Share

Bab 53. Manja!

Author: weni3
last update publish date: 2026-02-17 05:34:01

Naomi menatap wajah Brilly yang terlihat datar tetapi tatapan mata pria itu terarah fokus padanya. Kedua tangan Brilly masuk ke saku celana menghadap pada Lian yang kemudian berdecak mendengar apa yang Brilly katakan.

"Jangan ikut campur, Kak! Justru Naomi sangat menginginkan aku. Dia rindu sampai tidak bisa membendung, maka dari itu asal tempat saja."

Lian begitu sangat mudahnya mendramatisir keadaan yang mana sebenarnya kerjaan pria itu tetapi malah mengambinghitamkan dirinya. Lian meno
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 118. Perfect

    Naomi terduduk di meja makan melihat bagaimana aktifnya Brilly di dapur. Pria itu bergerak ke sana kemari seperti sudah sangat ahli. Brilly memutuskan ingin masak. Padahal tadi Naomi sudah mengatakan kalau pesan saja tetapi pria itu justru seolah ingin unjuk kebolehan. Usai ciuman panas yang membuat Naomi merasa canggung tetapi sukses menenangkan pikirannya dan sedikit melupakan akan sikap Lian tadi, meskipun jantung berdebar kencang. Kini perutnya pun terasa lapar. Apalagi sejak pagi keduanya belum makan, dengan itu Brilly berinisiatif untuk membuat masakan sendiri. Sesekali Brilly menoleh memperhatikan Naomi yang tengah menyangga dagu seraya memperhatikan pria itu. "Apa Kakak butuh bantuanku?" tanya Naomi sekalian menawarkan diri. "Tidak perlu, Naomi. Kamu duduk saja di sana. Jangan mendekat apalagi membantuku!" tolak Brilly. "Kenapa begitu? Padahal aku bisa mempercepat masakanmu agar segera matang, Kak." "Untuk kali ini duduklah yang manis dan tunggu sampai masa

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 117. Ciuman Panas

    Tubuh Naomi membeku hingga tak bisa banyak pergerakak. Untuk kesekian kalinya bibir pria itu kembali singgah di bibirnya. Naomi sempat ingin melepaskan tetapi Brilly menekannya dan tangan pria itu mulai meraih wajahnya untuk masuk menyentuh tengkuknya. Naomi sedikit mendongak kala Brilly mulai memainkan bibirnya. Tangan pria itu pun menarik tengkuknya hingga ciuman mereka semakin dalam. Mulut Naomi terbuka kala lidah Brilly mendesak ingin masuk ke dalam dan menyapu semua ruang hingga membelit lidahnya. Sesapan dan gerakan lidah keduanya bergantian bergerak menimbulkan suara decapan yang mulai mengisi ruangan sepi ini. Naomi terpancing dan membalas dengan gerakan yang kalah agresif. Ibu anak satu ini mulai kehilau akal. Kedua tangannya bergerak meraih lengan Brilly dan mencengkramnya. Mereka bergerak begitu sangat menikmati hingga suara decapan semakin menjadi. "Tenangkan dirimu di sini!" bisik Brilly di sela ciuman panas keduanya. Nafas mereka saling memburu dan hi

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 116. Wangi

    Naomi menghela nafas lega setelah masuk ke dalam mobil Brilly. Sidang pertama sudah selesai, masih ada sidang kedua dan ketiga yang harus dia lalui tetapi untuk saat ini, Naomi sudah cukup merasa aman. "Bagaimana? Apa tetap akan berpisah?" "Bagaimana bisa Kakak bertanya seperti itu padaku, Kak? Aku stres bersamanya. Aku nggak mau kalau sampai dia yang menang. Aku ingin tetap berpisah." "Hhmm..." Brilly segera mengemudikan mobilnya dan Naomi memasang sabuk pengaman seraya menyandarkan tubuhnya. Kedua mata Naomi terpejam kala tangan Brilly menyentuh matanya yang tadi masih terbuka. "Tidurlah! Tenangkan dirimu dulu," kata Brilly dan Naomi kembali membuka matanya kemudian melirik ke arah pria itu. "Bagaimana bisa? Kak aku mau ke klinik ya. Aku mau istirahat di sana dulu. Bisa antarkan aku ke sana saja? pinta Naomi. "Setelah itu, kalau kamu mau ke kantor silahkan! Nanti aku pulang sendiri saja tidak masalah. Aku akan pesan taksi online." "Istirahat di apartemenku saja!

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 115. Tuduhan

    Naomi duduk dengan kedua mata yang terlihat tak lagi tenang. Di belakangnya ada Brilly yang sama sekali tidak mau meninggalkannya sendiri meskipun tadi Lian jelas-jelas sudah mengusir pria itu. Naomi pun tidak membiarkan Brilly pergi setelah melihat sikap Lian yang sempat kasar padanya. Naomi tadi sempat hampir terjatuh kala pria itu tidak terima jika dia berdekatan dengan Brilly. Lian menarik tubuhnya hingga Naomi hampir saya terjungkal. Beruntung Brilly ada di sana. Pria itu langsung menahannya hingga dia masuk ke dalam pelukan Brilly. "Kak hampir saja aku jatuh." "Tidak akan, Naomi." Naomi pun datang tanpa pengacara yang sudah dipersiapkan oleh Daddy Brian. Setelah tau Lian datang sendiri. Naomi menghentikan kerja pengacara. Setidaknya dengan begini imbang. Bukan Naomi menolak karena merasa mampu tapi tidak mau Lian semakin mengeluarkan omongan yang membuat sakit telinga. Sekarang, di depan sana sudah ada hakim dan juga anggota lainnya. Naomi sesekali memejamkan kedu

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 114. Sidang

    Naomi kembali berdiri setelah sempat menyurut air matanya. Dia tidak sanggup mengatakan apa-apa padanya Gwen hingga putrinya diambil alih oleh Brilly. "Kalau Mami sehat, Gwen juga senang. Sekarang Gwen ikut Oma dan Opa ya. Kalau butuh sesuatu, Gwen bilang sama Oma dan Opa!" "Iya Om." Naomi memperhatikan putrinya setelah sempat menyurut air matanya. Naomi berusaha untuk tetap tersenyum kemudian mengecup pipi Gwen. "Mami berangkat dulu ya. Gwen nggak boleh nakal! Harus nurut sama Oma dan Opa!" pesan Naomi pada Gwen yang kemudian menganggukkan kepala dan memberikan ibu jari padanya. "Iya Mami, tapi Mami pulang 'kan?" "Mami pulang, Sayang. Setelah pekerjaannya selesai, Mami langsung pulang. Salim dulu, Nak!" kata Naomi kemudian ada Gwen yang kemudian mencium tangannya. Gwen terlihat sangat patuh sekali kemudian terkekeh kala pipi gadis kecil itu dihujani kecupan oleh Brilly. "Om pergi dulu. Kamu sarapan ya sama Oma dan Opa. Om langsung berangkat sama Mamimu," kata Bril

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 113. Cincin

    "Aku tidak ingin sampai terjadi sesuatu dengan ibu dari anakku." Naomi tertegun mendengar apa yang Brilly katakan. Dia kembali sesak nafas. Bukan karena sakit tetapi karena Naomi merasakan begitu sangat dispesialkan oleh iparnya. "Tapi aku takut kalau sampai Lian..." "Tidak akan terjadi apa-apa denganmu selagi ada aku." Naomi merapatkan bibirnya dan tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia memilih diam dan kembali menatap ke langit. Naomi bingung bagaimana cara menanggapi Brilly. Jantungnya malah berdebar kencang merasakan tangannya yang digenggam oleh Brilly dengan usapan lembut di punggung tangan oleh ibu jari yang menyentuh pori-pori. Naomi menarik nafas dalam mencoba menenangkan diri dan kembali menoleh pada Brilly yang ternyata sejak tadi memperhatikannya. Naomi menatap penuh tanda tanya sampai dia tidak bisa jika hanya diam. "Kenapa?" tanya Naomi dengan suara yang lirih. "Senyum, Naomi! Sinarmu jangan sampai kalah dengan bintang di langit!" BLUSH "Mana ada be

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 82. Apartemen Monic

    Brilly berdecak kasal seraya melirik kepergian asistennya yang kini sudah berlari keluar dari ruangannya. Dia berdecak kemudian mencoba menghubungi Naomi tetapi tidak diterima oleh ibu dari Gwen. "Kemana dia? Harusnya sudah selesai. Apa sedang dalam perjalanan?" gumam Brilly kemudian meletakkan p

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 76. Kekasihku

    Naomi dan Brilly saling memandang satu sama lain. Tatapan mata yang tak biasa. Mata keduanya yang saling menyimpan kekecewaan, kesakitan, dan juga kebencian pada orang yang sama. Mereka diam dengan jarak yang tak berarti. Naomi yang kini berada di atas pangkuan Brilly melirik pinggulnya kala tan

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 74. Kecentilan

    "Aku tidak memaksa kamu harus mempercayai aku atau tidak tapi aku akan mengusahakan kamu tetap mendapatkan hakmu. Sakit boleh, tapi jangan terlalu hanyut di dalam ombak yang menyakiti kamu, Naomi." Kalau besok mau kembali kerja, silahkan! Gwen bisa ikut denganku jika memang kamu sibuk." "Kak aku

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 72. Pulih Dan Kembali

    "Mi...." Naomi memeluk ibu mertuanya dengan erat. Air mata pun tak bisa dihindarkan bahkan isakan itu terdengar sangat menyayat hati. Kedua mata Naomi pun memejam kuat kala usapan tangan Ibu mertua menyentuh relung hati. "Sabar, Nak! Maafkan anak Mami." "Mi, sakit sekali. Mas Lian sudah men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status