Masuk"Mas hentikan!"
Naomi menahan pergerakan Lian tetapi apalah daya saat pakaiannya justru dilucuti hingga menyisakan dua kain tipis saja yang menutupi bagian intinya. Semua yang ada pada dirinya terpampang jelas dan Lian terlihat sangat menginginkan sekali hingga terus berusaha untuk menggodanya. Tatapan pria itu berkabut gairah yang Naomi yakini sedang sangat horny saat ini. "Mas aku sedang tidak enak badan. Lagian kamu sudah lama tidak meminta. Kanapa tiba-tiba merusuh sekali seperti ini. Apa kamu tidak kerja?" Lian meraih apa-apa yang membuat suara lenguhan Naomi terdengar indah. Nafas Naomi memburu, hingga tak mampu lagi bertahan dan semakin sulit melepaskan diri dari pria itu. Sebenarnya tidaklah salah jika Lian meminta. Toh Lian suaminya tetapi pengkhianatan dan apa yang Lian lakukan bersama Maryam semalam membuat Naomi semakin enggan. Apalagi membayangkan mulut Lian mendamba tubuh Maryam dengan kata-kata yang sangat frontal. Najis dia membiarkan tubuhnya menjadi santapan Lian. Naomi berusaha keras untuk memberontak sampai dimana kedua tangan tertahan dan dikunci oleh Lian yang merusuh lehernya serta kaki pria itu yang sudah semakin menindih kedua kakinya. "Mas..." Suara Naomi terdengar amat sangat gelisah. "Karena sudah lama, Sayang. Aku sedang ingin sekali. Rasakan! Dia sudah tidak bisa dikondisikan. Layani aku sebentar saja, Sayang!" "Mas tapi aku harus mengurus Gwen. Dia mau bersekolah pagi ini." "Hanya lima belas menit. Gwen sudah bisa berpakaian sendiri." Tetap saja Lian tidak mau mendengarkan apa yang Naomi katakan padahal jelas-jelas dia sudah menolak. Kedua mata Naomi terpejam kala satu jari berhasil mengoyak bagian terlarangnya. Akh... Lian sungguh sangat memaksa sedangkan hati dan tubuhnya terus berusaha memberontak. "Mami!" Kedua mata Naomi terbuka dengan sempurna kala samar-samar dia mendengar panggilan dari Gwen. Naomi kembali mencoba bergerak hingga membuat Lian menatap penuh tanya. "Ada apa lagi, Sayang? Nikmati saja!" "Mas, Gwen memanggilku. Minggir dulu!" pinta Naomi tetapi Lian hanya berdecak saja dan melanjutkan aksi panas yang membakar hasrat mereka. Kembali panggilan dari Gwen terdengar dan itu membuat Naomi semakin berharap Gwen mengetuk pintu. Setidaknya jika dia tidak bisa menggagalkan apa yang suaminya lakukan. Gwen bisa diandalkan untuk Mas Lian beranjak dari atas tubuhnya. "Mas apa kamu tidak mendengarnya? Anak kita sedang kesulitan, Mas!" "Biarkan, Sayang! Ada Maryam di bawah. Nanti juga disamperin. Aku masuk ya, Sayang. Sebentar saja!" "Nggak mau, Mas! Jangan!" tolak Naomi. Geregetan sekali Naomi dengan Lian. Tidak ada sama sekali keinginan untuknya menikmati itu apa lagi melayani suaminya tetapi Lian sungguh pandai membuat tubuhnya mengkhianati hati. Lian yang sudah tau titik sensitifnya sangat pandai memanipulasi tubuhnya untuk ikut menjadi pengkhianat. "Sayang panggil Mami lagi! Ayo! Jangan diam saja! Mami mohon, Nak!" batinnya dan Naomi sangat berharap Gwen benar-benar datang. Benda tumpul itu sudah mengarah pada Naomi. Dia merasakan begitu sangat meresahkan sekali di bawah sana dan wajah Lian yang sudah sangat menikmati gesekan yang pria itu ciptakan. Curangnya, Lian menahan pergerakannya hingga tidak bisa beranjak dan bergerak. Dasar laki-laki tidak ada puasnya! Dalam hati Naomi kembali mengumpat kesal pada suaminya. Sengit sekali Naomi pada pria itu. Bodohnya dia sulit sekali melepaskan diri. "Mami!" KYAAAATTTT Naomi mendorong tubuh Lian untuk menyadarkan pria itu akan pintu yang sudah terbuka. Dengan cepat tangan Lian pun menarik selimut untuk menutupi mereka. "Mami," panggil Gwen yang sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka separuh kemudian berlari mendekati. Naomi tersenyum kemudian melirik Lian yang nampak kesal sekali. Pria itu mengusap kasar wajahnya dan meraih pakaian yang teronggok di lantai. "Gwen mau apa sih, Nak? Papi sama Mami sedang bicara. Sibuk sekali kami tuh. Kamu main masuk saja!" oceh Lian yang begitu sangat sewot sekali. Mendengar itu Naomi segera mengusap pipi Gwen agar tidak tersinggung dan tetap memberikan senyuman terbaik yang mampu menenangkan Gwen. "Gwen mau minta tolong ikat rambut, Pi." Naomi mendengus kesal setelah mendengar jawaban Gwen. Dia tidak terima atas sikap Lian pada Gwen. Naomi kembali menoleh ke arah Lian yang tengah menatap lain padanya. "Mas, Gwen belum bisa merapikan rambutnya sendiri." "Hhhmm..." Pria itu terlihat frustasi dan tak lama masuk kamar mandi sedangkan Naomi segera duduk untuk segera membantu Gwen mengikat rambut dengan merapatkan selimutnya agar tidak terlepas. "Mami kok selimutan? Memangnya Mami belum mandi?" tanya Gwen padanya. "Mami baru bangun Sayang. Papi usap perut Mami dulu, agak sakit. Makanya Mami masih tidur-tiduran. Oh iya, siapa tadi yang membukakan pintu, Nak? Bukankah tangan kamu belum sampai?" "Om Brilly." Deg Jika Brilly yang membukakan pintu, bukankah itu artinya pria itu melihat apa yang sedang terjadi antara dia dengan Lian? Jantung Naomi serasa terpental dari sarangnya. Dia menarik nafas dalam kemudian menatap ke arah pintu kamar. "Gwen sudah belum? Ayo sarapan sama Om!" seru suara seseorang dari luar kamar. Suara itu, Suara Brilly sangat dekat sekali. Jadi pria itu sejak tadi masih ada di sana. Astaga... Naomi meringis kemudian menatap wajah Gwen. "Aku sarapan duluan ya, Mi. Nanti aku berangkat bareng sama Om Brilly saja. Katanya Om Brilly mau mengantarku sekolah." "Oh gitu. Ya sudah, Mami mau siap-siap dulu ya, Sayang. Tunggu Mami di meja makan!" Naomi tersenyum menatap wajah Gwen yang nampak ceria dan memperhatikan langkah kecil Gwen keluar kamar. Sampai dimana kedua matanya membulat dan senyumnya pudar kala melihat ada Brilly melangkah kemudian menutup kembali pintu kamarnya. Kedua mata mereka sempat bertamu hingga tangan Naomi mengeratkan selimut yang melingkar membalut tubuhnya. Naomi diam mematung dan tak lama kedua matanya memejamkan kala mendengar suara pintu kembali tertutup rapat. "Bagaimana jika Kak Brilly berpikir aku menjilat ludahku sendiri? Jelas sekali semalam aku muak dengan Mas Lian dan mengeluhkan akan itu padanya tetapi pagi ini justru dia melihat kami tengah... Agh! Gila!" Naomi memijit pelipisnya dan menunduk memikirkan itu tetapi suara dari Lian membuatnya kembali mengangkat kepala. "Naomi, kemana Gwen?" Sontak Naomi menoleh dan menatap Lian yang keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang saja.Dada Naomi naik turun kala dirinya mendarat di ranjang. Mana kamar utama yang ingin dia lihat? Saat ini, seolah bukan itu yang menjadi hal utama karena Brilly tengah berada di atas tubuhnya, mengkukungnya dengan posesif. Mungkin penampilan Naomi pun sudah tak beraturan lagi sekarang. Namun rupanya Brilly tak memikirkan itu. Tatapan mata penuh cinta dan rasa ingin dapat Naomi lihat dengan jelas dari kedua mata Brilly. "Kak kamu mau apa? Katanya mau mengajakku melihat kamar? Kenapa malah posisinya begini?" tanya Naomi lirih kemudian menggigit bibir bawahnya. Perasaan Naomi tak menentu. Jantung semakin berdebar kencang dan nafas mulai memburu kala kecupan dari Brilly dia rasakan di lehernya. Naomi mendongak mendapati itu. Kedua matanya terpejam dan tubuhnya melengkung menantang. "Aku merindukanmu, Sayang." "Apa itu tidak buru-buru namanya, Kak?" "Tentu saja tidak, kamu sudah menjadi milikku sekarang. Melihat kamar dan room tour bisa nanti tapi yang ini sudah tidak bisa
"Saya terima nikah dan kawinnya Naomi binti......" Kalimat sakral itu menggetarkan hati Naomi dan membuatnya berdebar hingga jantung tak karuan rasa. Naomi sesak nafas mendengar kalimat tersebut. Brilly dengan lancar mengucapkan kalimat itu. Semua terasa begitu cepat dan berpihak padanya. Ya Tuhan.... Ikhlas mana yang Kau kabulkan hingga memberikan pengganti dengan mudahnya? Di masjid besar ini, Naomi terduduk dengan jarak yang cukup jauh dari pria yang kini tengah mengucapkan kalimat sakral untuknya. Air mata kebahagiaan keluar tanpa bisa dia hindarkan. Genggaman tangan Naomi begitu kuat memegang telapak tangan Mami. Dia memejamkan kedua mata dan menunduk. Rasa syukur terucap kala kata sah menggema. "Alhamdulillah...." "Alhamdulillah," ucap Naomi kemudian menganggukkan kepala dan mengambil ujung tisu untuk menahan air matanya. "Selamat ya, Nak. Mami doakan kamu bahagia, Sayang." Naomi menoleh kemudian memeluk Mami. Semua di luar dugaan. Naomi pikir akan ada aca
Apa yang dikatakan oleh Brilly itu benar adanya. Sebuah perkataan Brilly yang akan menikahi Naomi besok. Hal itu sangat membuat Naomi terkejut. Dia tidak pernah berpikir kalau akan menikah diwaktu yang sangat amat cepat . Naomi diberikan waktu menjanda benar-benar hanya dalam waktu hitungan bulan. Hanya untuk menuntaskan masa iddah saja. Memang sejak awal, percintaannya dengan Brilly sangat mendadak. Semua yang berkaitan dengan Brilly selalu mendadak. Mendadak jadi dekat, mendadak dibela, mendadak diperhatikan, mendadak disayang, mendadak ditinggal, sampai mendadak dilamar dan sekarang mendadak pula dinikahinya. Naomi yang merasa baru saja terpejam sudah harus kembali terjaga kala suara ketukan di pintu kamarnya begitu sangat mengusik raga. Naomi yang semula masih bergelut dengan mimpi tiba-tiba harus bangun karena panggilan dari seseorang. "Iya, sebentar!" seru Naomi dengan suara yang terdengar lemas. Naomi beranjak dari tidurnya. Dia masih sangat mengantuk sekali. Langk
"Kamu diajak jalan-jalan? Kenapa nggak ikut?" Deg Naomi terkejut, baru saja keluar dari kamar mandi, sudah diteror pertanyaan dari seseorang yang selama ini mengganggu pikirannya. Naomi mengusap dada kemudian melangkah menuju lemari pakaian. Dia lebih dulu mengambil pakaian ganti seraya memikirkan dari mana Brilly tau tentang pesan itu. "Aku nggak mau buat kamu cemburu. Kenapa sich, Kak? Harusnya kamu lebih tenang. Eh iya, tau dari mana?" tanya Naomi kemudian berbalik menatap Brilly. Kedua alisnya menukik memeluk pakaian ganti. Namun tidak ada jawaban dari Brilly membuat Naomi memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi. "Mau kemana?" "Pakai pakaianku dulu, Kak." "Kenapa jauh-jauh? Di sini saja bisa." Naomi menoleh dan menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang Brilly katakan. Dia menggelengkan kepala dan kembali melangkah masuk kamar mandi. "Nggak mau ah! Kamu lagi mode gragas soalnya." BRAAAKK Naomi menutup pintu kamar mandi dengan rapat
"Naomi..." "Mami..." Naomi memeluk Mami sesampainya dia di rumah. Rumah yang biasa sepi mendadak ramai kembali. Bahagia sekali Naomi melihat keberadaan Mami, Daddy dan tentunya Brilly. Sepertinya bukan hanya dia saja yang bahagia tetapi Gwen pun sama. Gwen terlihat amat sangat bahagia sekali hingga tak ingin lepas dari Daddy. "Maafkan Mami ya, Nak. Mami bukannya nggak mau mengabari kamu tapi katanya Brilly mau ngasih kejutan. Ya sudah Mami nurut aja." "Iya nggak apa-apa, Mi. Kejutannya berhasil kok, Mi. Ngejut banget pokoknya, Mi. Kak Brilly sukses buat aku menangis setiap malam. Nggak nyangka aku juga kalau Kak Brilly sampai begitu." Naomi merenggangkan pelukannya pada Mami dan menoleh ke arah Brilly yang hanya diam memperhatikannya dengan kedua tangan menyilang di dada. "Kalau begitu pantasnya aku ambekin atau gimana, Mi?" tanya Naomi yang kemudian berdecak mendengar itu. "Kalau kaya Mami sich langsung minta lamar aja, Naomi. Pas tiga bulan langsung menikah.
"Hah? Aku nggak nakal. Aku masih ingat kamu. Aku juga nggak terima dia. Kami memang sering bertemu tetapi itu kebutuhan anak-anak. Bukan karena urusan orang tuanya," elak Naomi kemudian melangkah mundur sedikit memberi jarak untuk menjelaskan pada Brilly. "Kakak juga kenapa nggak ngabarin aku? Aku menghubungi Kakak, Mami, Daddy, sampai aku datang ke kantor Kakak untuk mendatangi Gani. Katanya Kakak sakit parah, tapi aku lihat Kakak malah sudah sembuh total. Kakak bisa berjalan. Kakak berdiri gagah. Kakak sengaja membohongi aku?" "Kenapa memangnya? Salah kalau aku ingin memberikan kejutan untukmu dan sengaja mengetes kesetiaanmu, hhm?" "Jadi Kakak nggak percaya sama aku? Kak Brilly nggak percaya kalau aku setia di sini nunggu Kakak? Iya? Kakak pikir aku mudah tergoda dengan laki-laki lain?" cecar Naomi. Mereka baru bertemu tetapi berujung ribut. Betul-betul seperti Tom and Jerry. Jauh dicari setelah dekat malah debat dan semua itu berawal dari rasa cemburu serta adanya oran
Naomi duduk berdua dengan Mami si sofa kamar. Naomi masih diam tak bertanya apa tujuan beliau mengajak bicara. Diam Naomi memperhatikan sampai hatinya merasa resah. Mami sepertinya berat sekali ingin bicara. Agaknya lidah beliau kelu untuk berucap. Bisa jadi beliau bingung ingin memulai dari man
"Aku minta maaf. Aku salah. Sungguh aku menyesal." Naomi tersenyum kecut mendengar apa yang Lian katakan. Apa katanya tadi? Minta maaf? Naomi sampai muak sekali dengan itu. Mau seribu kali pun Lian mengatakan itu, hatinya sudah penuh dengan apa yang dia dapatkan selama ini. Naomi membuang muka
Cup "Semangat!" "Ups! Sorry ganggu. Gue nggak lihat. Beneran!" "Ck, ganggu aja!" umpat Brilly kesal sedangkan Naomi sontak membuang muka menutupi wajahnya yang mungkin saat ini sudah sangat merona. "Sorry, gue masuk mau ngasih tau loe kalau bentar lagi siap operasi. Maaf ya Mbak Naomi. Ng
Naomi datang dengan membawakan buah-buahan untuk Brilly. Sepanjang jalan Naomi bingung memikirkan apa yang harus dia bawakan untuk Brilly. Terlebih keinginan Brilly yang sangat tidak mungkin. Tidak mungkin juga jika datang dengan tangan kosong. Apalagi ada mertua. Alhasil apa yang ada di otakny







