Share

Bab 05. Panas

Author: weni3
last update publish date: 2025-10-13 19:51:22

Naomi berdiri di depan jendela kamar seraya menatap langit malam dengan menikmati secangkir coklat yang mampu menghangatkan tubuhnya.

Sakit hatinya terasa sampai ke tulang. Hembusan nafas berat begitu sangat menyiksa. Namun Naomi dipaksa tetap bertahan di tengah pengkhianatan yang terjadi di rumah besar ini.

Dia bertahan bukan untuk menikmati kesakitan, tetapi bertahan karena ada yang dia perjuangkan. Naomi merasakan tubuhnya sangat lelah. Kegiatan yang padat, air mata yang terkuras, dan hati yang babak belur membuatnya butuh waktu untuk istirahat panjang.

Namun mulai malam ini rasanya tubuh sangat berat untuk kembali menikmati ranjangnya. Itu karena Naomi tak minat satu ranjang dengan Lian, tapi tidak mungkin juga dia berpindah ke tempat lain.

Apa alasannya? Tentu saja Lian akan bertanya.

Ingatan akan kegilaan yang Lian lakukan bersama dengan Maryam begitu mengganggu pikiran hingga menumpuk rasa benci di hatinya.

Sampai akhirnya Naomi memutuskan tetap singgah di peraduan yang tak lagi hangat dan merasakan tangan Lian melingkar di tubuhnya dengan begitu posesif.

Sayangnya itu semua hanya perlakuan kecil untuk menutupi pengkhianatan yang Lian lakukan padanya hingga Naomi semakin muak saja.

"Aku sangat mencintaimu Mas tapi cinta ini mati setelah aku melihatmu bermain gila dengannya. Sepuas itukah kamu menidurinya? Bahkan beberapa tahun pernikahan kita, aku sudah seperti jalang untukmu agar kamu tetap puas meskipun usia pernikahan kita sudah bertambah tahun, tapi nyatanya? Kamu tetap mencari kehangatan dari wanita lain."

Kedua mata Naomi basah menatap wajah Lian tetapi dia tidak membiarkan air matanya kembali jatuh. Naomi bahkan menahan sebuah kedipan hanya untuk menahan air matanya.

"Kamu sedang menunjukkan siapa dirimu dengan meniduri seorang pembantu, Mas! Kamu tidak lebih dari keset yang pantas untukku injak!"

Naomi tak tahan. Dia semakin muak dan memilih turun dari tempat tidur untuk mencari udara segar. Sesak dadanya saat tubuh Lian bukan lagi miliknya.

Naomi mengayunkan kakinya menuju balkon kamar. Dia membuka pintu secara perlahan. Naomi pun nekat membawa sebungkus rokok milik Lian untuk menemani malamnya.

Sebenarnya Naomi tidak pernah melakukan ini tapi jika dipikir-pikir, kenapa tidak mencobanya saja. Laki-laki akan seperti itu ketika sedang ada masalah. Mungkin otaknya bisa kembali segar setelah menghisap rokok ini.

"Aku hanya meniru imamku," batin Naomi kemudian keluar dan merapatkan pakaian kimononya.

Di luar lumayan dingin, tapi tidak mengurungkan keinginan Naomi untuk menepi.

Angin menerpa wajahnya, syahdu melambai di pipi. Naomi butuh ketenangan dan kesendiriannya saat ini tidaklah buruk.

Dia akan menikmati hidupnya yang pedih ini dan membiarkan masalah itu bergulir sampai dimana bom waktu akan meledak menghancurkan pernikahannya.

Naomi duduk di pinggir pagar balkon tanpa kursi kemudian menyalakan rokok yang ia bawa tadi. Tatapannya tertuju pada langit malam yang menenangkan.

Satu hisapan nikotin yang terselip di jemarinya sedikit berat saat ia sesap tetapi setelah berulang kali dia mengulanginya. Kedua matanya mulai terpejam seraya mendongak mengepulkan asap

"Ternyata jika sudah terbiasa semua akan terasa ringan. Apa aku harus membiasakan melihatmu dengannya demi Gwen, Mas?"

"Apa yang kamu lakukan, Naomi?"

Deg

"Akh!"

Naomi terperanjat mendengar suara seseorang yang tiba-tiba ada di sampingnya. Dia yang terduduk di atas pagar hampir saja terjun ke bawah jika tidak ada tangan yang bergerak menarik pinggulnya.

Naomi terjerembab di pelukan Brilly dan menatap wajah pria yang mirip dengan Lian begitu sangat dekat hingga wangi maskulin pria itu masuk ke dalam indera penciumannya.

"Maaf, Kak."

Naomi pun segera melepaskan diri kemudian berdiri memberi jarak. Puntung rokok yang terbuang dalam keadaan masih menyala reflek dia injak hingga kembali terjingkat.

"Akh! Panas!" pekik Naomi.

Brilly mendesis melihat apa yang Naomi lakukan. "Dasar ceroboh!" kata pria itu dan Naomi meringis merasakan kakinya yang sakit.

Namun tanpa diduga, Brilly tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membawanya duduk di balkon kamar sebelah. Pria itu melewati pembatas dengan mudahnya kemudian mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi yang ada di sana.

Naomi terdiam memperhatikan gerakan cepat Brilly yang kemudian masuk ke dalam kamar dan kembali dengan membawa sebuah kotak obat.

Pria itu begitu sangat cekatan. Namun bukan itu yang membuat Naomi terkesan, tatapan khawatir dari Brilly membuatnya merasa tertampar karena tak lagi dia dapatkan dari Mas Lian.

"Lain kali jangan menikmati hal yang bisa merusak tubuhmu. Sakit hati boleh, tapi tidak terus kamu menyakiti fisikmu. Biarkan hati saja yang sakit. Ragamu harus tetap kuat menghadapi kegilaan suamimu."

Naomi menelan kasar salivanya. Lagi-lagi yang Brilly katakan itu adalah sebuah kebenaran. Bodoh jika dia merusak raganya yang selama ini selalu dia jaga.

Kenapa harus ikut-ikutan hal buruk yang suaminya lakukan? Lantas apa bedanya dia dengan Lian?

"Auwh!"

Naomi memejamkan kedua mata kala obat mendarat ke telapak kakinya. Naomi meringis merasakan itu kemudian sedikit membuka mata dan menyipit memperhatikan Brilly.

Pria itu begitu sangat telaten mengobati dan meniup-niupkan kakinya yang saat ini berada di atas kedua paha pria itu.

Naomi pun perlahan menutup bagian roknya yang sedikit menyingkap memamerkan kaki jenjangnya. Hal kecil ini hampir saja ia lupakan karena kalah dengan rasa sakit di kakinya.

"Cukup Kak! Aku bisa mengobatinya sendiri. Ini hanya luka kecil saja."

"Tapi bisa infeksi jika tidak segera diobati." Brilly menatap wajah Naomi yang mengangguk seraya menarik kakinya.

"Terimakasih."

"Hhmm..."

"Aku masuk dulu!" kata Naomi lirih. Bersama Brilly dengan jarak yang sangat dekat seperti ini membuat Naomi merasa canggung.

Mungkin tadi dia lupa karena begitu sangat sakit hati hingga berani membujuk Brilly untuk menjadi selingkuhannya tetapi dalam keadaan normal seperti ini. Naomi sangat menjaga hubungannya dengan ipar.

"Jangan lupa kembalikan rokok milik Lian! Dia akan mencarinya besok."

Naomi melihat tangan Brilly yang terbuka dan terdapat sebungkus rokok beserta korek gas di sana. Segera Naomi mengambil benda tersebut kemudian beranjak untuk kembali masuk ke dalam kamar.

Naomi merapatkan kembali kimono tidurnya dan melangkah dengan sedikit tertatih menuju kamarnya. Namun agak kesulitan saat hendak melewati pagar pembatas, tetapi dia berusaha sendiri tanpa meminta bantuan Brilly.

Naomi menoleh ke arah pria itu setelah berhasil melintas. Terlihat Brilly tengah menatap ke lain arah dan Naomi pun bergegas masuk kamar.

Paginya, Naomi terjaga setelah merasakan kecupan yang berulang kali di wajahnya. Kedua mata Naomi terbuka dan dia melihat Lian sudah ada di atas tubuhnya dengan tatapan sangat menginginkan.

"Aku horny, Sayang. Sudah lama kita tidak bercinta pagi-pagi. Aku sangat menginginkanmu," bisik Lian yang kemudian mendaratkan kecupan di tengkuknya.

"Mas!" Naomi pun bergerak gelisah berusaha menolak tetapi tangan Lian berhasil menyibak pakaiannya dan bergerak nakal di sana.

"Mas hentikan!"

"Sayang please...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Elis Sahadati
benar apa yg di katakan brilly bahwa sayangi dirimu dan mental mu...jika ragamu sakit kamu tidak akan bisa membalaskan rasa kecewa dan sakit hatimu...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 139. Siapa?

    Cup "Semangat!" "Ups! Sorry ganggu. Gue nggak lihat. Beneran!" "Ck, ganggu aja!" umpat Brilly kesal sedangkan Naomi sontak membuang muka menutupi wajahnya yang mungkin saat ini sudah sangat merona. "Sorry, gue masuk mau ngasih tau loe kalau bentar lagi siap operasi. Maaf ya Mbak Naomi. Nggak sengaja," kata Gani seraya menggaruk kepala. Bohong sekali memang kalau pria itu tidak melihat apa-apa. Maka dari itu meminta maaf akan keteledorannya. Begini yang Naomi takutkan, akhirnya terjadi juga padahal durasi baru sebentar. "Mbak-mbak! Nyonya!" tegur Brilly. "Iya maaf, Nyonya. Lupa kalau sebentar lagi mau jadi Nyonya Brilly ya, Bu. Maaf ya, Bu. Lanjut dech! Tapi palingan juga cuma lima menitan. Soalnya tim medis udah otw kemari." "Udah sana keluar dulu! Bikin cewek gue malu aja loe. Nggak nyaman dia jadinya." "Iya, iya, sorry. Lanjut dah! Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak! Manukku siap...." "Haish... Sialand, Gani!" umpat Brilly lagi setelah mendengar Gani y

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 138. Sayang Dulu!

    Naomi datang dengan membawakan buah-buahan untuk Brilly. Sepanjang jalan Naomi bingung memikirkan apa yang harus dia bawakan untuk Brilly. Terlebih keinginan Brilly yang sangat tidak mungkin. Tidak mungkin juga jika datang dengan tangan kosong. Apalagi ada mertua. Alhasil apa yang ada di otaknya, dia bawakan saja untuk Brilly. Naomi melangkah kecil menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju kamar VIP. Keraguan melanda karena ada mertua tetapi mendengar Brilly begitu sangat menunggu kedatangannya membuat Naomi tidak bisa mengabaikan pria itu begitu saja. Naomi tiba di depan pintu kamar yang dia tuju. Tatapannya mengarah pada nomor kamar tersebut. Kamar ini sama dengan kamar yang Brilly sebutkan tadi. Naomi menarik nafas dalam sebelum masuk. Naomi lebih dulu menenangkan diri. Padahal sudah bertemu setiap hari akan tetapi dengan hubungannya yang sekarang dengan Brilly membuat Naomi seperti kembali ke masa lalu saat dia baru mengenal cinta. "Aku harus bersikap sebagai ipar, adi

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 137. Masing-masing

    Pagi ini, Naomi mengurus Gwen sendiri. Apalagi di rumah tidak ada Mami dan Daddy yang sudah beberapa pekan sangat memperhatikan mereka. Tidak adanya mereka terasa sepi. Kedua mertuanya tidak pulang. Mereka menginap di rumah sakit menunggu Brilly yang mana hanya sendiri karena Gani harus pulang. Sebenarnya Brilly sudah meminta keduanya untuk pulang. Brilly justru kasihan pada Naomi dan Gwen. Namun Mami dan Daddy lebih mengkhawatirkan Brilly yang hanya sendiri. Di rumah ada Maryam yang walaupun musuh Naomi sebelumnya tetapi wanita itu sama sekali tidak berani macam-macam sskarang. Apalagi Daddy sudah sangat wanti-wanti pada Maryam. Sampai berani mengganggu Naomi, nyawa taruhannya. "Kita berangkat berdua, Mi? Om belum pulang?" "Belum bisa pulang, Nak. Oma dan Opa ada di rumah sakit menemani Om Brilly. Doakan Om Brilly lekas sembuh ya." "Iya, Mi. Kasihan Om Brilly, tapi Gwen siapa yang jemput sekolah, Mi?" "Nanti Mami yang antar jemput Gwen, Sayang. Kalau bukan Mami,

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 136. Membutuhkanmu

    "Assalamualaikum... Brilly.... Ya ampun, ini kaki kamu kenapa? Kepala kamu, tangan kamu, begitu kok ya bilang baik-baik saja. Ini buruk, Brilly." Mami sangat terkejut sekali dengan kondisi Brilly saat ini. Beliau berlari mendekati Brilly yang terlihat lemas di ranjang pesakitan. "Hanya terjepit mobil, Mi." "Hanya lagi!" sahut Mami gemas sekali. Apapun yang menjadi alasan dari Brilly membuat Mami amat sangat sewot sekali. Pasalnya memang keadaan Brilly yang sebenarnya itu cukup buruk. "Kamu tuh tebuat dari apa sich? Perasaan Mami melahirkan kamu sama seperti Lian. Kenapa kamu tuh udah babak belur begini, masih bisa bilang nggak apa-apa? Ini tuh sakit semua, Nak." Gani dan Daddy hanya diam saja kalau sudah Ibu Ratu marah-marah. Brilly sendiri hanya meringis mendengar ocehan tersebut. Tidak ada pembelaan yang keluar dari mulut Brilly. Pria itu sangat mengerti dan menghormati Mami. "Lain kali itu hati-hati! Jangan sampai begini! Kamu tuh memangnya punya nyawa berapa? Apa

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 135. Baik-baik, Sayang

    Naomi dan Gwen turun menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mami dan Daddy yang sedang menikmati makanan mereka. Sebenarnya sudah sejak tadi Naomi dan Gwen dipanggil tetapi Naomi baru keluar setelah kondisi hatinya sudah lebih baik. Masih tentang Brilly yang kecelakaan. Mungkin kedua mertuanya mencoba menutup akan itu. Mereka tidak ada yang mengabarinya tetapi Gwen tidak bisa diam. Gwen berlari mendekati Oma dan Opanya dengan langkah kecil yang membuat kedua orang tua tersebut menoleh memerhatikan. "Gwen sudah bangun?" "Iya Oma, Oma, Om di rumah sakit. Kepala Om sakit. Tadi Gwen telepon Om," kata Gwen mengadu pada Omanya. Mami terkejut mendengar celotehan putrinya sedangkan Naomi tidak ikut bicara dan menempatkan diri di samping Mami. Naomi tau, mungkin Mami dan Daddy tidak mau membuatnya panik tapi mereka tidak tau kalau Naomi sudah mendengar semuanya tadi. "Oh ya? Ya ampun, Gwen sudah bicara sama Om Brilly? Terus gimana, Nak? Bagaimana kabar Om Brilly sekarang?

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 134. Otak Kodok

    "Om kenapa itu kepalanya? Kok ada putih-putihnya? Apa Om jatuh? Om dimana sekarang? Apa Om sedang di rumah sakit? Gwen jenguk ya?" Brilly mengulum senyum mendengar itu, mendengar ocehan putrinya yang sangat ingin tau. Brilly menatap penuh kerinduan. Bisa jadi dalam waktu seminggu dia tidak bisa bertemu dengan Gwen. "Iya Om sakit. Doakan Om cepat sembuh ya!" "Gwen mau kesana." "Jangan dulu, Nak! Kasihan Mami baru sembuh. Nanti ya kalau Mami sudah sehat dan kuat lagi. Tunggu saja sampai Om pulang. Mami biar istirahat di rumah." "Tapi Mami sudah sehat, Om. Mami sudah bisa gendong Gwen tadi." Brilly menatap gemas putrinya, tetapi sepertinya bukan hanya pada putrinya saja melainkan pada Naomi yang kini diam memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa. Naomi masih diam, Naomi masih enggan bicara pada Brilly. Naomi hanya menelponkan pria itu untuk putrinya. Namun ada hal yang Naomi ingin tau. Kenapa Brilly bisa sampai kena musibah seperti ini. Ah! Andai dia tidak tau takdir,

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 34. Dewasa

    Naomi tertegun kala Brilly menurunkannya dan dia baru sadar jika hubungan keduanya sangatlah berlebihan. Naomi diam menatap wajah Brilly dengan jarak yang amat dekat. Tatapan mata pria itu sangat teduh sekali, sangat menghangatkan hatinya yang sedang ditikam habis-habisan oleh kelakuan suaminya.

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 33. Baper

    "Maaf Kak, ini pesenannya." Sontak Naomi menoleh ke arah karyawan yang kini memberikan makanan pesanannya. Naomi menganggukkan kepala kemudian beranjak dari sana. "Makasih ya, Mbak." "Sama-sama, Kak." Karyawan tersebut pun segera kembali. Naomi kembali melihat ke arah Lian. Dia tidak me

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 32. Kliennya Perempuan?

    "Duh aku harus telepon Tuan ini! Kok Nyonya sampai marah begitu ya? Nggak biasanya sampai begitu sama aku. Apa benar kata Tuan, kalau Nyonya sudah curiga dengan hubungan kami?" Maryam pun segera berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang di simpan di dalam sana. Wanita itu segera m

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 31. Sofa Bercinta

    "Mi, Om Brilly tidak bisa dihubungi. Sepertinya Om Brilly juga kerja ya, Mi?" "Mungkin iya, Sayang. Ya sudah jalan berdua saja sama Mami memangnya kenapa? Kurang seru? Kita main ke kebun binatang saja gimana? Mumpung masih agak pagi, Sayang. Jarang loh Mami bisa ajak kamu jalan-jalan begini. Yuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status