登入Keheningan di dapur itu terasa lebih tajam daripada denting botol sirup yang bersentuhan di dalam kulkas. Ruby masih membelakangi Reza, membiarkan uap dingin dari lemari es menyapu wajahnya yang terasa panas—bukan karena demam, tapi karena sisa amarah dan rasa mual yang beradu.Reza berdiri mematung di ambang pintu dapur. Ia mengusap tengkuknya, merasa kikuk. Kebohongannya di teras tadi—bahwa Ruby sudah memasak—kini menjadi bumerang. Ia tahu betul istrinya baru saja pulang kerja dengan raut wajah selelah itu, mana mungkin ada makanan di atas meja."By..." suara Reza rendah, mencoba mencairkan suasana. "Tadi itu... gue terpaksa bilang gitu biar dia cepet balik. Gue nggak mau dia lama-lama di sini, apalagi pas lo baru pulang."Ruby menutup pintu kulkas dengan dentuman pelan. Ia berbalik, bersandar pada pintu lemari es itu sambil menyilangkan tangan di dada. Matanya yang biasanya berbinar saat membahas plot novel, kini meredup, hanya menyisakan kelelahan yang dalam."Jadi kamu bohong dem
Pukul empat sore tepat, bel kepulangan berbunyi di lantai paling atas gedung Genta Pustaka. Bagi karyawan lain, itu adalah tanda kebebasan, namun bagi Ruby, itu adalah awal dari babak baru penjaranya."Aku sudah bilang, aku bisa naik taksi online, Dimas," ucap Ruby sambil merapikan tasnya dengan gerakan terburu-buru. Ia tidak ingin menghabiskan satu detik pun lebih lama di ruangan yang aromanya dipenuhi dominasi Dimas.Dimas bangkit dari kursi kebesarannya, menyambar kunci mobil BMW hitamnya. "Jakarta sedang hujan, Ruby. Mencari taksi di jam pulang kerja seperti ini sama saja dengan menyiksa bayi di rahimmu. Aku tidak akan membiarkan 'aset' berhargaku kehujanan.""Aku bukan aset kamu!""Secara hukum, kamu iya," jawab Dimas tenang, memberikan isyarat agar Ruby berjalan di depannya. "Ayo, jangan buat suamimu menunggu. Atau mungkin dia sebenarnya sedang tidak menunggu?"Sindirian itu membuat hati Ruby mencelos. Sepanjang perjalanan di dalam mobil Dimas yang kedap suara, suasana terasa sa
Di sebuah kafe kecil yang letaknya hanya terpaut dua ruko dari bengkel "Reza Jaya Motor", Dina duduk dengan anggun. Jilbabnya yang berwarna pastel tersampir rapi, kontras dengan noda hitam tipis yang sengaja ia biarkan ada di ujung jarinya—sisa dari drama mesin mogok yang ia mainkan tadi siang.Dina menatap layar ponselnya, membaca kembali pesan singkat dari Reza: "Udah beres, Din. Koilnya cuma kotor. Lain kali kalau ada apa-apa langsung telpon aja, jangan dipaksa jalan."Dina tersenyum kecil. Baginya, kecepatan Reza merespons panggilannya adalah bukti bahwa pria itu masih menyimpannya di satu sudut hati yang istimewa. Ia merasa menang. Padahal, di dunia nyata, Reza memang dikenal sebagai mekanik paling gesit se-Jakarta Selatan.Bagi Reza, pelanggan yang kesulitan adalah prioritas, apalagi pelanggan lama yang menurutnya sedang tertimpa musibah perceraian. Reza hanya merasa kasihan, namun di mata Dina, itu adalah sinyal cinta yang menyala kembali."Kamu masih sama seperti dulu, Za. Sel
Satu jam setelah Reza berangkat ke bengkel dengan perasaan jumawa merasa masalah rumah tangganya sudah tuntas lewat urusan ranjang, Ruby justru terduduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Ia mengusap bibirnya yang masih terasa panas, lalu beralih menyentuh perutnya."Maafin Mama, Nak. Mama benar-benar nggak punya harga diri di depan Papa kamu," bisiknya perih.Ruby merasa keberadaannya tidak lebih dari sebuah inkubator bernyawa. Kepedulian Reza terasa mekanis, seolah ia hanya sedang merawat mesin mobil langka yang sedang mengangkut onderdil berharga, bukan mencintai wanitanya.Ruby bangkit, mengabaikan rasa pegal di pinggangnya. Ia berdandan lebih tebal dari biasanya untuk menutupi wajah pucatnya. Ia mengenakan blazer hitam yang memberikan kesan tegas dan profesional. Hari ini, ia harus menghadapi monster lain yang jauh lebih berbahaya daripada ketidakpekaan Reza: Dimas Adiwijaya.***Begitu taksi yang ditumpanginya berhenti di depan lobi gedung, Ruby menarik napas panjang. Atmosf
Gelap yang sempat menyelimuti pandangan Ruby mendadak buyar saat ia merasakan hembusan napas hangat di ceruk lehernya, diikuti tawa rendah yang sangat ia kenali. Bekapan itu mengendur, berganti dengan pelukan posesif yang mengunci tubuhnya."Dapet!" bisik suara serak itu.Ruby tersentak, jantungnya hampir melompat keluar dari rongga dada. Ia berbalik dengan sisa tenaga yang ada dan mendapati wajah Reza yang sedang menyeringai jahil."Reza! Kamu gila ya?!" teriak Ruby, napasnya tersengal-sengal. "Aku hampir mati ketakutan! Aku kira... aku kira orang jahat!"Reza tertawa lepas, matanya menyipit jenaka. "Lagian lo pagi-pagi udah ngilang. Gue bangun, bini gue nggak ada. Gue cariin ke dapur juga gak ada. Pas gue liat ke jendela, eh ada orang lagi asyik nyapu di rumah sebelah. Ya udah, gue kasih kejutan.""Kejutan mata lo peyang! Ini namanya penganiayaan!" Ruby memukul dada bidang Reza dengan kepalan tangannya. Ia benar-benar kesal, campuran antara lega karena itu bukan Dimas atau orang asi
Keheningan dini hari di dalam kamar itu pecah oleh getaran konsisten dari atas nakas. Lampu layar ponsel Reza menyala, membiaskan cahaya biru yang menyakitkan mata di tengah kegelapan. Ruby, yang memang tidak pernah benar-benar terlelap sejak permainan semalam, hanya menatap benda itu dengan tatapan kosong.Nama itu muncul lagi. Dina.Ruby tidak bergerak. Ia membiarkan bunyi notifikasi dan dering telepon itu memenuhi ruangan, berharap suaranya cukup berisik untuk menarik Reza dari alam mimpinya. Ia ingin melihat reaksi suaminya. Apakah Reza akan langsung gelagapan? Apakah dia akan sengaja menjauh untuk mengangkatnya? Atau dia akan menolak panggilan itu di depan mata Ruby?Namun, Reza tetap bergeming. Pria itu tampak sangat lelah, napasnya teratur dan dalam, seolah-olah guncangan emosional yang dirasakan Ruby tidak sedikit pun menyentuh dunianya.Deringan kedua masuk. Lalu ketiga. Ruby merasa telinganya mulai panas. Hormon kehamilan dan rasa cemburu adalah kombinasi yang berbahaya. Den







