Share

BAB 14

Penulis: RAJJA-M
last update Tanggal publikasi: 2026-06-18 12:14:46

Teriakan Lucas tertahan oleh telapak tangan yang membungkam mulutnya. Darah menetes ke lantai beton. Napasnya tersengal-sengal melalui hidung, matanya penuh air yang tidak sempat ia tahan.

Dante hanya berdiri di belakang mereka. Mengawasi. Tangannya tetap di belakang punggung — seperti mandor yang mengawasi pekerjaannya berjalan sesuai standar.

Cane menonton semua itu dari kursinya. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Ekspresinya sama persis seperti ketika ia membaca laporan keuangan yang membosank
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 44

    Ruangan itu tidak punya nama resmi di dalam sistem manapun.Tidak ada di denah gedung, tidak ada di dokumen perizinan, tidak ada di catatan apapun yang bisa ditemukan oleh orang yang tidak seharusnya menemukannya. Dindingnya beton bertulang, langit-langitnya rendah, dan satu-satunya ventilasi adalah sistem sirkulasi udara yang mendengung pelan di balik panel baja di dinding belakang. Meja di tengahnya panjang dan berat — kayu gelap tanpa ornamen, tanpa keanggunan yang tidak perlu. Kursi-kursi di sekelilingnya terisi.Delapan orang.Delapan kepala divisi yang masing-masing mengendalikan satu urat nadi dari tubuh organisasi ini — jalur laut, distribusi darat, keuangan, pengamanan, intelijen, operasi lapangan, kontrak sipil, dan satu kursi di ujung kiri yang ditempati oleh pria dengan rambut mulai memutih di pelipisnya yang tidak pernah menatap langsung ke ujung meja berlawanan.Karena di ujung meja berlawanan, Cane duduk.Satu tangan di atas meja, jarinya tidak bergerak. Tangan lainnya

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 43

    Isabela membuka matanya pelan.Langit-langit putih. Tirai yang masih tertutup rapat dengan sedikit cahaya memaksa masuk dari celah tipis di tengahnya.Ia meraih ponselnya dari meja samping — refleks, bahkan sebelum benar-benar sadar sepenuhnya.Layar menyala.Tidak ada notifikasi.Ia mengerutkan dahi. Jempolnya bergerak — membuka pesan, menggulir ke atas, memastikan tidak ada yang terlewat. Tidak ada. Nama yang ia cari tidak ada di sana. Tidak ada pesan masuk, tidak ada tanda baca kecil yang menunjukkan seseorang sedang mengetik.Theo.Isabela meletakkan ponselnya kembali ke meja.Pelan — terlalu pelan untuk sekadar malas."Ck."Satu suara kecil untuk dirinya sendiri. Ia menatap langit-langit sebentar — lalu memutuskan tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang, dan bangkit.— ✵ —Kamar mandi itu bersih dan dingin dengan cara yang menyenangkan.Ia berdiri di bawah air hangat lebih lama dari yang diperlukan — bukan karena ada yang perlu dipikirkan, tapi kadang hangat itu sendiri sudah c

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 42

    Lift itu berhenti di lantai yang benar.Cane melangkah keluar lebih dulu — Dante dua langkah di belakangnya, seperti biasa, seperti selalu. Koridor hotel itu sepi di jam seperti ini, lampu-lampu dinding menyala redup, karpet tebal yang meredam suara langkah sampai tidak ada.Di depan pintu suite, dua orang berdiri di posisi mereka — tegak, tidak bergerak, mata lurus ke depan. Mereka mengangguk saat Cane mendekat.Cane berhenti."Di mana dia?""Di dalam, Tuan.""Sudah makan malam?""Sudah dari tadi, Tuan."Cane tidak menjawab lagi. Mengambil kartu kunci dari saku dalamnya, membuka pintu, masuk.— ✵ —Suite itu tenang.Lampu ruang tengah masih menyala — redup, bukan terang penuh, seperti seseorang menyalakannya untuk berjaga-jaga lalu lupa mematikannya sebelum tidur. Di meja kecil dekat sofa ada gelas kosong dan bungkus sesuatu yang sudah dilipat rapi ke tepinya.Tidak ada suara dari mana pun.Cane melepas jasnya. Meletakkannya di sandaran kursi. Matanya bergerak ke arah pintu kamar Isa

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 41

    "Tujuh puluh."Marco tertawa — pendek, genuine, seperti orang yang mendengar sesuatu yang menggelikan. "Cane. Kita bicara empat blok lepas pantai. Aku yang urus semuanya dari awal — perizinan, orang-orangnya, pemilik lamanya." Ia berhenti sebentar, memilih kata dengan hati-hati. "Semua proses itu ada harganya. Kau paham itu.""Aku paham." Cane mengangguk pelan. "Dan jaringan distribusinya milikku. Tanker-tankernya milikku. Dermaga transit-nya milikku." Ia memiringkan kepala sedikit. "Kau bisa jual minyak itu ke siapa tanpa semua itu, Marco?"Senyum Marco tidak hilang — tapi berubah. Sedikit. Seperti sesuatu di baliknya sedang menyesuaikan diri."Baiklah. Enam puluh empat puluh." Ia mencoba lagi. "Itu batas yang masuk akal.""Tujuh puluh.""Cane—""Tujuh puluh."Hening.Marco menatapnya — lama, dengan cara orang yang sedang menimbang. Dua pria di sampingnya tidak bergerak, tidak bersuara, tidak memberikan apapun untuk dibaca.Lalu Marco tersenyum lagi — kali ini berbeda. Lebih tipis. L

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 40

    Pesan itu masuk diam-diam di antara percakapan yang sedang berlangsung.Cane membacanya sekali.Tidak dua kali.Ponsel itu ia letakkan kembali di atas lutut dengan gerakan yang terlalu tenang — tangan kanan rileks, jari-jari tidak menekan apa-apa, seperti pesan itu tidak lebih penting dari laporan cuaca.Di luar jendela, Madrid bergerak seperti kota yang tidak tahu ia sedang dilewati."Dante.""Ya, Tuan.""Apa yang dilakukan Bianca?""Hanya mengajak makan, Tuan." Dante menjawab dari kursi depan — nada datar, nada seseorang yang sudah lama belajar bahwa tugasnya adalah melaporkan, bukan mengomentari. "Mereka mengobrol sebentar. Nona Bianca pergi lebih dulu."Hening.Cane tidak menjawab langsung. Matanya masih di luar — menyapu gedung-gedung yang berganti, lampu-lampu yang mulai menyala di beberapa sudut kota seiring sore yang perlahan turun.Lalu ia mengambil ponselnya.Mengetik satu baris.Mengirim.Menyimpannya lagi.Mobil bergerak.— ✵ —Perjalanan memakan waktu tiga jam lebih.Kelu

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 39

    Toko itu ramai dengan cara yang menyenangkan.Isabela berjalan di antara rak-rak dengan langkah yang tidak terburu-buru, satu tangan menenteng kantong belanjaan, satu tangan memegang ponsel di telinga."Elena, kau tidak akan percaya.""Apa? Cepat bilang.""Kau tahu, dia sepertinya sedang kerasukan." Isabela berhenti di depan etalase, menatap sesuatu sebentar sebelum melanjutkan. "Dia memberiku kartu hitam. Bilangnya hitung saja sebagai uang saku."Hening dua detik."Isabela.""Apa.""Kau di Madrid sekarang. Dengan kartu hitam. Dan kau meneleponku sambil jalan-jalan santai seperti ini?""Iya, memangnya kenapa?" Isabela mengangkat satu blus, memandangnya sebentar, lalu mengembalikannya. "Oh iya, aku sudah belikan oleh-oleh untukmu. Tadi aku lihat tas yang sangat cantik — tapi aku tidak jadi beli karena aku tidak tahu seleramu.""Bela! Beli saja apapun yang kau suka — seleramu dan seleraku sama, kau sudah kenal aku berapa tahun?""Benar juga." Isabela tertawa kecil. "Nanti aku lihat lagi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status