LOGINRuby, penulis novel adult romance yang terjebak dalam naskah buntu. Sampai suatu hari, ponselnya tertukar dengan milik Reza, tetangga usil yang kini memegang kendali atas seluruh fantasi liar di aplikasi catatannya. "Bagian ini... mau ditunjukkin gak caranya, By?"
View More"Nyari ini, By?"
Bulu kuduk Ruby serentak berdiri mendengar suara berat dan serak itu. Dia berputar cepat, nyaris terpeleset lantai kamar mandi yang masih basah.
Di sana, Reza bersandar dengan santai di kusen pintu kamarnya seolah itu markas pribadinya.
Tetangga sebelah rumah yang selama ini cuma Ruby anggap sebagai nyamuk pengganggu nomor satu.
Laki-laki itu mengenakan kaus oblong putih yang pas di badan, membungkus otot lengannya yang tercetak jelas.
Rambutnya sedikit berantakan, membingkai wajah tampannya yang selalu menyebalkan dengan senyum miring. Di tangan kanannya, Reza memutar-mutar ponsel dengan case rose gold. Ponsel milik Ruby.
Wajah Ruby memerah padam, perpaduan antara kaget dan malu yang meledak jadi kemarahan. "Reza! Ngapain lo di sini?! Keluar nggak!" usirnya galak sembari menunjuk pintu.
Sebelah tangannya mencengkeram erat ujung handuk putih di dadanya agar tidak melorot.
"Pintu samping lo nggak dikunci, Bi. Biasa, gue mau numpang ambil es batu karena kulkas gue mati," jawab Reza enteng.
Dia tidak bergerak mundur, justru bahunya bergedik pelan dengan ekspresi tanpa dosa.
Uap air panas sisa mandi Ruby masih mengepul tebal, berdesakan keluar menyapa udara kamar ber-AC. Aroma sabun stroberi yang manis kini bercampur dengan hawa maskulin yang dibawa Reza masuk ke ruangan itu. Ruby merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis.
"Lo bisa panggil dari luar, kan?! Nggak usah main nyelonong masuk ke kamar orang! Keluar!"
Alih-alih takut, senyum di bibir Reza justru makin lebar. Dia mengangkat ponsel itu sebatas dada. Layarnya masih menyala terang, menampilkan latar belakang putih khas aplikasi catatan rahasia milik Ruby.
Mata Ruby membulat sempurna. Rasa dingin seketika menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun, mengusir tuntas hawa panas sisa mandinya. "Itu... lo buka apa?" tanya Ruby dengan suara yang tiba-tiba kehilangan volume.
Reza menunduk, menatap layar ponsel itu dengan ekspresi serius seolah sedang membaca jurnal ilmiah.
"'Dia menyudutkanku di dinding, napasnya terasa hangat di perpotongan leherku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu saat jemarinya perlahan menyusuri punggungku, mencari ritsleting gaunku...'"
Laki-laki itu bersiul pelan, menatap Ruby dengan tatapan jahil yang luar biasa provokatif. "Wah, Bi. Not bad. Gue nggak nyangka selera lo lumayan liar juga ya?"
"Reza, sini gak! Balikin hape gue!" jerit Ruby, kepanikannya kini meledak menjadi kemarahan brutal.
Ruby melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dengan niat membunuh yang nyata. Dia mengulurkan tangan, berniat merampas ponsel itu secara paksa. "Siniin hape gue! Lo nggak punya hak baca privasi orang!"
Namun, Reza jauh lebih cepat. Dengan refleks atletisnya, dia menarik tangannya ke atas hingga Ruby yang bertubuh mungil hanya bisa menggapai udara. Senyum miringnya tidak luntur sedikit pun melihat Ruby yang kini mendidih.
"Santai, sih." goda Reza lagi. Matanya memindai Ruby dari atas ke bawah, dari bahu mulusnya yang masih basah hingga lilitan handuk yang tampak goyah.
"Gue nggak nyangka, di balik muka lo yang selalu jutek, isi kepala lo ternyata full nakal?" Reza sengaja menjeda kalimatnya, menikmati rona merah yang kini merambat sampai ke telinga Ruby.
"Gue bilang balikin!" Ruby melompat konyol, mencoba meraih ponsel yang diangkat tinggi-tinggi oleh tetangganya itu.
"Ambil sendiri kalau bisa, By," tantang Reza sambil memindahkan ponsel itu ke tangan kirinya saat Ruby hampir berhasil menyentuhnya.
Laki-laki itu justru maju satu tindak, memaksa Ruby mundur hingga punggungnya membentur meja rias. Reza condongkan badan, menipiskan jarak sampai hidung mereka nyaris bersentuhan. Suara beratnya kini terdengar jauh lebih intim di telinga Ruby.
"Gue nggak nyangka isi kepala lo seliar ini. Eh, bentar. Ini kenapa banyak bagian yang dicoret-coret begini? Dia mulai membuka... terus bawahnya di-X-X-X semua?"
Tawa kecil Reza meledak, terdengar sangat menyebalkan di tengah keheningan kamar. "Lo buntu di bagian ini?”
Laki-laki itu kembali menatap Ruby, kali ini dengan sorot mata yang lebih gelap dan intens. Dia sengaja mengembuskan napas hangatnya tepat di depan bibir Ruby yang gemetar. "Isi kepala lo seliar ini, tapi nulisnya masih macet?"
"Lo nggak tahu gimana kelanjutannya, kan? Apa sih? Bagaimana bentukannya? Seberapa... besar?"
Wajah Ruby memanas, seolah uap panas dari kamar mandi tadi berpindah ke pipinya. "Reza, stop..."
“Apanya yang besar?”
********
Setiap kali kaki Ruby ragu untuk memijak anak tangga, Reza akan menahannya dengan sabar, memberikan kode berupa remasan lembut di telapak tangannya agar istrinya itu tetap tenang. Pria itu bergerak menuruni tangga dengan kelincahan dan kesunyian yang tidak wajar untuk ukuran seorang mekanik bengkel biasa. Langkah kakinya seringan kucing, napasnya teratur tanpa suara, seolah kegelapan adalah teman lama yang sangat ia kenal.Ruby terus mengikuti langkah suaminya dalam diam. Adrenalin yang sejak tadi membakar urat nadinya kini mulai bercampur dengan rasa lelah yang luar biasa. Namun, genggaman tangan Reza yang hangat dan kokoh menjadi satu-satunya jangkar kewarasannya saat ini. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepala Ruby.Bagaimana Reza bisa mendapatkan kemampuan bergerak layaknya seorang agen operasi khusus? Namun, Ruby menelan semua pertanyaan itu. Ia tahu ini bukan saatnya menuntut penjelasan.Setelah menuruni entah berapa puluh anak tangga dalam keheningan yang menegangkan, la
"Reza?" panggil Ruby dengan suara bergetar, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Sebuah helaan napas lega terdengar dari sosok di depannya. Kedua lengan kokoh itu kemudian merengkuh tubuh mungil Ruby, menariknya ke dalam pelukan yang luar biasa hangat dan protektif. Wajah pria itu tenggelam di ceruk leher Ruby, mengecupnya berkali-kali dengan penuh kerinduan dan rasa syukur."Iya, ini aku, By. Maaf aku bikin kamu ketakutan setengah mati. Aku harus bergerak cepat dan tanpa suara supaya keparat di atas sana tidak menyadari keberadaanku," ucap Reza, suaranya terdengar sedikit serak menahan emosi.Tangis Ruby akhirnya pecah. Ia membalas pelukan suaminya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reza. Tangannya meremas kemeja flanel yang dikenakan pria itu seolah takut Reza akan menghilang jika ia melepaskannya. Seluruh rasa takut, teror, dan keputusasaan yang menyiksanya sejak sore tadi menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Su
Kembali ke ruang tangga yang gelap gulita. Ketegangan antara dua saudara beda ibu yang saling membenci itu terasa sangat mematikan. Umpatan anak haram dari mulut Vico tidak membuat genggaman Dimas mengendur, justru sebaliknya. Cengkeraman tangan Dimas di pergelangan Vico semakin menguat hingga terdengar bunyi retakan kecil dari tulang sendi pria itu.Vico meringis kesakitan, namun tawanya masih belum berhenti."Kau mencuri ayahku. Kau mencuri posisiku di perusahaan ini. Dan sekarang, kau pikir kau bisa memiliki wanita itu sendirian?" ejek Vico dengan mata yang menyala-nyala di tengah kegelapan, menantang maut yang berada tepat di depan wajahnya. "Aku sudah menyelidikinya, Dimas. Aku tahu Ruby bukan siapa-siapamu. Dia sudah bersuami. Tapi kau sangat terobsesi padanya, bukan? Kau menginginkan wanita itu lebih dari apa pun. Sama seperti ayahmu yang terobsesi pada ibumu."Dimas semakin menekan lengan Vico ke dinding beton. Otot-otot di rahangnya menonjol keras. Ia tidak terpancing untuk m
"Dengar baik-baik, Vico," desis Dimas dengan suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar karena menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Jika kau berani menyentuh Ruby walau hanya seujung rambutnya saja, jika kau sampai membuat satu lecet pun di kulitnya... aku bersumpah atas segala iblis di neraka, aku tidak akan segan-segan untuk membongkar isi perutmu dan menjadikan ususmu sebagai pajangan di lobi gedung ini. Di mana kau menyembunyikan wanitaku?"Mendengar ancaman kejam tersebut, Vico yang sedang terpojok dan kesakitan justru tidak menunjukkan rasa gentar. Alih-alih memohon ampun, bahu Vico perlahan bergetar. Sebuah tawa yang sangat sumbang, parau, dan berlumuran darah keluar dari celah bibirnya yang hancur. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema mengerikan di dalam rongga tangga, seolah mengejek seluruh kekuasaan dan ancaman yang baru saja diucapkan oleh sang CEO.Vico menatap Dimas dengan senyum sinis yang penuh dengan kebencian dan dendam kesumat yang sudah mengak
Ruby berdiri mematung di dekat meja rias, masih mengenakan jaket tebalnya. Ia melihat Reza yang dengan santai melepas jaket bomber-nya, memperlihatkan kemeja hitam yang pas di tubuh atletisnya. Reza melempar jaketnya ke kursi, lalu mulai melepas jam tangannya."Za... gue mau mandi duluan ya," ucap
Reza masih mematung di balkon, jari-jarinya meremas teropong mainan itu hingga plastiknya berderit. Matanya yang tajam tidak lepas dari sosok Dimas yang baru saja masuk ke dalam mobil. "Ganteng sih, tapi gaya lo terlalu kaku buat Ruby, Mas Bro. Liat aja kalau lo sampe berani nyentuh Ruby gue," guma
Suara langkah kaki Dimas perlahan menjauh dari pintu depan, berganti dengan bunyi langkah yang menuruni anak tangga teras. Tak lama kemudian, ponsel Ruby yang tergeletak di atas meja makan bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar yang menyala.Ruby melirik cepat, dan jantungny
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden terasa seperti ejekan bagi Ruby. Matanya sembab, kepalanya berdenyut nyeri setelah menghabiskan sisa malam dengan menangis hingga tertidur di balik pintu.Ruby memaksakan diri bangun. Hari ini ia ada janji penting dengan editornya d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews