"Kurang dapet, By. Masih hambar."Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas."Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.Mbak Tari menghela napas, kacamatanya melorot ke ujung hidung. "Angka memang tinggi karena orang penasaran, tapi eksekusinya nggak sebanding sama tensi yang lo bangun dari awal. Di bab delapan belas ini, lo nulis adegan di meja kerja, kan?"Ruby menelan ludah. "Iya, Mbak.""Deskripsinya kayak robot, Ruby. Terlalu teknis," Mbak Tari mengetuk-ngetuk layar. "Gue butuh emosi. Gue butuh pembaca ngerasa kalau mereka itu si kepanasan.""Mungkin... seleranya emang yang pelan-pelan gitu, Mbak?" gumam Ruby asal."Gabisa. Cowok di naskah lo ini tipenya dominan, kan? Dia nggak akan nanya 'boleh nggak aku cium kamu?'. Dia harus langsung hajar," Mbak Tari menatap Ruby tajam. "Lo punya masalah sama riset,
Last Updated : 2026-02-27 Read more