berubah ya…”Asa bergetar lembut.Seperti merespon dengan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 259 - PERTANYAAN YANG MULAI TUMBUH

    Ruang itu kini terasa berbeda dengan cara yang sulit dijelaskan. Tidak ada lagi tekanan seperti sebelumnya, tidak juga kekosongan yang membingungkan. Yang ada justru sesuatu yang lebih halus, seperti ruang yang memberi tempat untuk sesuatu tumbuh perlahan. Pelangi berdiri sambil memperhatikan Asa yang bergerak pelan di sekitarnya. Gerakan itu tidak lagi ragu. Masih sederhana, namun sudah memiliki arah. “Aku ngerasa dia makin sadar…” katanya pelan. Aruna mengangguk. “Iya. Kesadarannya mulai terbentuk dengan stabil.” Sosok besar menambahkan. “Indikator perkembangan meningkat konsisten.” Pelangi tersenyum kecil. “Iya… sekarang aku ngerti maksud kamu.” Asa mendekat lagi, berhenti tepat di depan Pelangi. Getarannya tidak lagi acak. Ada pola yang terasa seperti mencoba menyampaikan sesuatu. Pelangi mengerutkan kening. “Tunggu… ini beda…” katanya. Aruna langsung fokus. “Apa yang kamu rasakan?” Pelangi menutup matanya sebentar. Ia mencoba membaca getaran itu. Da

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 258 - KETIKA ASA BELAJAR MERASAKAN

    Ruang itu tidak lagi terasa seperti sebelumnya. Jika dulu dipenuhi oleh gema masa lalu dan jejak yang belum selesai, kini ia mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih hidup. Bukan karena banyaknya hal yang terjadi, tetapi karena ada sesuatu yang baru yang mulai tumbuh di dalamnya.Asa bergerak pelan di sekitar Pelangi. Tidak lagi seperti kabut tanpa arah, melainkan seperti sesuatu yang mulai mengenali ruang tempat ia berada. Gerakannya masih sederhana, belum sepenuhnya stabil, namun sudah jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Pelangi memperhatikannya dengan mata berbinar.“Aku ngerasa dia makin ngerti…” katanya pelan.Aruna berdiri di sampingnya, tetap tenang namun tidak melepaskan perhatian.“Perkembangan itu alami,” jawabnya.Sosok besar menambahkan.“Adaptasi meningkat seiring interaksi.”Pelangi tersenyum kecil.“Iya… tapi tetep aja… cepat banget…”Asa bergerak mendekat ke arah Pelangi, lalu berhenti di depan wajahnya. Seolah mencoba melihat lebih dekat, meskipun ia belum benar

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 257 - SAAT SESUATU MULAI MEMILIH

    Kabut itu kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Meski masih tanpa bentuk yang jelas, ada perubahan yang perlahan mulai terasa. Seperti sesuatu yang sebelumnya hanya ada kini mulai menyadari keberadaannya sendiri.Pelangi berdiri dengan lebih santai, meskipun matanya tetap fokus.“Aku ngerasa… dia berubah dikit…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Tidak banyak, tapi cukup untuk terlihat.”Sosok besar menambahkan.“Perubahan struktur awal terdeteksi.”Pelangi menoleh.“Struktur lagi…”Ia tertawa kecil, lalu kembali menatap kabut itu.“Tapi bener sih… dia kayak nggak sekosong tadi…”Kabut itu bergerak sedikit. Tidak acak seperti sebelumnya. Ada pola kecil yang mulai terbentuk, meskipun masih samar.Pelangi memperhatikan dengan serius.“Kamu… mulai ngerti ya…” katanya pelan.Kabut itu bergetar halus.Seperti jawaban yang belum bisa menjadi kata.Aruna melangkah mendekat.“Dia mulai merespon bukan hanya kehadiran, tapi juga makna.”Pelangi mengangguk.“Iya… kayak dia mulai milih…”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 256 - SAAT SESUATU MULAI MEMILIH

    Kabut itu kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Meski masih tanpa bentuk yang jelas, ada perubahan yang perlahan mulai terasa. Seperti sesuatu yang sebelumnya hanya ada kini mulai menyadari keberadaannya sendiri.Pelangi berdiri dengan lebih santai, meskipun matanya tetap fokus.“Aku ngerasa… dia berubah dikit…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Tidak banyak, tapi cukup untuk terlihat.”Sosok besar menambahkan.“Perubahan struktur awal terdeteksi.”Pelangi menoleh.“Struktur lagi…”Ia tertawa kecil, lalu kembali menatap kabut itu.“Tapi bener sih… dia kayak nggak sekosong tadi…”Kabut itu bergerak sedikit. Tidak acak seperti sebelumnya. Ada pola kecil yang mulai terbentuk, meskipun masih samar.Pelangi memperhatikan dengan serius.“Kamu… mulai ngerti ya…” katanya pelan.Kabut itu bergetar halus.Seperti jawaban yang belum bisa menjadi kata.Aruna melangkah mendekat.“Dia mulai merespon bukan hanya kehadiran, tapi juga makna.”Pelangi mengangguk.“Iya… kayak dia mulai milih…”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 255- YANG TIDAK PUNYA NAMA

    Kabut itu tidak bergerak menjauh meskipun mereka semakin mendekat. Justru sebaliknya, kehadiran mereka seperti memberi bentuk yang sedikit lebih jelas, meskipun masih belum bisa disebut utuh. Ia tetap seperti bayangan yang tidak tahu harus menjadi apa. Pelangi berdiri paling depan. Ia tidak merasa takut, namun ada rasa aneh yang terus mengganggu, seperti melihat sesuatu yang seharusnya punya makna, tapi belum menemukannya. “Aku ngerasa… dia kayak nunggu sesuatu…” katanya pelan. Aruna menatap kabut itu dengan lebih dalam. “Atau menunggu untuk dikenali.” Sosok besar menambahkan. “Identitas belum terbentuk.” Pelangi menoleh. “Berarti dia… belum jadi sesuatu ya?” Sosok besar mengangguk. “Belum memiliki definisi jelas.” Pelangi menghela napas. “Kasian juga ya…” Kabut itu bergerak sedikit, seolah merespon kata kata itu. Tidak agresif, tidak juga menjauh, hanya… mendekat sedikit lebih dekat. Aruna memperhatikan. “Dia bereaksi terhadapmu.” Pelangi tersenyum keci

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 120 – Wajah di Balik Tirai

    Hujan turun sejak pagi.Kota tampak abu-abu, seperti menahan sesuatu yang belum diucapkan. Aruna berdiri di depan jendela kosnya, menatap tetes-tetes air yang meluncur lambat di kaca.Sudah seminggu sejak ia dan Alvaro menemukan nama itu.Seorang pria yang kini dipanggil dengan hormat di berbagai a

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 119 – Darah yang Mengingat

    Sudah dua bulan sejak Ratih ditemukan.Kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Laporan KKN selesai. Nilai keluar. Grup mereka kembali dipenuhi candaan ringan tentang skripsi, organisasi, dan rencana masa depan.Tidak ada lagi jam 02.12.Tidak ada lagi tembang.Aruna bahkan mulai percaya semuanya

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 118 – Suara yang Mengikuti Pulang

    Perjalanan pulang ke kota berlangsung lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada candaan berlebihan dari Bima. Tidak ada ocehan Pelangi yang biasanya tak pernah habis. Bahkan Embun pun lebih banyak menatap jendela.Aruna duduk paling belakang. Angin dari jendela mobil menerpa rambutnya pelan. Desa itu su

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 117 – Purnama yang Terakhir

    Tiga hari setelah pemakaman Saraswati dan Arman, desa itu berubah.Bukan berubah dalam arti yang mencolok. Sawah tetap hijau. Anak-anak tetap berlarian sore hari. Ibu-ibu tetap menjemur pakaian di halaman. Tapi suasananya berbeda.Lebih ringan.Pendopo yang dulu selalu dihindari kini mulai dibersih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status