Share

BAB 7

Penulis: RAJJA-M
last update Tanggal publikasi: 2026-06-18 12:14:03

Hari Pertama

Alarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun, tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sama. Alarm ketiga pukul 06.00 juga tidak selamat. Dan alarm keempat, tidak pernah ada, karena ia lupa menyetelnya.

Yang menarik dari tubuh manusia adalah ia memiliki semacam sensor bencana internal, sesuatu yang bekerja jauh di bawah lapisan kesadaran dan mengaktifkan dirinya sendiri pada momen yang paling krusial. Pagi itu, sensor itu akhirnya berbunyi.

Mata Isabela membuka. Langit-langit kamar. Cahaya matahari yang sudah terlalu cerah menyelinap agresif melalui celah gorden. Tangannya meraba ponsel di nakas, dan layar itu menyala dengan angka yang membutuhkan tepat dua detik untuk diproses otaknya.

06.41.

Bruk.

Isabela jatuh dari tempat tidur, bukan karena terburu-buru berdiri, bukan pula karena bermaksud melakukannya, melainkan karena dalam kepanikan setengah sadar itu ia berusaha bangkit terlalu cepat, selimutnya tersangkut di kakinya, dan gravitasi melakukan sisanya dengan sangat efisien dan tanpa belas kasihan. Ia terduduk di lantai kayu dengan lutut yang memerah dan ekspresi yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata sopan, sementara selimutnya melingkar kacau di betisnya seperti boa constrictor yang sedang bermalas-malasan.

"Aduh…"

Ia duduk di sana selama dua detik, menatap kosong ke depan, memproses. Lalu dengan gerakan yang entah dari mana sumbernya, ia bangkit dari lantai, melepas selimut dari kakinya, dan berlari ke kamar mandi.

Empat menit kemudian ia sudah berdiri di depan cermin, rambut masih basah, tangan gemetar saat mengancingkan blazer navy yang untungnya sudah ia siapkan semalam, satu-satunya hal yang ia lakukan dengan benar kemarin malam. Ia menyapukan concealer, maskara, dan lip tint dalam waktu yang tidak akan pernah ia akui pada siapa pun, menyisir rambutnya dengan jemari karena tidak ada waktu untuk mencari sisir, lalu menyambar tas dan sepatu dari rak hampir bersamaan. Ia berhenti sejenak untuk memastikan keduanya benar-benar sepasang. Syukurlah, iya.

"Nenek, Bela pergi dulu!"

Suara neneknya terdengar samar dari dapur, mungkin sedang menyiapkan sarapan yang tidak akan sempat dimakan oleh siapa pun pagi ini.

"Tapi kau belum sarapan, Bela…"

"Nanti saja, Nek! Bela akan beli di jalan!"

Pintu depan terbuka dan tertutup dalam satu gerakan. Di luar, langit São Paulo sudah terang penuh dan tidak mau tahu tentang masalah siapa pun. Isabela berlari ke tepi jalan, mengangkat tangan menghentikan taksi pertama yang lewat, dan melompat masuk bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti.

"BRN Corporation. Secepat mungkin. Tolong."

Sang sopir meliriknya dari kaca spion dengan tatapan seseorang yang sudah terbiasa melihat orang-orang São Paulo dalam kondisi panik di pagi hari. Ia tidak berkomentar. Ia hanya menginjak pedal gas.

— ✵ —

Ruang Rapat Utama

Di ruang rapat utama BRN Corporation tidak dirancang untuk membuat orang merasa nyaman. Itu bukan kebetulan.

Meja oval dari granit hitam memanjang hampir delapan meter di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi kulit yang ergonomis namun terasa seperti kursi persidangan jika Anda duduk di sana dengan status yang salah. Dinding kaca di sisi timur menghadap langsung ke cakrawala São Paulo yang masih bersembunyi di balik kabut tipis. Tidak ada dekorasi yang tidak perlu. Yang ada hanya layar presentasi besar di dinding utara, dan di ujung meja yang paling jauh dari pintu, sebuah kursi yang sedikit lebih besar dari yang lain.

Kursi itu sudah terisi.

Cane duduk dengan punggung tegak, satu pergelangan tangan bertumpu di atas granit, matanya menyapu dokumen di hadapannya. Kemeja putihnya sempurna, tak satu pun lipatannya salah. Jas abu gelap tergantung rapi di sandaran kursi. Di pojok meja kecil di sebelah kirinya, kopi mengepul tipis, belum disentuh. Di sekelilingnya, lima kepala divisi duduk dengan postur yang, jika diamati lebih cermat, semuanya sedikit terlalu tegak untuk disebut santai. Dante Silva berdiri diam di samping kanan Cane, tablet di tangannya, siap menjadi ekstensi dari apapun yang dibutuhkan tuannya dalam hitungan detik.

Rapat dimulai tepat pukul 06.50, sepuluh menit lebih awal dari jadwal. Tidak ada yang protes.

"Kuartal ketiga. Sektor energi."

Cane memulai tanpa basa-basi, tanpa salam pembuka, tanpa bertanya apakah semua orang sudah siap. Suaranya rendah dan datar, jenis suara yang tidak perlu dinaikkan untuk memenuhi seluruh ruangan. Layar di dinding utara menyala, grafik proyeksi pendapatan sektor minyak kuartal ketiga versus realisasi aktual. Dua garis yang seharusnya berhimpitan, tapi tidak. "Realisasi meleset 8,3 persen dari proyeksi. Rafael."

Rafael Souza, Direktur Divisi Energi, menegakkan punggungnya. Usianya sekitar empat puluh tahun, pria yang biasanya bicara dengan keyakinan penuh di depan klien mana pun. Tapi di ruangan ini, di bawah tatapan itu, keyakinan itu entah pergi ke mana.

"Fluktuasi harga minyak mentah di pasar global, Tuan Cane. Brent turun rata-rata empat dolar per barel sepanjang Juli dan Agustus. Ditambah gangguan operasional di terminal Campos Basin, badai tropis pada minggu ketiga Agustus memaksa kami menghentikan pengiriman selama enam hari. Kerugian volume di sana saja sudah menyumbang hampir separuh dari gap yang ada…"

"Aku tidak meminta alasan, Rafael."

Suara itu tidak meninggi, namun sanggup memutus kalimat Rafael seperti belati yang memotong urat leher. Lima kata itu keluar begitu pelan, begitu bersih, dan sangat dingin. Butuh sepersekian detik bagi semua orang di ruangan itu untuk menyadari bahwa kalimat tersebut bukanlah jeda bicara, melainkan sebuah perintah untuk berhenti bernapas.

Cane tidak bergerak, namun hawa di sekitar meja granit hitam itu seolah menyusut, menghimpit paru-paru siapa pun yang ada di sana.

"Aku meminta solusi. Bedakan dua hal itu."

Sunyi. Kali ini jenis kesunyian yang menyakitkan telinga. Rafael membuka mulut, namun hanya getaran samar yang terlihat di rahangnya sebelum ia menutupnya kembali. Ia menatap dokumen di tangannya dengan tatapan kosong; kertas-kertas itu mendadak terasa seberat timah. Ada keringat dingin yang mulai merayap di tengkuknya saat ia menyadari bahwa jawaban yang ia butuhkan tidak tertulis di atas kertas, melainkan bergantung pada nyali yang tersisa.

Setelah jeda yang terasa seperti menyesakkan, Rafael menarik napas gemetar.

"Kami... kami sudah mengidentifikasi tiga operator lepas pantai yang bisa menggantikan kapasitas yang hilang," suara Rafael terdengar lebih rendah, lebih berhati-hati. "Negosiasi kontrak sudah berjalan sejak dua minggu lalu. Proyeksi volume dari kontrak baru ini cukup untuk menutup defisit kuartal tiga dan mendongkrak output hingga sebelas persen di kuartal empat."

Rafael menelan ludah, tenggorokannya terasa kering saat melanjutkan. "Selain itu, kami mengajukan perubahan rute distribusi untuk mengurangi ketergantungan pada terminal Campos Basin, sehingga gangguan serupa tidak akan pernah berdampak sebesar ini di masa depan."

Cane masih bergeming, matanya yang tajam mengunci pergerakan sekecil apa pun dari lawan bicaranya. "Kontrak ditandatangani kapan?"

"Target akhir Oktober, Tuan…"

"Aku ingin pertengahan Oktober. Bukan akhir."

Permintaan itu bukan sebuah negosiasi. Itu adalah vonis. Rafael tidak mengangguk dengan cepat; tubuhnya justru sedikit kaku seolah baru saja menerima hantaman tak terlihat di ulu hati. Ia mengangguk pelan, sebuah gestur menyerah dari seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia sedang berdiri di tepi jurang, dan Tuan Cane-lah yang memegang talinya.

"Baik, Tuan. Pertengahan Oktober," bisik Rafael, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan ruangan.

Cane menggeser pandangannya kembali ke layar. Bukan karena puas, tapi karena topik itu sudah selesai baginya, dan waktu tidak perlu dihabiskan lebih lama pada sesuatu yang sudah memiliki keputusan.

Grafik berikutnya muncul, proyeksi versus realisasi distribusi bahan bakar untuk segmen korporat dan industri. Cane menyesap kopinya untuk pertama kali, perlahan, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Volume distribusi ke segmen industri turun 6 persen bulan lalu. Penyebabnya bukan cuaca."

Bukan pertanyaan. Pernyataan. Dan karena itu, Diego Almeida, Kepala Distribusi, tahu bahwa ia tidak punya pilihan selain menjawab dengan jujur, bahkan sebelum namanya dipanggil.

"Benar, Tuan. Kami kehilangan dua kontrak distribusi jangka panjang bulan lalu. PT Rabero Manufatura dan Grupo Carvalho sama-sama beralih ke pemasok lain, harga penawaran kompetitor lebih rendah 7 persen dari harga kita saat ini."

"Siapa kompetitornya?"

"Meridian Energia, Tuan. Perusahaan baru, baru beroperasi delapan bulan. Tapi backing finansial mereka cukup kuat, ada indikasi mereka sedang membakar uang untuk merebut pangsa pasar dengan harga yang tidak masuk akal secara bisnis jangka panjang."

Cane memutar gelasnya perlahan di atas meja. Matanya tidak bergerak dari layar, tapi ada sesuatu yang berubah di caranya diam, seperti sesuatu yang sedang berputar di balik ketenangan itu.

"Siapa di belakang Meridian?"

"Belum terkonfirmasi secara resmi, Tuan. Tapi dari struktur kepemilikannya, ada nama Adriano Figueiredo di lapisan ketiga."

Sesuatu di rahang Cane mengencang. Hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Dante, yang sudah terbiasa membaca sinyal-sinyal kecil itu, langsung mengetuk sesuatu di tabletnya dengan diam.

"Adriano Figueiredo."

Cane mengulang nama itu dengan nada yang tidak mengandung pertanyaan. Hanya pengakuan dingin, seperti seseorang yang baru saja menemukan nama lama di tempat yang tidak ia harapkan.

"Lakukan pendalaman, Diego. Aku ingin tahu siapa yang mendanai Meridian, dari mana uangnya, dan apa yang sebenarnya mereka kejar. Bukan harganya, harga itu hanya permukaan."

Diego mengangguk, mencatat.

"Untuk Rabero dan Carvalho, aku tidak tertarik mengejar mereka dengan perang harga. Cari tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan yang tidak akan sanggup diberikan oleh para oportunis di Meridian. Jaminan pasokan jangka panjang, fleksibilitas kontrak, atau akses ke infrastruktur kita. Tawarkan itu. Bukan diskon. Kita tidak menjual harga, kita menjual stabilitas."

Diego membuka mulutnya, tampak ingin mendiskusikan soal tenggat waktu, tapi memilih untuk menutupnya kembali dan hanya mencatat.

Rapat berlanjut dalam ritme yang menekan, pertanyaan yang tajam, jawaban yang harus konkret, dan tidak ada ruang bagi retorika kosong. Cane mendengarkan dengan cara yang sangat tidak nyaman bagi siapa pun yang duduk di sana: ia tidak mencatat, tidak mengetuk meja, bahkan tidak menunjukkan emosi. Ia hanya menatap, dan entah bagaimana, tatapan itu terasa jauh lebih berat daripada rentetan pertanyaan mana pun.

Dua puluh menit berlalu.

Dante memiringkan kepalanya sedikit ke arah Cane. Suaranya sangat rendah, hanya cukup untuk satu telinga.

"Tuan. Sekretaris baru Anda belum terlihat di mejanya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 67

    Mobil berhenti tepat di depan kantor polisi. Begitu petugas jaga di depan gerbang melihat pelat mobil yang terparkir, sikapnya berubah seketika, ia buru-buru berdiri tegak dan membungkuk hormat. Beberapa petugas lain yang kebetulan berada di halaman ikut menunduk, saling berbisik begitu menyadari siapa pemilik kendaraan itu.Enzo keluar dari mobil dengan tenang, seolah tak menyadari atau tak peduli dengan keributan kecil yang timbul karena kehadirannya. Ia berjalan ke sisi lain, membuka pintu, lalu tanpa banyak bicara mengangkat tubuh Elena dan menaruhnya di atas bahunya begitu saja."Turunkan aku! Bajingan, turunkan!" Elena meronta, tangannya memukul-mukul punggung Enzo, kakinya menendang ke udara. "Tolong! Ada yang bisa tolong aku, tidak? Pria ini menculikku!"Beberapa petugas yang berdiri di dekat pintu masuk hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing, seolah pemandangan seorang wanita diangkut di atas bahu bukan sesuatu yang perlu ditanggapi serius, apal

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 66

    Suasana di dalam kabin mobil terasa pengap, diisi oleh napas memburu dan ketegangan yang kian menumpuk. Elena sama sekali tidak tinggal diam. Tangan kanannya memang terikat erat oleh necktie ke pergelangan Enzo, tetapi tangan kirinya masih bebas bergerak leluasa.Tanpa suara, ia menyelipkan tangan itu ke dalam tas, meraba layar ponsel secara buta sementara matanya tetap lurus ke depan seolah tak terjadi apa-apa. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan darurat untuk Isabela, mengirimkan kabar bahwa dirinya tengah dibawa pergi menuju kantor polisi.Namun, Enzo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik wanita di sampingnya mulai curiga saat melihat Elena mendadak terlalu tenang. Pria itu melirik sekilas ke samping dan mendapati pantulan cahaya kecil dari layar ponsel yang tersembunyi di balik tas.Tanpa aba-aba, tangan bebas Enzo terulur cepat dan merampas ponsel itu dari genggaman Elena. Tapi terlambat, layar ponsel menunjukkan status pesan telah terkirim."Kembalikan!" Elena berusaha m

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 65

    Isabela sudah menghabiskan setengah pagi menunggu, dan begitu jam menunjukkan waktu yang cukup sopan untuk keluar rumah, Elena sudah lebih dulu berdiri di depan gerbang dengan kacamata hitam besar dan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan."Ayo, aku sudah bosan di rumah," ujar Elena, menarik lengan Isabela sebelum ia sempat protes. "Lagipula kau butuh jalan-jalan, anggap saja olahraga setelah drama makanan mahal dari bos seksimu itu.""Itu bukan drama," Isabela membela diri, meski pipinya sedikit memerah mengingat kotak makanan seharga delapan ratus real itu masih tersimpan rapi di atas lemari es rumahnya, seolah kotak kosong itu sendiri adalah bukti sesuatu yang tidak ingin ia akui."Terserah kau menyebutnya apa." Elena sudah membuka pintu mobil, melambai agar Isabela cepat masuk. "Yang jelas kita ke mall sekarang. Aku butuh cuci mata, dan kau butuh berhenti memikirkan dua laki-laki sekaligus.""Memikirkan dua laki-laki? Omong kosong. Dengarkan aku, aku hanya akan mencintai Theo

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 64

    Konvoi keluar dari jalan tol dua puluh menit sebelum tengah hari, berbelok ke simpang tanpa nama yang hanya dikenali oleh mereka yang memang perlu mengenalinya. Jalan tanah, lalu pagar baja setinggi tiga meter berdiri di antara pepohonan, kawat listrik berkilau tipis di bagian atasnya. Pos jaga bergerak sekali, mengonfirmasi, dan pagar itu membuka tanpa suara.'Kawasan Fantasma.'Di dalam gerbang, sebuah truk kontainer besar baru saja berhenti di dekat gudang utama, mesinnya masih berdengung rendah. Beberapa pria berseragam tanpa identitas bergerak cepat di sekelilingnya, satu memberi aba-aba dengan tangan, yang lain menyambungkan derek portabel ke bagian atas kontainer. Rantai berdenting. Logam bergesekan dengan logam.Mobil Cane melambat, sejajar sesaat dengan truk itu sebelum berbelok ke jalur yang berbeda.Cane menatap ke luar jendela, tidak lama, hanya cukup untuk melihat tulisan samar di sisi kontainer yang sengaja dibuat tidak terbaca dari jarak jauh. Salah satu penjaga menoleh

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 63

    "Biar kubantu." Cane ikut masuk, tubuhnya menutup pintu hingga orang-orang di luar tak bisa lagi melihat apa yang terjadi di dalam.Cane melihat Isabela yang masih sibuk mencari-cari di dalam mobil, alisnya bertaut bingung tak menemukan apa pun. Ia hanya menatapnya sejenak dalam diam, seolah menikmati betapa tidak sadarnya gadis itu akan apa yang akan terjadi berikutnya.Tanpa aba-aba, satu tangannya sudah menangkup tengkuk Isabela, jemarinya menyusup ke helai rambutnya dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk membuat gadis itu tak bisa menoleh ke mana pun selain padanya. Bibir mereka bertemu sebelum Isabela sempat mengeluarkan satu kata pun.Ciuman itu tidak lembut. Ada sesuatu yang lapar di dalamnya, seolah Cane sudah menahan diri terlalu lama dan kini tak berniat lagi bersikap sabar. Isabela mencoba mundur secara refleks, punggungnya menabrak sandaran kursi, tapi tangan Cane yang lain sudah melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat alih-alih memberinya ruang untuk lari.Napas

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 62

    Elena baru saja menyalakan mobil ketika Isabela tiba-tiba mencengkeram lengannya, wajahnya berubah tegang seketika."Elena, kita harus cepat, gawat, ini gawat," ujar Isabela, suaranya nyaris panik tanpa sempat memberi penjelasan lebih lanjut."Aduh, ada apa denganmu, santai saja. Kau membuatku kaget." Elena menginjak gas sebelum sabuk pengaman Isabela sepenuhnya terkunci.Mobil melesat keluar dari area parkir dengan decitan ban yang membuat dua orang di trotoar menoleh kaget. Isabela mencengkeram pegangan pintu erat-erat, buku-buku jarinya memutih."Elena, pelan-pelan.""Kalau pelan-pelan, nenekmu bakal bertemu Presiden Cane sebelum kita sampai di sana." Elena membelokkan setir tajam ke kanan, menyalip sebuah angkutan umum lokal yang berhenti mendadak di lampu merah. "Tenang saja, aku sudah biasa."Isabela tidak yakin itu kalimat yang menenangkan.Di persimpangan berikutnya, sebuah motor memotong jalur mereka tanpa aba-aba. Elena membanting setir, ban berdecit keras, spion kiri nyaris

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 4

    Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 3

    Di tempat yang sangat berbeda—puncak menara BRN Corp—kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udar

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 2

    Satu Tahun Kemudian — São PauloLangit tengah hari membentang terik di atas barisan gedung tinggi São Paulo, memantulkan cahaya putih menyilaukan pada kaca-kaca jendela yang seolah berpijar. Kota ini tidak membawa aroma laut seperti Rio—yang ada hanya wangi aspal panas, tajamnya kopi yang baru dise

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 1

    Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia—lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan—seperti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status