登入Naomi berdiri di depan jendela kamar seraya menatap langit malam dengan menikmati secangkir coklat yang mampu menghangatkan tubuhnya.
Sakit hatinya terasa sampai ke tulang. Hembusan nafas berat begitu sangat menyiksa. Namun Naomi dipaksa tetap bertahan di tengah pengkhianatan yang terjadi di rumah besar ini. Dia bertahan bukan untuk menikmati kesakitan, tetapi bertahan karena ada yang dia perjuangkan. Naomi merasakan tubuhnya sangat lelah. Kegiatan yang padat, air mata yang terkuras, dan hati yang babak belur membuatnya butuh waktu untuk istirahat panjang. Namun mulai malam ini rasanya tubuh sangat berat untuk kembali menikmati ranjangnya. Itu karena Naomi tak minat satu ranjang dengan Lian, tapi tidak mungkin juga dia berpindah ke tempat lain. Apa alasannya? Tentu saja Lian akan bertanya. Ingatan akan kegilaan yang Lian lakukan bersama dengan Maryam begitu mengganggu pikiran hingga menumpuk rasa benci di hatinya. Sampai akhirnya Naomi memutuskan tetap singgah di peraduan yang tak lagi hangat dan merasakan tangan Lian melingkar di tubuhnya dengan begitu posesif. Sayangnya itu semua hanya perlakuan kecil untuk menutupi pengkhianatan yang Lian lakukan padanya hingga Naomi semakin muak saja. "Aku sangat mencintaimu Mas tapi cinta ini mati setelah aku melihatmu bermain gila dengannya. Sepuas itukah kamu menidurinya? Bahkan beberapa tahun pernikahan kita, aku sudah seperti jalang untukmu agar kamu tetap puas meskipun usia pernikahan kita sudah bertambah tahun, tapi nyatanya? Kamu tetap mencari kehangatan dari wanita lain." Kedua mata Naomi basah menatap wajah Lian tetapi dia tidak membiarkan air matanya kembali jatuh. Naomi bahkan menahan sebuah kedipan hanya untuk menahan air matanya. "Kamu sedang menunjukkan siapa dirimu dengan meniduri seorang pembantu, Mas! Kamu tidak lebih dari keset yang pantas untukku injak!" Naomi tak tahan. Dia semakin muak dan memilih turun dari tempat tidur untuk mencari udara segar. Sesak dadanya saat tubuh Lian bukan lagi miliknya. Naomi mengayunkan kakinya menuju balkon kamar. Dia membuka pintu secara perlahan. Naomi pun nekat membawa sebungkus rokok milik Lian untuk menemani malamnya. Sebenarnya Naomi tidak pernah melakukan ini tapi jika dipikir-pikir, kenapa tidak mencobanya saja. Laki-laki akan seperti itu ketika sedang ada masalah. Mungkin otaknya bisa kembali segar setelah menghisap rokok ini. "Aku hanya meniru imamku," batin Naomi kemudian keluar dan merapatkan pakaian kimononya. Di luar lumayan dingin, tapi tidak mengurungkan keinginan Naomi untuk menepi. Angin menerpa wajahnya, syahdu melambai di pipi. Naomi butuh ketenangan dan kesendiriannya saat ini tidaklah buruk. Dia akan menikmati hidupnya yang pedih ini dan membiarkan masalah itu bergulir sampai dimana bom waktu akan meledak menghancurkan pernikahannya. Naomi duduk di pinggir pagar balkon tanpa kursi kemudian menyalakan rokok yang ia bawa tadi. Tatapannya tertuju pada langit malam yang menenangkan. Satu hisapan nikotin yang terselip di jemarinya sedikit berat saat ia sesap tetapi setelah berulang kali dia mengulanginya. Kedua matanya mulai terpejam seraya mendongak mengepulkan asap "Ternyata jika sudah terbiasa semua akan terasa ringan. Apa aku harus membiasakan melihatmu dengannya demi Gwen, Mas?" "Apa yang kamu lakukan, Naomi?" Deg "Akh!" Naomi terperanjat mendengar suara seseorang yang tiba-tiba ada di sampingnya. Dia yang terduduk di atas pagar hampir saja terjun ke bawah jika tidak ada tangan yang bergerak menarik pinggulnya. Naomi terjerembab di pelukan Brilly dan menatap wajah pria yang mirip dengan Lian begitu sangat dekat hingga wangi maskulin pria itu masuk ke dalam indera penciumannya. "Maaf, Kak." Naomi pun segera melepaskan diri kemudian berdiri memberi jarak. Puntung rokok yang terbuang dalam keadaan masih menyala reflek dia injak hingga kembali terjingkat. "Akh! Panas!" pekik Naomi. Brilly mendesis melihat apa yang Naomi lakukan. "Dasar ceroboh!" kata pria itu dan Naomi meringis merasakan kakinya yang sakit. Namun tanpa diduga, Brilly tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membawanya duduk di balkon kamar sebelah. Pria itu melewati pembatas dengan mudahnya kemudian mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi yang ada di sana. Naomi terdiam memperhatikan gerakan cepat Brilly yang kemudian masuk ke dalam kamar dan kembali dengan membawa sebuah kotak obat. Pria itu begitu sangat cekatan. Namun bukan itu yang membuat Naomi terkesan, tatapan khawatir dari Brilly membuatnya merasa tertampar karena tak lagi dia dapatkan dari Mas Lian. "Lain kali jangan menikmati hal yang bisa merusak tubuhmu. Sakit hati boleh, tapi tidak terus kamu menyakiti fisikmu. Biarkan hati saja yang sakit. Ragamu harus tetap kuat menghadapi kegilaan suamimu." Naomi menelan kasar salivanya. Lagi-lagi yang Brilly katakan itu adalah sebuah kebenaran. Bodoh jika dia merusak raganya yang selama ini selalu dia jaga. Kenapa harus ikut-ikutan hal buruk yang suaminya lakukan? Lantas apa bedanya dia dengan Lian? "Auwh!" Naomi memejamkan kedua mata kala obat mendarat ke telapak kakinya. Naomi meringis merasakan itu kemudian sedikit membuka mata dan menyipit memperhatikan Brilly. Pria itu begitu sangat telaten mengobati dan meniup-niupkan kakinya yang saat ini berada di atas kedua paha pria itu. Naomi pun perlahan menutup bagian roknya yang sedikit menyingkap memamerkan kaki jenjangnya. Hal kecil ini hampir saja ia lupakan karena kalah dengan rasa sakit di kakinya. "Cukup Kak! Aku bisa mengobatinya sendiri. Ini hanya luka kecil saja." "Tapi bisa infeksi jika tidak segera diobati." Brilly menatap wajah Naomi yang mengangguk seraya menarik kakinya. "Terimakasih." "Hhmm..." "Aku masuk dulu!" kata Naomi lirih. Bersama Brilly dengan jarak yang sangat dekat seperti ini membuat Naomi merasa canggung. Mungkin tadi dia lupa karena begitu sangat sakit hati hingga berani membujuk Brilly untuk menjadi selingkuhannya tetapi dalam keadaan normal seperti ini. Naomi sangat menjaga hubungannya dengan ipar. "Jangan lupa kembalikan rokok milik Lian! Dia akan mencarinya besok." Naomi melihat tangan Brilly yang terbuka dan terdapat sebungkus rokok beserta korek gas di sana. Segera Naomi mengambil benda tersebut kemudian beranjak untuk kembali masuk ke dalam kamar. Naomi merapatkan kembali kimono tidurnya dan melangkah dengan sedikit tertatih menuju kamarnya. Namun agak kesulitan saat hendak melewati pagar pembatas, tetapi dia berusaha sendiri tanpa meminta bantuan Brilly. Naomi menoleh ke arah pria itu setelah berhasil melintas. Terlihat Brilly tengah menatap ke lain arah dan Naomi pun bergegas masuk kamar. Paginya, Naomi terjaga setelah merasakan kecupan yang berulang kali di wajahnya. Kedua mata Naomi terbuka dan dia melihat Lian sudah ada di atas tubuhnya dengan tatapan sangat menginginkan. "Aku horny, Sayang. Sudah lama kita tidak bercinta pagi-pagi. Aku sangat menginginkanmu," bisik Lian yang kemudian mendaratkan kecupan di tengkuknya. "Mas!" Naomi pun bergerak gelisah berusaha menolak tetapi tangan Lian berhasil menyibak pakaiannya dan bergerak nakal di sana. "Mas hentikan!" "Sayang please...."Dada Naomi naik turun kala dirinya mendarat di ranjang. Mana kamar utama yang ingin dia lihat? Saat ini, seolah bukan itu yang menjadi hal utama karena Brilly tengah berada di atas tubuhnya, mengkukungnya dengan posesif. Mungkin penampilan Naomi pun sudah tak beraturan lagi sekarang. Namun rupanya Brilly tak memikirkan itu. Tatapan mata penuh cinta dan rasa ingin dapat Naomi lihat dengan jelas dari kedua mata Brilly. "Kak kamu mau apa? Katanya mau mengajakku melihat kamar? Kenapa malah posisinya begini?" tanya Naomi lirih kemudian menggigit bibir bawahnya. Perasaan Naomi tak menentu. Jantung semakin berdebar kencang dan nafas mulai memburu kala kecupan dari Brilly dia rasakan di lehernya. Naomi mendongak mendapati itu. Kedua matanya terpejam dan tubuhnya melengkung menantang. "Aku merindukanmu, Sayang." "Apa itu tidak buru-buru namanya, Kak?" "Tentu saja tidak, kamu sudah menjadi milikku sekarang. Melihat kamar dan room tour bisa nanti tapi yang ini sudah tidak bisa
"Saya terima nikah dan kawinnya Naomi binti......" Kalimat sakral itu menggetarkan hati Naomi dan membuatnya berdebar hingga jantung tak karuan rasa. Naomi sesak nafas mendengar kalimat tersebut. Brilly dengan lancar mengucapkan kalimat itu. Semua terasa begitu cepat dan berpihak padanya. Ya Tuhan.... Ikhlas mana yang Kau kabulkan hingga memberikan pengganti dengan mudahnya? Di masjid besar ini, Naomi terduduk dengan jarak yang cukup jauh dari pria yang kini tengah mengucapkan kalimat sakral untuknya. Air mata kebahagiaan keluar tanpa bisa dia hindarkan. Genggaman tangan Naomi begitu kuat memegang telapak tangan Mami. Dia memejamkan kedua mata dan menunduk. Rasa syukur terucap kala kata sah menggema. "Alhamdulillah...." "Alhamdulillah," ucap Naomi kemudian menganggukkan kepala dan mengambil ujung tisu untuk menahan air matanya. "Selamat ya, Nak. Mami doakan kamu bahagia, Sayang." Naomi menoleh kemudian memeluk Mami. Semua di luar dugaan. Naomi pikir akan ada aca
Apa yang dikatakan oleh Brilly itu benar adanya. Sebuah perkataan Brilly yang akan menikahi Naomi besok. Hal itu sangat membuat Naomi terkejut. Dia tidak pernah berpikir kalau akan menikah diwaktu yang sangat amat cepat . Naomi diberikan waktu menjanda benar-benar hanya dalam waktu hitungan bulan. Hanya untuk menuntaskan masa iddah saja. Memang sejak awal, percintaannya dengan Brilly sangat mendadak. Semua yang berkaitan dengan Brilly selalu mendadak. Mendadak jadi dekat, mendadak dibela, mendadak diperhatikan, mendadak disayang, mendadak ditinggal, sampai mendadak dilamar dan sekarang mendadak pula dinikahinya. Naomi yang merasa baru saja terpejam sudah harus kembali terjaga kala suara ketukan di pintu kamarnya begitu sangat mengusik raga. Naomi yang semula masih bergelut dengan mimpi tiba-tiba harus bangun karena panggilan dari seseorang. "Iya, sebentar!" seru Naomi dengan suara yang terdengar lemas. Naomi beranjak dari tidurnya. Dia masih sangat mengantuk sekali. Langk
"Kamu diajak jalan-jalan? Kenapa nggak ikut?" Deg Naomi terkejut, baru saja keluar dari kamar mandi, sudah diteror pertanyaan dari seseorang yang selama ini mengganggu pikirannya. Naomi mengusap dada kemudian melangkah menuju lemari pakaian. Dia lebih dulu mengambil pakaian ganti seraya memikirkan dari mana Brilly tau tentang pesan itu. "Aku nggak mau buat kamu cemburu. Kenapa sich, Kak? Harusnya kamu lebih tenang. Eh iya, tau dari mana?" tanya Naomi kemudian berbalik menatap Brilly. Kedua alisnya menukik memeluk pakaian ganti. Namun tidak ada jawaban dari Brilly membuat Naomi memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi. "Mau kemana?" "Pakai pakaianku dulu, Kak." "Kenapa jauh-jauh? Di sini saja bisa." Naomi menoleh dan menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang Brilly katakan. Dia menggelengkan kepala dan kembali melangkah masuk kamar mandi. "Nggak mau ah! Kamu lagi mode gragas soalnya." BRAAAKK Naomi menutup pintu kamar mandi dengan rapat
"Naomi..." "Mami..." Naomi memeluk Mami sesampainya dia di rumah. Rumah yang biasa sepi mendadak ramai kembali. Bahagia sekali Naomi melihat keberadaan Mami, Daddy dan tentunya Brilly. Sepertinya bukan hanya dia saja yang bahagia tetapi Gwen pun sama. Gwen terlihat amat sangat bahagia sekali hingga tak ingin lepas dari Daddy. "Maafkan Mami ya, Nak. Mami bukannya nggak mau mengabari kamu tapi katanya Brilly mau ngasih kejutan. Ya sudah Mami nurut aja." "Iya nggak apa-apa, Mi. Kejutannya berhasil kok, Mi. Ngejut banget pokoknya, Mi. Kak Brilly sukses buat aku menangis setiap malam. Nggak nyangka aku juga kalau Kak Brilly sampai begitu." Naomi merenggangkan pelukannya pada Mami dan menoleh ke arah Brilly yang hanya diam memperhatikannya dengan kedua tangan menyilang di dada. "Kalau begitu pantasnya aku ambekin atau gimana, Mi?" tanya Naomi yang kemudian berdecak mendengar itu. "Kalau kaya Mami sich langsung minta lamar aja, Naomi. Pas tiga bulan langsung menikah.
"Hah? Aku nggak nakal. Aku masih ingat kamu. Aku juga nggak terima dia. Kami memang sering bertemu tetapi itu kebutuhan anak-anak. Bukan karena urusan orang tuanya," elak Naomi kemudian melangkah mundur sedikit memberi jarak untuk menjelaskan pada Brilly. "Kakak juga kenapa nggak ngabarin aku? Aku menghubungi Kakak, Mami, Daddy, sampai aku datang ke kantor Kakak untuk mendatangi Gani. Katanya Kakak sakit parah, tapi aku lihat Kakak malah sudah sembuh total. Kakak bisa berjalan. Kakak berdiri gagah. Kakak sengaja membohongi aku?" "Kenapa memangnya? Salah kalau aku ingin memberikan kejutan untukmu dan sengaja mengetes kesetiaanmu, hhm?" "Jadi Kakak nggak percaya sama aku? Kak Brilly nggak percaya kalau aku setia di sini nunggu Kakak? Iya? Kakak pikir aku mudah tergoda dengan laki-laki lain?" cecar Naomi. Mereka baru bertemu tetapi berujung ribut. Betul-betul seperti Tom and Jerry. Jauh dicari setelah dekat malah debat dan semua itu berawal dari rasa cemburu serta adanya oran
Naomi menoleh ke belakang. Terlihat Brilly juga masih diam memperhatikannya. Naomi masih di sana. Belum beranjak sama sekali bahkan belum bergeser memberikan jalan pada wanita yang datang hendak bertemu dengan Brilly. Mana bawaannya banyak lagi. Ini sich niat sekali menjenguk dan mencari perhati
"Ya, tanpa aku harus banyak mengeluarkan tenaga, dia masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Aku tau dia akan mempersulitmu, Sayang. Apalagi setelah tau jika aku menyukaimu dan berniat meneruskan hubungan kekeluargaan kita." "Jadi kecelakaan itu pun Kakak tau?" "Hhmm...." "Kenapa nekat kalau
Naomi mengangguk percaya kemudian membantu posisi Brilly agar lebih mudah dan nyaman saat makan. Naomi pun memastikan Brilly tidak sakit dengan posisi yang sekarang. "Kakinya aman, Kak?" "Aman, Sayang." "Duuuuhhh yang paling tersayang," sindir Gani dan Naomi hanya menggelengkan kepala sedan
Setelah mengantarkan Gwen ke sekolah. Naomi mampir membelikan bubur untuk dia bawa ke rumah sakit. Sebelumnya, Brilly mengatakan ingin makan bubur ayam yang dijual di dekat kantor pria itu. Awalnya tidak mau dibelikan tetapi setelah tau kalau Naomi akan datang menjenguk sebelum berangkat ke klini







